Nona Muda Yang Menyamar

Nona Muda Yang Menyamar
Ruang Operasi


__ADS_3

"Siapa yang berani mengusik si tiran ini?" Gumam Felix dalam hati.


Sejak tadi, aura dalam ruangan ini membuat Felix ingin secepatnya keluar. Sayangnya dia belum diizinkan keluar. Betapa dia kesusahan menahan diri satu ruangan bersama majikan tirannya ini.


Felix hanya bisa diam dan berdiri di depan Artya yang sejak tadi selalu menatap ponselnya dengan dingin. Entah siapa yang begitu berani mengusik si tiran ini.


"Tuan... apa ada pekerjaan yang harus saya lakukan?" Felix sengaja bertanya meski dia tahu tidak ada lagi pekerjaan untuk hari ini karena semua pekerjaan sudah selesai sejak tadi sore.


Hening.


Felix menelan ludahnya dengan gugup karena Artya tidak menjawab pertanyaannya.


"Jangan bilang..." Felix tiba-tiba teringat sesuatu.


Bagaimana bisa dia lupa dengan kejadian tadi sore? Majikannya ini sudah ada janji untuk bertemu dengan Rhiana. Dan setahunya, selama bekerja dengan Artya, hanya Rhiana yang berani dengan majikannya ini. Hanya nona muda Veenick itu yang berani membuat suasana hati majikannya ini berubah-ubah.


"Kenapa anda tidak menghubungi Nona Rhiana lebih dulu, Tuan?"


GLEK!


Felix menelan ludah takut karena Artya menatapnya tajam. Setelahnya, Felix menyadari maksud tatapan majikannya ini. Tatapan itu seakan mengatakan, jika aku bisa menghubunginya aku tidak akan seperti ini.


"Haruskan saya mencari tahu keberadaan Nona Rhiana, Tuan?" Felix memberi usulan.


Padahal biasanya tuannya ini selalu memintanya mencari tahu apa saja yang dilakukan nona muda Veenick itu, tapi tumben sekali hari ini belum ada perintah untuk itu.


Dari pada suasana hati Tuannya tidak bagus dan berimbas padanya selaku orang kepercayaan, bukannya lebih baik mencari tahu seperti biasa? Apa yang sebenarnya Tuannya ini inginkan?


Padahal hanya satu perintah, semua akan diurus hingga tuntas. Sayang sekali. Felix hanya mengirim pesan pada bawahannya untuk mencari tahu keberadaan nona muda Veenick itu untuk berjaga-jaga.


...


Artya menatap ponselnya sebelum beralih menatap Felix. Ini sudah lewat dua jam dari waktu yang dijanjikan Rhiana. Apa gadis itu ingin membuatnya kesal dengan tidak datang? Tapi dia yakin dari suara Rhiana waktu di telepon, gadis itu tidak mungkin mengingkari janjinya.


Apa Brilyan menahan Rhiana bersamanya? Artya jadi kesal memikirkan kemungkinan itu. Tapi, setelah menghubungi nomor ponsel Rhiana, itu tidak diangkat. Ini sudah berlangsung sejak 2 jam lalu. Apa yang sedang Tupai kecilnya itu lakukan?


Artya melonggarkan dasinya kemudian berdiri dari tempat duduknya. Pria itu kemudian menuju jendela kamarnya yang mengarah ke jalan tol.


Lampu-lampu lalu lintas, lampu kendaraan, lampu gedung perkantoran maupun perumahan warga menghasilkan cahaya indah di malam hari. Sayangnya keindahan itu tidak bisa mengubah ekspresi dingin di wajah Artya.


"Sepertinya kamu harus dihukum, Tupai kecil." Gumam Artya dalam hati.


Artya kembali menatap jam tangannya. Ini sudah pukul 8 malam. Apa yang sedang dilakukan Tupai kecilnya hingga mengingkari janjinya?


"Apa yang sedang dilakukan Brilyan?" Artya bertanya dengan datar.


"Tuan muda kedua ada di apartemennya, Tuan."


"Dengan siapa?" Artya mulai memikirkan hal aneh di kepalanya. Jika Brilyan berada di apartemennya, berarti Tupai kecilnya bersama adiknya itu? Apa yang mereka lakukan di sana? Sial... suasana hati Artya semakin memburuk.


"Sendiri, Tuan."


