
Melewati jalan tol, Rhiana membuka kaca jendela hanya untuk melihat kecelakaan besar yang terjadi membuat kemacetan lalu lintas. Pantas saja bus yang dia tunggu belum muncul.
Para korban sedang dievakuasi. Rhiana berkedip beberapa kali ketika melihat Brilyan yang mengendarai motornya. Kelihatan sekali pria itu sedang mencari sesuatu. Terlihat guratan khawatir di wajah pria itu ketika melihat para korban kecelakaan.
Rhiana dengan pelan mengalihkan pandangannya ke arah lain ketika tatapan Brilyan mengarah padanya. Rhiana lalu menutup kaca mobil. Taxi juga melaju pergi.
Tingkah Rhiana yang memblokir nomor ponsel kedua saudaranya dan Brilyan, membuat ketiga pria itu sedang mencarinya setengah mati. Rhiana bahkan tidak peduli, dan justru membayar hotel untuk menginap satu malam.
***
Hari ini Rhiana ke sekolah sedikit terlambat. Tentu saja, karena dia harus menghindar dari kedua saudaranya dan Brilyan.
Sampai di sekolah, Rhiana dengan tenang menuju kelas. Meski awalnya dia harus melompat pagar karena gerbang yang sudah ditutup.
Membuka pintu kelas, Rhiana seketika berdiri kaku di depan pintu. Seluruh tubuhnya basah kuyup juga lengket. Kepalanya menunduk melihat penampilannya sendiri.
Melihat Rhiana yang berdiri kaku di depan pintu, seisi kelas justru tertawa heboh karena penampilan Rhiana yang basah kuyup oleh seember telur yang sengaja diletakkan di atas pintu.
"Bagus! Kalian menguji kesabaranku. Kalian seharusnya tahu, aku sangat membenci telur. Kalian malah menyiramnya padaku," Rhiana bergumam dalam hati. Seringai tipis terukir di bibirnya.
Rhiana pernah memiliki pengalaman tidak menyenangkan dengan telur, sehingga dia sangat membenci telur. Tapi kini, seisi kelas justru memprovokasinya.
Rhiana mengangkat kepalanya dan melihat setiap wajah yang sedang tertawa mengejeknya. Rhiana juga menyadari kedua saudaranya dan Brilyan tidak ada. Sepertinya mereka masih mencarinya. Bagus juga pikirnya. Setidaknya, dia bisa bergerak bebas di sini.
Sesisi kelas masih saja tertawa meski Rhiana sedang menatap mereka. Mereka bahkan tertawa sambil menunjuknya. Suatu penghinaan bagi seorang Rhiana.
Bruk!
Sekali tendangan, pintu kelas roboh. Sesisi kelas menjadi hening. Mereka kaget karena Rhiana merobohkan pintu kelas berbahan kayu paling kuat itu. Bukankah itu berarti dia sangat kuat?
"Aku ingin tahu, siapa yang merencanakan semua ini!" Aura di dalam kelas tiba-tiba mencekam. Nada suara Rhiana kali ini benar-benar berbeda dari nada suaranya yang biasa. Seisi kelas tercengang. Ini pertama kalinya mereka melihat sisi lain seorang Rhiana.
Rhiana dengan pelan berjalan ke arah tempat duduk seorang siswi yang duduk paling depan. Rhiana dengan keadaan basah kuyup duduk di pinggiran meja, kemudian mengambil tisu yang ada di atas meja siswi itu kemudian membersihkan wajahnya dengan santai. Tidak ada yang berkomentar. Mereka hanya menatap apa yang Rhiana lakukan dalam diam.
"Tidak ingin membuka mulut?" Rhiana berbicara dengan datar pada siswi itu. Dari nametagnya, tertulis Charly di sana.
Rhiana menyeringai kemudian mengambil sesuatu di saku seragam Charly. Itu sebuah korek api.
"Sepertinya aturan di sekolah elit ini sudah tidak berlaku lagi," Rhiana berbicara sambil memainkan korek itu dengan santai.
"Ak... aku hanya memungut korek itu di toilet," Charly mengelak dengan gugup. Rhiana hanya menaikkan sebelah alisnya.
Sekolah elit ini memang sangat ketat. Banyak sekali peraturan yang dibuat, meski itu hanya peraturan kecil sekalipun. Ada siswa yang melanggar peraturan tetapi itu dilakukan secara diam-diam sehingga tidak mendapat hukuman. Seperti yang dilakukan Charly saat ini.
Hanya beberapa siswa yang tidak mendapat hukuman meski melakukan kesalahan. Tentu saja, mereka pengecualian karena sekolah tidak bisa melawan keluarga mereka.
