Nona Muda Yang Menyamar

Nona Muda Yang Menyamar
Brilyan Menang Banyak


__ADS_3

"Rhi, ak-"


SREKK


Rhiana kaget karena kursinya ditarik tiba-tiba. Pelakunya tentu saja Artya. Pria itu menarik kursinya sehingga merapat padanya. Padahal Rhiana ingin tahu apa yang akan Brilyan katakan, dia sudah ditarik ke arah Artya.


"Kenapa membelanya?" Artya berbisik tidak senang.


"Membela? Aku hanya mengajukan pertarungan yang adil bagi kedua pihak. Jika mengikuti saran orang-orang itu, sudah pasti kak Artya yang paling diuntungkan. Aku ini orang yang baik," Rhiana menjawab dengan tenang.


"Jangan mengulanginya lagi. Aku tidak suka," Rhiana hanya mendengus dan menikmati cake di depannya.


"Apa kamu ingin mengatakan sesuatu?" Rhiana teringat Brilyan yang terlihat ingin mengatakan sesuatu.


"Ya. Ak-"


"Hay, Bri. Bisa bicara denganku sebentar?" Seorang gadis muda menghampiri Brilyan dengan senyum khasnya.


"Tidak." Brilyan menjawab dengan cepat.


"Nona muda Zakhari, silahkan duduk. Tante akan membujuk Brilyan. Tunggu sebentar, ya." Lodia, ibu Brilyan dengan ramah mempersilahkan gadis itu duduk di sebelahnya.


"Enak?" Artya bertanya pada Rhiana tanpa mempedulikan keadaan yang lain. Di matanya hanya ada Rhiana.


"Ya. Aku pencinta yang manis-manis," Rhiana menjawab dengan polos.


"Aku akan menyuruh Felix menyiapkan lebih banyak untukmu di rumah. Jadi, mulai seka-"


SRET


"Kenap-" Suara Rhiana tertahan karena Brilyan sudah menariknya pergi tanpa peduli keadaan sekitar.


"Aku ingin bicara, Rhi." Brilyan menarik pergelangan tangan Rhiana dan berlari pergi entah kemana.


"BRILYAN, MAU KEMANA KAMU?" Teriakan ibu Brilyan sama sekali tidak dipedulikan.


Artya yang cukup kaget dengan keberanian Brilyan baru saja merespon dengan berdiri ingin mengejar. Sayangnya, keberanian Brilyan membuat Artya kehilangan jejak dua orang itu. Brilyan tentu saja tidak akan bertindak tanpa tahu sifat Artya.


Aura di sekitar Artya tiba-tiba berubah suram. Dia sangat kesal. Tatapan tajamnya segera dilayangkan ke arah Felix yang juga menatapnya. Tentu saja tindakan Brilyan tadi membuat mereka menjadi pusat perhatian.


Felix tiba-tiba merinding. Asisten Artya itu jelas tahu betapa kesal majikannya sekarang. Dengan keadaan gugup, Felix berdiri dan segera memberi isyarat pada orang-orang suruhannya untuk mencari keberadaan Rhiana. Dia harus menemukan Rhiana sebelum sifat tiran majikannya lebih parah. Felix takut dosanya membunuh orang semakin banyak. Dia harus mulai menahan majikannya untuk membunuh dengan cara bekerja lebih giat lagi.


"Kamu semakin berani, adikku. Apa yang harus aku lakukan padamu?" Gumam Artya dalam hati. Tangannya terkepal menahan marah. Dia masih bermurah hati karena berpikir Brilyan tidak berani mengusiknya. Tapi, jika seperti ini, tidak ada belas kasihan lagi.


***


GREP


"Aku merindukanmu, Rhi. Sangat merindukanmu," Ucap Brilyan yang memeluk Rhiana dengan erat. Suara Brilyan bahkan terdengar lirih. Betapa dia sangat merindukan Rhiana.


