
"Bagaimana?" Tanya Rhiana pada Gledy.
Gledy menatap Rhiana di sampingnya dan menggeleng kepalanya. Gelengan kepala Gledy membuat Rhiana tidak tahu harus bereaksi seperti apa.
Si penggila kebersihan ini benar-benar mati? Ini bukan mimpi? Rhiana kembali menatap monitor detak jantung Artya. Itu hanya garis lurus. Jadi, pria ini sudah mati? Rhiana menggeleng tidak percaya.
Bagaimana bisa pria sekuat ini mati? Rhiana tidak pernah menduganya. Dia sangat yakin Artya tidak mati semudah ini. Tapi, hasil pemeriksaan Gledy tidak pernah salah.
Gledy bukan robot biasa. Robot ciptaan mommynya itu memiliki sistem scan dalam tubuhnya, sehingga hanya dengan melihat, semua informasi sudah diperoleh.
"Rhi..." Gledy memanggil Rhiana karena menyadari kesedihan yang ditampilkan majikannya itu.
"Kamu sudah memeriksanya dengan benar? Kamu tidak salah?" Tanya Rhiana dengan pelan.
"Tidak ada yang salah. Dia benar-benar sudah mati." Gledy menjawab dengan nada khasnya.
BUGH
BUGH
Rhiana memukul pelan lengan Artya.
"Bagaimana bisa kamu mati? Si penggila kebersihan sepertimu mati? Aku tidak percaya! Jadi... jadi... tolong bangun, hum? Bangun, Kakak ipar! Kumohon, bangun... Jika kamu bangun, aku janji akan menuruti semua permintaanmu. Please... wake up. WAKE UP!!!"
Tidak ada reaksi apapun dari Artya yang terbaring di brankar. Meski Rhiana sudah berteriak sekalipun, tidak ada reaksi dari pria yang terbaring kaku itu.
Rhiana mundur selangkah. Tangan kanannya memegang dadanya. Kenapa itu terasa sesak? Apa dia setakut ini kehilangan pria itu? Takut kehilangan pria yang selalu mengganggunya itu?
"Bukan hanya anda yang merasa kehilangan, Nona. Kami semua juga merasa kehilangan. Kami merasa kehilangan orang andalan Kami." Si rubah tua pemimpin BII membuka suara, tapi Rhiana sama sekali tidak melihat pria tua itu.
"Saya bisa saja melepaskan anda, tapi mengingat saya adalah seorang pemimpin, maka saya harus mengikuti aturan. Sesuai dengan kesepakatan kita, anda harus ditangkap untuk diintrogasi sesuai aturan BII." Pemimpin BII itu kembali melanjutkan kemudian menoleh memberi isyarat pada seseorang untuk membawa Rhiana pergi bersama Gledy.
Rhiana yang sepertinya dalam keadaan linglung hanya mengikuti langkah kaki dua orang yang membawanya. Gledy sendiri juga ikut di belakang dengan dua orang yang juga menahan kedua tangannya.
Gledy bisa saja membunuh semua orang dalam ruangan ini, tetapi melihat keadaan Rhiana, robot itu untuk sementara tidak melakukan apapun. Lagipula dia tidak bisa bergerak sendiri tanpa perintah.
BAMM!
Suara pintu ditutup menyadarkan Rhiana dari linglungnya.
Gadis berusia 15 tahun itu baru sadar, ternyata dia ada di sebuah ruangan dengan ukuran 3X4 meter. Di ruangan ini ada tempat tidur kecil, juga toilet. Semua dalam satu ruangan. Sepertinya ini ruang penahanan untuk penjahat di BII.
Rhiana mendudukkan dirinya di ranjang khusus untuk satu orang. Kepalanya sedikit pusing. Dia masih tidak menyangka, hatinya ikut terguncang melihat kematian pria itu. Rhiana benar-benar tidak pernah menduga hal ini.
Tes
Tes
"Air mata? Apa aku menangis?" Rhiana menatap tangannya yang basah setelah mengusap pipinya.
Dia sesedih ini kehilangan pria itu? Bagaimana ini mungkin? Dia tidak pernah lagi menangis setelah umurnya 5 tahun. Sekarang, air matanya tiba-tiba jatuh tanpa diminta. Sepertinya pengaruh Artya dalam hidupnya tidak kecil.
Rhiana membersihkan pipinya yang basah kemudian membaringkan tubuhnya. Dia ingin menenangkan dirinya dulu. Untuk keluar dari tempat ini, dia punya banyak cara. Untuk sementara, dia akan beristirahat.
***
Ruangan berukuran 100X100 meter itu dipenuhi oleh banyak orang dengan seragam BII yang berdiri berbaris rapi di belakang. Di bagian depan, ada meja panjang dan beberapa kursi untuk para petinggi. Sedangkan di tengah-tengah ruangan itu, ada satu kursi listrik.
