
Rhiana sudah terlelap di pangkuan Artya setelah berdebat panjang lebar dengan pria itu. Tentu saja dia lelah dan mengantuk. Tenaganya terasa habis karena meronta ingin lepas dari Artya.
Artya menarik sudut bibirnya mendengar dengkuran halus dari Rhiana. Artya sengaja menyalakan pengharum ruangan khusus obat tidur agar tupai kecilnya ini tidak melawannya lagi.
Artya menoleh menatap wajah tenang Rhiana di dadanya. Matanya tiba-tiba terpaku melihat leher putih milik Rhiana. Entah apa yang terlintas di pikirannya, Artya mendekat pada Rhiana.
Cup!
Artya mencium dan bahkan menghisap dengan kuat leher Rhiana. Jelas sekali dia ingin meninggalkan tanda kepemilikkannya di sana. Selagi Tupai kecilnya ini tidak sadar, dia dengan leluasa meninggalkan tandanya. Tentu saja hanya sebatas tanda di leher. Dia masih punya moral terhadap anak di bawah umur.
SRAK!
"Sa...saya tidak melihat apa-apa, Tuan!" Felix yang baru saja masuk ke dalam mobil segera berdalih karena menangkap basah majikannya sedang berulah. Tapi, untuk menyelamatkan nyawanya, dia harus berbohong tidak melihat apa-apa.
"Pulang!" Artya hanya menatap tajam Felix sebelum kembali melihat Tupai kecilnya. Dia tidak ingin merusak suasana hatinya saat ini.
"Siap, Tuan!" Felix menjawab sebelum bernafas legah. Ternyata dia masih hidup. Asisten Artya itu melirik sedikit ke arah Artya. Dalam hati dia bersyukur karena suasana hati majikannya sudah membaik.
Tidak seperti sebelumnya, di saat mereka masih mencari keberadaan Rhiana, Artya sudah membunuh belasan orang karena suasana hatinya tidak baik. Siapa saja yang salah bicara, atau menyentuhnya sedikit saja, nyawa orang itu langsung menghilang.
Felix terus berdoa dalam hati memohon ampun karena sudah banyak membunuh orang atas perintah majikan tirannya ini. Mau bagaimana lagi, ini resiko menjadi asisten seorang tiran.
***
Rhiana membuka matanya dengan enggan. Dan yang pertama dia lihat adalah dada bidang seseorang. Rhiana mendongak ingin tahu siapa orang yang sudah memberikan pelukan hangat dan nyaman ini padanya. Ternyata si penggila kebersihan.
Melihat wajah tenang Artya, Rhiana menghela nafas mengingat perdebatan mereka dalam mobil. Rhiana tiba-tiba merasakan firasat buruk. Rhiana kemudian melepas pelan pelukan Artya dan turun dari tempat tidur. Syukurlah Artya tidak terusik saat dia melepas pelukannya dan turun dari tempat tidur.
Suasana asing dalam kamar ini membuat Rhiana mengerutkan kening. Bukan hanya itu. Ternyata firasat buruknya benar. Dia dikurung. Tidak ada jalan keluar lain selain pintu keluar satu-satunya di kamar ini. Sepertinya pria ini benar-benar tidak ingin melepasnya. Rhiana mengusap tengkuknya merasa malas untuk berpikir sekarang. Lebih baik dia mencuci wajahnya.
Rhiana menatap pantulan wajahnya di depan cermin wastafel. Yang menarik perhatiannya bukan wajah cantiknya yang basah, tetapi warna merah seperti memar di lehernya yang putih. Apa yang sudah terjadi padanya? Di bagian memar ini tidak terasa sakit. Lalu, kenapa bisa ada memar? Rhiana kebingungan.
GREP!
"Itu tandanya kamu milikku!" Suara serak Artya di atas kepala Rhiana terdengar. Pelukan pria itu cukup erat.
__ADS_1
"Huh?"
Cup!
"Jangan dipikirkan. Ayo kita sarapan," Arya tersenyum tipis setelah mencium pipi Rhiana.
Rhiana tidak tahu apa yang harus dia lakukan sekarang. Jadi, dia akan mengikuti apa yang dilakukan Artya.
...
"Bukankah ini penculikan?" Rhiana membuka suara ditenga sarapannya bersama Artya.
"Kata siapa? Aku melakukan ini karena kamu milikku. Ini juga hukuman karena menghindariku!" Artya menjawab dengan tenang. Rhiana mendengus malas tidak mengatakan apa-apa lagi dan menikmati sarapan sehat miliknya.
Keduanya sarapan bersama tanpa bertukar cerita lagi. Sudah jelas Artya tetap diam karena sudah sifatnya. Sedangkan Rhiana, gadis itu diam karena sibuk memikirkan apa yang harus dia lakukan selama dikurung di sini. Rhiana juga penasaran apa yang sedang dilakukan tiga bodyguardnya karena dia menghilang sejak pulang sekolah kemarin.
Setelah sarapan, Rhiana kembali berkeliling kamar yang sudah seperti sebuah rumah karena ada beberapa ruangan di dalamnya. Dia memang tidak sempat melihat-lihat isi dari 3 pintu lainnya.
Membuka pintu pertama, Rhiana disuguhkan dengan banyaknya buku-buku yang tersusun rapi di rak-rak buku maupun dalam lemari kaca. Sepertinya ini perpustakaan yang lumayan besar milik Artya.
Rhiana kemudian menuju meja kerja di bagian ujung ruangan. Rhiana membuka setiap laci meja penasaran apa isinya. Sebelah alisnya terangkat melihat buku tebal dengan sampul yang sudah cukup tua tapi terawat. Judulnya cukup menarik perhatian.
