Nona Muda Yang Menyamar

Nona Muda Yang Menyamar
Balas Dendam Pertama


__ADS_3

Swiss, satu minggu kemudian.


Hotel LM. Kamar 202.


SRET


SREK


Dalfi sedang bersiap-siap dengan set tempur miliknya. Dalfi kembali mengecek perlengkapan untuk misinya malam ini. Mulai dari setelan tempur yang dipakainya, rompi anti peluru, pistol di masing-masing pinggangnya, Belati militer dalam sarungnya yang juga terpasang di pinggangnya.


Dalfi beralih ke meja di ruang tamu. Ada banyak amunisi untuk senapan dan pistolnya. Kakak Rhiana itu segera menyimpan amunisi sebanyak yang dibutuhkan di saku seragamnya. Dalfi kemudian beralih ke senapan yang akan dibawanya malam ini. Itu adalah Barret M90. Fersi terbaru dari senjata sniper militer AS yang sudah dimodifikasi oleh Gledy.


KLIK


Dalfi selesai memasang amunisi pada senapan miliknya.


Semua persiapan selesai. Dalfi mengambil foto Rhiana yang berukuran kecil dan menatapnya sebentar sebelum memasukkan dalam saku seragamnya.


BRUK


Dalfi menoleh menatap Dalfa yang masuk dan meletakkan tas punggung cukup besar di sisi sofa ruang tamu.


"Ada 10 bom di sana. Kamu yakin ingin memasangnya sendiri?" Tanya Dalfa sambil mengikat kembali tali sepatunya dengan kuat.


SRET


"Hm." Balas Dalfi singkat. Matanya fokus menatap bom dalam tas yang dibawa Dalfa tadi.


"Ya, sudah. Padahal biasanya kamu hanya memberi instruksi, kali ini kamu ikut langsung, ya. Jadi apa yang harus aku lakukan?"


SREK


Dalfi, si ahli strategi keluarga Veenick itu mulai menjelaskan rencana penyusupan dan pemusnahan laboratorium Sienna malam ini. Jika pada misi biasanya mereka hanya akan membunuh yang seharusnya dibunuh kemudian pergi tanpa meninggalkan jejak, kali ini Dalfi berencana menghancurkan semuanya. Dengan bom yang dibawa, Dalfi akan meratakan laboratorium Sienna.


Bukan hanya laboratorium pribadi Sienna yang ada di Swiss. Dalfi juga akan menghancurkan semua tempat milik Sienna dan organisasi yang mendukungnya. Dalfi akan membuat orang-orang yang membunuh adiknya seakan tidak pernah ada di dunia. Misi malam ini adalah balas dendam pertamanya untuk adik kesayangannya.


***


Laboratorium milik Sienna di Swiss.


"Nona... saya sudah mengambil darah anak itu sebanyak 2 liter. Tubuhnya juga sudah saya buang ke tempat yang jauh,"


"Dimana kamu membuang tubuhnya? Kenapa tidak dilelehkan saja?" Tanya Sienna yang sibuk dengan eksperimen di depannya.


"Ah, benar juga. Saya tidak terpikirkan untuk melelehkan tubuhnya. Maafkan saya, Nona. Saya hanya membayar beberapa tentara bayaran Swiss yang akan pergi ke benua Afrika dengan kapal pesiar. Mereka akan membuang tubuh anak itu di tengah laut. Bukankah itu lebih baik?" Jelas prof. Jean.


"Terserah kamu. Asalkan tidak ada masalah dikemudian hari," Perkataan Sienna berhasil membuat Prof. Jean sedikit terperanjat.


"Tidak mungkin anak itu masih hidup setelah dibuang di tengah lautan. Kebetulan, mereka sudah mengirim videonya. Silahkan dilihat, Nona." Prof. Jean kemudian memberikan di iPad di tangannya pada Sienna.


"Baguslah," Ucap Sienna setelah menyaksikan tubuh Rhiana dibawa oleh dua orang pria dan dibuang ke laut.


NGING


NGING


NGING


"Ini... ini alarm tanda penyusup, Nona." Ucap Prof. Jean terkejut. Padahal keamanan laboratorium ini sangat tinggi sehingga tidak mungkin ada penyusup. Siapa yang berani menyusup ke sini?


