Nona Muda Yang Menyamar

Nona Muda Yang Menyamar
Ciuman Pertamaku!


__ADS_3

Media sosial maupun berita di televisi menampilkan kejadian tidak terduga yang baru pernah terjadi di Swiss.


Semua orang heboh karena melihat 10 helikopter yang terbang mengelilingi sebuah motel yang cukup besar yang atapnya mampu menampung satu jet pribadi.


Bukan hanya helikopter, tetapi ada 5 tank siap tempur dan 10 sedan hitam yang terparkir di depan motel menarik perhatian orang-orang yang berlalu lalang di jalan tol.


Orang yang menonton siaran langsung maupun orang yang melihat tempat kejadian sedang berpikir keras, apa yang sebenarnya terjadi. Ada yang menebak jika sedang ada persiapan untuk perang atau sesuatu yang berbahaya sehingga tank siap tempur bahkan dikeluarkan.


Jika bukan itu, untuk apa kendaraan siap perang itu tiba-tiba keluar dari sarangnya? Mereka belum pernah melihat ini. Kecuali ada festival atau acara penting lainnya. Itupun hanya dua atau tiga tank yang dikeluarkan untuk festival.


Hanya para petinggi negara yang tahu jelas apa yang sedang terjadi. Belum ada konfirmasi dengan pihak stasiun berita sehingga masyarakat begitu penasaran apa yang sedang terjadi.


Sedangkan di tempat kejadian, tepatnya di ruang kedisiplinan BII negara Swiss, anggota dan para petinggi BII sedang menyaksikan bagaimana pemimpin mereka disiksa.


...


"Terima kasih, Gledy!" Ucap Rhiana setelah mengikat rambutnya sambil berjalan masuk ke dalam ruang kedisiplinan BII.


Rhiana dan Gledy baru kembali dari ruang ganti pakaian. Ternyata kedua orang tua Rhiana datang membawa pakaiannya, sehingga dia disuruh membersihkan diri dan mengganti pakaiannya.


Setelah masuk ke dalam ruang kedisiplinan, semua orang bisa melihat jelas wajahnya asli Rhiana. Melihat wajah ini, tentu saja mereka langsung mengenalinya sebagai anak bungsu keluarga Veenick.


Jadi, Karena anak bungsu keluarga Veenick itu disiksa, sehingga dua orang penting ini dengan cepat datang bersama pengawalan yang membuat banyak orang salah paham.


Beberapa petinggi BII yang merasa pernah memarahi Rhiana sedang berdoa dalam hati agar Nona muda Veenick itu tidak mengadukan kelakuan mereka pada kedua orang tuanya. Mereka tidak mau disiksa seperti pemimpin mereka.


"Kesayangan daddy benar-benar cantik. Sini, duduk di samping daddy." Zant menepuk pahanya agar anak gadisnya bisa duduk di sana. Daddy Rhiana itu sangat senang memanjakan anak bungsunya ini. Jika berhadapan dengan dua anak laki-lakinya, maka hanya ada pertengkaran untuk mendapatkan kasih sayang dari Rihan.


"Wah... pak tua itu sudah sekarat, Dad." Komentar Rhiana setelah duduk di pangkuan daddynya.


"Dia sangat lemah. Padahal baru dua kali dia disetrum." Zant menjawab sambil mengusap lembut pucuk kepala Rhiana.


"Halo, Pak tua!" Rhiana berdiri dan menyapa si rubah tua Marvinus tepat di depan pemimpin BII itu.


"Maafkan saya, Nona muda. Tolong maafkan saya." Si rubah tua Marvinus segera memohon maaf sebelum disiksa lagi.


"Memaafkanmu? Memangnya harus? Apa aku harus memaafkannya, Mom?" Rhiana menoleh menatap mommynya yang setia duduk di samping tombol kontrol kursi listrik.


"Terserah kamu, Sayang. Mommy dengan senang hati menekan tombol ini." Rihan menjawab dengan santai.


Si rubah tua Marvinus sudah bergidik ngeri. Dia sudah tidak kuat lagi. Tenaganya tidak sekuat dulu karena sudah kepala lima.


"Ah... aku tiba-tiba ingat dengan percakapan kita sebelumnya. Anda masih ingat, Pak tua?" Rhiana sedikit memajukan wajahnya ke arah si tua Marvinus.


"Per... percakapan apa, Nona? Sa... saya sepertinya lupa," Rubah tua Marvinus mengelak ketakutan padahal dia sudah tahu maksud perkataan Rhiana.


"Berikan itu padaku, Gledy!" Rhiana mengulurkan tangannya pada Gledy.


Gledy dengan tenang memberikan sebuah buku besar setebal 10 cm pada Rhiana.


