Nona Muda Yang Menyamar

Nona Muda Yang Menyamar
Pertandingan (Prancis Vs Rusia)


__ADS_3

Halo...


Aku kembali lagi.


Bagaimana kabar kalian? Pasti baik-baik saja, 'kan?


Maaf karena baru up lagi.


Kebetulan aku ada waktu, jadi baru up.


Mari kita lanjut kisah Rhiana.


*


*


*


Hari ini jadwal pertandingan tim basket maupun takewondo sekolah elit Swiss pukul 3 sore. Karena itu, Rhiana hari ini akan menonton Axtton bermain. Adik sepupunya itu ada pertandingan basket pukul 9 pagi. Karena paksaan Axtton, Rhiana terpaksa pergi menonton. Rhiana tidak ingin adik sepupunya itu merajuk padanya.


Rhiana yang tidak ingin diganggu, memilih pergi secara diam-diam. Tentu saja dia harus menghindari kedua saudara kembarnya dan Brilyan. Rhiana hanya meminta izin pada pelatih agar tidak mencarinya.


Rhiana pagi ini juga mampir ke rumah sederhananya kemarin untuk mengganti pakaiannya menjadi pakaian santai. Hari ini dia tidak menyamar. Alasannya, karena Rhiana mengantisipasi jangan sampai Brilyan menyusulnya ke tempat pertandingan. Ditambah, Rhiana sedang malas berakting hari ini.


***


Rhiana sudah duduk di kursi penonton. Beberapa menit lagi pertandingan basket tim Axtton akan dimulai. Rhiana tersenyum tipis melihat adik sepupunya itu sedang berbicara dengan teman setimnya. Sepertinya dia sedang menjelaskan strategi mereka hari ini.


Rhiana hanya mengirim pesan pada Axtton bahwa dia sudah di kursi penonton. Rhiana harus memberitahu agar adik sepupunya itu tidak merajuk padanya.


Pertandingan dimulai. Penonton hari ini sangat heboh. Tentu saja mereka heboh karena kedua tim sama-sama kuat. Tim New York yang di dalamnya ada Axtton, melawan perwakilan dari Jepang. Rhiana juga menikmati pertandingan ini.


Di pertengahan pertandingan, Rhiana mengerutkan kening. Perasaannya yang merasa diawasi semakin kuat. Beberapa menit setelah duduk di bangku penonton, Rhiana sudah merasa diawasi. Akan tetapi, Rhiana mengabaikannya karena tahu hanya dua orang yang mengawasinya.


Kali ini Rhiana menggaruk pelan keningnya karena ternyata yang mengawasinya semakin bertambah. Rhiana bingung kenapa dia diawasi.


Setelah berpikir, Rhiana tersadar. Ternyata mereka mengawasinya karena Yeandre. Hanya orang-orang yang mengejar Yeandre yang tahu wajah aslinya. Rhiana mendengus. Mereka pasti mengawasinya agar tidak melindungi Yeandre seperti biasa. Mereka pasti akan menargetkan Yeandre hari ini.


Rhiana yang tidak ingin adik sepupunya marah padanya, terpaksa datang menonton, membuat misinya untuk menjaga Yeandre dilupakan. Rhiana lalu mengirim pesan pada kedua kakaknya untuk membantunya menjaga Yeandre selagi dia dalam perjalanan pulang. Rhiana tidak mungkin mengabaikan kakak sahabatnya itu. Rhiana harus menjaga Yeandre sendiri.


Rhiana melirik ke segala arah. Tepatnya ke arah orang yang mengawasinya. Jika dihitung, sekitar 10 orang yang mengawasinya dibalik kerumunan penonton.


Rhiana berdiri dan berpura-pura menelpon. Dengan gerakan santai seakan tidak tahu sedang diawasi, Rhiana berjalan menuju toilet. Ternyata apa yang dia lakukan juga dilakukan oleh orang yang mengawasinya. Mereka juga bergerak keluar.


Rhiana sudah berada di lorong menuju toilet. Selagi berbicara, Rhiana terus menjaga langkahnya agar tetap santai. Tanpa menoleh, Rhiana tahu sekitar tiga orang pria dengan pakaian olahraga mengikutinya dari belakang.


Toilet masih beberapa meter di depan. Rhiana tidak bisa lagi menuju ke sana. tentu karena salah satu dari orang yang mengawasinya sudah berdiri tepat di samping toilet wanita. Pria itu bertingkah seakan menunggu kekasihnya yang masuk ke toilet.


