Nona Muda Yang Menyamar

Nona Muda Yang Menyamar
Semoga Rhiana baik-baik saja!


__ADS_3

Rhiana mengerutkan sedikit keningnya melihat kemunculan Hann bersama seorang pria yang kemudian didorongnya pria itu jatuh tepat di depan Rhiana.


"Dia yang menusukmu tadi, kan? Aku menangkapnya saat mau kabur."


Hann kebetulan datang ke kantin ingin membeli minum, ternyata menyaksikan insiden penusukan Rhiana. Dan kebetulan juga siswa itu berlari ke arahnya, jadi Hann dengan cepat menangkapnya.


"Ayo kita ke rumah sakit. Kamu terluka parah, Rhia!" Hann kaget melihat ujung pisau di depan pinggang Rhiana. Ternyata pisau itu menembus hingga ke bagian depan.


Rhiana menunduk melihat lukanya. Rhiana kbisa merasakan pisau itu pasti merusak ginjalnya.


SRET


PRANG


Sebuah baki melayang ke arah Rhiana. Untungnya dia cepat merespon dengan menendang baki itu. Rhiana sedikit meringis karena sakit di pinggangnya. Luka ini ternyata tidak main-main. Dia harus bergegas ke rumah sakit untuk diperiksa.


"Jangan bilang..." Gumam Rhiana setelah melihat keanehan para murid di kantin.


"Ada apa?" Tanya Hann karena mendengar gumaman Rhiana.


"Siapkan tenagamu untuk melarikan diri dari sini." Ucap Rhiana sebelum memasang kuda-kuda untuk lari dari sana. Rhiana tidak bisa lama-lama di sana mengingat lukanya akan semakin parah. Untuk saat ini dia masih bisa bertarung.


"Apa maksudmu?" Hann masih tidak mengerti.


BUGH


BUGH


Rhiana tidak menjawab Hann karena memberikan masing-masing satu tendangan pada dua siswa yang mendekat padanya. Keadaan para siswa itu terlihat aneh. Sedangkan siswa lain sudah berlarian pergi dari kantin. Ada sebagian juga sibuk mengambil video karena mereka merasa aman tidak didatangi oleh para siswa aneh itu. Tentu saja, karena mereka hanya menyerang Rhiana dan Hann yang membantu.


"Kenapa mereka tiba-tiba mengamuk? Sebenarnya apa yang sudah terjadi di sekolah ini?"


Hann kesal setelah memberikan tinju pada wajah seorang siswi yang menodongkan gunting padanya. Hann tidak peduli jika itu perempuan. Jika sudah terlihat aneh, pukulan memang mempan pada mereka.


"Ugh..." Rhiana meringis diikuti muntahan darah dari mulutnya.


"Rhia... ayo ke rumah sakit!" Brilyan tiba-tiba muncul entah dari mana, Rhiana tidak tahu. Pria itu kemudian menggendong Rhiana dengan posisi koala karena luka di pinggang gadis itu.


SREK


BUGH


BRUK


"Buka jalan untuk kami!" Brilyan memberi perintah pada Hann setelah bergerak menendang seorang siswa yang menghampirinya dan Rhiana.


"Hei... kamu pikir aku ini bodiguardmu?" Hann menyahut kesal setelah mendorong seorang siswi ke samping.


"Cepatlah! Rhiana kesakitan," Brilyan tidak peduli dan bergerak maju sembari menunggu Hann membuka jalan, sedangkan dia sendiri menjaga bagian belakang.


"Aku masih bisa berjalan. Turunkan aku!" Ucap Rhiana pelan.


Rhiana bisa melihat Hann yang kesusahan karena sekitar 20-an siswa yang menyerang mereka. Sepertinya efek permen itu bekerja dengan baik, sehingga para siswa itu bisa dikendalikan dengan mudah.


"Jangan berlagak kuat. Kamu terluka parah, Rhiana!" Brilyan membalas dengan dingin.


Rhiana tidak tahu betapa Brilyan sangat khawatir padanya. Luka yang dilihat dengan mata kepalanya sendiri membuat jantungnya serasa ingin berhenti berdetak karena ketakutan. Selama ini luka yang diterima Rhiana tidak separah ini. Brilyan tentu saja khawatir.


"Gledy... aku butuh bantuan," Ucap Rhiana pelan.


Penglihatannya mulai terlihat samar-samar. Entah apa yang sudah terjadi pada tubuhnya, Rhiana tidak tahu lagi. Kepalanya tidak bisa memikirkan apa-apa. Rhiana hanya merasa lelah dan ingin tidur. Semoga saja ini bukan hal buruk.

__ADS_1


"Ada apa, Rhia?" Brilyan seperti mendengar Rhiana berbicara.


