Nona Muda Yang Menyamar

Nona Muda Yang Menyamar
Tunggu Hukumanmu


__ADS_3

Rhiana saat ini berada di belakang panggung. Dia ingin mencari lagi jejak yang tertinggal. Jika dia tidak melewatkan sesuatu, dia tidak mungkin kehilangan Yeandre dan Freslly.


Rhiana sama sekali tidak menemukan apapun di belakang panggung. Bagaimana bisa dia kehilangan jejak Freslly dan Yeandre? Rhiana mendegus tidak senang.


Ada dua panggung yang dibuat di alun-alun kota Samara. Panggung besar dibuat untuk petinggi negara dan tamu khusus. Sedangkan panggung kecil untuk para pengisi acara yang tampil.


Rhiana menoleh ke arah panggung khusus para tamu penting. Rhiana mengerutkan kening melihat interaksi Artya dengan kedua orang tuanya. Tidak biasanya kedua orang tuanya ramah pada orang lain kecuali keluarga atau rekan bisnis yang sudah kenal lama.


Setahunya, Artya tidak berada dalam dua pilihan itu. Apa dia melewatkan sesuatu? Tapi apa? Rhiana yakin, Artya tidak pernah berkunjung ke rumah mereka. Tapi, melihat interaksi Artya dan kedua orang tuanya, jelas mereka sudah seperti kenal lama.


Senyum tulus kedua orang tuanya dan senyum senang Artya membuat siapapun yang melihat akan berpikir tiga orang itu sangat akrab.


"Lihat ke atas panggung, Rhi!" Suara Gledy menyadarkan Rhiana. Gadis itu kemudian masuk untuk melihat ke arah panggung kecil.


"Apa yang sudah terjadi?" Tanya Rhiana pada Gledy.


Di atas panggung khusus pentas, Freslly dengan senyum ramah membagi kotak hadiah pada tiga orang di atas panggung. Salah satunya adalah Yeandre.


"Aku juga tidak tahu. Beberapa menit lalu, Freslly kembali naik ke atas panggung bersama Yeandre." Gledy menjawab di seberang sana.


"Ada yang salah dengan pria itu." Suara Dalfi terdengar melalui chip.


"Maksud kakak?" Tanya Rhiana yang menatap lurus ke arah panggung.


"Hanya tebakan. Ekspresi pria itu berbeda dengan biasanya," Dalfi menjawab dengan tenang.


Rhiana mengerutkan kening. Tiba-tiba dia merasakan keanehan di hatinya. Dia berusaha untuk tidak memikirkan hal buruk.


Rhiana keluar panggung. Dia ingin melihat wajah Yeandre lebih jelas. Apa benar ada yang salah dengan pria itu.


"Dia... tatapannya benar-benar kosong. Apa mereka melakukan sesuatu padanya?" Gumam Rhiana dalam hati. Rhiana sudah ada di bawah panggung dan terus memperhatikan Yeandre yang masih berdiri di atas panggung.


...


"Permisi, Kak. Boleh aku bergabung?" Rhiana tersenyum manis menyapa Yeandre bersama Annalisha dan Sony. Rhiana sudah mengubah penampilannya menjadi si gadis polos penakut. Dia ingin tahu apa yang sudah terjadi pada Yeandre dengan sengaja bergabung dengan tiga orang itu.


"Hai, Rhi. Selamat untuk kemenanganmu. Kamu benar-benar hebat. Ayo, duduk di sebelah kakak." Annalisha menyambut Rhiana dengan ramah.


"Terima kasih, Kak. Selamat untuk tim kakak juga." Rhiana membalas kemudian dengan sopan mengambil posisi duduk di sebelah Annalisha.


"Aku... aku punya sesuatu untuk kak Andre." Rhiana mulai berakting malu-malu. Tangan mungilnya terulur memberikan sebuah kotak kecil pada Yeandre. Entah dimana dia mendapat kotak kecil itu.