***


30 menit sebelumnya.


Keadaan Dalfa dan Dalfi.


"Devil Of Black siap di posisi. Bagaimana denganmu, GOD?" Suara Dalfa terdengar melalui chip di belakang telinga Dalfi. Dalfa sudah memanjat salah pohon yang berjarak sekitar 600 meter dari laboratorium milik Sienna. Kakak pertama Rhiana itu sudah mengambil posisi untuk membantu penyusupan Dalfi lebih dulu.


"God Of Death bersiap menyusup. Lindungi aku!" Balas Dalfi setelah menatap jam tangannya. Misi penyusupan dan pemusnahan ini harus berhasil sebelum matahari terbit. Jika tidak, bantuan untuk Sienna akan tiba.


"Oke. Jalan masuk aman!" Ucap Dalfa setelah melihat situasi laboratorium milik Sienna melalui senjata sniper miliknya.


Dalfi dengan cepat tapi berhati-hati mulai bergerak melompati tembok yang mengelilingi laboratorium. Dari jauh, Dalfa terus melihat sekitar. Sesekali scope senapannya akan mengikuti pergerakan Dalfi.


"Tahan, GOD! Seseorang terlihat akan masuk lewat gerbang."


"Oke."


"Jalur eksekusi aman!" Ucap Dalfa setelah melihat pria yang sepertinya penjaga itu sudah kembali ke posisinya untuk berjaga. Belum waktunya penjaga itu dan penjaga lainnya mati. Setelah semua bom terpasang, dan mungkin data penting mereka dicuri, selanjutnya semua orang akan dieksekusi. Semua yang ada di sana harus dibasmi tanpa terkecuali.


5 menit kemudian.


"GOD siap di posisi!" Dalfi melapor setelah berhasil masuk ke dalam laboratorium.


"Oke. DOB siap menyusup!" Dalfa membalas kemudian bersiap menyusup masuk dalam laboratorium.


Tanpa menunggu Dalfa, Dalfi mulai bergerak dari satu ruangan ke ruangan lain dengan hati-hati untuk memasang bom. Sudah dua ruangan berhasil dipasangi bom. Satu gudang dan satu ruang istirahat yang kebetulan tidak ada orang di sana.


Dalfi sedang bersandar di tembok menunggu waktu untuk bergerak memasuki lorong di sebelah kanannya. Dalfi mengambil cermin kecil di saku seragamnya sekedar melihat keadaan di lorong. Melihat pada cermin berbentuk segiempat empat itu, ternyata ada dua penjaga sedang berjaga di depan sebuah pintu. Dalfi mengarahkan cermin ke sisi lain. Ternyata ada cctv yang sedang menyala di sudut atas ruangan.


Dalfi menyimpan kembali cermin kemudian menatap ke tempat sampah didekatnya.


BRAK


Sekali tendang, tempat sampah itu jatuh dan isinya berhamburan keluar. Dengan suara berisik ini, salah satu dari mereka pasti akan datang dan memeriksa situasi.


SRET


TSKK


Sekali tarik, belati ditangan Dalfi berhasil menyayat leher penjaga yang datang. Sebelum penjaga itu bereaksi, Dalfi dengan cepat membungkam mulutnya kemudian membunuhnya dengan menyayat lehernya agar tidak menimbulkan suara. Dalfi lalu memposisikan mayat penjaga itu bersandar pada dinding. Selanjutnya hanya menunggu penjaga yang satunya datang lagi untuk memeriksa.


"Aku mendengar suara berisik. GOD, kamu baik-baik saja, kan?"


"Hm. Bagaimana denganmu, DOB?" Tanya Dalfi kemudian memasang kuda-kuda siap menyerang.

__ADS_1


"Aku berhasil masuk melalui pintu lain. Aku akan menyusup. Tunggu sebentar..."


SRET


TSKK


BRUK


Dalfi berhasil melumpuhkan penjaga kedua.


"Sepertinya ini ruang kerja Sienna." Suara Dalfa kembali terdengar.


"Wah... lihat apa yang aku temukan,"


"Data penelitiannya. Jangan bilang..."