"Rhia?" Panggil Brilyan lagi tapi tidak ada sahutan balasan.


"HANN!" Teriak Brilyan khawatir karena Rhiana sudah kehilangan kesadaran.


"Sial... para bedebah ini," Kesal Hann yang juga menyadari keadaan Rhiana.


Hann kemudian menarik meja panjang didekatnya kemudian menendangnya ke arah para siswa yang mendekat pada mereka.


"Hann... lewat sini!"


"Siapa namanya, ya. Aku lupa." Hann sedang berpikir siapa nama siswa yang memanggilnya ini.


"Namaku Triztan. Ayo ikut aku, di sebelah sini aman. Kita bisa keluar lewat sini."


Brilyan menatap datar pada Triztan. Kenapa juga pria lemah ini ada di sini? Brilyan tidak senang tetapi tetap ikut karena Rhiana harus segera dibawa ke rumah sakit.


Tidak ada percakapan diantara tiga pria itu. Triztan dan Hann memimpin di depan sedangkan Brilyan menggendong Rhiana di belakang mengikuti. Mereka akhirnya tiba di gerbang, yang entah bagaimana bisa dibuka. Sudah ada mobil yang menunggu di depan gerbang.


"Ayo masuk!" Ucap Hann setelah membuka pintu mobil bagian kemudi setelah pintu bagian penumpang untuk Brilyan.


"Kamu sudah punya SIM?" Triztan dengan polosnya bertanya.


"Apa itu penting?" Hann menyahut dengan kesal. Triztan hanya memasang wajah canggung. Sedangkan Brilyan tidak peduli karena Rhiana lebih penting baginya.


Hann kemudian mengemudi pergi dari sana.


"Kamu baru belajar mengemudi?" Brilyan berbicara dengan datar sambil tangannya sibuk membalut tangan Rhiana yang terluka. Untungnya ada kotak P3K dalam mobil.


"Apa!" Hann menyahut kesal setelah berhenti di lampu merah.


"Di saat seperti ini kamu masih peduli dengan aturan lalu lintas?" Brilyan semakin kesal.


"Terobos. Aku yang akan bertanggung jawab!" Brilyan kini mendekap Rhiana dengan erat. Rasanya dia ingin menangis melihat kondisi Rhiana. Untung saja dia masih merasakan nafas hangat gadis itu.


"Pegangan!" Ucap Hann sebelum menginjak pedal gas.


***


Brilyan membuka matanya setelah satu jam Rhiana dibawa ke ruang operasi. Pria itu berusaha tenang meski sebenarnya dalam hati khawatir setengah mati. Brilyan terus berdoa dalam hati agar gadis yang disukainya itu baik-baik saja.


"Per... misi... mau minum?" Triztan dengan wajah takut menawarkan sebotol air mineral pada Brilyan yang bersandar di salah satu kursi tunggu dekat ruang operasi Rhiana.


Brilyan menatap Triztan sebentar sebelum menatap air mineral di tangan pria itu. Brilyan menghembuskan nafas pelan sebelum mengambil air mineral itu.


"Terima kasih,"


"Rhi... Rhiana pasti baik-baik saja. Dia gadis yang kuat," Triztan membuka percakapan setelah mengambil posisi duduk di samping Brilyan.


"Hm."


SRET


Pintu ruang operasi terbuka otomatis.


Seorang pria dengan pakaian operasi keluar dari sana. Brilyan mengenal pria itu sebagai dokter yang mengoperasi Rhiana. Brilyan dengan cepat menghampiri dokter itu. Triztan juga bergegas. Sedangkan Hann entah kemana pria itu pergi, tidak ada yang peduli.


"Kondisi pasien saat ini sedang kritis. Pasien harus segera menerima transplantasi ginjal agar keadaan bisa stabil. Saat ini tidak ada stok ginjal rumah sakit yang cocok. Da-"


"Saya akan mendonorkan ginjal saya." Brilyan memotong dengan cepat.

__ADS_1


"Saya mengerti, tapi saya belum selesai mendisgnosis keadaan pasien. Tolong dengarkan sampai selesai, Nak."


"Katakan." Nada bicara Brilyan yang terkesan tidak menghormati yang lebih tua membuat dokter paru baya itu hanya bisa bersabar dalam hati.


"Saya tidak tahu apa transplantasi ginjal bisa menstabilkan keadaan pasien-"


"Apa maksud anda?"


"Bi... biarkan dokter selesai menjelaskan, Bri." Triztan bisa merasakan apa yang ada di pikiran dokter itu.


"Maafkan kami. Silahkan lanjutkan, Dok." Triztan sedikit menunduk memohon maaf pada sang dokter.


