
"Ayo makan siang, Tupai kecil." Suara Artya mengalihkan perhatian Rhiana. Pria itu baru saja masuk ke dalam perpustakaan.
"Aku penasaran akan sesuatu, Kak." Tanya Rhiana setelah berdiri dan menyambut tangan Artya yang terulur padanya.
"Apa?" Artya merespon dengan tenang setelah menggenggam tangan Rhiana dengan mesra.
"Kenapa menggambar pusaka keluarga Scoth padaku?"
"Bagaimana menurutmu?" Artya bertanya balik ingin menggoda Rhiana.
"Aku sedang bertanya, Kak. Dan aku serius." Rhiana sedang malas berdebat sekarang.
"Kamu sangat menggemaskan, Tupai kecil." Artya menarik senyum tipis menatap Rhiana.
Rhiana hanya mendengus tidak ingin membalas bualan si penggila kebersihan ini.
"Tato itu menunjukan dengan jelas bahwa kamu sudah dipilih sejak awal." Artya menjawab dengan serius.
"Dipilih untuk apa? Katakan dengan jelas, Kak. Aku sedang malas untuk berpikir."
"Itu berarti kamu sudah dipilih untuk menjadi pendamping hidupku, Tupai kecil."
"Tunggu sebentar! Pendamping hidup? Kita akan menikah nanti? Hidup bersama sampai tua, begitu maksudnya?" Rhiana cukup kaget mendengar apa yang dikatakan Artya. Keduanya baru sampai di meja sofa yang ada dalam kamar. Sudah ada makanan yang disajikan di sana.
"Tentu saja. Kamu tidak mau?" Artya kini menatap Rhiana ingin mendengar jawabannya sekarang.
"Aku masih muda, Kak. Perjalananku masih panjang. Aku juga sudah punya tunangan."
Selagi membahas ini, Rhiana ingin mengambil kesempatan untuk menjauh dari Artya. Dia tidak bisa terus diganggu oleh pria ini. Dia masih punya misi menjaga Yeandre. Jadi, ada baiknya menjauhi Artya mulai sekarang.
"Tunangan masa kecilmu? Heh... Aku tidak peduli!"
SRET!
Artya dengan sekali tarikan, membuat Rhiana duduk di pangkuannya.
"Tidak bisa begitu, Kak." Rhiana membantah dengan kesal. Tubuhnya sedang merontah ingin lepas dari Artya.
"Apa aku harus membunuhnya supaya kamu memilihku?" Rhiana merinding mendengar suara Artya yang begitu mengintimidasi di telinganya. Gerakan merontahnya seketika berhenti.
"Sudahlah. Sebaiknya kita makan. Aku sudah lapar, Kak." Rhiana harus mengubah topik sebelum semua menjadi repot baginya.
"Anak pintar. Kita bahas ini nanti," Artya setuju dengan Rhiana sebelum mengambil steak daging yang sudah dipotong-potong kecil sebelumnya untuk disuapi pada Rhiana.
"Aku bisa makan sendiri, Kak. Tanganku masih utuh." Rhiana menoleh ke samping menghindari sendok di depan mulutnya.
"Buka mulutmu! Patuh, dan makanlah. Aku akan menyuapimu sampai selesai." Artya tentu saja tidak akan melunak pada Tupai kecilnya.
Rhiana hanya mencibir dan membuka mulutnya menerima suapan itu.
__ADS_1
"Apa penyakit kebersihanmu sudah pulih, Kak?" Rhiana bertanya karena saat ini Artya makan dan menyuapinya dengan sendok yang sama.
"Belum." Artya menjawab singkat dengan tangan yang sedang memberikan daging ke mulut Rhiana.
"Kalau begitu, kenapa kakak tidak jijik?" Rhiana menelan makanannya sebelum berbicara.
"Itu karena kamu!" Artya dengan telaten membersihkan bibir Rhiana dengan tisu. Betapa Rhiana diperlakukan seperti anak kecil.
"Eng? Itu serius?" Rhiana tentu saja tidak semudah itu percaya.
Orang yang sangat mementingkan kebersihan dirinya sendiri seperti si tiran ini melakukan hal tidak biasa karenanya? Rhiana sama sekali tidak percaya.
"Sudahlah. Mari bahas yang lebih penting," Artya kini memposisikan Rhiana yang masih duduk di pangkuannya dengan menghadap ke arahnya.
Rhiana tidak memberontak karena penasaran apa yang akan dikatakan pria di depannya ini.
"Seperti yang aku katakan sebelumnya, kamu sudah dipilih sejak awal untuk menjadi milikku. Sampai sekarang aku masih tidak mengerti kenapa aku membuat tato itu padamu. Aku sama sekali tidak tahu alasannya. Aku hanya mengingat pernah membuat tato pada punggung seorang gadis tapi aku tidak tahu seperti wajah gadis itu.
Aku bahkan menghabiskan waktuku untuk mencari keberadaanmu. Bahkan jejak kecilpun aku tetap mencarimu. Sekarang aku mengerti. Tanpa sadar aku sudah memilihmu menjadi pendamping hidupku sejak awal. Aku harap kamu mengerti,"
Artya menatap intens Rhiana yang juga menatapnya, tapi ekspresi menggemaskan itu terlihat memikirkan sesuatu.
Grep!
Artya menarik Rhiana ke dalam pelukannya.
"Aku akan terus menunggumu, sampai kamu memilihku! Tapi aku tidak akan membiarkanmu dekat dengan orang lain. Ingat, satu hal Rhiana... Kamu hanya milikku. Satu-satunya milikku!"
...----------------...
"Tuan, ada seseorang yang ingin bertemu dengan anda." Felix melapor dengan gugup.
