Nona Muda Yang Menyamar

Nona Muda Yang Menyamar
Star's Sport


__ADS_3

"Apa yang sudah terjadi, Kak? Kenapa aku tidak menerima laporan apapun?" Rhiana bertanya pada Dalfi. Pemandangan di depannya cukup membuatnya terkejut.


Yeandre yang seharusnya dijaga, ternyata pingsan. Bukan hanya itu. Pria yang ditugaskan untuk mengincar Yeandre hari ini juga pingsan. Lima orang anggota Cruel Devil terluka parah tetapi tidak pingsan. Yang keadaannya baik-baik saja hanya Dalfi.


"Lebam di wajah kakak..." Rhiana menatap terkejut warna merah kebiruan di pipi kanan Dalfi. Itu juga sedikit membengkak.


Sampai sekarang, kakak keduanya ini tidak pernah sekalipun terluka meski melawan orang yang kuat. Kakaknya yang cerdik, seorang yang bagi Rhiana adalah ahli strategis, kini mendapatkan lebam? Rhiana penasaran siapa pelakunya.


"Dia berbahaya, Baby." Suara datar Dalfi membuat Rhiana tertegun.


Berbahaya?


Seberbahaya apa?


Lalu, siapa?


"Wajar jika dia dijuluki senjata hidup yang mematikan. Bukan hanya kekuatan, tetapi cara berpikirnya juga."


"Maksud kakak, Yeandre...."


"Ya. Entah kenapa dia tiba-tiba berubah dan menyerang siapa saja didekatnya. Kakak memerintahkan agar tidak memanggilmu karena tidak ingin kamu terluka. Dia bukan lawan yang mudah."


"Apa dia lupa meminum penekanan virus dalam tubuhnya?" Rhiana bertanya setelah menghampiri Yeandre yang pingsan.


"Kata PB 01, dia sudah meminum penekannya." Dalfi menjawab dan ikut duduk memeriksa orang suruhan organiasi bawah tanah yang pingsan.


"Berarti organisasi bawah tanah yang memicu reaksi virus itu." Ucap Rhiana memandang sebentar orang suruhan organisasi bawah tanah sebelum mengambil jarum suntik berisi cairan kuning dalam tasnya dan menusuknya pada leher Yeandre.


"Ya. Tidak ada apa-apa di tubuhnya. Sepertinya mereka sudah menduga kemungkinan rencana mereka gagal," Dalfi mengangguk setelah memeriksa tubuh orang suruhan organisasi bawah tanah.


Rhiana menghela nafas sebelum menekan chip di belakang telinganya. "Aku butuh ambulans! Bawa juga kendaraanku."


"Duduk sebentar, Kak. Aku akan mengoles salep untuk lebam." Rhiana kemudian menarik Dalfi agar duduk bersandar pada tembok di sana.


"Kak Dalfa kemana?" Rhiana bertanya sambil tangannya mengelap pipi Dalfi dengan tisu steril khusus luka sebelum mengoles salep.


"Mengawasi Brilyan. Pria itu sedang kesusahan mencarimu," Dalfi menjawab dengan pelan. Matanya sibuk menatap ponsel mengirim pesan pada Dalfa.


"Bilang pada Kak Dalfa, pulanglah bersama Brilyan. Ada yang harus aku lakukan setelah ini,"


"Jangan terlalu memaksakan diri, Baby."


"Aku tahu, Kak."


Hanya beberapa menit, ambulans dan mobil Rhiana tiba. Semua orang segera diangkut dan pergi dari sana. Rhiana, Dalfi dan Yeandre pergi dengan mobil Rhiana. Sisa anggota Cruel Devil yang terluka pergi dengan ambulans karena tujuan mereka berbeda.


Anggota Cruel Devil bisa diobati oleh dokter keluarga Veenick yang sudah ditugaskan. Sedangkan Yeandre harus dibawa ke laboratorium khusus agar langsung ditangani oleh ahlinya.