"Memungutnya? Benarkah?" Rhiana menyeringai dan beralih ke siswi di belakang Charly.
"Apa benar dia memungutnya? Sebungkus rokok selama waktu istirahat di ruang kosong belakang sekolah sepertinya sangat menarik. Oh... jangan lupakan stok yang tersedia untuk sebulan di ruangan itu. Haruskah aku mengatakannya juga?" Rhiana berbisik pada siswi bernametag Lily itu.
Rhiana tidak menunggu jawaban dari Lily yang terlihat panik karena ketahuan. Rhiana beralih ke siswa di sebelah Lily.
"Memasang kamera tersembunyi di toilet wanita..." Rhiana hanya mengatakan itu dan beralih ke meja siswa lain.
"Sama-sama mengintip para siswi di toilet..."
"Menulis surat teror untukku setiap hari..."
"Pergi ke club malam setiap rabu dan jumat..."
"Menyuap para guru untuk nilai tapi tidak berhasil..."
"Berpura-pura baik hanya untuk mendapat poin. Apalagi, ya. Ah... Sepertinya aku melupakan yang lainnya," Rhiana menyebut satu persatu pelanggaran yang dibuat teman sekelasnya ketika dia melewati tempat duduk mereka.
Mereka hanya menunduk ketakutan karena Rhiana mengetahui kelakukan mereka. Jika semua itu bocor, sudah pasti mereka akan dikurangi poin, juga diskors dan hukuman lainnya.
"Aku hanya ingin bersekolah dengan tenang dan tidak ingin mencampuri urusan kalian, tapi... kalian dengan beraninya memprovokasiku!" Rhiana kini beralih ke tempat duduk Lisa.
Rhiana sebenarnya tidak terlalu peduli dengan respons teman sekelasnya selama ini. Sayangnya, semakin dia tidak peduli, mereka semakin memprovokasinya. Jadi, Rhiana menyelidiki satu persatu identitas pribadi mereka.
__ADS_1
"Masih tidak ingin mengaku?" Rhiana berbicara tanpa menatap Lisa. Dia sibuk memilah pulpen apa yang akan dia ambil dari bermacam jenis pulpen milik Lisa.
Menemukan pulpen yang cocok, Rhiana tersenyum tipis, kemudian beralih menatap wajah tegang Lisa.
"Tidak mengaku pun, tidak masalah! Hanya saja, dia akan berakhir seperti ini..." Rhiana lalu melempar pulpen di tangannya ke kaca jendela sambil tetap menatap wajah tegang Lisa. Pulpen itu menancap tepat di tengah kaca hingga pecah. Para siswi di kelas berteriak ketakutan.
Jika orang biasa, pulpen itu tidak mungkin sampai menancap tepat di tengah kaca kemudian pecah. Jelas sekali itu hanya bisa dilakukan oleh seorang profesional.
"Itu... semua ini rencana Lisa! Dia cemburu karena kamu menduduki posisi pertama siswa paling berprestasi di sekolah ini," Seorang siswa di deretan kursi paling belakang membuka suara. Dia salah satu siswa yang tidak Rhiana sebut kesalahannya.
"Terima kasih sudah menjawabnya. Aku tidak akan memberitahu yang lainnya bahwa kamu senang sekali mencuri di loker siswa," Rhiana tersenyum penuh ancaman.
"Kamu sudah memberitahu kami. Dan terima kasih sudah memberitahu. Setidaknya kami tahu, siapa yang sudah mencuri barang-barang kami di loker," Seperti itulah isi hati para siswa di sana. Mereka kini beralih menatap penuh permusuhan pada siswa yang mencuri itu.
"Baiklah! Sepertinya ini cukup sebagai peringatan untuk kalian. Ingat untuk tidak melupakan hari ini! Aku juga berharap, kejadian ini tidak bocor keluar. Jika kejadian ini keluar, orang itu hanya perlu berurusan denganku!" Setelah mengatakan kalimat ancaman itu, Rhiana bergegas keluar. Tentu saja dia harus membersihkan dirinya.
Seisi kelas yang Rhiana tinggalkan saling menatap. Mereka tidak pernah menyangka bahwa sifat asli Rhiana seperti itu. Mereka berjanji untuk tidak memprovokasi gadis itu di masa depan.
***
Rhiana baru saja keluar dari toilet setelah membersihkan diri dan mengganti pakaiannya dengan seragam yang baru. Rhiana keluar dengan wajah cemberut. Tentu saja karena dia masih kesal. Beberapa kali dia harus menghembuskan nafasnya berusaha menenangkan dirinya.
Beberapa meter dari toilet wanita, Rhiana mengerutkan kening karena mendengar suara isak tangis minta tolong meski hanya kecil. Rhiana berhenti untuk mempertajam pendengarannya. Dia lalu beralih menatap pintu di sampingnya. Tepatnya pintu bertuliskan toilet pria.