Brilyan merasa frustasi karena Rhiana selalu saja dibawa pergi oleh kakaknya. Dan jika Rhiana sudah kembali, justru si kembar Dalfa dan Dalfi yang selalu memonopoli Rhiana. Brilyan bahkan tidak punya waktu lebih lama bersama gadis yang dia sukai.


"Kamu terlihat bahagia bersama kakakku. Kamu senang bersamanya? Apa yang bisa aku lakukan agar kamu juga memperlakukanku sepertinya? Apa yang harus aku lakukan, Rhi. Aku sakit melihatmu bersama kakakku. Aku..."


"Hei, bung. Kamu... menangis? Apa yang harus aku lakukan pada pria cengeng ini? Kenapa pria satu ini selalu terlihat rapuh?" Ucap Rhiana dalam hati.

__ADS_1


Rhiana baru sadar, ternyata Brilyan tidak sedingin yang terlihat. Atau, sifat hangat pria ini hanya terlihat saat bersamanya? Rhiana menghela nafas dan membalas pelukan Brilyan sambil menepuk pelan punggung pria itu menenangkannya.


"Katakan padaku, apa yang harus aku lakukan? Aku bisa gila karenamu, Dear."


"CARI DI DALAM KAMAR! MEREKA PASTI ADA DI SANA!"


Suara seorang pria dan suara derap langkah kaki membuat Brilyan melepas pelukannya dan menarik Rhiana sedikit ke pojok. Mereka saat ini ada di balkon kamar Brilyan. Pria itu tidak membawa Rhiana keluar, karena penjaga Artya ada dimana-mana. Jadi, Brilyan hanya menarik Rhiana ke kamarnya.


"Ikut bersamaku, ya." Brilyan memelas pada Rhiana.


"Terserah," Rhiana menjawab tanpa menatap Brilyan. Lagipula, kemana pun dan dimana pun dia bersembunyi, si tiran penggila kebersihan itu pasti akan menemukannya.


"Terima kasih. Aku menyayangimu,"


SRET


"Jangan bilang..." Ucap Rhiana dan menatap Brilyan dengan tidak yakin. Rhiana sudah berganti posisi di gendongan Brilyan ala bride style.


"Maafkan aku. Tolong percaya padaku. Pegangan yang erat, Dear. Aku akan melompat," Rhiana berpura-pura takut dan mengalungkan tangannya ke leher Brilyan.


"Tutup matamu jika kamu takut. Aku jamin kita akan baik-baik saja, percaya padaku." Brilyan tersenyum menatap Rhiana yang mulai memejamkan matanya.


SET


Brilyan menaiki kursi yang ada di balkon kamarnya sebelum berpindah ke pagar balkon.


BRAK


Dobrakan pintu kamarnya juga terdengar. Sepertinya orang suruhan kakaknya sudah sampai ke sini. Brilyan menatap sebentar ke kamarnya sebelum melompat.


SYUT


"Maafkan aku. Kamu bisa membuka mata. Kita sudah di bawah," Perkataan Brilyan membuat Rhiana dengan pelan membuka matanya. Dan benar, mereka sudah di mendarat di bawah. Ternyata Brilyan cukup kuat untuk melompat dengan beban bersamanya dari lantai 2 rumah utama keluarga Scoth yang cukup tinggi itu.


"Kamu baik-baik saja? Masih takut?" Brilyan bertanya dengan khawatir.


"Se sedikit," Rhiana menjawab dengan pelan.


"Sekali lagi maafkan aku. Kita akan pulang. Tahan sebentar, ya." Brilyan dengan khawatir mempercepat langkahnya menuju mobil dan pergi dari sana.


***


"Rhi..." Panggil Brilyan dengan lembut. Mobilnya baru saja berhenti karena mereka sudah sampai di tempat tujuan. Rhiana sudah tertidur di kursi penumpang di sebelahnya.


Wajah tenang Rhiana mengundang tangan Brilyan untuk mengelusnya lembut. Tangan Brilyan juga bergerak melepas kaca mata Rhiana yang masih setia terpasang. Itu terlihat mengganggu, pikirnya.