Tik
Tok
Tik
Tok
Hanya suara jam dinding yang terdengar dalam ruangan itu. Meski ada banyak orang, tetapi ruangan itu tetap sunyi. Para pria dengan seragam khas BII berdiri rapi menunggu kedatangan para petinggi.
CEKLEK
Pintu terbuka.
Dua pria dengan seragam BII masuk. Di belakang mereka, ada 10 orang pria dengan perbedaan usia yang tidak terlalu jauh masuk dengan jas formal masing-masing. Di belakang para petinggi BII Swiss itu, ada 5 orang dengan seragam khas pasukan Hell. Mereka dengan tenang masuk ke dalam ruangan itu.
Pintu kembali tertutup.
10 petinggi BII Swiss mengambil tempat di kursi kosong di bagian depan. Sedangkan 5 anggota pasukan Hell berdiri tidak terlalu jauh dengan tempat duduk para petinggi BII.
Setelah semua orang sudah pada posisinya, pemimpin BII Swiss memberi isyarat pada seorang anggota BII yang berjaga di pintu masuk. Yang diberi isyarat mengangguk kemudian keluar.
Beberapa menit kemudian, penjaga pintu itu kembali bersama tiga orang di belakangnya. Dua orang dengan seragam BII membawa Rhiana bersama mereka.
"Tahanan satunya sudah kabur, Pimpinan! Ruangan tempatnya di tahan, kosong. Kami sudah mencari di dalam ruangan itu, tapi tidak menemukan jejak pelarian." Penjaga yang disuruh tadi melapor.
__ADS_1
"Cari dia sampai ketemu! Untuk saat ini urus gadis kecil itu!" Marvinus Lonnyare, si pemimpin BII memberi perintah dengan arogan.
"Baik, Pimpinan!"
Rhiana kemudian didudukkan di kursi listrik. Wajahnya juga biasa saja. Tidak ada jejak ketakutan di sana. Rhiana hanya memasang wajah datar menatap wajah arogan pemimpin BII negara Swiss.
"Kamu terlihat sangat tenang untuk ukuran orang yang sebentar lagi akan disiksa." Rubah tua Marvinus menatap Rhiana dengan pandangan intimidasi. Baru kali ini dia bertemu lagi dengan orang yang tidak takut padanya setelah kapten pasukan Hell.
"Untuk apa aku harus takut pada pak tua seperti anda?" Rhiana menjawab dengan tenang. Ada seringai tipis ditunjukkan pada para petinggi BII.
BRAK
"Sangat tidak sopan! Siapa orang tuamu? Bagaimana bisa mereka mendidik anak seperti ini?" Seorang petinggi BII membuka suara setelah menggebrak meja. Dia cukup kesal dengan tingkah tidak sopan Rhiana. Padahal sebentar lagi akan disiksa, tapi gadis ini tidak takut sama sekali.
"Anda tidak memiliki kualifikasi untuk tahu siapa orang tua saya, Pak tua." Rhiana membalas dengan cepat. Beraninya pria tua ini mengungkit orang tuanya. Dia pikir dia siapa?
"Kamu..."
"Tenanglah, Son. Gadis ini akan menerima akibatnya karena tidak sopan." Si rubah tua Marvinus segera memotong dengan arogan. Dia sudah tidak sabar menyiksa gadis yang tidak sopan ini.
"Persiapkan eksekusinya!" Si rubah tua Marvinus memberi perintah.
Dua penjaga di samping Rhiana yang membawanya tadi mulai memasang alat-alat di kepala Rhiana. Tangan dan kaki Rhiana juga sudah diikat di kursi.
"Sebelum saya disiksa, saya ingin bertanya." Rhiana berbicara setelah semua persiapan penyiksaan sudah siap.
"Silahkan, Nona." Si rubah tua Marvinus mengangguk mempersilahkan.
"Kata anda, saya sudah melanggar aturan BII dengan menghalangi prosedur pemakaman anggota BII. Saya juga akan mengakui kesalahan karena menerobos masuk gedung BII. Tapi, yang menjadi pertanyaan saya, pasal berapa aturan itu dicatat dan seperti apa hukuman untuk orang yang melanggarnya? Saya ingin tahu apa hukuman ini benar-benar tercatat dalam aturan?"
Rhiana sengaja menanyakan ini karena ada yang dia rencanakan. Meski nantinya dia akan disiksa, dia tidak peduli. Toh mereka tidak akan membuatnya mati dengan mudah.
"Untuk apa anda harus tahu aturan BII kami? Orang asing yang akan disiksa seperti anda tidak perlu tahu aturan di sini." Si rubah tua Marvinus menjawab dengan nada arogan khasnya.
