
Rhiana menghembuskan nafas pelan. Dia sedang menatap Artya yang terlelap karena diberi suntikan agar beristirahat lebih lama.
Beberapa jam lalu, Artya tiba-tiba menurunkan Rhiana karena merasa sakit. Rhiana yang peka, segera melepas kancing kemeja Artya dan menatap Artya dengan kesal. Bisa-bisanya pria ini menggendongnya cukup lama tanpa memikirkan luka jahitan di dada dan perutnya yang terbuka bahkan mengeluarkan darah. Pria ini benar-benar cari mati.
Artya hanya tertawa melihat wajah khawatir Rhiana yang memapahnya ke laboratorium untuk menutup kembali lukanya. Rhiana mengomel sepanjang jalan tetapi hanya ditanggapi dengan kekehan dari si penggila kebersihan julukan Rhiana itu.
Rhiana sudah tahu cerita sebenarnya tentang Artya yang tiba-tiba muncul di ruang kedisiplinan BII Swiss.
Artya yang dikira sudah mati oleh semua orang, tiba-tiba bangun saat dibawa ke kamar mayat untuk dibersihkan dan dipersiapkan untuk upacara nanti.
Dua dokter yang bertugas membersihkan tubuh Artya bahkan berteriak kaget karena melihat mayat yang tiba-tiba bangun. Dua dokter khusus itu tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.
Bagaimana bisa mayat tiba-tiba bangun? Ini pertama kalinya mereka melihat hal ini. Selama mereka menjadi dokter belasan tahun, mereka baru kali ini mendapat kasus seperti ini.
Padahal mereka yakin dengan diagnosis dan alat-alat canggih yang mereka miliki untuk pengobatan. Tapi, bagaimana bisa alat-alat itu salah?
Artya yang tidak peduli dengan wajah syok dua dokter itu memutuskan untuk pergi dengan sempoyongan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Sebelum pergi ke ruang kontrol cctv, Artya lebih dulu mencari dokter pasukan Hell untuk memeriksa tubuhnya. Artya bahkan memanggil dokter itu untuk memeriksanya sambil dia menonton rekaman cctv di laboratorium.
Melihat tingkah tupai kecilnya, Artya tidak sabar untuk segera bertemu dengannya. Meski dokter mengatakan bahwa dia sama sekali tidak boleh kemana-mana, tapi Artya tidak bisa diam saja. Apalagi ketika melihat tupai kecilnya akan disiksa karena melanggar aturan.
Artya sangat marah melihat tindakan pemimpin BII Swiss. Berani sekali pria tua itu pada tupai kecilnya. Artya ingin sekali memberi hukuman pada pria tua itu. Tapi, sebelum Artya bersiap pergi, dokter pasukan Hell sudah menyuntikkannya dengan obat bius untuk beristirahat. Artya hanya menatap tajam dokter pasukan Hell sambil berusaha menahan kesadarannya tetapi itu percuma. Obat bius itu lebih cepat bereaksi pada tubuhnya.
Setelah 2 jam tidur, Artya bangun dan memaksakan diri pergi mencari Rhiana. Dalam perjalanan, Artya bertemu beberapa anggota BII dan menanyakan apa yang sedang terjadi. Mendengar tupai kecilnya sudah disiksa, Artya sangat marah. Ingin sekali dia menghancurkan tempat ini.
Sayangnya, sebelum Artya sampai di ruang kedisiplinan, keributan karena kedatangan tamu penting membuatnya menyadari sesuatu. Bagaimana bisa dia lupa jika orang tua tupai kecilnya bukan orang biasa? Sudah pasti mereka tidak akan tinggal diam melihat anak mereka diperlakukan seperti ini. Artya bernafas legah dan mempersiapkan diri untuk bertemu tupai kecilnya.
***
Rhiana sudah menjaga Artya hingga satu jam lebih. Dia ingin menjaga sampai pria itu bangun, tapi seorang pengawal bayangan datang dan memberitahu padanya untuk bertemu kedua orang tuanya.
