Nona Muda Yang Menyamar

Nona Muda Yang Menyamar
Gadis Malaikat


__ADS_3

Rhiana dengan langkah dipaksakan, terus berjalan ingin menuju jalan utama. Rhiana kembali mengingat kejadian beberapa jam lalu.


...Flasback...


Ketika Rhiana berlari masuk ke dalam gedung, waktu pada bom sudah menunjukan tersisa 50 detik lagi. Merasa tidak banyak waktu yang tersisa, Rhiana berlari dengan cepat tanpa memikirkan kakinya yang sakit.


Sambil berlari, Rhiana terus berpikir apa yang harus dia lakukan. Hingga pandangannya teralihkan pada tombol alarm kebakaran. Rhiana dengan cepat menekan itu dan kembali berlari. Tujuannya adalah kolam tempat olimpiade renang dilaksanakan. Karena bantuan alarm kebakaran, gedung itu dibanjiri air dari atas.


Waktu kini tersisa 20 detik. Rhiana berusaha tenang dan meletakkan dengan hati-hati bom itu di pojok kolam renang yang begitu besar. Ketika akan berbalik untuk pergi dari sana, Rhiana menyadari ada lubang tempat pembuangan air di kolam renang itu. Setahunya, lubang itu akan berakhir di suatu tempat.


Tersenyum tipis, Rhiana kemudian melompat ke dalam kolam dan berusaha membuka pintu lubang itu. Lubang itu cukup besar dan muat dengan tubuhnya. Untungnya itu terbuka tepat waktu, sehingga Rhiana dengan cepat masuk dan didorong bersamaan dengan air kolam. Bertepatan dengan bom yang meledak.


Karena bom ada dalam air, dan gedung juga sedang dibanjiri oleh air, sehingga ledakan tidak terlalu berdampak besar hingga keluar. Hanya ada reruntuhan gedung dan getaran pada tanah yang membuat orang-orang yang berada diluar ketakutan.


Sedangkan Rhiana berakhir di tempat pembuangan yang jauh dari gedung olimpiade. Tempat pembuangan itu juga dekat dengan jalan utama. Rhiana juga pingsan selama beberapa jam di sana.


...Flashback end....


...


"Entah apa yang sedang terjadi di sana," Gumam Rhiana memikirkan keadaan di tempat kejadian.


Rhiana mengalihkan pandangannya ke arah jam besar yang terpasang di salah satu gedung paling tinggi di Rusia. Itu sudah menunjukan pukul 5 sore.


Rhiana menghela nafas sebelum menekan chip di belakang telinganya. Dia ingin menghubungi kedua kakaknya. Dia tahu mereka pasti khawatir padanya. Sayangnya, bagian tempat chip itu berada terdapat luka cukup besar di sana. Itu jelas membuat chip itu rusak. Sepertinya dia terluka karena efek ledakan besar itu.


"Sepertinya aku tersesat," Rhiana tidak tahu dimana dia berada sekarang. Biasanya dia menggunakan ponsel sebagai penunjuk jalan, tetapi itu ada pada Dion. Chip yang selalu menjadi senjata andalannya juga rusak. Hari ini benar-benar hari yang buruk baginya.


"Bertanya pada orang akan lebih baik," Gumamnya dan melihat sekeliling.


Rhiana kembali menarik kakinya menuju jalan utama. Akan tetapi, anehnya dia tidak bertemu dengan pejalan kaki. Rhiana merasa dia benar-benar sial hari ini. Terus berjalan dengan hati-hati, Rhiana tiba-tiba mengerutkan kening.


"Gawat... jangan sampai pingsan. Tapi... aku tidak bisa menahan diriku sendiri," Rhiana berbicara dalam hati dan berpegangan pada salah satu pohon yang tumbuh di pinggir jalan.


Rhiana menggeleng berusaha mengusir pusing di kepalanya, dan membuka matanya melihat kedepan sana. Ada senyum tipis di bibirnya ketika melihat seseorang berdiri tidak jauh darinya. Rhiana kemudian berjalan dengan menyeret kakinya ingin menghampiri orang itu.