Yeandre menoleh menatap Rhiana. Tatapan pria itu benar-benar kosong. Seakan-akan tidak ada jiwa dalam tubuhnya. Yeandre juga menerima kotak pemberian Rhiana itu. Jika dia Yeandre yang dulu, tidak mungkin dia menerima hadiah dari Rhiana si gadis cupu ini.


"Dia tiba-tiba berubah seperti ini. Jangan dimasukan ke hati, Rhi. Entah kenapa, setelah turun dari panggung, pandangan menjadi kosong. Dia hanya bicara seperlunya saja. Kakak juga bingung, Rhi." Annalisha menjelaskan apa yang sudah terjadi.


"Apa mereka mencoba sesuatu padanya? Gawat! Apa mereka ingin memicu virus itu?" Gumam Rhiana dalam hati. Dia mulai khawatir dengan kondisi Yeandre. Jika virus dalam tubuh Yeandre dipicu, itu akan berdampak buruk. Ini tidak boleh terjadi! Dia harus mencari tahu lebih jelas.


Rhiana bisa menebak apa yang organiasi itu lakukan pada Yeandre. Mereka pasti melakukan sesuatu pada kakak Lycoris ini. Organisasi bawah tanah tidak mungkin melepaskan pria ini begitu saja.


"Aku mengerti, Kak." Rhiana tersenyum memaklumi.


Rhiana mengirim pesan pada Gledy sebelum menyimpan kembali ponselnya.

__ADS_1


Rhiana menatap dengan senyum tipis ke arah Yeandre.


"Kak... bisa bicara sebentar?" Rhiana berbicara dengan malu-malu.


Yeandre tidak menjawab, tetapi berdiri dan bersiap pergi. Rhiana menatap Annalisha dan Sony meminta izin sebelum menyusul Yeandre.


...


"Ada apa?" Yeandre bertanya dengan tatapan kosong ke arah Rhiana.


Keduanya sudah cukup jauh dari tempat pesta.


Sebelum Rhiana menjawab, gadis itu melirik ke belakang Yeandre. Ada Gledy di sana.


Bugh


Yeandre dipukul pingsan oleh Gledy.


"Bawa dia! Hati-hati jangan sampai ketahuan. Bawa ke tempat yang aku beritahu." Rhiana menginstruksi dua orang pengawal bayangan yang muncul setelah Gledy.


"Baik, Bos!"


Setelah kepergian dua pengawal bayangan membawa Yeandre yang pingsan, Rhiana menoleh menatap Gledy yang sudah berubah menjadi Yeandre.


"Kita tidak tahu apa yang sudah mereka lakukan padanya. Jadi, semua aku serahkan padamu." Rhiana berbicara setelah membenarkan kaca matanya dan bersiap bergabung bersama Annalisha dan Sony. Gledy untuk sementara akan menyamar menjadi Yeandre. Sedangkan Yeandre yang asli akan diperiksa oleh tim ahli.


"Oke."


Rhiana dan Gledy kemudian menuju tempat duduk Annalisha dan Sony.


"Dari mana saja? Aku mencarimu sedari tadi." Brilyan tiba-tiba menahan tangan Rhiana yang sebentar lagi sampai di tempat duduk Annalisha dan Sony.


Brilyan juga memberikan tatapan tidak bersahabat pada Gledy yang hanya memasang ekspresi tidak peduli.


"Pengacau ini," Gumam Rhiana dalam hati.


"Aku ada urusan sebentar. Kenapa mencariku?" Rhiana menatap Brilyan dengan bingung.


"Ikut bersamaku!" Tanpa menunggu persetujuan dari Rhiana, Brilyan sudah menarik gadis itu ikut bersamanya. Brilyan tidak akan membiarkan Rhiana bersama kakak seniornya yang menyebalkan menurutnya itu.


Rhiana hanya mendengus dan mengikuti Brilyan. Sebelum itu, Rhiana sudah memberi isyarat pada Gledy agar bergabung bersama Annalisha dan Sony.


...