Sepertinya siksaan untuk pemimpin BII Swiss sudah selesai, sehingga Rhiana dipanggil untuk sarapan bersama. Dipanggil untuk sarapan bersama, Rhiana baru sadar, ternyata sudah pagi. Entah apa yang akan Brilyan lakukan karena tidak bertemu dengannya di rumah, Rhiana tidak peduli. Mengatasi Brilyan bukan hal yang sulit. Yang lebih sulit adalah mengatasi kelakuan Artya yang menyebalkan.
...
Rhiana masuk setelah pintu dibuka oleh penjaga pintu. Masuk ke dalam, Rhiana bisa melihat banyak orang sudah duduk di meja panjang dengan kedua orang tuanya di meja bagian kepala. Rhiana menghembuskan nafas pelan, karena mommynya pasti sengaja membuatnya jadi pusat perhatian.
Rhiana kemudian diantar untuk duduk dekat dengan orang tuanya. Rhiana hanya bisa melihat senyum manis mommynya karena berhasil membuatnya jadi pusat perhatian.
__ADS_1
"Aku sangat berterima kasih karena semua orang sudah meluangkan waktu untuk sarapan bersama hari ini. Setelah ini, aku akan mengadakan pertemuan untuk semua orang tanpa terkecuali. Aku ingin mengubah struktur kepemimpinan BII di sini. Terlalu banyak orang yang semena-mena dengan kekuasaan yang didapat hanya sementara. Jika ada keluhan, sampaikan saat pertemuan nanti!" Zant berbicara dengan tegas.
Sebenarnya Zant tidak memperhatikan organisasi BII dan beberapa organiasi yang dibangun bersama Rihan karena ingin menghabiskan waktu bersama istri tercintanya, Gledy tiba-tiba muncul dan memberi kabar keadaan anak kesayangannya membuatnya sangat marah.
Beraninya orang-orang ini berbuat sesuka hati hanya karena mereka diberi gelar tinggi. Mereka sejak awal adalah orang-orang yang taat dengan aturan, tetapi entah kenapa semakin hari rasa sombong itu muncul karena menduduki posisi tinggi dan mereka mulai bertindak semena-mena pada orang di bawah mereka. Benar-benar arogan.
Mendengar perkataan Zant, para petinggi dan beberapa kapten pasukan BII Swiss yang duduk di meja makan tidak berani bersuara. Mereka hanya bisa diam dan mulai menyiapkan hati untuk pertemuan nanti.
***
Rhiana sedang menyuapi Artya makan. Padahal pria itu bisa makan sendiri, tapi dia sedang mengerjai Rhiana. Dia ingin Rhiana menemaninya selama mungkin. Kesempatan sebagus ini tidak boleh disia-siakan.
"Kamu tidak sekolah?" Artya membuka suara sekedar basa-basi.
"Gara-gara siapa aku di sini?" Rhiana menjawab kemudian mendengus.
"Sebagai kekasih yang baik, kamu harus menemaniku." Artya tersenyum dan mengusap lembut pucuk kepala Rhiana.
"Kekasih? Kekasihku Brilyan, Kak." Rhiana menggeleng setelah menepis dengan cepat tangan Artya di kepalanya.
"Kamu sudah menjadi kekasihku beberapa jam lalu. Itu tidak bisa dibantah!"
"Huh?"
"Ck... terserah. Sepertinya lukamu sudah sembuh, Kak. Aku harus pulang!"
"Akh... ini sama sekali belum sembuh. Bagaimana bisa luka ini sembuh secepat itu? Kamu tidak boleh pergi sebelum aku sembuh." Artya memasang wajah memelas ditambah ekspresi kesakitan membuat Rhiana hanya menghembuskan nafas pelan dan tidak jadi pergi.
Rhiana akhirnya menjaga Artya sampai tidak pergi ke sekolah selama 3 hari. Artya hanya mengatakan untuk tidak khawatir karena dia sudah menyuruh orang meminta izin pada pihak sekolah. Padahal Rhiana tidak khawatir sama sekali tentang keadaan sekolah. Dia hanya memikirkan Yeandre.
Lagipula, ada kedua kakaknya di sekolah jadi semua bisa diurus. Kedua orang tuanya juga sudah pulang kemarin setelah mengganti semua orang yang tidak melakukan tugasnya dengan benar di BII Swiss.
