
Rhiana masuk ke dalam gedung dengan beralasan ingin menginap. Sebelum itu, Rhiana sudah meminta Gledy mencari dimana ruang Badan Intelijen Internasional. Dia akan menyusup ke sana. Dia harus tahu, apa yang sedang terjadi.
Masuk dalam lift, Rhiana bersandar pada dinding lift. Tiba-tiba lampu mati. Hanya satu menit, lampu kembali menyala. Rhiana kemudian menoleh ke sampingnya. Sudah ada Gledy yang berdiri di sana.
"Bagaimana?" Tanya Rhiana setelah menguap malas.
"Lantai 11." Gledy menjawab dengan datar.
Rhiana kemudian maju mencari lantai 11 di tombol lift. Ternyata tidak ada angka 11 di sana. Rhiana kembali menoleh menatap Gledy di belakang. Robot itu ikut menatap Rhiana sebelum maju dan melakukan sesuatu dengan tombol lift.
SREKK
BRUKK
Lift tiba-tiba berhenti. Pintu lift kemudian terbuka. Yang dilihat pertama kali adalah lorong digital yang menampilkan suasana bermacam-macam negara dengan keunggulan teknologi masing-masing. Rhiana mengangguk sedikit kagum dengan tampilan itu.
"Aku sudah mengamankan sekitar." Gledy membuka suara dan dibalas anggukan oleh Rhiana.
"Terima kasih, Gledy. Sisanya serahkan padaku." Gledy sedikit memgangguk kemudian menghilang.
Rhiana yang ditinggal, melangkah dengan hati-hati menyusuri lorong hingga dia menemukan pintu yang terbuka. Rhiana menatap sekitar sebelum masuk ke ruangan itu.
Di dalam ruangan itu, masih ada beberapa ruangan lagi yang dibuat transparan, sehingga orang diluar bisa melihat ke dalam, tapi orang di dalam tidak bisa melihat keluar kecuali mengaktifkan tombol di dalam ruangan itu.
Rhiana menatap ruangan pertama. Ada banyak komputer dan teknologi canggih lainnya di dalam sana. Ruangan kedua, ada beberapa senjata yang baru Rhiana lihat beserta peluru masing-masing.
Sebelum Rhiana beralih ke ruangan lain, pandangannya teralihkan ke layar hologram yang tiba-tiba muncul di tengah ruangan. Ada berita serangan t*****s di salah satu negara yang mengorbankan cukup banyak orang.
[Negara XX sedang marak karena serangan t*****s. Banyak korban jiwa karena aksi para t*****s. Karena itu, pasukan khusus Badan Intelijen Internasional yang dikenal dengan pasukan Hell yang terdiri dari 6 orang dikirim untuk misi itu.
Pasukan Hell berhasil menyelamatkan sandera juga membunuh para t*****s di tempat, tetapi Kapten pasukan Hell mengalami luka parah karena menyelamatkan sandera. Kapten pasukan Hell saat ini sedang ditangani oleh pihak medis khusus.
Kondisi kapten pasukan Hell akan kami beritakan lagi jika sudah dikonfirmasi lebih lanjut. Sekian berita hari ini!]
Rhiana sudah mendengar nama pasukan Hell dari cerita guru militernya sejak usianya 5 tahun. Kata gurunya, pasukan Hell adalah pasukan khusus yang setiap misinya tidak pernah gagal.
Sebelum mereka terpilih menjadi pasukan Hell, setiap orang dilatih begitu keras. Seperti namanya yang berarti neraka, semua calon pasukan Hell dilatih dengan sangat keras. Setiap hari mereka hanya diberi waktu tidur 3 jam. Sisa waktu digunakan untuk melatih fisik masing-masing orang di setiap medan pertempuran yang sudah disimulasi sama persis dengan medan aslinya.
Calon pasukan Hell dilatih selama 5 tahun. Bayangkan, betapa kerasnya pelatihan 5 tahun itu. Dan hasil akhir dari pelatihan itu, 6 orang akan dipilih sebagai inti pasukan Hell.
