
Rhiana mengatur nafasnya yang terengah-engah. Beberapa saat lalu dia memanggil Gledy untuk membantunya lepas dari tiga pria ini setelah beberapa menit kepergian Yeandre dan Annalisha. Tenaganya ikut terkuras karena luka cambuk dipunggungnya yang sakit.
Gledy dibiarkan mengurus tiga pria itu, sedangkan Rhiana sendiri akan mengikuti Yeandre dan Annalisha. Entah kemana perginya dua orang itu. Rhiana hanya mengikuti mereka lewat GPS yang dipasang oleh Gledy pada mobil yang sedang dikemudikan Yeandre.
Rhiana pergi dengan motor yang Gledy siapkan untuknya. Dia bahkan tidak merawat punggungnya dan sudah bergegas pergi.
Dalam perjalanan, Rhiana menekan chip di belakang telinga kanannya agar terhubung dengan kakaknya.
^^^"Aku butuh mobil ambulance 30 menit lagi, Kak. Kirim di kordinatku!"^^^
"Kamu baik-baik saja, Baby?" Suara Dalfa terdengar khawatir.
^^^"Kakak masih mendengar suaraku dengan jelas, 'kan?"^^^
Rhiana menjawab dan dengan cepat menambah kecepatan motor. Rhiana sengaja agar kakaknya tidak khawatir dan mengganggu rencananya.
"Kakak serius, Baby."
^^^"Aku baik-baik saja, Kak. Secepatnya kirim ambulance. Aku tunggu!"^^^
Rhiana kemudian memutuskan komunikasi dengan kakaknya. Dia harus bergerak cepat. Dia yakin Annalisha pasti akan melakukan sesuatu tanpa menunggu lama.
...
Rhiana menghentikan motornya karena melihat mobil yang ditumpangi Yeandre dan Annalisha terparkir di salah satu guest house yang berjarak beberapa kilometer dengan tempat mereka disekap sebelumnya.
Rhiana sedikit memperbaiki jaket Gledy yang menutupi tubuhnya sebelum masuk ke dalam untuk mencari kamar yang dipesan Annalisha. Tanpa mencari dengan susah paya, Rhiana sudah menerima nomor kamar yang dipesan Annalisha dan Yeandre.
Jika biasanya Annalisha tidak suka berdekatan dengan Yeandre, kini gadis itu memesan satu kamar berdua dengan pria yang Rhiana jaga itu. Jelas sekali apa tujuannya.
Sayangnya si otak udang yang hanya memikirkan gadis yang dia sukai tanpa melihat situasi itu dengan patuh mengikuti semua yang Annalisha inginkan.
...
Rhiana menyentuh kepalanya karena merasa sedikit pusing. Dia akhirnya sadar, ternyata dia lelah juga lapar. Ini sudah semakin sore. Pantas saja dia lapar. Lagipula sejak di sekolah dia tidak sempat makan siang dengan baik.
Menguatkan dirinya, Rhiana menatap nomor pintu kamar yang di dalamnya ada Annalisha dan Yeandre. Rhiana kemudian membuka pintu setelah membuka kunci dengan kartu akses yang dicuri dari salah satu pegawai.
Masuk ke dalam, Rhiana menatap sekeliling dan berjalan perlahan-lahan agar tidak ketahuan. Sebelumnya, Rhiana sudah meminta Gledy untuk memutuskan koneksi jaringan tempat ini agar Annalisha tidak bisa menghubungi pihak luar.
"Kamu... kenapa?"
Suara itu berhasil menghentikan langkah kaki Rhiana. Itu Suara Yeandre. Sepertinya drama sudah dimulai.
"Jawab aku! Kenapa melakukan ini? Kamu tahu aku sangat mencintaimu. Aku bisa melakukan apa saja untukmu. Nyawaku bahkan bisa kuberikan untukmu!"
"Wah... apa cinta memang membuat orang lain bisa melakukan apa saja?" Gumam Rhiana dalam hati.
Tapi bagi Rhiana, mommynya salah satu dari banyaknya orang di dunia ini yang bisa berkorban nyawa untuk orang lain yang tidak dikenal. Jadi, mommynya tidak hanya berkorban untuk orang yang dicintai, tetapi juga untuk orang yang benar-benar membutuhkan pertolongannya.
"Cinta tidak bisa membuatku bahagia."
"Apa maksudmu, Anna?"
"Kamu bukan anak kandung keluarga Lawrence. Jadi, sudah pasti kamu tidak akan mewarisi harta kekayaan Dr. Lawrence."
"Kenapa... kenapa kamu berpikir seperti itu? Annalisha yang aku kenal bukan gadis seperti itu."