***
Rhiana memarkirkan motornya di gedung parkir yang disediakan sekolah. Rhiana sedikit menguap sebelum turun dari motor dan bersiap masuk kelas.
Melewati beberapa kelas, Rhiana sedikit mengerutkan kening melihat wajah serius Annalisha yang sedang menerima telepon. Rhiana kemudian mengirim pesan pada seseorang sebelum melanjutkan perjalanannya. Rhiana melihat Annalisha sekali lagi sebelum menggeleng berusaha menolak apa yang ada di kepalanya. Semoga apa yang dia pikirkan salah.
Sampai di pintu masuk kelasnya, Rhiana berhenti karena melihat Alviona berdiri di sana. Untuk apa gadis tomboy ini berada di kelasnya? Rhiana yang merasa tidak ada urusan dengan gadis itu mengedikkan bahunya dan ingin masuk.
__ADS_1
"Tunggu!" Alviona menahan tangan Rhiana yang ingin masuk kelas.
"Ada urusan apa denganku?" Tanya Rhiana datar. Dia tidak perlu berakting saat ini karena teman sekelasnya dan Alviona sudah tahu sifatnya jadi dia bisa bersantai.
"Anu... ini untukmu," Alviona menyodorkan coklat sedang yang diikat pita perak di tengahnya. Ekspresi gadis itu terlihat malu-malu.
"Aku tidak tahu untuk apa kamu memberikan ini, tapi terima kasih. Barang gratisan selalu enak." Rhiana menarik senyum tipis setelah menerima coklat itu.
"Te... terima kasih sudah menolongku. Dan juga... maafkan aku." Setelah mengatakan itu, Alviona dengan cepat pergi dari sana. Rhiana hanya menatap tidak mengerti pada gadis tomboy itu.
"Ada-ada saja," Rhiana menggeleng dan masuk kelas.
"Siapa yang memberikan itu padamu?" Padahal Rhiana baru saja duduk di kursinya, Brilyan sudah menanyakan perihal coklat yang dia bawa.
"Oh, ini... seseorang memberikannya padaku. Katanya untuk ucapan terima kasih." Rhiana menjawab dengan santai dan mulai membuka coklat itu dan memakannya pelan-pelan. Cukup enak juga, pikirnya.
SRET
"Makan yang ini."
"Huh?" Rhiana tercengang melihat tingkah Brilyan.
Bagaimana bisa pria ini menarik coklat yang baru dia gigit ujungnya? Brilyan bahkan melempar coklat itu keluar jendela kemudian memberikannya coklat yang baru. Selain itu, Rhiana penasaran, untuk apa pria ini membawa coklat dalam tasnya? Apa sisi Brilyan memang seperti ini? Unik sekali sifat pria satu ini.
"Jangan makan pemberian orang sembarangan. Bagaimana jika ada racunnya?" Brilyan berbicara dengan nada kesal.
Rhiana berkedip beberapa kali menatap Brilyan. Dia sudah memakan coklat itu. Dan pria ini baru khawatir tentang racun? Kenapa tidak diambil saat coklat itu belum dibuka? Bukankah tindakannya itu membuat orang kesal? Sudahlah. Rhiana malas adu mulut pagi-pagi.
Rhiana hanya hanya mendengus dan membuka coklat pemberian Brilyan dan memakannya. Setidaknya rasa coklat ini berhasil mengubah suasana hatinya.
Brilyan yang tidak pernah melewatkan setiap ekspresi Rhiana menarik senyum tipis. Setidaknya gadis ini memakan coklat pemberiannya.
Coklat itu sudah bersemayang dalam tasnya hampir seminggu. Itu coklat yang dia beli dan direncanakan sebagai hadiah untuk Rhiana tapi dia tidak punya kesempatan untuk memberikan coklat itu karena Rhiana selalu saja sibuk atau bahkan selalu ditempeli kuman (Dalfa dan Dalfi) ke sana kemari.
Akhirnya, hari ini coklat itu berhasil keluar dari tasnya. Padahal dia ingin membuang coklat itu hari ini setelah pulang sekolah jika belum bisa memberikannya pada Rhiana.
***
Terima kasih sudah membaca ceritaku.
__ADS_1
Like dan komen jika kalian suka.😁