Akan tetapi, baru di pertengahan jalan, pusing di kepalanya semakin menyerang. Rhiana tidak bisa menahannya lagi. Tiba-tiba tubuhnya ambruk ke depan.


Tuk


Sebelum kesadarannya benar-benar hilang, Rhiana bisa merasakan punggung tegap dan hangat yang menahan tubuhnya yang akan jatuh. Wangi khas itu, Rhiana mengenalnya.

__ADS_1


"Aku di sini," Rhiana tidak lagi mendengar apa yang dikatakan pria itu.


Pria itu berbalik dan memposisikan Rhiana dalam gendongannya ala bride style. Dengan wajah datar, pria itu lalu membawa Rhiana masuk ke dalam mobilnya yang terparkir cukup jauh.


"Biar saya yang membawanya, Tuan Muda." Pengawal pria itu bersiap mengambil Rhiana.


"Maaf, Tuan Muda." Pengawal itu kembali membuka suara dengan takut, karena hanya mendapat tatapan dingin dari sang Tuan. Jelas sekali tuannya ingin membawa gadis itu sendiri.


Pengawal itu hanya bisa memandu jalan dan membuka pintu mobil untuk sang tuan.


"Panggil Calypso."


"Baik, Tuan Muda."


Pria itu tidak mengalihkan pandangannya sedikitpun dari wajah tenang Rhiana yang berada dalam pelukannya.


"Ini pertama kalinya aku melihat Tuan Muda seperhatian ini pada orang lain. Dia yang gila kebersihan tidak jijik sedikitpun pada gadis itu. Benar-benar keajaiban. Apa dia nyonya masa depan?" Gumam pengawal merangkap sopir itu dalam hati. Dia sedang melirik bagaimana tuannya begitu intens menatap Rhiana.


Sret!


"Mati aku..." Gumam pengawal itu ketakutan.


***


"Apa kalian melihat Rhiana?" Brilyan yang sudah tidak tahan segera bertanya pada Dalfa dan Dalfi. Dia sudah mencari Rhiana kesana kemari tapi tidak menemukannya dimanapun. Akhirnya dia bertanya pada mereka, meski sebenarnya dia enggan berbicara dengan dua orang itu.


"Dia mungkin sudah pulang." Dalfa menjawab dengan malas. Dia sedang khawatir pada Rhiana, dan sedang menunggu tim bantuan mencari di reruntuhan gedung, pria ini bertanya membuatnya ingin meninjunya. Mereka juga tidak mungkin membocorkan identitas Rhiana begitu saja.


Dalfa dan Dalfi juga tidak bisa bergerak bebas, mengingat tugas mereka saat ini adalah menjaga Yeandre agar tidak diculik oleh organsiasi bawah tanah. Mereka hanya mengirim orang untuk menyusup dalam kepolisian dan membantu pencarian Rhiana.


Mendengar jawaban Dalfa, Brilyan menjadi tidak senang. Bukankah mereka menyukai Rhiana? Bukankah mereka selama ini selalu menempel pada Rhiana? Kenapa mereka sepertinya tidak peduli padanya? Di saat seperti ini, seharusnya mereka khawatir.


Brilyan ingin melampiaskan kemarahannya, tetapi dia menahan diri. Tidak ada gunanya dia marah pada mereka. Justru dengan begini, dia bisa menarik Rhiana ke sisinya tanpa adanya saingan.


***


Kepolisian Rusia sudah mencari jejak gadis misterius yang dibicarakan semua orang di reruntuhan gedung, tetapi mereka tidak menemukan apapun. Semua orang yang ada di sana begitu khawatir.


Kini tempat itu semakin ramai karena banyak wartawan datang dan meliput, juga mewawancarai para korban di sana. Akhirnya, berita tentang bom bunuh diri dan penyelamatan seorang gadis misterius menjadi berita paling trending saat ini. Semua orang ikut berdoa agar gadis misterius itu segera ditemukan. Mereka sudah menganggap gadis misterius itu sebagai seorang malaikat.


"Lihat! Ada sesuatu di sini!" Suara seorang polisi yang berhasil menemukan sesuatu di reruntuhan gedung.