"Ada apa?" Suara Marrie terdengar setelah panggilan Rhiana tersambung.


^^^"Apa organisasi bawah tanah sudah membuat pemicunya? Hari ini Yeandre bertindak aneh."^^^


"Oh, benar juga. Aku lupa memberitahumu. Setiap orang yang ditugaskan mendekati Yeandre akan pergi membawa satu serum. Sayangnya aku tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan serum itu. Mendengar kejadian hari ini, sepertinya serum itu pemicunya. Karena aku masih dicurigai, pemimpin sama sekali tidak ingin melibatkan aku dengan Yeandre."


^^^"Baiklah. Tapi, apa aku bisa mendapat sampel serum itu?"^^^


"Entahlah. Aku akan mencobanya. Jangan terlalu berharap. Saat ini keadaanku masih dicurigai,"


^^^"Aku mengerti. Oh, iya. Aku baru saja mendapat kabar tentang adikmu. Dia semakin membaik. Motivasinya untuk sembuh begitu besar. Kamu tahu kenapa? Karena dia ingin bekerja di Cognizart Teknology."^^^


"Be... benarkah? Terima kasih. Tapi, siapa yang menceritakan tentang Cognizant Technology?"


^^^"Entahlah. Sudah dulu, ya. Aku harus membawa Yeandre untuk diperiksa,"^^^


"Ya. Aku akan berusaha mendapatkan sampel itu, tunggu kabar baiknya."


^^^"Jangan terlalu memaksakan diri."^^^


Rhiana kemudian menekan layar hologram di depannya untuk memutuskan sambungan telepon.


"Dari mana kamu mendapat mata-mata berharga itu?" Dalfi bertanya tanpa melihat Rhiana yang duduk di kursi kemudi. Dalfi kali ini menatap serius pada layar iPad di tangannya.


"Waktu di Rusia."


"Lain kali, ceritakan semua yang sudah kamu lakukan, Baby. Kakak tidak ingin melewatkan sesuatu yang berkaitan denganmu. Setiap detail kecil itu penting. Semua puzlle selalu berhubungan meski itu hanya sebuah titik di pojok bingkai,"


"Aku mengerti, Kak."


...****************...

__ADS_1


Sekolah elit Swiss berjalan seperti biasa. Rhiana yang masih dalam masa suburnya hanya bermalas-malasan di tempat duduknya. Dia tidak ingin diganggu. Kebetulan Yeandre masih diperiksa seluruh tubuhnya, sehingga Rhiana bisa bersantai.


"Perhatian kepada siswa bernama Rhiana Senora! Segera ke ruang kepala sekolah!"


"Ada apa lagi, sih?" Ucap Rhiana dalam hati malas.


"Aku bisa meminta izin untukmu," Suara bisikan Brilyan yang duduk di sebelah Rhiana cukup membuat tertarik.


"Tidak apa-apa, aku baik-baik saja." Rhiana menjawab dengan seramah mungkin berusaha tidak memperlihatkan mood buruknya.


Perkataan Brilyan cukup menggiurkan untuknya yang sedang malas, tapi Rhiana tidak ingin citranya sebagai gadis polos penakut yang masuk ke sini dengan jalur beasiswa terbongkar dengan mudah. Jadi, Rhiana harus menahan dirinya dan bergegas ke ruang kepala sekolah.


***


Rhiana berhenti sebentar ketika matanya tidak sengaja melihat Ibu Sienna yang sedang berbicara dengan seorang siswa. Anehnya, tempat pertemuan mereka di taman samping sekolah yang jarang dikunjungi siswa lain.


Padahal menurut peraturan sekolah, guru dan siswa dilarang melakukan pertemuan jika bukan dalam ruangan kelas atau rungan diskusi antara guru dan siswa. Jadi, melihat pertemuan yang melanggar aturan sekolah itu cukup menjadi kecurigaan.


"Selidiki apa yang sedang dilakukan Ibu Sienna akhir-akhir ini." Rhiana memberi perintah pada seorang melalui chipnya.


