Nona Muda Yang Menyamar

Nona Muda Yang Menyamar
Pemanasan


__ADS_3

Rhiana sedang membaca kembali dokumen yang Lycoris simpan di brangkas apartemennya di New York. Ada dokumen yang masih belum dia mengerti. Dokumen itu berkaitan dengan Yeandre. Dokumen itu tidak menjelaskan lebih detail kenapa Yeandre dijadikan senjata hidup dan diincar oleh organisasi bawah tanah.


Rhiana hanya baru menemukan alasan Yeandre diincar. Sisanya dia belum menemukan apapun. Selama menyusup ke markas utama organisasi bawah tanah di Rusia, Rhiana sama sekali tidak menemukan apa-apa. Rhiana tidak menemukan apapun, karena sudah lebih dulu ketahuan oleh Marie. Jadi, Rhiana hanya kembali dengan tangan kosong.


"Apa sebaiknya aku menyusup ke rumah utama keluarga Lawrence?" Rhiana bergumam setelah meletakkan salah satu dokumen yang dia baca di atas meja.


Keluarga Lawrence yang Rhiana maksud adalah rumah Yeandre. Jika ingin mencari petunjuk, Rhiana harus mencari jejak di sana. Rhiana yakin pasti ada sesuatu yang mungkin tersimpan di sana. Apalagi ayah Yeandre tahu tentang kondisi anaknya, sehingga Rhiana harus mencari ke sana.


Rhiana tentu harus tahu asal usul virus yang tertanam dalam tubuh Yeandre. Setidaknya, semua yang berkaitan dengan kakak Lycoris itu harus diselidiki hingga ke akarnya. Belum lagi, Rhiana masih penasaran dari mana Lycoris tahu kondisi kakaknya dan memintanya untuk menjaganya.


Semua tentang Lycoris masih menjadi misteri. Sahabatnya itu sangat hebat menutup dirinya. Rhiana sama sekali tidak tahu apa-apa tentang sahabatnya itu. Lycoris memang tidak pernah bercerita tentang kehidupan pribadinya sebelum diadopsi oleh mommy Rihan. Lycoris memang penuh misteri.


Rhiana bisa saja meminta pada mommynya, tetapi dia akan berusaha untuk mencari dengan kekuatannya sendiri. Dia bertekad untuk memulai semua dari nol seperti kedua orang tuanya.


Rhiana membuka ponselnya untuk memesan tiket pesawat ke Swiss lebih awal. Semua harus dijadwalkan lebih awal agar tidak terganggu nantinya. Belum lagi, dia harus memprioritaskan keamanan Yeandre.


Asik menscrool layar ponselnya, sebuah notifikasi pesan masuk membuat Rhiana mengerutkan keningnya. Nama 'Calon Suami' tertera di sana. Rhiana bingung, kenapa ada nama kontak ini di ponselnya. Seingatnya, dia tidak pernah menyimpan nomor dengan nama kontak ini.


Calon Suami:


Selamat malam!


Jangan pernah mengubah nama kontak yang sudah aku buat!


Pesan kedua yang masuk, sudah menjelaskan siapa yang menyimpan nomor ini. Rhiana juga tidak perlu susah payah menebak siapa orang ini. Tentu saja itu Artya. Hanya pria itu satu-satunya yang selalu seenaknya seperti ini. Artya juga yang sudah memegang ponselnya terakhir kali.


^^^Rhiana:^^^


^^^Kenapa aku harus mengikutimu, Kakak ipar?^^^


Rhiana dengan senyum jahil mengetik pesan balasan.


Calon Suami:


Tentu saja itu harus!


Coba saja untuk mengubahnya,


^^^Rhiana:^^^


^^^Heh... aku semakin ingin mengubahnya.^^^


Rhiana terkekeh senang ketika mengetik beberapa kata ini.


Drtttt


Drtttt


Drtttt


"Mari kita lihat, apa yang akan dia katakan." Rhiana bergumam ketika 'calon suami' menelponmya. Rhiana tersenyum tipis sebelum menjawab panggilan itu.


"Kamu berani mengubahnya?" Terdengar suara penuh intimidasi di seberang sana.


"Kenapa tidak berani? Lagipula, aku sudah punya kekasih. Hanya kekasihku yang layak dengan nama itu,"


"Kekasih pura-pura maksudmu?" Suara Artya terdengar meremehkan.


Rhiana yang mendengar penuturan itu berkedip beberapa kali. Dia tidak menyangka Artya bisa menebak dengan benar. Tapi, dari mana pria itu tahu?


"Maksud kakak ipar apa?" Rhiana mengelak dengan tenang.

__ADS_1


"Nama kontak seorang kekasih tidak mungkin nama lengkapnya, bukan?" Artya kali ini terkekeh.


"Jangan bilang, dia melihat semua isi kontakku?" Gumam Rhiana dalam hati tertegun.