Pasukan Hell sebenarnya berdiri sendiri, tetapi entah apa yang sudah terjadi, kini pasukan khusus yang dibentuk 15 tahun lalu, yang tidak ada seorangpun tahu dimana markas rahasianya, ataupun siapa pendirinya, kini diketahui publik sudah bekerja sama dengan Badan Intelijen Internasional.
Rhiana ketika mendengar cerita ini, dia tertarik untuk bergabung, tetapi gurunya tertawa dan mengatakan bahwa hanya laki-laki yang diterima sebagai pasukan Hell. Entah alasan apa yang membuat wanita tidak diperbolehkan mendaftar meski hanya untuk mengikuti pelatihan di sana.
Rhiana menghembuskan nafas pelan dan beralih ke ruangan dimana terdapat beberapa ahli medis yang sedang sibuk mengoperasi seseorang. Rhiana mendekat untuk melihat lebih jelas siapa pria yang dioperasi itu.
Jantung Rhiana bedebar kencang melihat orang yang sedang dioperasi di dalam ruangan berdinding kaca itu. Meski wajah orang itu ditutupi alat bantu pernapasan, tapi Rhiana mengenalinya. Dia jelas mengenali pria itu.
Jika membandingkan situasi sekarang dengan berita yang dia lihat tadi, Rhiana berkedip beberapa kali. Jadi... si penggila kebersihan adalah kapten pasukan Hell?
Clik
Rhiana mengerutkan kening mendengar sesuatu di belakangnya. Sebelum Rhiana berbalik, sebuah pistol sudah ditodong tepat di belakang kepalanya.
"Siapa kamu? Apa yang kamu lakukan di sini?"
Rhiana tanpa takut berbalik sehingga ujung pistol tepat dahinya. Rhiana sedikit melirik pistol sebelum beralih menatap pria muda yang menodong pistol padanya.
"Jawab aku, sebelum kamu aku tembak!"
Rhiana menarik senyum tipis masih menatap wajah pria itu.
"Aku hanya ingin bertemu dengan pria di sana." Rhiana menjawab dengan jujur.
"Kapten tidak pernah berhubungan dengan gadis mungil sepertimu. Aku mengenal semua orang yang dekat dengan kapten. Berhenti berbohong dan katakan siapa kamu!"
__ADS_1
"Jika paman mengenal semua tentangnya, seharusnya paman mengenalku." Rhiana menjawab dengan tenang. Jangan lupakan senyum polosnya diberikan pada pria di depannya.
"Jangan banyak bicara! Katakan siapa kamu, dan apa tujuanmu datang ke sini. Apa kamu mata-mata?"
"Apa mata-mata akan muncul dengan cara seperti ini?"
[Darurat!]
[Darurat!]
[Pemberitahuan Darurat!]
[Pasien mengalami gagal jantung!]
Suara yang muncul tiba-tiba mengalihkan perhatian Rhiana dengan pria muda itu. Rhiana terkejut. Jantungnya berdegub kencang. Pemberitahuan itu membuatnya tidak tenang. Dia khawatir pada pria itu.
"Jangan bergerak!" Pria yang Rhiana tidak tahu namanya itu menahan Rhiana yang terlihat bergerak ingin melakukan sesuatu.
Rhiana berhenti bergerak dan menatap wajah pria di depannya.
"Siapa namamu, Paman?" Rhiana bertanya dengan nada dingin.
"Vender!" Pria itu menjawab dengan polos. Entah kenapa dia tiba-tiba menjawab pertanyaan gadis mungil di depannya ini.
"Biarkan aku pergi, Paman Vender!"
"Tetap di tempatmu! Maju selangkah, peluru ini akan menembus kepalmu. Aku tidak main-main!" Pria bernama Vender itu sudah menempatkan jari telunjuknya siap menarik pelatuk.
"Urus sisanya, Gledy!" Suara Rhiana membuat Gledy tiba-tiba muncul di belakang Vender membuat pria itu kaget.