"Kesempatan untuk bermain," Rhiana bergumam senang.
Tanpa menunggu lama, gadis itu segera masuk ke dalam toilet pria. Meski melanggar peraturan karena masuk ke sembarangan toilet, Rhiana tidak peduli. Toh, tidak ada yang melihatnya.
...
"Apa aku boleh bergabung?" Rhiana membuka suara dengan santai. Posisinya berdiri dengan kedua tangan terlipat di dada sambil bersandar pada dinding.
Di depan Rhiana, ada seorang siswa dengan penampilan culun sedang dibully. Siswa itu berbaring di lantai dengan basah kuyup sambil menangis memohon ampun. Ada tiga siswa di sekelilingnya yang tertawa mengejeknya. Jangan lupakan kekerasan fisik juga batin yang mereka berikan pada siswa culun itu.
"Beraninya kamu masuk ke toilet pria? Bawa dia padaku! Aku akan mengajarkan bagaimana caranya bersikap sopan pada seorang pemimpin geng."
Rhiana dengan langkah pelan menghampiri siswa culun itu. Sebelum itu, ketiga siswa lainnya sudah dia urus terlebih dahulu. Tentu saja Rhiana hanya memberikan sedikit pelajaran ringan pada mereka hingga pingsan.
"Te... terima kasih," Siswa itu berbicara setelah Rhiana membantunya duduk.
"Tidak masalah. Bisa berdiri? Ayo, aku antar ke UKS!"
"Tidak perlu, aku akan dijemput sebentar lagi. Sebelumnya, perkenalkan namaku Triztan." Siswa bernama Triztan itu memperkenalkan diri dengan mengulurkan tangannya.
"Aku Rhiana. Kalau begitu, aku akan membantumu ke gerbang." Rhiana tersenyum tipis lalu membalas uluran tangan Triztan.
"Huh? Ini pertama kalinya aku melihat ekspresi seperti ini," Komentar Rhiana dalam hati ketika melihat wajah memerah Triztan saat bersalaman dengannya.
"Ak... aku..." Triztan ingin mengatakan sesuatu, tetapi diurungkan.
"Ada apa?" Tanya Rhiana setelah berdiri dan mengulurkan tangannya ingin membantu Triztan.
"Bo... bolehkah ak... aku menjadi temanmu?" Triztan berbicara dengan gugup.
"Boleh saja," Rhiana menjawab dengan lembut setelah merangkul Triztan untuk berjalan keluar toilet.
"Terima kasih. Bagaimana dengan mereka?"
"Biarkan saja! Mereka tidak akan mati. Ayo pergi,"
Keduanya menuju gerbang, karena jemputan Triztan sudah menunggu di sana.
Melihat plat mobil yang menjemput Triztan, Rhiana langsung tahu, bahwa keluarga Triztan tergolong dalam keluarga tingkat menengah tetapi menduduki posisi paling terakhir. Sepertinya keluarganya baru saja naik ke tingkat menengah. Pantas saja, mereka membullynya. Belum lagi, penampilannya yang culun, membuatnya menjadi bahan bullyan. Rhiana hanya tersenyum tipis melihat kepergian mobil Triztan.
Setelah mobil Triztan menjauh, senyum Rhiana tiba-tiba hilang digantikan wajah kaget ketika melihat mobil kedua saudara kembarnya dan motor Brilyan yang baru saja tiba. Ini sudah lewat jam sekolah pagi. Kenapa tiga orang itu baru datang? Mereka pasti punya alasan yang membuat sekolah mengizinkan ketiganya datang terlambat.
Tanpa menunggu, Rhiana dengan cepat berbalik dan bersembunyi di belakang gerbang. Tentu saja, dia tidak ingin bertemu dengan mereka. Dia sedang malas diceramahi.
"Yo... sepertinya kamu sedang bersembunyi dari mereka," Rhiana kaget dan refleks menoleh dan meninju tepat di wajah orang yang bersuara itu.
__ADS_1
Bugh!
"Pukulanmu hampir mematahkan gigiku," Ringis siswa itu, yang ternyata adalah Hann.
"Gawat... Aku refleks memukulnya. Itu salahnya sendiri," Gumam Rhiana dalam hati.
"Ma...maaf! Aku tidak sengaja," Elak Rhiana dengan gugup.
"Tidak heran, Guru takewondo itu sangat menyukaimu. Pukulanmu benar-benar sakit," Komentar Hann sambil mengusap pipinya. Rhiana hanya menunduk gugup.