"Sial... sepertinya ada yang datang. Sampai nanti, GOD!"


***


Dalfi sudah mengganti seragamnya dengan seragam salah satu penjaga. Tentu saja demi misi penyusupannya agar tidak ketahuan. Dalfi kemudian menuju posisi di depan pintu dan berjaga. Ia harus melihat keadaan sebelum bergerak. Cctv harus diamankan agar ia bisa bergerak bebas.


SRET


Dalfi dengan pelan mengambil pistol di saku celananya. Dengan posisi tidak terlihat oleh cctv, Dalfi memposisikan pistol ke arah cctv.


SYUT


Pistol dengan peredam suara itu berhasil merusak cctv. Dengan begini, ia bisa bergerak. Sebelum itu, Dalfi kembali untuk mengambil tas punggung berisi bom didalamnya dan masuk ke ruangan yang dijaga tadi.


Laboratorium obat itulah nama yang tertulis di pintu yang dijaga tadi. Dalfi menaikkan sebelah alisnya sebelum membuka pintu itu dengan pelan kemudian masuk.


SYUT


SYUT


SYUT


Tiga tembakan beruntun dari senjata di tangannya berhasil merobohkan tiga orang yang sepertinya ilmuwan. Biasanya Dalfi tidak akan membunuh orang-orang seperti mereka, tapi kali ini berbeda. Karena para ilmuwan ini, tubuh adiknya tidak bisa mereka lihat. Karena serum yang mereka buat, tubuh adiknya meleleh begitu saja dan hanya menyisahkan debu. Betapa marahnya Dalfi mengingat itu. Beraninya orang-orang gila ini. Dalfi tidak bisa memaafkan mereka. Jadi, lebih baik mereka dibunuh saja. Tidak ada untungnya mereka tetap hidup. Kehidupan mereka hanya membawa kematian pada orang lain.


"DOB... bagaimana keadaanmu?" Tanya Dalfi sambil mengelilingi laboratorium berisi bermacam obat dan serum yang tersusun rapi dalam tabung khusus.


"Sst... Aku masih harus bersembunyi," Suara di seberang sana terdengar sangat pelan.


"Hm..." Dalfi tidak lagi peduli dan mulai membaca dokumen bertuliskan nama dan kegunaan hasil eksperimen di depannya ini.


Dalfi beralih ke sebuah perangkat komputer dan memasukan flashdisk dan mulai memindahkan semua data di dalamnya ke flashdisk miliknya. Sambil menunggu proses pemindahan, Dalfi melepas tas punggungnya dan meletakkan di atas meja. Dalfi kemudian mengambil dua bom dan memasangnya di sana. Satu di sudut ruangan, dan satu lagi tepat di tengah-tengah obat-obatan dan serum hasil eskperimen para ilmuwan gila ini.


Setelah bom berhasil dipasang, Dalfi segera pergi dari sana dengan membawa flashdisk dan tas punggung yang kini mulai terasa ringan karena hanya tersisa 6 bom di dalamnya.


10 menit kemudian.


NGING


NGING


NGING


Sedangkan dua penyusup yang mereka cari tetap tenang dan bergerak tanpa terlihat. Saat ini Dalfi sedang bergerak melalui lorong di atap, sedangkan Dalfa masih bersembunyi di ruang kerja Sienna. Tentu saja ruang kerja sang bos adalah tempat yang aman untuk saat ini.


"Berapa lama waktu yang tersisa?" Ucap Dalfa bertanya.


"20 menit lagi. Cepat pergi dari sana," Dalfi menjawab setelah menatap jam tangannya.


"Bagaimana denganmu? Jangan melakukan hal nekat. Ayo pergi bersama!" Dalfa sudah bisa menebak apa yang akan dilakukan Dalfi. Padahal bom sudah dipasang semua, tapi Dalfa yakin saudara kembarnya itu pasti akan melakukan sesuatu.


"Berikan aku 10 menit."


"Ck... Baiklah. Aku akan menunggumu di luar. Lewat semenit saja, kamu kuledakkanmu bersama mereka." Ancam Dalfa kesal. Dalfa memang memegang alat pemicu bom.


