
"Permisi, Nona. Saya memba-"
BRUK
Rhiana yang mencuci wajahnya di wastafel menoleh menatap seorang penata rias wanita yang memasang wajah terkejut melihatnya. Saking kagetnya, wanita itu menjatuhkan wadah plastik berisi beberapa handuk di tangannya.
"Ada apa?" Tanya Rhiana bingung.
Mata Rhiana menatap wadah plastik sedang yang di dalamnya ada beberapa handuk bersih. Rhiana menunduk dan mengambil wadah berbentuk bulat itu dan mengambil satu handuk untuk mengeringkan wajahnya setelah meletakkan wadah itu ke atas wastafel.
"Nona muda Veenick," Penata rias itu menutup mulutnya masih terkejut.
Suara itu membuat Rhiana mengalihkan pandangannya pada bayangannya di cermin wastafel. Rhiana akhirnya sadar jika wanita muda di depannya ini sudah melihat wajah aslinya. Dia belum sempat memakai kaca mata dan tompel buatan di dagunya. Pantas saja dia ketahuan.
"Bisa tolong rahasiakan ini?" Rhiana berbicara dengan lembut sekaligus memasang senyum manisnya yang memikat.
"Ah... SAYA MENGERTI! PERCAYAKAN PADA SAYA NONA! RAHASIA ANDA AMAN!" Suara penuh semangat itu membuat Rhiana memegang dadanya sedikit terkejut.
"Terima kasih, Kak Milla." Rhiana legah karena penata rias bernama Milla ini bisa bekerja sama.
"Anda tahu nama saya? Te... terima kasih karena tidak melupakan nama saya. Padahal semua orang biasanya memanggil saya si pendek. Padahal nama saya tidak sulit untuk diucapkan," Milla bahkan sudah berkaca-kaca karena terharu.
"Kakak baru memperkenalkan diri 30 menit lalu, tidak mungkin aku melupakannya. Dan juga, tolong panggil saja aku Rhiana, Kak. Aku lebih nyaman dipanggil dengan nama,"
"Ba... baik."
"Nah... kalau begitu, haruskah mulai meriasku?"
"Siap, Nona!"
***
"Bagus sekali!"
"Sedikit ke kiri, Nona..."
"Benar, seperti itu!"
"Pertahankan! Kita perlu beberapa pengambilan lagi!"
"Andai saja aku bukan idola... hahhh..." Rhiana mengeluh dalam hati.
Rhiana sedang berusaha tenang sambil terus memasang senyum bisnisnya untuk pengambilan gambar. Apalagi pemuda-pemudi basket yang disponsor itu beramai-ramai menonton di belakang fotografher membuat Rhiana sama sekali tidak bisa berkutik.
Jika saja CEO Star's Sport tidak memohon padanya untuk sekedar memberikan motivasi untuk anak-anak yang disponsor, Rhiana tidak akan bertindak profesional seperti ini. Padahal dia tidak ingin menjadi pusat perhatian, keadaan membuatnya harus sedikit mengubah rencana.
"Selesai! Selanjutnya persiapan untuk pemotretan di lapangan basket. Bantu nona Rhiana bersiap!" Fotografher segera menginstruksi dengan semangat. Tentu saja pria setengah baya itu senang karena tidak banyak yang harus dia lakukan padahal yang dipotret adalah model pemula.
"Andai saja dia mau melepas kaca matanya, itu pasti benar-benar cantik." Ucap si fotographer dalam hati.
Awalnya, Monderek, si fotografher setengah baya itu enggan mengambil pekerjaan ini karena sangat malas berurusan dengan model pemula. Sudah banyak pemula yang berlagak bisa di depannya, tetapi sama sekali tidak memuaskannya. Tapi, setelah melihat Rhiana, Monderek menjadi bersemangat.
Aura Rhiana yang tenang membuat Monderek sebagai fotografher profesional segera tahu jika gadis yang diusulkan CEO Star's Sport itu bukan pemula biasa.