***
Rhiana sudah melarikan diri dari Hann. Dia juga tidak penasaran apa yang membuat Hann bisa berada di belakangnya. Rhiana saat ini sedang mengumpulkan niat untuk masuk ke kelasnya. Tadinya dia ingin menghindari kedua saudaranya dan Brilyan, tetapi setelah dipikir-pikir, dia juga kasihan pada mereka.
Menghela nafas pelan, Rhiana mulai memasang wajah polos dan masuk ke kelas. Pintu kelas belum diperbaiki. Rhiana yakin, kedua kakaknya akan mengurus hal itu.
"Kenapa mereka tidak ada?" Tanya Rhiana dalam hati. Tempat duduk ketiga orang yang dia cari masih kosong.
Baru saja Rhiana akan bertanya pada salah satu siswa, siswa lain lebih dulu berbicara padanya.
"Rhi, Dalfa dan Dalfi mencarimu." Siswa itu berbicara dengan ketakutan. Meski wajah Rhiana polos tanpa beban, tetapi aura di sekitarnya masih mencekam bagi mereka.
"Brilyan juga mencarimu," Siswa lain juga menyahut dengan gugup.
"Mati aku! Aku harus mencari mereka," Rhiana hanya mengangguk dan bergegas keluar.
...
Rhiana sedang berjalan di lorong kelas khusus menari. Ketika dia akan berbelok, seseorang menarik tangannya hingga masuk ke salah satu ruangan. Rhiana tidak sempat membaca papan nama ruangan itu.
Grep!
Rhiana berkedip beberapa kali karena orang itu memeluknya sangat erat. Rhiana juga tidak menolak karena dia sangat mengenal bau khas orang ini.
"Dia tidak marah?" Tanya Rhiana dalam hati. Dia berpikir, pria yang memeluknya ini akan marah padanya karena sudah memblokir nomornya.
"Dari mana saja? Aku sudah mencarimu sejak kemarin. Kamu baik-baik saja, 'kan? Apa ada yang terluka? Di mana ponselmu? Sudah makan? Semalam tinggal di mana?" Pertanyaan beruntun, Brilyan berikan pada Rhiana yang masih dalam pelukannya.
"Wah... orang ini tiba-tiba begitu cerewet," Gumam Rhiana dalam hati.
"Ak... aku... aku sesak," Suara Rhiana terbata karena pelukan Brilyan sangat erat.
"Maaf," Brilyan lalu melepas pelukannya. Tangannya berpindah ke pundak Rhiana.
"Kamu belum menjawab pertanyaanku,"
"Aku harus menyelesaikan tugasku sebagai murid pelukis A3. Jadi, aku harus tinggal di sana semalaman." Rhiana berbohong dengan kepala menunduk. Tentu saja dia harus menghindari kontak mata langsung dengan Brilyan.
"Lain kali jangan seperti itu lagi. Jangan memblokir nomorku. Kamu boleh pergi kemana saja, dan melakukan apa saja, asalkan beritahu aku agar tidak khawatir. Hum?" Brilyan berbicara dengan lembut. Pria itu bernafas legah, setidaknya Rhiana baik-baik saja.
Rhiana mengangkat kepalanya dan menatap wajah Brilyan. Wajah pria itu terlihat lelah. Lingkaran hitam di matanya menunjukan bahwa dia belum istirahat sejak kemarin.
Rhiana mengulurkan tangannya dan mengusap pelan lingkaran hitam di wajah Brilyan. Tindakan Rhiana tentu saja membuat Brilyan terdiam kaku. Ini pertama kalinya Rhiana menyentuhnya seperti ini. Jantung Brilyan berdetak sangat kencang.
Rhiana sendiri tidak tahu apa yang dia lakukan. Tangannya tiba-tiba saja terulur tanpa dia sadari. Rhiana kemudian tersadar karena Brilyan menyentuh tangannya yang masih mengusap lingkaran hitam di bawah mata Brilyan.
Cup
Rhiana merinding ketika Brilyan mengecup telapak tangannya.
"Bisa bantu aku sebentar?" Pintah Brilyan dengan nada pelan. Meski ingin menolak, tapi Rhiana kasihan pada pria ini. Jadi, dia hanya mengangguk.
Brilyan lalu menggenggam tangan Rhiana. Keduanya kemudian keluar dari sana. Rhiana tidak bertanya dan hanya mengikuti kemana Brilyan akan membawanya.
"UKS?" Tanya Rhiana dalam hati ketika membaca papan nama di atas pintu yang akan mereka masuki.
"Aku akan tidur sebentar, temani aku!" Brilyan membuka suara ketika dia sudah duduk di tepi ranjang. Rhiana sendiri masih berdiri.
"Huh? Pria ini..." Rhiana tidak tahu harus mengatakan apa untuk menolak pria satu ini.
__ADS_1