"Aku lupa menggantinya," Rhiana malu mengatakan ini. Bisa-bisanya kakak Brilyan ini melihat isi ponselnya tanpa izin.


"Tapi... bukankah tidak sopan melihat ponsel orang lain tanpa izin?" Rhiana ingin mengubah topik untuk menyudutkan Artya.


"Bagiku, kamu bukan orang lain. Kamu adalah calon istriku di masa depan,"


"Jangan terlalu pede! Aku yang akan memilih calon suamiku sendiri."


"Dan kamu akan memilihku!" Suara Artya sangat percaya diri.


"Tentu saja tidak! Sudah ya, Kak. Aku harus menutup teleponnya," Rhiana ingin cepat mengakhiri panggilan ini.


Rhiana tidak ingin membiarkan Artya seenaknya padanya. Kadang dia tidak bisa menang beragumen dengan pria itu. Belum lagi, jika Artya mengancamnya, Rhiana pasti akan kalah telak.


Setelah menutup panggilan dengan Artya, Rhiana mengirim email pada Marie terkait penyerangan organisasi bawah tanah seminggu lalu di auditorium Pentagon.


Hanya beberapa menit, Marie sudah membalas email itu. Tujuan utama organsiasi bawah tanah adalah mencuri barang lelang jika mereka tidak berhasil menang. Terlebih, berlian pink star dan R11. Mereka sangat menginginkan kedua barang itu.


Sayangnya, rencana mereka hari itu gagal total karena dua barang itu sudah dibawa pergi oleh sekelompok orang. Marie tidak tahu siapa orang-orang itu. Tapi Rhiana tahu, itu orang-orang Artya. Ternyata bawahan pria itu kuat, sehingga berhasil menghentikan niat organisasi bawah tanah.


Rhiana kembali bertanya, apa Marie tahu siapa yang menanamkan virus dalam tubuh Yeandre, dan kenapa mereka menanam virus itu. Dan balasan email dari Marie tidak membuat Rhiana senang.


"Lusa final basket. Malamnya sepertinya waktu yang tepat untuk pergi ke Swiss," Monolog Rhiana setelah menutup percakapan dengan Marie.


Rhiana lalu membersihkan diri sebelum tidur.


***


Hari ini final basket. Tim basket putri yang akan bermain lebih dulu. Marie sudah menunggu hari ini. Rhiana sendiri biasa saja. Dia tidak peduli menang atau kalah, asalkan dia bisa bersenang-senang dengan Marie.


Tim basket Swiss dan Rusia sedang melakukan pemanasan di sisi lapangan masing-masing. Rhiana dan timnya juga tim Marie sedang melakukan pemanasan. Rhiana yang asik mendrible bola, juga mengoper pada rekan setimnya, tidak menyadari tatapan tajam Marie padanya.


"Rhi... kapten tim Rusia sedari tadi terus melihatmu. Dia sepertinya sangat membencimu," Salah satu pemain dengan nomor punggung 10 memberitahu Rhiana.


"Hum? Biarkan saja. Lanjutkan pemanasanmu, Nare." Rhiana menjawab dengan pelan.


Rhiana kemudian berhenti melakukan pemanasan setelah salah satu rekan timnya mengoper bola padanya. Rhiana lalu berbalik dan menatap Marie yang juga menatapnya dengan tajam.


Rhiana menyeringai kemudian maju dua langkah, tepat di garis tengah lapangan. Pandangannya lurus ke arah ring lawan. Rhiana ingin mengakhiri sesi pemanasan dengan sedikit kehebohan.


Rhiana kemudian sedikit melompat dengan bola di tangannya. Rhiana lalu memposisikan tubuhnya untuk menembak bola ke ring basket tim Rusia.


Shut!


Bola berhasil masuk dengan sempurna ke ring lawan. Semua penonton bersorak heboh. Tentu saja mereka heboh, karena itu adalah shooting atau menembak bola dari jarak jauh yang menghasilkan 3 poin sekaligus.


Mereka juga kaget, ternyata Rhiana bisa mencetak tiga poin sekaligus. Biasanya Rhiana tidak pernah melakukan itu selama pertandingan basket sebelumnya. Ini benar-benar kejutan untuk mereka. Tim Swiss juga terkejut dengan aksi Rhiana hari ini.


Rhiana yang sudah kembali ke posisi semula menoleh menatap wajah tercengang Marie.


"Salam perkenalan dari tim Swiss," Rhiana berbicara dengan senyum tipis menatap Marie yang masih tercengang.


[Wah... apa itu pernyataan perang? hebat sekali!]


[Ayo Rusia... balas mereka!]


[Jangan mau kalah, tim Rusia! Kami mendukungmu!]

__ADS_1


[Tunjukan pada mereka kekuatan kalian!]


[Ayo Rusia...]