Rhiana menatap cctv dipojok ruangan bagian atas seakan meminta izin apakah buku ini boleh dibaca atau tidak. Tapi, setelah dipikir-pikir, jika ini buku terlarang, tidak mungkin diletakkan ditempat yang mudah terlihat. Rhiana dengan tenang mengambil buku itu kemudian memposisikan dirinya duduk di kursi kebesaran di sana.
Sejarah keluarga Scoth adalah judul buku di tangan Rhiana. Sepertinya Artya sudah membaca buku ini. Rhiana membuka lembaran pertama buku dengan sampul kuno ini.
Bolevite Scoth adalah kepala keluarga pertama yang lahir pada abad ke tujuh zaman negara Swiss kuno. Bolevite waktu itu hanya rakyat biasa yang memiliki prestasi cemerlang di bidang seni pedang, sehingga diangkat menjadi pengawal Raja saat itu. Dengan bakatnya sebagai ksatria yang awalnya melindungi perbatasan hingga menjadi seorang ksatria pengawal dan orang yang paling dipercaya Raja.
Bolevite mengabdikan hidupnya semasa muda pada Raja abad itu hingga menikah di usianya yang kepala empat dengan seorang nona bangsawan. Karena kesetiaan Bolevite yang mempertaruhkan nyawanya untuk Raja, sehingga dihadiahkan sebuah mahakarya berupa pedang buatan tangan pengrajin khusus keluarga kerajaan saat itu.
Bolevite yang begitu setia pada Raja, menjadikan hadiah itu sebagai pusaka turun temurun keluarga Scoth. Bolevita bahkan menuliskan pada buku hariannya agar setelah dia meninggal, pedang itu harus dijaga oleh keturunannya seperti menjaga nyawa sendiri.
Membaca bagian ini, sekaligus melihat gambar pusaka berupa pedang itu, Rhiana mengangguk mengerti. Pantas saja informasi pusaka itu begitu dijaga, sehingga Rhiana sama sekali tidak mendapat informasi apapun tentang pedang itu yang merupakan tato di punggungnya.
"Kalau begitu, bagaimana dengan bunga ranunculus?" Gumam Rhiana.
__ADS_1
Hadiah yang diberikan Raja pada kepala keluarga pertama Scoth saat itu hanya sebuah pedang. Tidak ada bunga ranunculus yang mengelilingi pedang itu.
Rhiana kemudian membalik lembar berikutnya. Pada lembar itu, ada gambar pedang yang dilingkari bunga ranunculus. Bagian ini membuat Rhiana menarik sudut bibirnya dan kembali membaca.
Hadiah pemberian Raja abad itu hanya dipakai sekali oleh Bolevite pada saat terjadi pemberontakan di kerajaan. Karena tidak ingin Raja dibunuh, Bolevite menyembunyikan Raja bersama keluarga kerajaan ditempat khusus persembunyian keluarga kerajaan. Setelah itu, Bolevite dengan sekuat tenaga menjaga kerajaan bersama pasukan khusus dan prajurit setia Raja. Dan beruntung, pasukan yang dipimpin Bolevite saat itu berhasil mengalahkan para pemberontak.
Nama Bolevite semakin dikenal rakyat saat itu karena keberaniannya. Keluarga kerajaan juga sangat berterima kasih, dan memberikan banyak kekayaan padanya.
Setelah perang internal karena pemberontakan itu, tidak ada lagi sisa pemberontakan maupun orang yang berniat menguasai kerjaan karena takut dengan Bolevite.
Waktu pun berlalu, Bolevite akhirnya wafat meninggalkan seorang istri dan seorang anak laki-laki yang juga menjadi penerus keluarga Scoth.
Anak Bolevite yang bernama Benolite yang merupakan kepala keluarga kedua abad itu meletakkan pedang milik ayahnya tepat di atas makam Bolevite sebagai bentuk penghormatan pada ksatria pemberani Raja.
Setelah beberapa tahun kemudian, Bolevite baru menemukan buku harian ayahnya yang mengatakan bahwa pedang yang dihadiahkan Raja itu harus dijadikan pusaka turun temurun sebagai bukti bahwa keluarga Scoth pernah menjadi ksatria pengawal Raja.
Benolite yang membaca pesan ayahnya itu kemudian berkunjung ke makam untuk mengambil kembali pedang itu. Anehnya, saat sampai di makam, pedang milik ayahnya yang waktu itu diletakkan tepat di atas batu nisan sudah dilingkari bunga ranunculus berwarna warni yang sangat cantik. Ini seperti keajaiban bagi Benolite. Padahal di sekitar makam tidak ada rumput liar karena beberapa bulan sekali selalu dibersihkan.
Saat Benolite ingin melepas bunga itu, sama sekali tidak terlepas. Seakan-akan keduanya sudah menyatuh erat tidak ingin dipisahkan. Benolite yang merasa bunga itu cukup cantik melingkar indah pada pedang membiarkannya seperti itu.
Lagipula kerajaan sudah makmur bahkan keamanan sudah meningkat kuat sehingga tidak ada lagi musuh yang berani menyerang. Jadi, pedang milik kepala keluarga pertama Scoth itu tidak perlu lagi digunakan.
Benolite sendiri bukan seorang ksatria seperti ayahnya. Justru dia menjadi seorang menteri keuangan yang mengelolah keuangan kerajaan dengan jujur.
"Cukup menarik," Rhiana kemudian menutup buku itu, tidak membaca kelanjutannya. Yang ingin dia tahu sudah diketahui, jadi rasa penasarannya sudah terjawab.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Terima kasih sudah membaca cerita Rhiana.
Like jika suka cerita ini.
Sampai ketemu di chapter selanjutnya.😁
Jangan bosan menunggu updet cerita ini, ya.
__ADS_1