Rhiana tidak bisa mundur. Pilihannya hanya terus maju. Rhiana menoleh membaca papan nama di sampingnya. Ternyata itu ruang ganti khusus pemain volly putri negara Prancis. Rhiana dengan senyum tipis, masuk ke ruangan itu.


Ternyata hanya beberapa orang yang sedang mengganti pakaiannya. Mereka sepertinya akan bertanding. Mereka juga tidak terganggu dengan kehadiran Rhiana, karena mereka sibuk untuk pertandingan nanti.


Satu persatu pemain sudah mulai keluar. Rhiana terus berpikir bagaimana caranya dia keluar dari sini. Hingga, Rhiana tersenyum tipis melihat salah satu gadis yang sedang sibuk membongkar lemari di sana.


***


Rhiana saat ini duduk di kursi cadangan pemain volly putri perwakilan negara Prancis. Dengan beberapa trik, Rhiana berhasil keluar dari ruang ganti dengan memakai pakaian volly putri negara Prancis. Tidak lupa juga, Rhiana mengunci gadis yang pakaiannya dia ambil tadi.


Rhiana menyeringai ketika melihat orang-orang yang mengawasinya tadi sepertinya sedang mencarinya. Mereka pasti menyadari bahwa mereka sudah kehilangan jejaknya.


Tidak ingin mengambil pusing, Rhiana beralih menonton pertandingan yang akan segera dimulai.

__ADS_1


"Heh... Bukankah ini kebetulan yang menyenangkan?" Gumam Rhiana dalam hati dan tersenyum tipis.


Ternyata lawan negara Prancis adalah Rusia. Dalam tim Rusia, ada Marie di sana. Rhiana senang, karena dia bisa melawan Marie lebih awal. Meski tidak mewakili Swiss, setidaknya Rhiana bisa melihat trik apa yang akan gadis itu pakai di pertandingan kali ini.


Sudah pertengahan set pertama, tim Rusia unggul 10 poin. Rhiana hanya mengangguk melihat bagaimana cara Marie bermain. Posisi Marie di timnya adalah penggebuk serangan cepat.


Rhiana meski jarang bermain volly, tetapi setidaknya dia masih tahu aturan permainan ini. Rhiana juga akan mudah belajar jika menonton secara langsung. Dengan begitu, dia akan meniru gerakan pemain lawan.


Pritttt...


Suara peluit tanda pertandingan set pertama berakhir. Tim Rusia memenangkan set pertama. Tim negara Prancis sedang berkumpul untuk membahas strategi pada set kedua.


Rhiana hanya mendengar dengan tenang. Dia ingin berkomentar, tetapi sudahlah. Rhiana memilih diam hingga wasit meniup peluit tanda set kedua dimulai. Mereka juga bertukar lapangan. Rhiana juga tidak lupa mengirim pesan pada kedua kakaknya bahwa dia masih butuh waktu untuk keluar dari sini.


Beberapa saat lalu, Rhiana menerima informasi, bahwa orang yang mengawasinya semakin bertambah. Mereka juga menutup akses keluar dari sini. Karena itu, Rhiana tidak bisa bergerak sembarangan. Dia tidak ingin membuat keributan di sini.


"Seina, lakukan pemanasan!" Rhiana sedikit kaget karena suara pelatih negara Prancis memanggilnya.


Rhiana tadinya sibuk mengirim pesan pada kedua kakaknya dan pada Axtton sehingga tidak fokus pada pertandingan.


Rhiana hanya mengangguk pada pelatih paru baya itu kemudian melakukan pemanasan. Rhiana juga tidak khawatir jika mereka menyadari penyamarannya. Untung saja, penampilan gadis bernama Seina ini tidak terlalu mencolok. Seina juga berpenampilan cupu sehingga Rhiana hanya perlu mengubah penampilannya mirip dengan gadis itu.


...


Rhiana sudah ada di lapangan. Posisinya adalah penjaga tengah. Sebelumnya, gadis yang dia ganti performa bermainnya semakin menurun. Rhiana jelas tahu itu. Semua itu ulah Marie yang kembali menyerang mental gadis itu hingga semua penerimaan maupun serangannya tidak satupun yang berhasil. Semuanya berlangsung secara berturut-turut. Tentu saja mental gadis itu menurun.


Rhiana tidak perlu berpikir banyak. Dia jelas tahu sifat Marie. Dalam pertandingan, strategi yang Marie pakai paling utama adalah menyerang mental lawan, agar performa bermain mereka menurun.