"Hm." Dalfi hanya menjawab singkat karena tiba-tiba merasa kesal melihat Sienna sedang duduk santai sedangkan para ilmuwannya sibuk berkemas. Dalfi juga terkejut melihat dua pria yang berdiri di samping Sienna layaknya anjing penjaga.


Dalfi kemudian mengeluarkan satu serum yang diambilnya tadi dalam laboratorium obat. Dalfi ingin Sienna merasakan sendiri efek dari eksperimen buatannya. Wanita itu harus merasakan sakitnya efek serum buatannya.


Menurut data yang tertulis dalam dokumen, serum ini yang paling berbahaya. Hanya dengan melepasnya di udara, serum itu akan menguap layaknya gas dan mulai mempengauhi sekitar dalam radius beberapa meter.


Dalfi dengan tenang memakai alat pelindung gas di wajahnya meski ia sudah menyuntikkan penawarnya pada tubuhnya sendiri.


"B012." Ucap Dalfi. Itu kode untuk nama bom pertama yang dipasangnya. Dalfi ingin membuat kejutan.


"Siap!"


BOOM


Ledakan cukup kuat berhasil menggetarkan laboratorium. Tentu saja Dalfi juga merasakan getaran itu karena ia sedang berada di atap. Dalfi dengan cepat menuangkan serum berwarna hijau itu melalui saluran udara yang membuatnya bisa melihat aktifitas Sienna dan orang-orangnya di bawah sana.


Melihat kepanikan Sienna dan orang-orangnya, Dalfi menyeringai dan bersiap pergi. Wajah panik dan kesakitan Sienna lumayan untuk dilihat.


SREK


Dalfi sedikit terkejut dan bergerak cepat bersembunyi. Hampir saja dia ketahuan oleh Brilyan yang juga melihat ke arahnya. Dalfi kemudian bergegas pergi dari sana. Waktunya tersisa 4 menit lagi. Dalfi harus bergerak cepat.


BOOM


Rupanya Dalfa sudah tidak sabar untuk membunuhnya. Dalfi menatap ke depan dimana ada dua jalan yang harus ia pilih. Hanya beberapa detik, Dalfi memilih lorong di sebelah kanan. Dalfi dengan cepat merayap keluar.


2 menit kemudian.


Dalfi ternyata sudah berada di atap bangunan laboratorium.


SREK


Dalfi melepas dan membuang masker gas yang dipakainya.


"Sepertinya kamu menikmatinya," Komentar Dalfi saat scope sniper miliknya menampilkan wajah tersenyum Dalfa yang melihat para penjaga milik Sienna berlarian keluar laboratorium.

__ADS_1


"Butuh bantuan?" Tanya Dalfa.


"Tidak perlu." Jawab Dalfi sebelum mengambil pistol dalam sakunya dan menembak tepat ke arah Dalfa.


SYUT


"Hei... jangan menembak dengan serampangan begitu..." Kesal Dalfa terkejut karena tali baja dengan ujung berbentuk runcing itu berhasil menancap tepat di samping telinganya. Jika dia bergerak sedikit saja, telinganya sudah pasti terluka.


SYUTT


SREK


"Bersiap! Mereka sebentar lagi keluar." Ucap Dalfi setelah berhasil berpindah dari gedung laboratorium ke pohon yang cukup besar untuk menampungnya dan Dalfa.


"Hoho... waktunya bersenang-senang..." Ucap Dalfa senang. Tangannya sudah gatal untuk menonton kembang api.


BOOM


BOOM


BOOM


Tiga Ledakan beruntun berhasil membuat kembang api besar di tengah malam. Untungnya laboratorium itu berada di hutan sehingga tidak mengundang perhatian.


"Sisakan B019 dan B20." Ucap Dalfi.


"Huh?" Dalfa sedikit berpikir, kemudian menatap sebagian gedung laboratorium yang sudah runtuh. Tersisa bagian ujung sebelah kanan hingga ke pintu keluar.


"Aha... Wanita itu pasti ada di ujung sana." Tunjuk Dalfa ke arah ujung laboratorium. Sedangkan B019 dan B20 tepat didekat pintu keluar. Jadi... Hahaha..." Dalfa sudah bisa menebak jalan pikiran Dalfi.