Monderek sudah berusaha membujuk Rhiana untuk melepas kaca matanya tetapi Rhiana dengan tenang menolaknya. Tentu saja penampilannya harus tetap dirahasiakan. Cukup Milla saja yang tahu identitas aslinya di perusahaan ini.
Rhiana hanya memasang senyum manisnya berusaha tenang dan mengikuti Milla untuk mengganti seragam basket yang lain untuk pemotretan di lapangan.
***
"Pe... permisi..." Suara penuh kegugupan itu mengalihkan perhatian Rhiana dari ponselnya. Rhiana baru keluar dari ruang ganti setelah selesai mengganti pakaian dan merias wajahnya untuk pemotretan di lapangan.
"Liloyd?" Ucap Rhiana dalam hati. Wajah memerah Liloyd membuatnya merasa tidak nyaman.
"Ada apa?" Tanya Rhiana santai.
"Sa... saya, min... minta maaf atas kelakukan tidak tahu malu saya sebelumnya,"
"Kelakuan tidak tahu malu? Apa aku melupakan sesuatu?" Menggoda pria ini cukup bagus, pikir Rhiana. Perkataan Liloyd membuat Rhiana teringat kesombongan pria ini sebelumnya. Jadi, sebelum memaafkannya, ada baiknya menggodanya.
"Itu... maksud saya..." Wajah Liloyd semakin memerah membuat Rhiana menaikkan sebelah alisnya sambil menahan senyum.
"Maksudmu saat meremehkanku?" Rhiana berusaha tidak tertawa.
"TOLONG MAAFKAN SAYA!" Suara Liloyd yang besar membuat Rhiana harus berhenti menggoda pria ini. Kasihan juga melihat wajah menyedihkannya.
"Kamu pasti sudah pernah mendengar kalimat ini. 'Di atas langit masih ada langit,'. Hubungi aku jika butuh saran atau teman latihan," Ucap Rhiana pelan.
Kalimat singkat itu sudah cukup membuat pria satu ini mengerti. Tangan Rhiana kemudian dengan santainya mengelus kepala Liloyd yang sedikit lebih tinggi darinya sebelum pergi dari sana.
"Terima kasih banyak," Ucap Liloyd dengan wajah memerah sambil menyentuh bekas usapan Rhiana. Sedangkan Rhiana hanya melambaikan tangannya sambil berjalan meninggalkan Liloyd.
***
"Yang lain tolong berbaris, karena aku orang pertama yang akan mendapat tanda tangan dari idola!" Suara menggema dan penuh semangat dari Arlan membuat teman-teman basketnya dan para kru fotografher tertawa. Memang, bocah satu ini selalu membuat suasana menyenangkan.
Rhiana hanya tersenyum tipis ikut senang karena tingkah Arlan. Rhiana dengan tenang mengambil selembar kertas dan pena yang diberikan Arlan untuk memberi tanda tangannya di sana. Penggemar yang lain dengan tenang berbaris di belakang Arlan secara teratur.
Rhiana melirik sebentar jam digital besar yang terpasang di tembok ruangan khusus basket itu. Waktu sudah menunjukan pukul 13.20. Ternyata cukup lama juga dia di perusahaan ini. Selain bermain dengan Liloyd dan mengambil foto promosi untuk club basket Star's Sport yang memakan waktu cukup banyak. Apalagi pengambilan gambar saat di lapangan cukup menguras waktunya.
Monderek, si fotografher ternama itu sangat bersemangat menggerakkan tangannya mengabadikan setiap momen gerakan Rhiana yang bagi mereka terlihat layaknya sedang menari dengan bola basket di lapangan.
__ADS_1
Setiap gerakan dan bahkan teknik baru yang mereka lihat sangat membuat siapa saja terkagum. Tentu saja para pecinta basket dengan cepat mengambil video setiap teknik baru yang mereka lihat untuk dipelajari nanti.