"Ketahuilah, aku sangat menyayangimu. Aku akan melakukan apa saja untuk mendapatkanmu. Jadi tolong, lihat aku juga, Rhi." Gumam Brilyan dengan tangannya masih mengelus pipi Rhiana.


CUP


Kecupan penuh kasih sayang Brilyan berikan di dahi Rhiana yang masih terlelap. Brilyan kemudian keluar dari mobil menuju pintu mobil samping Rhiana untuk membawanya masuk tanpa membangunkannya.


"Rhia sudah tidur, Bi. Dia sepertinya lelah. Dia tidur selama perjalanan kemari. Saya akan membantu membaringkannya. Maaf, Bi. Boleh saya tahu dimana kamar Rhia?" Brilyan berbicara dengan sopan pada Bibi Ratih, yang diketahuinya sebagai ibu Rhiana.


"Syukurlah kamu sudah kembali Nak. Terima kasih sudah membawa anak bibi pulang, Iyan. Mari bibi antar ke kamarnya." Bibi Ratih dengan peran ibu kandung Rhiana menuntun Brilyan.

__ADS_1


"Terima kasih sudah membawa Rhia pulang, Iyan. Mau bibi buatkan teh?" Bibi Ratih menawar dengan sopan. Rhiana sudah dibaringkan di ranjangnya.


"Tidak usah, Bi. Tapi, boleh saya minta sesuatu, Bi? Sebelumnya maafkan saya." Brilyan terlihat ragu ingin mengatakan sesuatu.


"Ada apa, Nak?"


"Bolehkah saya menjaga Rhia, Bi? Saya tidak bermaksud apa-apa. Saya hanya ingin... saya hanya ingin melihat Rhia lebih lama, Bi. Saya tahu permintaan saya tidak sopan, tapi... saya minta maaf, dan tolong percaya pada saya, Bi. Saya tidak akan berbuat macam-macam. Saya hanya ingin menjaga Rhia saja. Tolong beri saya izin, Bi." Ekspresi Brilyan saat ini terlihat sangat malu, takut, dan juga gugup. Tapi matanya menatap Bibi Ratih dengan penuh harap.


Bibi Ratih tiba-tiba kebingungan. Entah apa yang harus dilakukan wanita paru baya itu ketika dihadapkan dengan situasi seperti ini. Sebagai orang dengan status pelayan yang berperan menjadi ibu kandung majikannya untuk sementara, Bibi Ratih takut salah mengambil sikap.


Jika berperan sebagai ibu dan pelayan untuk majikannya, sangat tidak sopan mengiyakan orang lain apalagi seorang pria melihat Nona mudanya tidur. Tapi, jika sebagai orang yang tidak tegah, Bibi Ratih juga kasihan melihat wajah Brilyan. Bukan hanya hari ini Bibi Ratih melihat teman Nona mudanya.


Sejak Nona mudanya berteman dengan pria ini, dan sejak Nona mudanya menghilang karena misi atau dibawa pergi, pria ini selalu datang setiap hari memeriksa keberadaan Nona mudanya. Bahkan pria ini terlihat tidak tidur dan hanya menunggu diluar mobilnya sepanjang hari. Sebagai makhluk sosial, Bibi Ratih kasihan melihat Brilyan.


Larut dengan pikirannya, Bibi Ratih menghela nafas sebelum menatap Rhiana sebentar dan beralih menatap Brilyan.


"Maafkan saya karena tidak sopan, Bi. Jika tidak bisa, boleh saya menginap di sofa ruang tamu, Bi? Saya hanya tidak ingin Rhia dibawa lagi oleh kakak saya. Tolong izinkan saya, Bi. Saya janji tidak berbuat macam-macam. Saya hanya ingin Rhia tetap di dekat saya. Saya mohon, Bi."