Melihat Rhiana yang bersiap di posisinya, Marie menyeringai pada Rhiana. Sepertinya gadis itu akan memulai aksinya lagi. Rhiana berpura-pura tidak menyadari dan menatap teman satu timnya. Ekspresi mereka begitu suram. Jelas sekali, mereka diserang habis-habisan oleh tim Rusia.


"Jangan gugup, Sei. Bermainlah seperti kita sedang latihan. Meski ini permainan resmi pertamamu, aku harap kamu tidak gugup." Rhiana tersenyum tipis mendengar perkataan kapten tim Prancis. Gadis yang baik, pikirnya.


Pritttt.


BAMM!


Satu poin untuk tim Rusia.


Giliran tim Rusia yang memukul bola. Karena pukulan yang begitu kuat, tim Prancis tidak bisa menerimanya, sehingga bola kembali melambung ke lapangan tim Rusia. Tim Rusia dengan senang hati menerima bola itu.


Rhiana tersenyum tipis melihat teman setimnya sudah bersiap memblok pukulan tim Rusia. Setter tim Rusia memasang kuda-kuda seperti ingin memberikan umpan pada wing spiker atau penggebuk di bagian kiri.


Karena itu, kedua pemain tim Prancis sudah bersiap memblok pukulan itu. Rhiana sendiri belum bergerak. Dia tetap menatap arah bola. Hingga, terdengar sorak-sorai pendukung tim Rusia, karena Setter mereka ternyata malah mengoper bola ke arah penggebuk di sebelah kanan. Tepatnya pada Marie yang tersenyum senang. Di tim Prancis, pemain maupun pelatih sudah emosi dan bahkan pasrah untuk satu poin ini.


Marie kemudian tersenyum tipis dan mulai melompat untuk memukul bola.


BAMM!


Semua penonton terdiam.


Pritttt...


Suara peluit dari wasit yang menandakan poin menjadi milik tim Prancis membuat semua orang di kursi penonton tersadar. Teriakan pendukung tim Prancis terdengar heboh.


"Seinaaaa... kamu benar-benar hebat!" Pemain tim Prancis kini berlari menghampiri Rhiana yang masih berdiri di tempatnya.


Meksi hanya satu poin, tapi mereka begitu senang. Bagaimana tidak senang, sejak set pertama hingga pertengahan set kedua ini, pukulan Marie sama sekali tidak bisa diblok. Mereka tidak menyangka ternyata Seina yang mereka kenal selama latihan bersama tidak terlalu mencolok dalam bermain. Belum lagi, ini pertandingan resmi pertamanya. Ternyata dia berhasil memblok pukulan Marie dan bola berbalik ke lapangan tim Rusia sendiri.


Rhiana hanya tersenyum tipis membalas pujian para pemain Prancis. Rhiana mengalihkan pandangannya ke arah Marie yang masih syok karena pukulannya berhasil diblok.


Karena tim Prancis yang mendapat poin, sehingga mereka yang memukul bola. Kali ini giliran Rhiana yang memukul bola. Setelah berdiri di luar garis lapangan, Rhiana mengerutkan kening karena wajah pemain tim Prancis terlihat khawatir. Rhiana heran, ada apa sebenarnya?

__ADS_1


"Jangan khawatir jika servemu tidak masuk, Sei." Suara kapten tim Prancis berusaha menenangkan.


Rhiana akhirnya mengerti alasan wajah khawatir tim Prancis. Rhiana mengangguk pada kapten tim Prancis dan mulai bersiap memukul bola karena wasit sudah meniup peluit.


BAMM!


Penonton kembali tercengang. Yang lebih tercengang adalah pemain maupun pelatih tim Prancis. Mereka tentu saja tercengang. Setahu mereka, Seina sangat buruk dalam menyervis. Kini, servenya justru sangat mirip dengan serve Marie bahkan lebih kuat dari itu.


Poin menjadi milik tim Prancis. Penonton kini membuat keributan. Terlebih pendukung negara Prancis. Mereka sedang memarahi pelatih tim Prancis karena baru memasukan pemain hebat bernomor punggung 7 itu. Jika pemain hebat seperti itu menjadi tim inti, mereka mungkin bisa memenangkan set pertama.


Tidak mempedulikan keributan penonton, wasit kembali meniup peluit. Rhiana kembali melempar bola ke atas. Dan melompat untuk memukul bola.


BAMM!


Bola lagi-lagi masuk dengan mulus ke lapangan tim Rusia. Suara bola yang mengenai lantai justru lebih kuat dari pukulan sebelumnya. Rhiana kali ini hanya memasang wajah datar. Rhiana beralih menatap wajah Marie. Gadis itu terlihat mengerutkan kening, dan mengepalkan tangannya erat. Tentu saja dia pasti kesal.