Rhiana memperagakan teknik lama maupun barunya seorang diri di lapangan selama satu setengah jam, dan itu cukup menguras waktu dan tenaganya. Dia lebih suka bermain ataupun berlatih dengan lawan agar lebih menantang dari pada seorang diri membuatnya seakan lelah sendiri.
"Dimana aku harus tanda tangan?" Tanya Rhiana pada Liloyd yang hanya menyodorkan spidol tanpa kertas padanya.
"Di sini?" Rhiana memperjelas lagi karena Liloyd hanya mengangkat baju basketnya dengan wajah merah padam. Sepertinya pria satu ini masih malu.
"Jhiaaa... lihat si kampret ini! Tidak biasanya dia memasang wajah malu seperti tikus terepit pintu begitu. Ingin sekali kutampar," Suara penuh ejekan dari Arlan justru dihadiahi tatapan tajam dari Liloyd dan tamparan keras di punggungnya dari Stanly.
PLAK
"Aduh... sakit tau..." Arlan meringis sakit.
DRAP
DRAP
DRAP
"CEO... Seseorang baru saja jatuh dari lantai 12!" Suara yang cukup menggemah mengalihkan perhatian semua orang. Itu seorang pria dengan seragam penjaga.
"Maaf, Rhiana. Saya harus melihat situasi sebentar. Sekretaris saya akan di sini bersamamu," CEO Star's Sport yang selalu menemani pemotretan Rhiana hingga saat ini, merasa bersalah karena terjadi kekacauan saat ada tamu yang diundang kemari. Apalagi menyangkut nyawa manusia.
"Ya. Tidak apa-apa, Pak." Rhiana membalas dengan senyum tipis.
Setelah kepergian CEO Gibran, seorang pemuda dengan seragam basket berlari masuk dengan tergesa-gesa.
"Yang jatuh itu Jonny. Padahal Jonny dan Leon teman baik, entah kenapa tiba-tiba mereka bertengkar, dan Leon mendorong Jonny lewat jendela." Tanpa diminta, salah satu anggota club basket itu menjelaskan situasi pada semua orang.
"Club apa di lantai 12, Kak?" Rhiana bertanya pada Stanly tanpa mempedulikan kehebohan anggota maupun kru lainnya karena mengajukan pertanyaan beruntun pada si pembawa informasi, alias Boidy, dan juga anak-anak lain yang berlari keluar menuju lantai 12.
"Club tenis."
[KYAKKKK ]
[Kali ini Leon sedang mencekik seseorang dengan seragam sekolah didekat jendela!]
[Anak sekolah? Kenapa anak sekolah ada di perusahaan?]
[Seragam sekolah mana?]
[Sekolah elit Swiss]
Mendengar nama sekolahnya, Rhiana dengan cepat berdiri dan menuju jendela dan melihat ke bawah. Tanpa mempedulikan mereka yang berkerumun melihat ke bawah, Rhiana menerobos ingin melihat siapa siswa sekolahnya yang nyasar ke sini.
Rhiana menyipitkan matanya ingin melihat wajah yang masih terhalang oleh tubuh Leon. Setelah Leon sedikit bergeser, Rhiana bisa melihat jelas wajah orang yang dicekik.
Rhiana menghela nafas pelan sebelum menyingkirkan dari sana dan ke arah pojok untuk berbicara dengan seseorang.
"Aku butuh bantuanmu, Gledy. Sekarang!" Ucap Rhiana pelan setelah menekan chip di belakang telinganya.
"Yeandre sedang berulah di laboratorium. Hanya aku yang bisa menanganinya!"
"Apa yang terjadi padanya?" Rhiana memijit pelipisnya tiba-tiba merasa pusing.
Yeandre adalah prioritasnya, dan jika virus dalam tubuh pria itu bereaksi, Gledy adalah kekuatan yang bisa menandingi senjata hidup mematikan itu. Tapi, Triztan yang sudah menjadi temannya tidak bisa diabaikan begitu saja.
"Baiklah. Jaga Yeandre di sana,"
"Iya. Setelah selesai, aku akan menyusul ke sana."