Setelah itu, Rhiana dengan langkah malas menuju ruang kepala sekolah.


Sampai di sana, ekspresi penuh kebanggaan milik kepala sekolah menyambut Rhiana yang baru membuka pintu dan masuk.


"Selamat siang, Pak. Saya Rhiana Senora."


"Saya tahu. Silahkan duduk. Ada yang ingin saya bicarakan denganmu,"


"Baik, Pak." Rhiana kemudian mengambil posisi duduk di sofa yang berhadapan langsung dengan kepala sekolah.


"Sekolah kita baru saja mendapat permintaan dari perusahaan Star's Sport. Mereka tertarik padamu karena memenangkan kejuaraan basket dan takewondo. Mereka mengajukan permintaan pelatihan untukmu. Yang lebih penting, mereka ingin mengambil beberapa potretmu untuk promosi perusahaan."


"Maaf, Pak. Apa saya harus menyetujui permintaan itu? Masih ada anak-anak lain juga," Rhiana sama sekali tidak tertarik menjadi pusat perhatian.


"Itu hak kamu mau menerima ataupun menolak permintaan itu. Hanya saja, saya ingin memohon padamu untuk menerima permintaan itu. Yah.., ini hanya keegoisan saya sebagai kepala sekolah yang ingin terus mendapat dukungan dari Star's Sport.


Perusahaan Star's Sport sudah sejak dulu membantu sekolah kita dengan peralatan olahraga terbaik. Pendiri perusahaan itu juga adalah salah satu alumni sekolah ini. Saya hanya tidak enak menolak permintaan mereka.


Star's Sport meminta siswa dengan kemampuan terbaik di bidang olahraga pada sekolah ini tanpa paksaan. Mereka hanya ingin siswa yang mereka sponsori lebih berkembang lagi. Mereka akan mendukung semua kebutuhan siswa itu tanpa terkecuali. Mereka juga memberi upah setiap bulan sebagai bonus.


Meski mereka tidak memaksa, Saya sebagai kepala sekolah juga ingin membalas budi pada mereka. Pihak Star's Sport hanya tertarik padamu. Kamu bisa memikirkannya lagi sebelum memberikan jawaban. Sebaiknya diskusikan dengan keluargamu,"


"Baik, Pak. Akan saya tanyakan pada ibu saya terlebih dahulu,"


"Baik, Pak. Kalau begitu saya permisi,"


"Silahkan."


Rhiana dengan tenang keluar dari ruang kepala sekolah.


"Kak Dalfa suka mengoleksi majalah Star's Sport. Hm... apa aku coba saja, ya?" Gumam Rhiana sambil membaca sampul depan dokumen di tangannya.


***


Setelah pertimbangan dan bujukan penuh drama dari Dalfa, si pengoleksi majalah Star's Sport, Rhiana akhirnya berada di perusahaan raksasa Star's Sport. Rhiana datang bersama salah satu guru olahraga.


Saat ini Rhiana sedang menunggu CEO Star's Sport yang masih mengadakan pertemuan dengan beberapa investor. Guru olahraga yang datang bersamanya juga ikut serta. Sudah pasti pertemuan itu membahas kedatangannya di sini.


"Jika anda merasa bosan, anda bisa melihat-lihat keadaan perusahaan. Kebetulan ini waktunya anak-anak yang disponsor sedang latihan." Sekretaris CEO Star's Sport menghampiri Rhiana yang terlihat bosan menunggu. Rhiana mengangguk setuju.


"Silahkan ikuti saya, Nona." Si sekretaris dengan sopan memimpin jalan.


Rhiana menatap berbinar pada pemuda-pemudi yang sedang latihan basket. Ruangan ini sangat besar. Ada sekitar 3 lapangan basket di dalam sana. Semua peralatan untuk basket juga tersedia di sana. Ada juga beberapa peralatan latihan fisik. Bukan hanya itu. Perusahaan juga menyediakan ruangan untuk makanan, minuman dan obat-obatan.