"Itu apa, Sayang?" Tanya Zant penasaran. Daddy Rhiana itu ikut melihat isi buku tebal yang sedang dibaca Rhiana yang sudah kembali duduk di pangkuannya.


"Ketemu!" Rhiana tersenyum tipis setelah menemukan apa yang dia cari.


"Pasal 50 ayat 10 tentang orang yang menerobos masuk ke BII tanpa izin." Rhiana menatap si rubah tua Marvinus setelah membaca isi buku besar di tangannya. Rhiana juga memasang seringai tipis ke arah pemimpin BII Swiss yang tiba-tiba merasa punggungnya merinding.


"Ada apa dengan aturan itu, Sayang?" Tanya Zant basa-basi, padahal dia sudah menebak tujuan anak bungsunya ini.


"Di sini tertulis, orang yang menerobos masuk tanpa izin akan diberi hukuman cambuk sebanyak 10 kali setelah diintrogasi. Jika orang itu membawa senjata tajam, akan diberi hukuman cambuk sebanyak 50 kali.


Aku masuk tanpa membawa senjata apapun, seharusnya hanya mendapat 10 cambukan. Aku yakin, hukuman untuk mereka yang melanggar prosedur pemakaman, seharusnya tidak sampai harus duduk di kursi ini. Aku bahkan belum diintrogasi, tetapi sudah diberi hukuman." Ucap Rhiana dengan santai.


"Oh... jadi dia menghukummu tanpa melihat aturan? Wah... benar-benar berani." Zant berkomentar dengan datar.

__ADS_1


Pria tua bau tanah ini berani melukai anaknya. Dia saja tidak pernah sekalipun memukul anak-anaknya. Marah saja jarang. Tapi orang ini berani sekali menyiksa anaknya.


"Haruskah kita menambahkan tegangan listrik?" Rihan yang masih berada di tempat kontrol kursi listrik membuka suara. Dia juga kesal karena anaknya diperlakukan seperti itu.


"Kasihan tulang tuanya, Mom. Bagaimana jika dicambuk saja? Seharusnya itu sesuai aturan," Rhiana menyahut dengan santai.


Teguran bagi mereka yang menyalahgunakan kekuasaan untuk sekarang cukup, pikir Rhiana. Dengan begini, para petinggi yang belum mendapat bagian mereka harus merubah jalan pikiran masing-masing sebelum menerima akibatnya.


"Kamu benar juga. Serahkan dia pada mommy dan daddy. Kamu siap-siap, Sayang. Hadiahmu sebentar lagi sampai." Ucap Rihan setelah mengangguk setuju.


"Hadiah?" Rhiana bertanya dengan heran. Rihan, mommy Rhiana hanya tersenyum dan menoleh ke arah pintu.


CEKLEK


Pintu terbuka.


Rhiana mengalihkan pandangannya ke arah pintu. Ada seorang pria berjalan masuk dengan langkah tegapnya. Pria itu memakai seragam serba hitam. Meski wajah pria itu masih pucat, tapi tidak bisa menutup wajah tampannya.


Rhiana mengucek kedua matanya merasa dia salah lihat. Gadis itu sudah turun dari pangkuan daddynya dan melangkah maju. Rhiana berdiri menunggu pria itu berjalan ke arahnya.


"Terima kasih sudah kembali, Kapten!" Lima orang berpakaian hitam menyambut pria itu.


"Apa maksudnya ini?" Rhiana merasa dadanya sesak. Dia tiba-tiba merasa kesal. Apa dia dipermainkan?


"Jangan tersenyum padaku! Aku sedang marah!" Rhiana menatap marah pria di depannya yang tersenyum padanya.


GREP


"Lepaskan aku!" Rhiana ingin melepas pelukan pria ini, tapi tidak bisa. Pelukan itu sangat erat.


"Paman, Bibi... boleh aku membawanya sebentar?" Pria itu meminta izin dengan sopan pada Zant dan Rihan, kedua orang tua Rhiana.


"Boleh. Selesaikan urusan kalian," Rihan mengangguk menyetujui.


"Siap! Terima kasih, Paman, Bibi."


Artya menyeringai kemudian memposisikan Rhiana dalam gendongannya ala koala kemudian pergi dari sana. Rhiana yang berusaha memberontak tidak bisa lepas dari gendongan Artya.


...


BAMM!


Pintu di tutup dengan kuat. Artya menutup pintu dengan kakinya sehingga menimbulkan suara yang cukup kuat.


"Mau kakak ipar apa, sih? Kenapa aku dibawa ke sini?" Rhiana bertanya dengan kesal.


Apa dia dipermainkan? Bukannya pria ini sudah mati beberapa jam lalu? Kenapa dia tiba-tiba sudah ada di sini? Rhiana kesal. Dia bahkan sudah menangis tadi, tapi pria ini baik-baik saja? Rhiana merasa air matanya sia-sia.