Sebelum Rhiana mengatakan hal lain, keributan lain menyusul mengalihkan perhatiannya.
[KYAKKKK]
[Dia akan jatuh!]
[Seseorang tolong anak itu!]
Teriakan itu membuat Rhiana menghela nafas gusar.
"Persetan dengan penyamaran. Kita pikirkan nanti," Ucap Rhiana sebelum menuju tas sekolahnya dan mencari sesuatu di sana. Rhiana tidak bisa menunggu bantuan yang datang terlambat. Jadi, untuk menyelamatkan Triztan, dia harus bergerak sendiri.
Mendapat apa yang diinginkan, Rhiana segera membuka kaca jendela yang paling pojok yang tidak ditempati. Rhiana tidak punya waktu keluar melalui lift, jadi, dia akan keluar melalui jendela ini. Dan juga, lewat jalur ini lebih tepat untuk menyelamatkan Triztan.
Club basket ada di lantai 15. Sedangkan club tenis di lantai 12. Karena tidak ada balkon dan hanya beberapa jendela kaca, Rhiana harus melompat dengan perhitungan yang tepat. Belum lagi, posisinya sekarang ada di jendela lantai 15 paling pojok, sedangkan Leon dan Triztan ada di jendela lantai 12 bagian tengah.
Rhiana menoleh ke belakang memastikan tidak ada yang akan mengganggunya sebelum melompat ke bawah. Rhiana menatap sebentar pistol di tangannya memastikan kegunaannya sebelum mengarahkan pistol ke lantai 12.
Rhiana kemudian menekan pelatuk dan menembak secara melengkung, menargetkan tembok di atas jendela lantai 12 tempat Leon yang sedang mencekik Triztan.
DOR
SYUT
TUK
Peluru menancap tepat pada target. Yang keluar bukan peluru pistol biasanya, tetapi semacam tali baja dengan ujung berbentuk bulat pipih yang menempel di tembok. Tali baja itu terhubung dengan pistol di tangan Rhiana. Ini akan memudahkannya untuk bergerak tanpa takut terjatuh.
SREK
__ADS_1
SHUTT
Setelah menembak, Rhiana kemudian dengan tenang melompat ke bawah.
[KYAKKKK]
[Orang gila mana yang melompat ke bawah?]
[Apa dia mau bunuh diri?]
[Tidak. Seseorang pasti mendorongnya.]
[Itu tidak mungkin!]
[Lihat! Dia memakai kostum basket!]
Perbincangan tidak berfaedah melalui jendela club di lantai 14 mengubah perhatian semua orang ke arah Rhiana yang terlihat terjun bebas tanpa pengaman.
"Idola!!! Siapa yang mendorong idola?" Arlan kaget melihat Rhiana yang melompat ke bawah. Mereka terlalu fokus menonton keadaan Leon dan Triztan tanpa memperhatikan keadaan dalam club basket.
"Tidak ada yang mendorong idola!" Seorang anggota club dengan nomor punggung 5 menyahut.
"Aku hanya melihat nona Rhiana berjalan ke pojok dan terlihat berbicara sendiri."
"Benar. Aku juga melihatnya. Selain nona Rhiana, tidak ada orang lain yang berdiri dekat dengannya."
"Idola?" Liloyd hanya bisa bergumam dalam hati dan menatap khawatir pada Rhiana. Begitu juga dengan Stanly dan semua anggota club basket yang lain.
"Setelah semua selesai, kita akan menonton melalui cctv. Mari kita lihat siapa yang berani melakukan hal memalukan itu." Kali ini sekretaris CEO Gibran membuka suara membuat yang lainnya mengangguk setuju. Kini mereka beralih melihat ke bawah. Tepatnya ke arah Rhiana. Keselamatan idola mereka lebih penting daripada kematian anak sekolah yang bagi mereka hanya orang asing.
Beralih pada Rhiana.