Hampir semua ruangan olahraga memiliki hal yang sama. Namanya juga perusahaan olahraga, fasilitasnya sangat lengkap.


"Maaf, Nona. Bisa saya tinggal sebentar? Ada berkas yang harus saya berikan untuk CEO. Saya akan segera kembali. Atau, jika anda mau, kita bisa kembali bersama." Si sekretaris pria itu menatap penuh penyesalan pada Rhiana.


"Aku baik-baik saja, Kak. Aku masih ingin melihat-lihat,"


"Baiklah. Saya akan segera kembali, Nona."


Setelah kepergian si sekretaris, Rhiana menuju ruangan makan. Dia ingin membeli cemilan sebelum mendudukan dirinya di salah satu kursi untuk pemain cadangan. Rhiana penasaran seperti apa kemampuan pemain yang disponsori oleh Star's Sport.


Rhiana dengan senang menikmati cemilan sehat yang cukup nikmat sambil menonton permainan basket di lapangan bagian kiri yang dekat dengan tempat duduknya. Ternyata makanan dan minuman serta obat-obatan yang tersedia di sana tidak dijual. Semua itu gratis untuk siapa saja yang masuk ke ruang latihan.


Tidak ada yang tertarik pada Rhiana yang duduk sendiri di sana. Tentu saja karena semua orang sibuk menonton. Mereka semua yang ada di sini disponsor sehingga mereka begitu giat berlatih.


SYUT

__ADS_1


SREK


BUGH


"Ugh..." Rhiana meringis karena bola basket mengenai kepalanya. Dia terlalu fokus menonton tim di lapangan lain tanpa menyadari permainan dua lapangan tersisa. Alhasil, bola entah dilempar atau diblok seperti apa, sehingga mengenai kepalanya.


"Pemisi... maafkan aku. Kamu baik-baik saja? Ada yang terluka? Ayo periksa tubuhmu," Rhiana menatap menyipit pada pria muda yang lumayan visualnya, terlihat khawatir padanya.


"Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja, Kak." Rhiana tidak bisa marah karena ini kecerobohannya sendiri. Ternyata permainan pria bernomor punggung 4 yang menjadi fokus utamanya menonton membuatnya lengah dan terkena bola.


"Inilah kenapa aku sudah menyuruhmu untuk mengubah cara bermainmu, kan? Lihat sekarang, kamu membuat orang lain terluka, Arlan." Pria lain dengan kostum yang sama dengan pria pertama menghampiri Rhiana. Ada beberapa pemain lain juga datang melihat kondisi Rhiana.


"Minta maaflah yang benar padanya," Pria dengan nama Stanly dan bernomor punggung 10 itu kini menekan punggung Arlan agar membungkuk pada Rhiana.


"Aku tidak apa-apa, Kak." Rhiana menggeleng merasa tidak perlu sampai membungkuk.


"Begini saja, sebagai permintaan maaf, aku traktir kamu makan. Kamu bisa memilih apa saja di sana," Arlan dengan ramah memberi saran sambil menunjuk ke arah ruangan makanan dan minuman.


PLAK


"Semua yang ada di sana gratis. Jangan sembarangan bicara kamu!" Stanly berbicara setelah memukul kuat punggung Arlan.


"Ah... benar juga. Kalau begitu, bagaimana jika makan di luar setelah latihan? Ada restoran enak di dekat perusahaan," Arlan memberi saran lain dengan senyum malu. Tangannya mengusap punggungnya yang sakit.


"Tidak perlu, Kak. Aku baik-baik saja. Ini salahku karena tidak memperhatikan sekitar." Rhiana tersenyum lembut menolak tawaran Arlan.


"Begitu, ya. Sayang sekali." Arlan memasang wajah lesu.


"Aku baru melihatmu, siapa namamu? Sedang apa di sini?" Kali ini yang berbicara adalah pria bernomor punggung 12. Nama yang tertulis di atas nomornya adalah Boidy.