Teriakan para pendukung tim Rusia membuat Marie tersadar dan tersenyum tipis kemudian menatap salah satu temannya. Marie terlihat mengangguk dan menerima operan bola dari rekan setimnya itu.


Marie kini mendrible atau menggiring bola menuju ke ring tim Swiss. Semua penonton sudah bersorak karena melihat aksi Marie yang ingin membalas salam perkenalan dari Rhiana.


[Kyak!!!]


[Slam dunk yang benar-benar keren!]


[Sepertinya ace kedua tim sama-sama hebat. Siapa yang akan memenangkan pertandingan ini?]


[Tentu saja tim Swiss.]


[Tidak. Sudah pasti tim Rusia.]


[Jangan salah! Tidak semua orang bisa melakukan shooting seperti itu. Jadi, sudah pasti tim Swiss yang akan menang,]


[Ayo kita taruhan, tim mana yang akan menang.]


[Ayo! Siapa takut?]


Seperti itulah perdebatan beberapa penonton karena melihat aksi ace tim Swiss dan Rusia. Tentu saja shooting dari Rhiana yang menghasilkan tiga poin sangat hebat, dan slam dunk adalah memasukan bola dengan cara melompat sejauh dan setinggi mungkin, kemudian langsung menembakkan bola ke dalam ring.


Slam dunk sendiri merupakan gerakan paling populer dalam basket yang selalu dilakukan oleh orang-orang tinggi dan berbadan besar. Mereka menganggap Marie hebat, karena dia bisa melakukan slam dunk dengan sempurna hanya dengan tubuhnya yang setinggi 170 cm.


Rhiana tidak kaget dengan aksi Marie. Rhiana tahu, Marie adalah sebagian orang yang diberkahi bakat lebih, sama sepertinya. Jadi, jangan heran jika gadis itu hebat.


Semua penonton kini bertepuk tangan setelah suara peluit wasit terdengar. Mereka sudah tidak sabar menonton pertandingan kedua tim. Setiap pendukung berteriak menyoraki tim maupun nama pemain andalan masing-masing.


Rhiana tiba-tiba mengerutkan kening dan berbalik karena telinga tajamnya mendengar namanya diteriaki begitu heboh.


[Go... go... go... Kak Anya... semangat, kak Anya... Kak Anya pasti menang! Aku mencintaimu, Kak Anya!]


"Astaga... bocah itu!" Rhiana menepuk dahinya pelan karena kelakukan Axtton yang heboh sendiri di kursi penonton paling depan.


Aksinya mengundang tatapan penonton di sekitarnya. Mereka yang melihat dan mendengar teriakan Axtton bingung. Setahu mereka, tidak ada satupun pemain dengan nama Vanya di lapangan saat ini. Siapa yang bocah dengan seragam basket tim New York ini dukung?


Jika yang lain bingung, Dalfa dan Dalfi terkekeh di kursi penonton bagian tengah. Adik sepupu mereka ini akan sangat heboh jika itu berkaitan dengan Rhiana. Mereka tidak kaget lagi dengan tindakan Axtton. Sejak dulu hingga sekarang, Axtton sangat mengidolakan Rhiana.


Axtton sejak kecil mempunyai cita-cita ingin menikah dengan Rhiana setelah dewasa. Semua keluarga tentu tertawa karena kelakuan bocah itu. Hingga usia Axtton 12 tahun sekarang, tindakannya sama sekali belum berubah. Cita-citanya sejak kecil ternyata masih terbawa hingga sekarang.


Jika Dalfa dan Dalfi terkekeh karena aksi Axtton, maka berbeda dengan Brilyan. Aura disekitarnya menjadi dingin. Penonton yang duduk didekat Brilyan tiba-tiba berhenti berteriak karena punggung mereka tiba-tiba terasa merinding.


[Jika dia tidak suka keributan, jangan datang ke sini.]


[Kamu benar! Wajahnya tampan, tapi jika kelakukannya seperti itu, siapa yang berani mendekatinya?]


[Iya. Padahal aku ingin berteriak mendukung ace tim Swiss. Meski penampilannya culun, tapi dia sangat keren. Aku sangat mengaguminya. Setelah ini, aku harus meminta foto bersama.]


[Kenapa aku semakin merinding?]


[Aku juga. Hiiii... aku benar-benar tidak tahan. Bisakah kita pindah tempat duduk?]


[Tidak ada lagi tempat kosong. Kita harus bertahan, demi menonton ace tim Swiss.]


[Hei... dia melihat kita. Dia benar-benar seram. Ayo kita bertukar tempat duduk, Leo.]


[Aku tidak mau.]

__ADS_1


Di saat Brilyan tidak senang karena tingkah Axtton, tiga pria muda yang duduk didekatnya justru memuji Rhiana membuatnya semakin tidak senang. Orang-orang ini, ingin sekali Brilyan musnahkan.


__ADS_2