"Tahan!" Ucap Dalfi dan mulai mengarahkan senapan sniper miliknya ke arah para personil penjaga yang berlarian menyelamatkan diri.


SYUT


SYUT


SYUT


Dalfi menargetkan kepala musuh. Tumbangnya tiga personil secara tiba-tiba membuat personil yang lainnya bersiap dalam mode tempur. Sayangnya mereka tidak tahu dimana tepatnya lawan mereka berada. Peluru dengan peredam suara dan asalnya sama sekali tidak terlihat, jadi bagaimana mereka tahu keberadaan musuh? Padahal mereka sudah kewalahan karena banyaknya personil yang mati akibat ledakan bom.


SYUT


Headshoot


SYUT


Headshoot


SYUT


Dalfi terus menumbangkan musuh tanpa peduli apapun. Selagi menunggu Sienna tiba, para personil akan ia bantai dari jauh.


BOOM


BOOM


"Apa-apaan? Kenapa dua pria itu ada di sini?" Dalfa terkejut melihat dua pria yang dikenalnya keluar dengan kondisi berantakan dengan salah satu diantara mereka menggendong Sienna. Tiga orang itu keluar sambil memakai masker gas. Meski mereka menggunakan masker, Dalfa tetap mengenali mereka melalui senapan snipernya.


"Aku sudah menduga Brilyan diculik karena tubuhnya tidak ditemukan di rumah sakit. Tapi si penggila kebersihan itu! Kenapa juga dia menjaga wanita gila itu? Sialan..." Dalfa kesal setengah mati.


SYUT


"Eh..." Dalfa menoleh pada Dalfi setelah melihat Artya jatuh terduduk akibat peluru menembus bahu kanannya. Karena itu juga, Sienna yang berada di gendongannya jatuh berguling membuat kemarahan Dalfa sedikit berkurang.


Dalfa bisa melihat melalui senapan sniper miliknya, Sienna terlihat berdiri dan marah-marah setelah melepas masker yang dipakainya kemudian membuangnya sembarangan.


"Hei, mas bro... haruskah mereka dibunuh sekarang?" Tanya Dalfa. Melihat wajah merah padam Dalfi, sudah jelas itu wajah marah.


SYUT


Satu tembakan berhasil mengenai bahu kiri Brilyan. Tentu saja pelakunya Dalfi.


SYUT


SYUT


Dalfi juga menargetkan ligamen di bagian lutut kanan Sienna dan ligamen pergelangan kaki kiri Sienna. Dengan dua tembakan itu, Sienna tidak akan menggunakan dua kakinya lagi. Ini juga balas dendam atas kelumpuhannya selama seminggu.


Dalfa terkejut dengan kelakuan Dalfi. Tapi Dalfa hanya tersenyum dan menggeleng. Bisa-bisanya dia tidak diberi kesempatan untuk memberi mereka pelajaran.


"Ratakan tempat ini." Ucap Dalfi setelah menyimpan senapannya. Dalfa dengan patuh menekan pemicu untuk bom tersisa.


BOOM


BOOM


BOOM


Laboratorium milik Sienna itu benar-benar rata dengan tanah. Tidak hanya itu. Keadaan orang-orang di sekitarnya juga sangat parah. Mereka terlihat tidak berdaya. Efek ledakan juga berimbas pada mereka yang ada di sekitarnya.


Dalfa memposisikan senapannya untuk melihat keadaan Artya, Brilyan dan Sienna melalui scope. Ternyata tiga orang itu terluka parah. Selain mereka, sepertinya yang lainnya sudah tidak bernyawa.


"Gledy!" Panggil Dalfi setelah menekan chip di belakang telinganya.


"Untuk apa memanggilnya?" Tanya Dalfa penasaran. Dalfi tidak menjawab.


"Aku di sini." Jawab Gledy yang muncul secepat cahaya.


"Awasi mereka. Ayo pulang!" Ucap Dalfi kemudian melompat turun.


BRUK


"Mereka dibiarkan begitu saja?" Tanya Dalfa setelah ikut turun.


"Ya, untuk saat ini. Mati terlalu mudah untuk wanita itu,"

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2