__ADS_1


Semua orang ikut penasaran. Beberapa wartawan ikut mendekat meliputi berita itu. Mereka sedang melakukan siaran langsung.


"Ada apa?" Kapten polisi bergegas mendekat dan bertanya. Ada beberapa wartawan ikut di belakangnya.


"Saya menemukan pakaian di sini, Kapten." Anggota polisi itu memberikan pakaian yang dia temukan pada sang kapten.


"Ini..." Kapten polisi itu tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Dia cukup mengenali pakaian itu.


Meski pakaian ini sudah sobek dimana-mana, tapi ingatannya sebagai seorang aparat kepolisian sangat baik untuk mengenali pakaian ini sebagai baju kaos yang dikenakan gadis misterius tadi.


"Apa anda mengenali pakaian ini, Kapten?" Seorang wartawan segera memberikan pertanyaan.


"Ini baju yang dipakai gadis itu," Kapten polisi menjawab dengan lesuh. Tangannya lalu bergerak memasukan baju yang sudah sobek itu ke dalam kantong transparan sebagai barang bukti.


"Maksud anda, baju ini milik gadis misterius yang sudah mengorbankan dirinya itu?" Wartawan itu segera mengorfimasi dengan jelas. Kapten polisi itu kemudian mengangguk mengiyakan.


Para penonton olimpiade, para peserta olimpiade, panitia olimpiade, kru tv, tim medis dan tim lainnya yang berperan dalam olimpiade yang menjadi korban maupun saksi kejadian hari ini ikut sedih. Tentu saja, jika bukan karena gadis misterius itu, bocah kecil itu pasti sudah mati. Jika bukan karena gadis itu, mereka semua pasti terluka parah, bahkan mati.


Bukan hanya mereka yang hadir di sini yang bersedih, tetapi mereka yang menonton siaran langsung hari ini juga ikut berduka.


Padahal beberapa waktu lalu, ada insiden penyanderaan di gedung olimpiade, tetapi mereka berhasil selamat karena ditolong seorang gadis waktu itu. Setelah memikirkan itu, mereka sadar, ternyata itu orang yang sama yang menolong mereka hari ini. Gadis misterius itu benar-benar berkorban banyak untuk mereka.


Di saat mereka berduka, ada beberapa orang di antara para korban mulai membuat keributan. Mereka sedang melakukan protes terhadap keamanan Rusia yang datang terlambat. Sepertinya mereka mendengar pembicaraan komandan dan kapten polisi beberapa saat lalu.


Mereka tentu protes dengan kinerja pihak kepolisian yang menggunakan aset pemerintah yang disiapkan untuk membantu warga sipil seperti mereka dengan sembarangan. Mereka terus berteriak agar komandan dan jenderal yang menggunakan helikopter itu segera diganti.


Tentu saja protes itu disambut baik oleh korban yang lainnya. Bahkan para penonton siaran langsung di luar sana ikut mengajukan petisi pemecatan pada orang-orang yang tidak bertanggung jawab itu.


Pada akhirnya, media sosial dipenuhi dengan protes pada kinerja kepolisian Rusia. Berita ini bahkan sampai ke telinga petinggi negara.


Kasus ini kemudian diusut oleh tim khusus yang menangani pendisiplinan pihak kepolisian yang melanggar aturan.


Kapten polisi di tengah kesibukan mencari jejak di reruntuhan gedung olimpiade mengangguk dan tersenyum. Setidaknya keresahannya terhadap kinerja atasannya berhasil diusut.


...


Pada hari itu, menjelang malam, ribuan orang datang membawa lilin dan berdoa bersama untuk gadis misterius yang dianggap mati karena berkorban untuk banyak orang.


Berbagai macam barang diletakkan di reruntuhan gedung sebagai peringatan kematian gadis misterius yang kini mereka beri nama 'gadis malaikat'.


Sedangkan gadis malaikat yang dunia anggap sudah meninggal, justru sedang berbaring dengan tenang di kasur dan sedang dirawat oleh seorang dokter pribadi.

__ADS_1


__ADS_2