Rhiana tersenyum tipis dan dengan cepat masuk ke dalam ruangan tempat operasi.
Sampai di dalam, Rhiana menarik keluar seorang dokter yang menutup jalannya menuju brankar Artya.
"Apa yang terjadi padanya?" Tanya Rhiana dengan panik. Rhiana menatap layar monitor jantung Artya. Terlihat garis lurus di sana. Jantung Rhiana berdebar semakin kencang. Entah kenapa dia tiba-tiba merasa takut. Dia tidak pernah setakut ini meski dalam bahaya karena misi sekalipun.
"Kau gila? Apa maksudmu?" Rhiana menarik kerah baju dokter yang memberikan laporan tadi.
Sebelum dokter itu bereaksi, tiba-tiba dinding kaca ruangan operasi itu bergerak naik. Rhiana bisa melihat puluhan pria berpakaian khas Badan Intelijen Internasional mengepung ruangan itu. Mereka sedang menodong pistol ke arah Gledy.
Bukan hanya itu. Beberapa pria memakai jas formal juga masuk beriringan ke dalam. Melihat penampilan dan respons tentara Badan Intelijen Internasional (BII), Rhiana bisa menebak mereka pasti para petinggi.
"Berikan laporanmu!" Seorang pria paru baya berpakaian jas formal menatap dokter yang melapor tadi. Kerah jas dokter itu masih Rhiana pegang.
"Siapa gadis itu? Bawa pergi!" Pria paru baya itu kembali memberi perintah.
"Jangan menyentuhku!" Rhiana memberi ancaman dengan nada dingin.
SET
BRUKK
Rhiana melempar dengan kasar, dokter di tangannya. Aura Rhiana tiba-tiba berubah membuat orang-orang di ruangan itu tertegun. Bagaimana bisa aura gadis kecil ini sangat mendominasi? Setelah dipikir-pikir, bukankah aura gadis kecil ini terasa familiar?
"Patuhi perintah, Nona!" Seorang pria muda mendekat dan berbicara pada Rhiana dengan sopan. Rhiana tidak peduli dengan pria itu. Dia menoleh menatap Gledy.
"Urus mereka, Gledy!" Rhiana tidak bisa menunggu untuk basa-basi lagi. Artya tidak bisa menunggu selama itu.
Gledy mengangguk dan menatap tentara BII. Para tentara itu juga siap siaga dengan senjata di tangan masing-masing. Mereka sudah siap menembak Gledy.
Sebelum mereka menarik pelatuk masing-masing, para tentara BII itu sudah jatuh beruntun membuat para petinggi terkejut. Bagaimana bisa satu orang mampu menjatuhkan puluhan orang dalam waktu 3 menit? Ini benar-benar kejutan.
Mereka beralih menatap Rhiana. Siapa gadis kecil ini? Ternyata dia memiliki satu orang yang mampu menjatuhkan puluhan orang dengan waktu cepat. Para petinggi menatap beberapa tentara yang tersisa dan memberi isyarat agar tidak bertindak sembarangan.
Kembali pada Rhiana.
__ADS_1
"Dia belum mati! Si penggila kebersihan ini tidak boleh mati!" Rhiana berbicara dengan dingin. Pandangannya beralih menatap Artya di brankar.
"Tidak mungkin! Kapten sudah mati karena gagal jantung selama operasi." Seorang dokter menyahut karena menyaksikan sendiri kematian Kapten pasukan Hell itu.
"Diam!" Rhiana menatap tajam dokter itu sebelum menatap Artya lagi.
"Bukankah kamu terlalu kuat untuk mati secepat ini? Bagaimana bisa kapten pasukan Hell yang dibanggakan banyak orang mati begitu saja? Heh... kamu terlalu lemah menjadi seorang kapten pasukan Hell." Rhiana berbicara tanpa memikirkan orang-orang di sekitar.