"Baiklah. Kalau begitu, saya akan mengatakan satu hal, Pak tua. Jika saya disiksa berdasarkan perkataan anda tanpa mengikuti aturan, maka anda harus siap menerima resiko."
"Hahaha... resiko? Gadis kecil sepertimu ingin menghukumku? Hahaha... nyalimu sungguh besar! Di sini, aku adalah hukum! Apa yang aku katakan tidak ada yang boleh membantahnya!" Rhiana hanya tersenyum dan mengangguk.
"Mulai penyiksaannya!" Si rubah tua Marvinus memberi perintah. Tatapan arogannya dilayangkan pada Rhiana seakan menyiratkan bersiaplah untuk disiksa.
Szztttt
Szztttt
"Berhenti!" Si rubah tua Marvinus menginstruksi untuk berhenti setelah beberapa menit Rhiana disengat listrik.
Rhiana menghela nafas dan menghembuskannya. Ternyata begini rasanya disetrum. Sakit juga, ternyata. Rhiana sudah berkeringat. Tubuhnya tiba-tiba terasa lemas. Ternyata siksaan ini cepat menguras tenaganya.
"Bagaimana rasanya, Nona?" Rubah tua Marvinus bertanya dengan senyum meremehkan pada Rhiana.
"Rasanya tidak buruk!" Rhiana sedikit mengangguk dan tersenyum.
Para anggota BII yang ada dalam ruangan itu menatap Rhiana dengan pandangan tidak percaya. Bagaimana bisa gadis itu tetap tenang setelah disetrum dengan tegangan listrik cukup tinggi itu?
Sebelum Marvinus Lonnyare menginstrusi untuk menyiksa Rhiana lagi, suara berisik diluar gedung mengalihkan perhatian semua orang. Apa yang sedang terjadi?
"Katakan situasi di luar!" Marvinus Lonnyare bertanya dengan arogan. Siapa yang berani mengganggunya?
Seorang anggota BII berlari dengan cepat ke arah si rubah tua Marvinus. Pria berseragam BII itu terlihat berbisik membuat tatapan Marvinus Lonnyare tiba-tiba syok dan berdiri dari kursinya.
Rhiana yang melihat situasi di sekitar tersenyum tipis. Sepertinya sudah dimulai.
[Apa yang sedang terjadi?]
[Bukankah itu seperti suara helikopter?]
[Kamu benar. Itu helikopter.]
[Ada berapa banyak helikopter?]
[Apa ada tamu penting yang datang?]
[Menurut penjaga atap, ada 10 helikopter yang sedang berputar mengelilingi gedung ini. Sedangkan satu jet pribadi baru saja mendarat di atap. Sepertinya kita kedatangan tamu penting.]
[Bukankah ini pertama kalinya ada tamu penting yang datang?]
[Hei... hei...! bukan hanya helikopter yang berjaga di atas. Ada 5 tank siap tempur dan 10 sedan hitam yang juga mengepung gedung ini.]
[Aku penasaran, siapa orang penting ini.]
[Apa ada yang bisa memberitahu siapa yang datang?]
[Tidak ada yang tahu. Tapi, melihat reaksi si rubah tua Marvinus, sepertinya benar-benar tamu penting.]
__ADS_1
Rhiana yang mendengar bisikan para anggota BII yang tidak jauh di belakangnya menarik senyum tipis. Rhiana sedang menebak, siapa yang membuat keributan ini.
Rhiana menoleh menatap Marvinus Lonnyare yang berjalan cepat keluar ruangan. Rubah tua itu pasti akan menjemput tamu penting.
...
"Silahkan, Tuan, Nyonya. Silahkan masuk!" Marvinus Lonnyare membuka suara mempersilahkan masuk tamu penting. Nada suara rubah tua itu sangat sopan.
Para anggota yang tidak kenal dengan dua orang asing yang sangat dihormati oleh pemimpin mereka, menatap penasaran pada dua orang itu.
Tidak hanya aura mereka yang membuat merinding, ternyata dua tamu penting ini juga sangat tampan dan cantik, begitulah isi kepala para anggota BII.
"Semuanya, perkenalkan! Ini Tuan Zant Veenick dan istrinya. Nyonya Rihan Veenick. Mereka adalah pemimpin tertinggi Badan Intelijen Internasional semua negara. Semua yang berkaitan dengan teknologi yang kita gunakan adalah ciptaan mereka. Satu lagi. Jika bukan karena mereka, BII tidak akan pernah bisa bekerja sama dengan pasukan Hell."
Mendengar penjelasan Marvinus Lonnyare, para anggota BII menatap kagum pasangan di depan mereka. Ternyata mereka benar-benar orang penting.
Rhiana sendiri juga kaget. Dia baru tahu identitas orang tuanya yang menjadi pemimpin tertinggi BII. Benar-benar hebat. Ternyata karena kedua orang tuanya, sehingga BII dan pasukan Hell bisa bekerja sama. Pantas saja, Artya terlihat akrab dengan kedua orang tuanya.