"Kamu boleh menginap di sini. Nak Iyan juga boleh menjaga Rhia di kamarnya. Tapi jika mengantuk, tidurlah di sofa ruang tamu. Jangan di kamar anak bibi. Jangan merusak kepercayaan bibi, Iyan." Ternyata wajah kasihan Brilyan membuat tugas Bibi Ratih sebagai pelayan sedikit bergeser.


"Syukurlah. Terima kasih, Bi. Terima kasih banyak. Saya janji hanya melihat di sebelah Rhia. Bibi bisa beristirahat," Senyum manis Brilyan membuat Bibi Ratih hanya bisa mengelus dada dan mengangguk sebelum keluar dan beristirahat di kamar sebelah.


"Kalau kamu lapar, masih ada makanan kotak yang bibi simpan di kulkas. Jangan sungkan, dan anggap rumah sendiri. Selamat malam," Bibi Ratih berhenti sebentar dan berbicara sebelum benar-benar pergi ke kamarnya.


"Terima kasih, Bi. Selamat beristirahat," Brilyan berdiri dan membungkuk hormat hingga Bibi Ratih keluar dari kamar Rhiana.


Brilyan sudah kembali duduk. Posisi kursi yang tadinya di sebelah tempat tidur dekat tangan Rhiana, kini berpindah ke bagian kepala Rhiana. Brilyan sengaja agar lebih dekat menatap wajah Rhiana yang terlelap.


Terus menatap wajah Rhiana, mata Brilyan tiba-tiba terfokus ke bibir Rhiana yang semerah cerry. Brilyan menelan ludahnya gugup.


"Tidak boleh, kamu sudah janji tidak berbuat macam-macam." Brilyan menggeleng dan berbicara pada dirinya sendiri dalam hati. Sayangnya, bibir semerah cerry yang sedikit terbuka itu seakan-akan memanggilnya.


"Kendalikan dirimu, Brilyan. Jangan merusak kepercayaan Bibi." Brilyan masih berperang batin.


5 menit kemudian. Pukul 11.45, malam.


Brilyan menatap ke arah pintu kamar Rhiana. Bibi Ratih memang tidak menutupnya. Tentu saja pintu itu tidak boleh ditutup. Brilyan juga tidak mungkin menutup pintu, karena itu tidak sopan apalagi dia memaksa tinggal di kamar seorang gadis.


"Maafkan aku Bi. Hanya saja aku tidak bisa menahan diri," Ucap Brilyan dalam hati.


CUP


Wajah Brilyan merah padam. Padahal dia hanya menempel bibirnya sepersekian detik dengan bibir Rhiana, tapi siapapun yang melihat wajah Brilyan saat ini akan tahu jika pria itu sedang dalam suasana musim semi.


"Maaf karena sudah mencuri ciumanmu saat tidur, Rhi. Selamat malam. Mimpi indah, Dear." Ucap Brilyan sebelum mengecup dahi Rhiana. Senyum Brilyan masih terpancar indah. Tentu saja pria itu sedang bahagia.


Tidak ingin dirasuki iblis lagi, Brilyan memperbaiki sedikit selimut di tubuh Rhiana sebelum berdiri dan melihat keadaan kamar Rhiana yang kecil. Kamar ini bahkan tidak lebih besar dari kamar mandinya di rumah utama keluarga Scoth.


Meski terlihat kecil, tapi kamar ini sangat nyaman. Brilyan tersenyum tipis menatap foto Rhiana di meja belajarnya. Ada dua bingkai foto di atas meja. Satu foto yang ada Rhiana muda seorang diri dengan senyum manisnya, dan satu foto lagi ada Rhiana yang memeluk Bibi Ratih tapi keduanya menatap ke arah kamera dengan sangat bahagia.


Brilyan dengan tenang mengambil ponselnya dan mengabadikan foto Rhiana yang lebih muda. Dengan senyum senang, Brilyan menyetel foto itu sebagai wallpaper ponselnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Terima kasih sudah membaca ceritaku....

__ADS_1


...Like dan komen kalian ditunggu,...


...Sampai nanti di chapter selanjutnya....


__ADS_2