__ADS_1
Mendengar pembicaraan dua orang itu, Rhiana sedikit mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan Yeandre.
Sejak pertemuan pertama mereka, Rhiana jelas yakin dengan instingnya bahwa Annalisha adalah gadis yang baik hati. Dia bukan gadis yang menilai orang lain dari penampilannya.
Jika sejak awal Annalisha melihat penampilan hingga ekonomi keluarga orang lain, dia tidak mungkin jatuh cinta pada Sonny yang kekayaan keluarganya masih di bawah keluarganya dan Yeandre.
Benar juga. Selama ini tidak ada yang aneh dengan sikap Annalisha. Apa gadis itu berubah saat dia sedang sibuk menjaga Artya? Apa yang sebenarnya sudah terjadi?
Jika Annalisha dimanipulasi oleh pihak tertentu, Rhiana akan mencari tahu dan mengembalikan Annalisha seperti semula. Tapi, jika Annalisha hanya berakting selama ini maka Rhiana tidak akan membiarkan kakak kelasnya itu begitu saja.
"Kamu sama sekali tidak mengenalku, Yeandre."
Rhiana mengerutkan kening dan masuk ke ruang tamu dimana ada Yeandre dan Annalisha. Rhiana cukup terkejut melihat Annalisha yang sedang menodong pistol pada Yeandre. Dua orang itu belum menyadari kehadirannya.
Klik!
Suara pistol di tangan Annalisha siap ditembakkan.
"Dia bahkan tidak ingin menunggu?" Gumam Rhiana dalam hati.
...
"Kamu... Bagaimana bisa?" Suara Yeandre tertahan. Dia tidak menyangka Rhiana menjadi tameng untuknya setelah semua yang sudah dia lakukan.
Sebelum Annalisha menarik pelatuk, Rhiana dengan cepat berlari untuk melindungi Yeandre. Alhasil, bahu kanannya terluka. Peluru berhasil menembus bahunya. Rhiana sedikit bersyukur karena itu hanya pistol biasa. Jika itu R10 atau R11, sudah pasti meninggalkan lubang karena peluru dari senjata mematikan itu menembus objek.
"Kenapa kamu ada di sini?" Annalisha bertanya dengan syok.
Bukankah Rhiana masih di gedung kosong itu? Bagaimana bisa dia sudah sampai di sini? Apa dia berhasil mengalahkan tiga pria yang tertinggal di sana? Dan kenapa mereka tidak menyadari kehadiran Rhiana? Annalisha masih tidak percaya. Jika ada orang yang masuk ke sini, seharusnya dia diberitahu. Tapi kenapa tidak ada pemberitahuan sama sekali?
Rhiana sedikit meringis sebelum berbalik menatap Annalisha yang juga menatapnya tidak percaya.
"Setidaknya aku belum mati. Jadi diamlah!" Rhiana menjawab dengan kesal.
Rhiana berdiri. Dia menyentuh punggungnya sebentar sebelum melihat darah segar di tangannya. Punggungnya semakin sakit. Apalagi jarak tembakan Annalisha tadi sangat dekat sehingga rasa sakitnya bukan main. Meski hanya pistol biasa, itu tetap sakit. Selain punggung, kepalanya juga berdenyut sakit.
Tapi bagi Rhiana misinya lebih penting. Keselamatan kakak sahabatnya ini sudah menjadi prioritasnya. Jadi, dia masih bisa menahan rasa sakit ini.
Klik!
Annalisha kali ini menodong pistol pada Rhiana. Wajah Annalisha tidak ada ekspresi apa-apa. Ini benar-benar bukan ekspresi Annalisha yang Rhiana kenal biasanya.
Dor
Dor
Dor
Tiga tembakan terdengar di kamar itu. Rhiana menghembuskan nafas pelan dan beralih menatap Annalisha yang sedang merintih kesakitan karena tembakan di lengannya.
Tiga tembakan tadi, salah satu tembakan dari Annalisha yang menargetkan Rhiana. Tapi peluru dari pistol gadis itu justru dihentikan oleh peluru lain. Sedangkan peluru terakhir berhasil mengenai lengan kanan Annalisha yang memegang pistol.
"Anna... kamu baik-baik saja?" Yeandre menghampiri Annalisha dengan wajah khawatir.
"Si bodoh ini... apa yang dia pikirkan? Dia hampir mati dibunuh, tapi masih saja khawatir. Tolong tidak, ya." Gumam Rhiana dalam hati.
Tentu saja dia kesal pada Yeandre. Rhiana yang rasa pusingya semakin menyerang berusaha tetap sadar sebelum bantuan datang.