"Kamu tahu, kakak ipar. Sejak umur 5 tahun, aku sudah mendengar cerita tentang kehebatan pasukan Hell. Aku sangat ingin bergabung dengan pasukan itu.
Sayangnya, kalian tidak menerima wanita untuk mendaftar. Aku juga tidak pernah menyangka ternyata identitasmu tidak biasa, Kakak ipar. Aku mengagumimu!" Rhiana terus berbicara sambil berdiri tepat didekat brankar bagian kepala.
"Hei, kakak ipar. Sebagai kapten pasukan Hell, bukankah sangat memalukan mati karena gagal jantung? Apa yang harus dibanggakan pada pasukanmu? Bangun sekarang, Kakak ipar. BANGUN! AKU BILANG BANGUN!" Rhiana sudah berteriak marah membangunkan Artya. Tangannya bahkan menggoyangkan tubuh Artya berusaha membangunkan pria itu.
"Kapten sudah meninggal, Nona! Jangan menghalangi prosedur pemakaman!" Kali ini Vender yang maju ingin membawa Rhiana pergi.
SET
BUGH
BUGH
BRUKK
Semua orang kaget. Bukan hanya auranya yang mendominasi. Kekuatannya juga tidak kecil. Gadis kecil di depan mereka ini mampu menjatuhkan anggota pasukan Hell dengan mudah. Pasukan Hell yang dilatih begitu keras selama 5 tahun, jatuh dengan hanya dua tendangan. Semua orang menatap penasaran pada Rhiana.
"Dia belum mati! Aku akan membuatnya bangun! Jangan menggangguku!" Rhiana kesal karena ada yang mengganggunya.
"Nona... saya tidak tahu siapa anda, tapi sikap anda seperti sekarang sudah melanggar aturan pemerintah karena menghalangi prosedur pemakaman anggota pemerintah. Jaga sikap anda, Nona!" Suara tua itu mengalihkan perhatian Rhiana.
"Dia belum mati, untuk apa dimakamkan?" Rhiana menyahut dengan marah.
"Nona... sebelumnya, perkenalkan. Saya Marvinus Lonnyare. Ketua Badan Intelijen Internasional negara Swiss. Boleh saya tahu siapa anda, Nona?" Kali ini pria paru baya berjas jas formal lain kembali berbicara.
Rhiana menatap pria tua itu. Dari penilaian Rhiana, pria tua itu cocok menjadi ketua karena terlihat bijaksana dan tidak bertindak sebelum melihat situasi.
"Aku akan menjawab pertanyaan itu setelah membangunkan si penggila kebersihan ini, Kakek!"
Kakek?
Kenapa gadis kecil ini sangat tidak sopan?
Mereka sangat menghormati pemimpin mereka. Kenapa gadis ini sangat tidak sopan? Dia bahkan memanggil kakek bukan pak. Apa gadis ini tidak tahu seperti apa tempramen pemimpin BII negara Swiss ini?
"Hahaha... kamu sangat berani, Nona. Saya beri waktu 20 menit untuk membangunkan Kapten pasukan Hell. Jika tidak, jangan harap bisa keluar dari sini hidup-hidup!"
Mendengar perkataan pemimpin mereka, mereka tiba-tiba merinding. Inilah sifat asli pemimpin BII negara Swiss. Berhadapan dengan orang asing, pemimpin BII negara Swiss akan bersikap ramah terlebih dahulu untuk nelihat situasi.
Si tua rubah sebutan orang BII itu akan bersikap baik pada orang baru untuk melihat kinerja mereka. Jika tidak berhasil, dia akan membuat orang itu kehilangan nyawanya.
"Terima kasih, Pak tua."
Pak tua?
Dari kakek menjadi pak tua?
Gadis kecil ini semakin tidak sopan.
Rhiana menatap Gledy. Robot ciptaan mommynya itu dengan tenang menuju ke arahnya.
"Bantu aku, Gledy. Periksa dia!"
***
Jangan lupa tinggalkan jejakmu, ya.
__ADS_1
Terima kasih.😁