Enam kali berturut-turut Rhiana melakukan jump serve atau melompat untuk memukul bola. Dua kali bola menyentuh lapangan dengan mulus, dan empat kali bola tidak bisa diterima oleh tim Rusia. Karena poin itu, Marie semakin terlihat kesal.


Marie lalu meminta Libero mereka untuk memperluas daerah penerimaan sehingga bola berhasil diterima dan berakhir dengan Marie yang menggebuk dengan kuat sehingga poin beralih ke tim Rusia.


"Aku tidak menyangka, kamu ternyata menyembunyikan kehebatanmu, Sei. Terima kasih sudah membuat poin kita seimbang." Kapten tim Prancis yang Rhiana dengar dipanggil Lea itu menghampirinya dan berbicara dengan senyum tipis. Tidak lupa juga tepukan ringan Lea berikan di punggung Rhiana.


Rhiana tidak mengatakan apapun dan hanya tersenyum. Rhiana memang menahan diri agar tidak berbicara. Dia tidak ingin mereka menyadari perbedaan suaranya dan Seina.


Pertandingan terus berlanjut hingga tim Prancis memenangkan set kedua. Kedua tim juga diberi waktu istirahat beberapa menit.


Pelatih dan pemain tim negara Prancis kini menatap Rhiana meminta penjelasan. Mereka tentu saja penasaran. Rhiana tersenyum tipis dan menatap pelatih meminta izin memakai iPad dan staplus pen yang pria paru baya itu pegang.


...[Maaf... sebelum bertanding tadi, aku tidak sengaja meminum minuman yang tertukar dengan minuman seorang penonton sehingga aku kehilangan suaraku.]...


Rhiana menulis dan membiarkan itu dibaca oleh pelatih dan pemain tim Prancis.


"Kenapa kamu begitu ceroboh? Tapi, bagaimana bisa kamu sampai kehilangan suaramu?" Tanya Lea bingung.


...[Itu minuman dengan bahan dasar cerry. Aku alergi buah itu.]...


"Pantas saja. Tapi, terima kasih. Karena kamu, kita bisa memenangkan set kedua ini." Pelatih berbicara dengan senyum tipis. Rhiana hanya mengangguk dan ikut tersenyum.


...[Bolehkah aku memberikan beberapa saran? Untuk set ketiga,]...


Rhiana kembali menulis dan memberikannya pada pelatih dan para pemain untuk dibaca.


"Boleh!" Pelatih menyetujui.


Rhiana mengangguk dan mulai menulis strategi di layar iPad. Tidak perlu menjelaskan, pelatih maupun pemain tim Prancis sudah mengerti karena gambar yang memperlihatkan posisi setiap orang sangat jelas. Mereka semua setuju untuk memakai strategi dari Rhiana.


Pritttt...


Set ketiga dimulai.


Pertandingan set ketiga ini sangat menegangkan. Kedua tim sama-sama berjuang untuk menyerang maupun menjaga lapangan masing-masing. Yang paling mencolok adalah pemain dengan nomor punggung 7, yaitu Seina dari tim Prancis dan pemain dengan nomor punggung 1, yaitu Marie dari tim Rusia. Tentu saja, mereka mencolok karena keduanya sama-sama bisa memblok maupun memukul bola hingga poin tidak terlalu berbeda jauh.


Rhiana sendiri tidak terlalu memaksakan diri. Rhiana hanya menggunakan teknik yang dipakai Marie. Lebih jelasnya, Rhiana hanya meniru setiap gerakan yang Marie lakukan.


Marie tentu kesal karena setiap gerakan tubuh untuk memukul bola, menerima bola, maupun memblok, semua dicopy habis oleh Rhiana. Jadi, ketika Marie berhasil mencetak poin untuk tim Rusia, maka Rhiana akan menggunakan gerakan yang sama untuk mencetak poin bagi tim Prancis.


"Sialan... siapa gadis itu? Aku ingin menghancurkannya," Kesal Marie dalam hati. Tatapan membunuh diarahkan pada Rhiana.


Rhiana yang merasa ditatap, menatap balik Marie dan tersenyum tipis. Senyum yang Rhiana berikan justru membuat Marie semakin kesal.


Pertandingan terus berlanjut hingga set ketiga berakhir dan dimenangkan oleh tim Prancis dengan skor 32 - 30 poin.

__ADS_1


Karena kalah, Marie menendang apa saja yang ada didepannya. Baru kali ini dia merasakan kekalahan. Tentu saja dia kesal setengah mati.


__ADS_2