Artya tidak menurunkan Rhiana yang masih dalam gendongannya. Pria itu hanya memposisikan Rhiana bersandar pada pintu yang sudah ditutup tadi.


Hening.


Rhiana tidak mengatakan apa-apa lagi karena Artya sedang menatapnya intens.


"Sudah tenang?" Artya membuka suara dengan lembut.


"Aku masih marah." Rhiana menyahut dengan cepat. Artya tersenyum tipis dan mendekatkan wajahnya beberapa senti dengan wajah Rhiana.


"Maafkan aku. Terima kasih sudah khawatir padaku," Ucap Artya pelan kemudian merapatkan tubuhnya dan Rhiana. Kepala Artya disisipkan di cekuk leher Rhiana.


"Siapa yang khawatir? Sama sekali tidak." Rhiana mengelak dengan kesal. Rhiana berusaha mendorong kepala Artya yang bersemayam di lehernya.


"Serius? Aku tidak percaya. Aku bahkan yakin kamu pasti menangis," Artya berbisik karena masih di cekuk leher Rhiana.

__ADS_1


"Enak saja. Siapa peduli kakak ipar mati atau tidak. Justru aku senang tidak ada yang menggangguku lagi." Rhiana menjawab dan mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Lihat aku dan jawab aku, Tupai kecil! Kamu benar-benar baik-baik saja jika aku tidak ada?" Artya bertanya dengan serius. Tatapannya begitu lembut tepat di kedua bola mata biru milik Rhiana.


Rhiana diam. Gadis itu kemudian menunduk. Dia masih dalam gendongan Artya.


"Turunkan aku! Luka operasi kakak ipar masih baru."


"Jangan mengalihkan pembicaraan, Rhiana. Berhenti juga memanggiku kakak ipar!" Kali ini nada suara Artya penuh intimidasi.


"Rhiana... aku tanya sekali lagi! Kamu baik-baik saja jika aku tidak ada? Aku ingin mendengar jawabanmu sekarang. Jawabanmu menentukan hubungan kita kedepannya."


"Apa maksudmu, Kak?" Rhiana segera menyela tidak mengerti.


"Jika aku benar-benar tidak berarti untukmu, aku janji tidak akan mengganggumu lagi. Ini mungkin terakhir kalinya kita bertemu. Setelah ini aku akan pergi jauh untuk pemulihan dan tidak akan pernah menunjukan diri di hadapanmu lagi,"


"Pria ini serius? Dia benar-benar akan pergi jika aku menolaknya?" Gumam Rhiana dalam hati.


"Jangan menangis. Aku tidak ingin melihat air matamu. Aku ingin mendengar jawabanmu, Rhiana!"


"Siapa yang menangis? Mataku kemasukan debu. Pokoknya jangan pergi! Kakak ipar boleh menggangguku. Tapi janji jangan pergi," Rhiana hampir saja meneteskan air mata.


Padahal air matanya sudah siap jatuh, tetapi suara Artya membuatnya tidak jadi menangis.


Dia tiba-tiba teringat dengan tubuh kaku pria ini. Dia tidak ingin melihat tubuh kaku dan pucat itu lagi.


"Jangan kakak ipar lagi, Rhiana."


"Hm."


"Jadi... kamu tidak ingin aku pergi?" Artya bertanya sambil menahan senyum.


Sebenarnya Artya tidak benar-benar serius dengan perkataannya. Jika Rhiana menolaknya, dia tetap akan mengganggu tupai kecilnya ini. Bagaimana bisa dia melepaskan miliknya begitu saja? Dia bukan tipe orang yang akan menyerah atas sesuatu yang dia inginkan. Artya hanya ingin mencoba cara baru yang disarankan seseorang padanya. Ternyata cara ini berhasil.


"Hm."


"Kamu mau menjadi kekasihku?"


"Hm. Apa? Tidak!"


"Aku anggap kamu setuju."


"Tidak, Kak."


"Rhiana... lihat aku!" Artya kembali menatap intens Rhiana.


Rhiana menatap balik Artya. Tapi mengerutkan kening merasa sesuatu akan terjadi.


CUP


Benar saja, Artya mencium bibirnya dengan cepat.


"Apa-apaan? Ciuman pertamaku!" Rhiana menatap Artya dengan marah. Tangannya bahkan mengusap bibirnya dengan kasar.


Artya hanya tersenyum. Ciuman pertama? Baginya ini ciuman kedua setelah gesekan bibir waktu itu di mobilnya karena Rhiana yang tidur nyenyak dan tidak sadar.


CUP


"Aku kembalikan," Artya menyahut setelah mencuri ciuman lagi.


***


Like chapter ini, jika kalian suka.

__ADS_1


Jika tidak suka, mari beri komentar.😁


__ADS_2