"Pisau itu sepertinya mengandung racun. Akibatnya, darah pasien sudah terkontaminasi dengan racun sehingga keadaannya semakin memburuk. Jadi, bukan hanya transplantasi tetapi juga penawar untuk racun. Untuk saat ini itu yang bisa saya diagnosis. Selain itu, di rumah sakit ini tidak ada dokter yang ahli racun. Jika racun biasa, mungkin pihak rumah sakit masih bisa mengatasi, tetapi racun dalam tubuh pasien sudah pasti bukan racun biasa."


"Untuk apa tempat ini menyandang nama rumah sakit terbaik? Nama itu seharusnya dihapus saja!" Ucapan Brilyan dengan nada sarkas membuat dokter paru baya bernama Zimson itu mengerutkan kening tidak senang. Sedangkan Triztan terkejut dengan kelakuan tidak sopan Brilyan.


DRAP


DRAP


DRAP


Langkah kaki cepat menghampiri tiga pria di depan ruang operasi. Ketiganya mengalihkan pandangan pada kemunculan seorang pria dengan setelah blazernya.


"Dokter David? Ada yang bisa saya bantu?" Dokter Zimson bertanya heran.


"Bagaimana keadaan Rhiana?" Dokter David, alias teman mommy Rhiana itu bertanya dengan cepat. Pria itu baru tahu jika Rhiana ada di rumah sakit ini setelah mendengar berita yang muncul, sekaligus pembicaraan dari beberapa perawat.


"Dari mana anda mengenal Rhiana?" Brilyan bertanya dengan tidak senang.


"Ini bukan saatnya bertanya seperti itu, Bri." Triztan tidak tahu lagi harus menaruh wajahnya dimana karena merasa malu.


"Maafkan anak ini, Dok. Dia seperti ini karena khawatir dengan keadaan temannya." Dokter Zimson segera menjelaskan agar tidak menimbulkan keributan, mungkin?


"Tidak apa-apa, Dokter Zimson. Saya juga mengerti. Jadi, bagaimana keadaan pasien?" David tersenyum tipis sebelum menatap Brilyan sebentar.


Dokter Zimson dengan tenang menjelaskan keadaan Rhiana saat ini. David mengangguk mengerti kemudian mengambil ponselnya dalam saku celananya. Pria itu kemudian membuat panggilan keluar.


"Batalkan penerbangan saya untuk malam ini. Ada keadaan mendesak yang harus saya lakukan. Saya baik-baik saja. Hanya saja, ada operasi darurat. Iya, itu saja. Terima kasih, Nadia."


"Anda ingin mengambil alih operasi, Dok?" Dokter Zimson bertanya untuk memastikan. Jika memang benar, maka itu bagus. Dokter Zimson jelas tahu kemampuan dokter muda di depannya ini.


"Benar. Sebelumnya, saya minta maaf karena berlaku seenaknya di sini, Dok. Saya tidak bisa menutup mata saat ada pasien yang bisa saya tolong."


"Tidak apa-apa, Dok. Justru itu bagus, karena kemampuan anda sangat mungkin dengan keadaan pasien saat ini."


"Jangan terlalu banyak bicara! Rhia sedang sekarat." Brilyan kesal karena melihat dua orang ini berbicara membuang waktu.


"Saya mengerti perasaanmu. Ayo ikut saya. Kamu mau mendonorkan ginjalmu untuk Rhiana 'kan?" David menepuk bahu Brilyan dan tersenyum tipis.


***


Dalfa dan Dalfi berlari setelah keluar dari mobil. Kedua saudara kembar Rhiana itu baru mendapat kabar kondisi adik kesayangan mereka. Keduanya lalu bergegas ke rumah sakit. Mereka tidak peduli dengan aturan sekolah dan menerobos para penjaga kemudian menuju rumah sakit. Tidak ada yang lebih berharga dari pada adik kesayangan mereka.


"Bagaimana keadaan Rhiana?" Dalfa bertanya saat melihat Hann dan Triztan yang duduk di kursi tunggu dekat ruang operasi.


"Rhiana sedang dioperasi untuk kedua kalinya." Triztan menjawab dengan pelan.


"Jelaskan dengan rinci!" Dalfi angkat bicara dengan nada dingin khasnya. Tatapan tajam dilayangkan pada Triztan mengintimidasi pria itu.


Triztan dengan sedikit terbata dan takut, mulai menjelaskan apa yang dikatakan dokter hingga pergantian dokter untuk operasi. Tidak lupa juga dengan inisiatif Brilyan yang ingin mendonorkan ginjalnya.

__ADS_1


"Jadi dia cocok?" Ucap Dalfa sedikit bernafas lega. Untuk saat ini mereka akan menunggu kabar baik dari Dokter David. Dalfa juga sudah menghubungi dokter dan para ahli racun milik keluarga mereka untuk segera bersiap kemari.


__ADS_2