__ADS_1
SET
BUGH
BRUK
"Bodoh jangan dipelihara! Sudah tahu mau dibunuh," Rhiana mendengus setelah menendang Annalisha menjauh dan menarik Yeandre ke sisinya.
Untung saja Rhiana cepat. Jika tidak, pisau tajam itu pasti akan mengenai dada Yeandre.
"Aku lelah Gledy. Tolong urus sisanya!" Gumam Rhiana setelah melepas Yeandre. Gledy baru datang jadi Rhiana bisa meminta bantuan robot itu.
"Kamu..." Yeandre tersadar dari linglungnya. Dia masih tidak percaya dengan apa yang terjadi.
Sejak Annalisha menodong pistol padanya, dia berpikir gadis yang dia sukai itu tidak mungkin akan menembaknya. Ternyata apa yang dia pikirkan salah. Justru Annalisha tanpa ragu menekan pelatuk itu. Untungnya Rhiana menjadi tameng untuknya.
Melihat Annalisha yang terluka, dia khawatir hingga mendekat tanpa memikirkan bahwa gadis itu menodongkan pistol padanya sebelumnya. Tapi yang dia terima dari kekhawatirannya adalah sebuah pisau yang akan menusuk dadanya. Dan lagi-lagi Rhiana, gadis yang dia anggap merepotkan itu kembali menolongnya padahal bahunya sudah mengalir banyak darah.
Yeandre tidak tahu seberapa sakit gadis kecil ini menahan semua itu. punggungnya sebelumnya dicambuk karena dia tidak punya pilihan lain dan memilih Rhiana yang dicambuk. Yeandre merasa bersalah pada gadis kecil ini.
BRAK
"Baby!!!" Suara Dalfa yang muncul setelah mendobrak pintu dan masuk.
Dalfa menatap tajam Yeandre sebelum mengangkat Rhiana dan turun ke bawah. Dalfa tidak peduli dengan orang lain di dalam kamar ini karena ada Gledy yang bisa mengurusnya. Sedangkan pihak lawan yang ada di sekitar gedung sudah diurus oleh bala bantuan yang dia bawa bersamanya.
Padahal Rhiana memesan ambulance untuk Yeandre jika terluka, justru mobil khusus rumah sakit itu mengangkutnya yang terluka.
***
"Aku tidak selemah itu, Kak." Rhiana membuka suara dengan pelan. Meski dia semakin merasa pusing, tapi tidak ditunjukan pada kakaknya. Dia tidak ingin kakaknya semakin khawatir.
"Diamlah! Lukamu bukan luka kecil. Kita perlu operasi untuk mengeluarkan pelurunya. Aku menyesal tidak belajar kedokteran dari daddy." Dalfa mengeluh frustasi sambil mengikuti Rhiana yang dibawa dengan brankar yang sedang didorong oleh tim medis. Mereka tiba beberapa menit lalu di salah satu RS terdekat dengan guest house.
"Kalau begitu, setelah ini pulang dan belajar bersama daddy." Rhiana tersenyum tipis menatap Dalfa.
"Setelah kamu sembuh."
"Hm. Di mana kak Dalfi?"
"Aku meninggalkannya untuk misi karena khawatir padamu."
"Padahal aku baik-baik saja. Ada Gledy yang membantuku,"
"Kakak tahu, tapi bisakah kamu tidak sampai menjadi tameng untuk pria itu? Kakak membencinya. Jika kamu tidak melarang, sudah kakak buat babak belur pria itu."
"Jangan pernah menyentuhnya, Kak." Rhiana berbicara dengan nada mengancam.
"Ya. Kakak tahu. Sekarang fokus untuk kesembuhanmu dulu."
"Hm."
...
Rhiana sudah dibawa ke ruang operasi. Tim medis sedang bersiap. Padahal Rhiana hanya ingin mereka mengeluarkan peluru tanpa operasi besar, tapi kakaknya Dalfa membuat kehebohan sehingga tim dokter turun untuk operasi. Dalfa tidak ingin punggung indah adik kesayangannya lecet karena luka cambuk dan luka tembak.
Rhiana belum dibius. Dia hanya dibiarkan berbaring telungkup dengan punggungnya yang telanjang. Para suster sedang menyiapkan alat operasi. Selama para tim medis menyiapkan perlengkapan untuk operasi, pandangan mereka tidak pernah lepas memperhatikan punggung Rhiana.
__ADS_1
Tentu saja tato indah di punggung Rhiana membuat siapa saja tertarik untuk melihatnya. Dua dokter pria yang akan mengoperasi Rhiana bahkan menelan ludah susah paya karena melihat punggung indah itu. Meski punggung Rhiana terdapat luka cambuk, tapi luka itu tidak bisa menutup punggung indah seorang nona muda Veenick.