"Ini untukmu!" Brilyan memberikan sebuah paperbag pada Rhiana setelah keduanya sampai di stan paling ujung dari semua stan makanan yang disediakan di alun-alun. Di sini juga tidak ada orang, jadi Brilyan leluasa bersama Rhiana.


"Untuk apa?" Tanya Rhiana masih kebingungan.


"Hadiah untukmu sebagai pemenang olimpiade. Tidak ada penolakan!" Brilyan menjawab dan diakhiri dengan senyum tipis.


Rhiana tidak jadi menolak dan mengambil paperbag itu.


"Sepertinya seru. Boleh aku bergabung?" Kemunculan Hann tiba-tiba membuat suasana hati Brilyan berubah menjadi tidak senang.

__ADS_1


"Sangat mengganggu." Komentar Brilyan dengan kesal.


Tanpa menunggu persetujuan, Hann dengan tidak tahu malunya duduk di depan Rhiana. Pria itu juga mengambil dan memakan cemilan yang tersedia di atas meja.


Seorang gadis dan dua orang pria duduk di satu meja tanpa suara. Rhiana sibuk memakan cemilan sambil menunggu kabar terbaru hasil pemeriksaan Yeandre, sedangkan Brilyan dan Hann saling menatap satu sama lain seakan menantang.


Drrrtt


Drrrtt


Ponsel Rhiana di atas meja bergetar. Ada panggilan masuk. Tanpa melihat nama si pemanggil, Rhiana dengan cepat menjawab panggilan itu. Dia sejak tadi sedang menunggu pesan ataupun panggilan masuk.


"Temui aku sekarang! Jangan kabur lagi. Aku sudah melihatmu, gadis kecil."


Rhiana menepuk jidatnya dan mengutuk diri sendiri dalam hati. Betapa bodohnya dia menjawab panggilan tanpa melihat siapa yang menelpon. Jika saja dia tahu itu Artya, dia tentu saja tidak akan menjawabnya.


Dia juga tidak pernah mengira pria itu akan menghubunginya, mengingat dia sudah menutup akses pria itu. Tapi pada akhirnya si penggila kebersihannya itu berhasil membuka akses itu.


Rhiana mengalihkan pandangannya ke arah panggung besar. Artya sedang menatapnya dengan seringai tipis.


"Bagaimana bisa dia berhasil menembus pertahanan Gledy?" Gumam Rhiana dalam hati dan memutuskan panggilan.


Ting


Notifikasi pesan masuk di ponselnya. Rhiana sudah menebak siapa yang mengirim pesan itu.


Si Penggila Kebersihan😷:


Hukumanmu menanti, gadis kecil!


"Si gila ini. Apa maksud pesan ini? Dia ingin menghukumku?" Kesal Rhiana dalam hati.


^^^Rhiana:^^^


^^^Apa maksudmu, Kak? Aku tidak berbuat salah.😒^^^


Si Penggila Kebersihan😷:


Aku melarangmu berdekatan dengan pria lain.


^^^Rhiana:^^^


^^^Hei... mereka temanku. Brilyan juga kekasihku. Wajar jika aku dekat dengannya.^^^


Si Penggila Kebersihan😷:


Masih mau berbohong? Tunggu hukumanmu!


"Ck... kenapa aku harus berurusan dengan orang seperti ini?" Rhiana mendengus dalam hati.


Rhiana menyimpan ponselnya dan berniat pergi meninggalkan Brilyan dan Hann. Dia tidak peduli dengan tatapan tidak terima Brilyan.


Rhiana bisa menolak orang lain, tapi dia tidak bisa menolak Artya. Ancaman si penggila kebersihan itu tidak main-main. Padahal dia ingin menghindar dari pria itu. Ternyata tidak bisa. Entah apa yang sudah pria itu lakukan sehingga bisa menembus sistem Gledy.

__ADS_1


Rhiana tidak tahu saja, bahwa Artya bisa menembus sistem Gledy karena meminta sedikit ilmu pada kedua orang tuanya.


__ADS_2