Setelah melompat tanpa pengaman ke bawah, Rhiana kembali menekan pelatuk pistol di tangannya agar tali baja bisa dikendalikan sesuka hati. Rhiana bisa melihat perlawanan Triztan pada Leon dengan terus menepuk tangan yang mencekik lehernya. Sudah pasti tidak ada yang bisa membantu, karena nyawa Triztan menjadi ancaman. Pihak Star's Sport tidak ingin menambah korban lagi. Entah kapan bantuan dari pihak keamanan akan datang.
Rhiana kemudian meluncur dengan cepat ke arah Triztan yang setengah badannya sudah hampir jatuh karena Leon semakin mendorongnya keluar jendela.
"Gawat. Sepertinya dia hampir jatuh," Ucap Rhiana dalam hati ketika melihat Leon yang sudah melepas cekikkan.
SYUT
SREK
HUP
Rhiana berhasil menangkap tangan Triztan yang sudah terjun bebas. Untung saja dia tepat waktu menangkap pergelangan tangan pria itu. Posisi Rhiana di atas, sedangkan Triztan sedikit di bawahnya dengan menggenggam pergelangan tangan pria itu.
"Rhi... Rhiana?" Suara Triztan terdengar ketakutan.
"Kita akan bicara setelah ini," Ucap Rhiana setelah menyesuaikan panjang tali baja yang membawanya dan Triztan. Rhiana hanya berharap semoga tali baja ini kuat menahan mereka berdua karena dia belum pernah menggunakannya untuk dua orang.
"Aku akan melemparmu ke jendela lantai 10." Rhiana tidak bisa menunda waktu dengan membawa Triztan hingga ke lantai 1 karena takut tali baja tidak mampu menahan keduanya dan jatuh di tengah jalan. Ataupun ke lantai di atas lantai 12 karena tali baja tepat di tembok di atas jendela lantai 12.
"Ta... tapi..." Wajah Triztan sudah pucat karena mereka seperti sedang shuting film action yang meluncur hanya dengan tali, kini bertambah pucat karena Rhiana mau melemparnya lewat jendela.
"Tenang saja, kamu akan baik-baik saja. Percaya padaku, hm?" Rhiana dengan senyum tipis meyakinkan Triztan.
"Baik. Aku percaya padamu," Triztan ikut tersenyum berusaha menahan ketakutannya karena dia percaya pada Rhiana.
Rhiana menatap ke atas. Mereka sekarang di lantai 8. Rhiana hanya perlu menyesuaikan panjang tali baja agar membawa mereka ke lantai 10, kemudian menginjak kuat dinding agar mereka terdorong ke arah jendela lantai 10 yang sedikit di bagian ujung. Hanya jendela itu yang terbuka. sedangkan di lantai 8 dan 9 tidak ada jendela yang terbuka.
TRAK
SYUT
"Bisa?" Tanya Rhiana yang melihat Triztan kesusahan masuk lewat jendela. Apalagi jendela itu hanya sedikit terbuka.
"Ma... maafkan aku. Ini susah," Triztan mengeluh merasa bersalah.
"Sebentar," Rhiana kembali menarik Triztan menjauh dari jendela.
BRAK
BRAK
PRANG
Rhiana tanpa menunggu lama, segera menendang kuat jendela berukuran 100 x 50 cm itu. Hanya dua kali tendangan, jendela itu terlepas dan jatuh ke bawah. Dengan begini Triztan akan lebih mudah masuk.
Rhiana kemudian dengan tenang melempar Triztan masuk ke dalam. Padahal awalnya Rhiana hanya bercanda dengan mengatakan dia akan melempar pria itu. Nyatanya, karena Triztan tidak bisa masuk sendiri, maka Rhiana benar-benar harus melemparnya masuk.
Setelah Triztan aman, Rhiana berdiri di pinggir jendela sebentar, sebelum kembali ke tempat Leon.
"Huhhh... Merepotkan saja,"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Terima kasih sudah membaca ceritaku.
Like jika kalian suka.
Sampai ketemu di chapter selanjutnya.
__ADS_1