"Aku dengar perusahaan ingin mensponsori seorang siswa SMA. Apa itu kamu?" Stanly menyahut setelah merangkul Arlan tanpa dosa.


"Benar, Kak." Rhiana mengangguk sambil mengusap pelan tengkuknya.


"Wah... berarti kamu hebat. Olahraga apa yang kamu tekuni?" Tanya Arlan antusias.


"Basket dan takewondo." Jawab Rhiana tenang.


"Seharusnya kamu memukulnya tadi. Aku pasti dengan senang hati mendukungmu," Stanly menatap takjub pada Rhiana. Arlan sendiri bersyukur karena Rhiana baik hati.


"Takewondo? Tingkat berapa?"Mereka yang ada di dekat Rhiana mengalihkan pandangan ke arah orang yang bertanya. Ternyata itu si pria bernomor punggung 4 yang Rhiana nonton tadi. Nama di punggungnya Liloyd.


"Nada bicara ini... Aku tidak menyukainya," Gumam Rhiana dalam hati. Dari nada suaranya, itu terdengar meremehkan.


"Sabuk hitam, Kak." Jawaban Rhiana cukup membuat mereka yang ada di sana terkagum. Sangat jarang ada wanita yang menekuni takewondo hingga sabuk hitam.


"Dia suka sekali mengintimidasi orang lain. Jika bertemu lawan kuat, dia akan menunjukan taringnya mengajak berduel. Dia juga sabuk hitam." Stanly berbisik pada Rhiana memberitahu.


"Heh... keren juga dia," Ucap Rhiana dalam hati.


"Sepertinya kemampuanmu lumayan sampai disponsori oleh perusahaan. Ayo lawan aku!" Liloyd kemudian melempar bola basket ke arah Rhiana meminta berduel.


"Tunggu sebentar, dia masih terluka, Loy. Bagaimana kalau dia diperiksa dulu?" Stanly berbicara setelah menangkap bola basket yang dilempar Liloyd.


"Aku baik-baik saja, Kak. Aku juga ingin melawan Kak Loy. Karena kemampuanku masih kurang, aku ingin banyak belajar dari senior." Rhiana dengan wajah polosnya tersenyum pada Stanly.


"Huhh... ya, sudah. Aku akan menarikmu keluar dari lapangan jika melihat ada yang salah dengan tubuhmu," Perhatian Stanly mengingatkan Rhiana dengan kedua saudara kembarnya.


"Siap, Kak!" Rhiana dengan semangat memberi hormat ala militer pada Stanly.


"Sonia... pinjamkan konstum cadanganmu padanya." Cara bicara dan pembawaan Stanly, serta respons dari pemain lain yang tidak menolak perintah, membuat Rhiana menebak jika Stanly adalah sosok pemimpin di gedung khusus basket ini.


***


Lapangan basket bagian tengah sudah berdiri Rhiana dengan kostum berwarna merah bercorak hitam, bernomor punggung 11 dan Liloyd dengan kostum hitam bercorak merah, bernomor punggung 4. Keduanya saling menatap menunggu instruksi wasit, yaitu Stanly. Sedangkan di luar lapangan sudah diisi pemain lain yang antusias menonton.


"Nomor 11 siap?"


"Siap, Kak."


"Nomor 4 siap?"


"Ya."


"Baik. Permainan berlangsung dengan peraturan yang sudah kita tahu bersama. Karena permainan satu lawan satu, jadi setiap pemain akan mendapat poin dengan cara memasukkan bola dalam ring. Ingat! Tidak boleh ada kecurangan, apalagi melukai lawan." Stanly memberitahu sebelum bersiap melepaskan bola ke atas.


PRRRTTTTT


Peluit ditiup!

__ADS_1


SYUTT


Bola dilepaskan Stanly ke atas agar diambil oleh Rhiana dan Liloyd. Siapa yang mendapat bola lebih dulu, memulai serangan yang pertama.


__ADS_2