Asisten Artya itu gugup karena merasa sudah mengganggu waktu majikannya yang berharga. Apalagi posisi kedua orang itu sungguh membuat Felix berusaha sabar dalam hati. Tentu saja dia iri melihat kemesraan dua orang itu. Kapan dia bisa seperti itu, jika setiap hari dia selalu saja dibuat sibuk. Felix merasa frustasi. Pekerjaannya semakin hari semakin menumpuk.
"Siapa?" Artya bertanya dengan tidak senang. Sangat mengganggu, pikirnya.
"Aku harus memberi hadiah pada orang itu," Ucap Rhiana dalam hati.
Rhiana senang, karena sedari tadi dia merasa tidak nyaman dengan Artya yang sudah satu jam lebih memeluknya yang duduk di pangkuan pria itu. Pelukan itu sama sekali tidak mengendur dan tetap erat.
"Dia mengaku sebagai anak angkat Nyonya Amstrong, Tuan."
"Anak angkat ibu? Kenapa aku baru tahu?" Artya melepas pelukannya tetapi masih membiarkan Rhiana di pangkuannya.
"Eng? Siapa yang berani mengusik pria ini?" Tanya Rhiana dalam hati.
Rhiana tentu saja penasaran karena bisa-bisanya ada orang berani yang mengakui jika dia anak angkat ibu Artya. Entah orang itu punya keberanian sebesar apa.
"Nyalinya sungguh besar!" Gumam Artya sebelum berdiri.
__ADS_1
"Eh... Aku tidak diturunkan?" Rhiana kaget karena Artya justru memposisikan dirinya dalam gendongannya ala koala.
"Aku tidak ingin suasana hatiku buruk karena pengganggu itu,"
"Ada-ada saja pria satu ini," Ucap Rhiana dalam hati. Dia tidak habis pikir. Tapi, ada untungnya juga, karena dia ikut penasaran siapa orang yang berani itu. Dan juga... Rhiana sudah 3 hari dikurung. Ini waktu yang tepat untuk melihat apa yang ada dibalik pintu keluar satu-satunya itu.
Felix tidak berani berkomentar dan hanya menuntun jalan dengan tenang.
...
"Heh... Sepertinya aku tahu alasan dia selalu mengusikku." Komentar Rhiana dalam hati.
Ternyata orang yang mengaku dirinya anak angkat ibu si penggila kebersihan itu Rhiana kenali. Rhiana juga bisa merasakan aura tidak senang yang dipancarkan orang itu padanya.
"Katakan tujuanmu!" Artya bertanya tanpa basa-basi. Pria itu sudah duduk di sofa di sana. Tepatnya berhadapan dengan tamu yang mengganggu kedamaiannya.
"Aku punya sesuatu untukmu, Kak." Tamu itu kemudian menyodorkan sebuah amplop di atas meja ke arah Artya.
Felix menatap Artya sebentar sebelum mengambil amplop itu dan menyemprotkannya dengan desinfektan kemudian memberikannya pada Artya.
"Buka untukku, Tupai kecil." Artya justru memberikan amplop itu pada Rhiana. Tangan Artya yang satunya mengusap lembut kepala Rhiana.
Setelah membuka amplop itu, Rhiana menaikkan sebelah alisnya membuka isi kertas dalam amplop itu. Ternyata sebuah surat. Ini tulisan tangan yang sangat rapi.
"Kakak tahu siapa yang menulis ini?" Rhiana bertanya sambil menatap Artya yang terlihat terpaku sebentar melihat isi surat itu.
"Itu tulisan ibuku." Artya tetap tenang. Pria itu kini sudah mengubah posisinya yang tadinya bersandar di sofa dengan menumpuhkan dagunya di atas kepala Rhiana.
"Pegang untukku. Aku ingin membacanya," Rhiana hanya mengangguk dan memposisikan surat itu untuk dibaca bersama Artya.
...Untuk Serigala Kecilku,...
...Ibu harap kamu selalu bahagia. Ibu minta maaf karena meninggalkanmu lebih dulu. Padahal ibu sangat ingin melihat wanita mana yang mau berada di sisimu itu. Ibu penasaran seperti apa wajah wanita bodoh itu yang mau memilihmu yang memiliki tempramen buruk....
...Sayangnya, Tuhan sangat menyayangi ibu sehingga memanggil ibu lebih cepat. Ibu selalu berdoa yang terbaik untukmu, Serigala kecilku. Bahaga selalu, anakku....
...Tujuan ibu menulis surat ini karena ingin mengatakan sesuatu padamu. Maaf karena ibu hanya bisa mengatakannya padamu lewat surat ini. Ibu mengadopsi seorang gadis kecil yang cantik dan lucu. Sifatnya bertolak belakang denganmu. Ibu sengaja mengadopsinya untuk menemanimu nanti jika ibu tidak ada....
...Namanya Sienna Pheneass. Ibu juga mengajarkan banyak hal padanya sama sepertimu, atau mungkin lebih karena ibu lebih banyak menghabiskan waktu dengannya saat kamu tidak bersama ibu....
...Ibu ingin kamu mengabulkan satu permintaan ibu, Nak. Tolong jaga Sienna karena dia adalah saudarimu sekarang. Dia gadis yang cerdas tapi lemah. Lindungilah dia, Nak. Jaga dan sayangi dia seperti yang kamu lakukan pada ibu....
...Biarkan Sienna tinggal di sisimu. Ibu tahu kamu tidak suka orang asing dekat dengamu. Tapi ibu mohon, jangan perlakukan Sienna seperti orang asing lainnya. Tolong ya, Nak. Ibu berharap banyak padamu....
...Dari ibumu yang menyayangimu....
...----------------...
Terima kasih sudah menunggu cerita Rhiana.
__ADS_1
Like dan komentar kalian yang membangun untuk cerita ini sangat aku harapkan.