"Sebelumnya saya minta maaf, karena sudah membuat Tuan dan Nyonya melihat keadaan di sini. Saya sedang menyiksa gadis yang tidak sopan ini. Beraninya dia membuat ulah di wilayah saya." Marvinus Lonnyare menjelaskan dengan kesal.
"Oh... dia gadis yang berani. Pasti orang tuanya sangat pandai mendidiknya." Zant berbicara dengan santai.
"Hahaha... anda benar, Tuan. Orang tuanya pasti orang yang tidak berpendidikan dan bodoh sehingga tidak bisa mendidik anaknya dengan benar. Berani-beraninya dia masuk dan bertindak seenaknya di sini. Dia pikir dia siapa?" Marvinus Lonnyare membalas dengan bangga.
Rhiana memiringkan kepalanya dan menatap kedua orang tuanya beberapa menit, kemudian mengalihkan pandangannya ke arah si rubah tua Marvinus. Pria tua itu masih memasang wajah bangga.
Rubah tua julukan orang-orang di BII Swiss itu tidak sadar dengan aura tidak mengenakkan dalam ruangan itu. Tentu saja aura penuh intimidasi itu berasal dari pasangan suami istri orang tua Rhiana itu.
"Sudah berapa lama dia disiksa?" Tanya Rihan, mommy Rhiana dengan lembut.
"Baru saja, Nyonya. Tegangannya juga tidak terlalu kuat. Dia masih bisa hidup sampai diberi tegangan keempat."
"Jadi, begitu. Anda berencana menyiksanya sampai mati?"
"Tidak, Nyonya. Saya berencana menyiksanya hingga tegangan ketiga. Saya hanya ingin gadis kurang ajar ini sadar diri. Beraninya dia berulah di sini."
"Oh... anda sudah pernah merasa disetrum, Tuan Lonnyare?" Rihan kembali bertanya setelah diberi kursi oleh seorang pria berpakaian hitam di sampingnya.
"Belum pernah, Nyonya."
"Bagaimana jika anda merasakannya sekarang?"
"Ap... apa maksud anda, Nyonya? Hahaha... sepertinya saya salah dengar,"
"Telinga anda masih sangat baik untuk mendengar perkataan saya."
"Lepaskan dia!" Rihan menatap pengawal bayangan di sampingnya menginstruksi untuk melepas Rhiana.
"Anda baik-baik saja, Nona?" Tanya salah satu pengawal bayangan setelah Rhiana dilepaskan.
"Aku baik-baik saja, Kak. Terima kasih." Rhiana tersenyum tipis setelah berdiri dan menghampiri kedua orang tuanya.
"Tidak!!! Apa yang sedang anda lakukan pada saya, Nyonya?" Marvinus tiba-tiba ketakutan karena dua pengawal bayangan menariknya untuk duduk di kursi listrik.
"Saya ingin anda merasakan bagaimana rasanya disetrum dengan tegangan listrik yang kata anda tidak seberapa itu,"
"Tapi saya tidak melakukan kesalahan apapun, Nyonya. Kenapa anda menyiksa saya?" Si rubah tua Marvinus tidak terima diperlakukan seperti ini.
Tidak ada yang berani menolongnya. Si rubah tua Marvinus itu sudah didudukkan di kursi listrik dan dipasang alat di kepalanya. Semua orang dalam ruangan itu tidak berani berkutik meski pemimpin mereka akan disiksa.
"Kamu baik-baik saja, Sayang?" Tanya Zant dengan lembut pada Rhiana. Ada senyum tipis di sana. Beraninya pria bau tanah itu menyiksa kesayangannya? Cari mati!
"Aku baik, Dad."
"Tunggu! Dad? Anda mengenal gadis pembuat onar ini, Tuan?" Marvinus Lonnyare merasa sepertinya dia salah dengar.
"Tentu saja saya mengenal gadis pembuat onar ini. Gadis yang kata anda orang tuanya tidak mampu mendidiknya. Kata anda, orang tuanya tidak berpengetahuan dan bodoh. Saya sebagai orang tuanya merasa senang mendengar pujian dari anda, Tuan Lonnyare."
"Orang tua?" Ulang Marvinus Lonnyare merasa tidak enak di hatinya.
"Seperti apa cara menyalakan benda ini?" Gumam Rihan sambil mengamati kontrol kursi listrik yang hanya berjarak beberapa meter dengan kursi listrik yang diduduki oleh Marvinus Lonnyare.
"Tekan tombol merah itu, Mom."
"Oh... yang ini?"
"Jangan, Nyonya...."
***
Terima kasih sudah membaca ceritaku.
Jangan lupa tinggalkan jejakmu, ya.😁
__ADS_1