Jawaban Felix membuat Artya mengeluarkan tangannya di saku celananya dan menatap tajam Felix. Rasa kesalnya hilang seketika.

__ADS_1


Jika Tupai kecilnya tidak bersama Brilyan, kenapa dia tidak menjawab panggilannya? Tidak biasanya gadis itu seperti itu. Sekesal apapun gadis itu padanya, dia pasti menjawab panggilan meski sekali hanya untuk memarahinya. Atau jika dia tidak ingin diganggu, ponselnya akan dimatikan. Tapi kali ini berbeda. Sudah pasti terjadi sesuatu.


"Cari dimana dia berada!"


"Ba-"


Tok


Tok


Tok


Ketukan pintu membuat Felix tidak menyelesaikan perkataannya. Asisten Artya itu menatap Tuannya sebentar sebelum membuka pintu.


Hanya beberapa menit, Felix kembali setelah menutup pintu.


"Tuan... Nona Rhiana akan dioperasi karena mendapat luka tembak di-"


"Rumah Sakit mana?" Artya segera memotong perkataan Felix dengan nada khawatir. Pria itu bersiap keluar.


"Flower's Hospital, Tuan."


Sebelum Felix mengajukan diri untuk mengantar Artya, pria itu sudah menghilang dengan kecepatan cahaya.


"Hanya anda yang berani membuat Tuan khawatir, Nona." Gumam felix dan tersenyum tipis.


Felix senang karena majikan tirannya ini akhirnya bisa mengubah ekspresi wajahnya. Sejak kematian Nyonya Amstrong, Tuannya ini tidak pernah sedikitpun mengubah ekspresi wajahnya.


Setelah kematian Nyonya Amstrong, hanya Felix sebagai asisten pribadi yang selalu berinteraksi dengan Artya. Tidak ada orang yang berani berbicara dengan si tiran itu.


Sampai kehadiran gadis yang diakui sebagai kekasih Brilyan, ekspresi wajah Artya akhirnya berubah setelah sekian lama. Karena kehadiran si Nona muda Veenick itu, Felix akhirnya percaya jika majikan tirannya bukan mayat hidup.


***


Flower's Hospital.


Rhiana menatap malas tim medis yang sedang sibuk menyiapkan peralatan untuk operasi. Untungnya dia sudah diberi sedikit makanan sehingga rasa laparnya sudah diatasi. Sedangkan pusing di kepalanya perlahan-lahan mulai reda. Rhiana bersyukur untuk itu.


"Saya akan memulai proses anestesi, Nona." Seorang Suster berbicara mengalihkan perhatian Rhiana.


"Hm."


BRAK!


Suara keras karena pintu ruang operasi dibuka dengan keras. Rhiana yang penasaran menoleh ke arah pintu.


"Tidak mungkin Kak Dalfa memberitahunya," Gumam Rhiana dalam hati.


"Apa-apaan! Kamu siapa seenaknya masuk ke ruang operasi? Panggil keamanan! Seret orang ini keluar!" Dokter kepala yang akan mengoperasi Rhiana berbicara dengan nada marah.


Sudah menjadi aturan umum di rumah sakit, bahwa orang yang tidak berkepentingan dilarang masuk ke ruang operasi. Melihat kemunculan orang yang tidak dikenal, kepala tim medis untuk operasi hari ini kesal karena diganggu.


"Kamu selalu saja terluka, Tupai kecil."

__ADS_1


"Tidak ada hubungan denganmu, Kak." Rhiana menjawab dengan malas.


"Kamu juga selalu begini,"


"Jangan mengganggu mereka, Kak. Biarkan mereka bekerja."


"Aku tidak akan membiarkan seorang pun menyentuh tubuhmu. Hanya aku yang boleh menyentuhmu!" Meski Artya berbisik di telinga Rhiana, tapi kalimat itu seakan mengintimidasi Rhiana yang mendengarnya.


Artya tentu saja tidak ingin orang lain menyentuh miliknya. Apalagi itu seorang pria. Dia sendiri belum menyentuh punggung Tupai kecilnya, dan berani sekali mereka ingin menyentuh miliknya? Cari mati!


Meski tujuan dokter pria itu menyentuh miliknya untuk operasi, tapi Artya tidak rela. Masih banyak dokter wanita yang bisa melakukan operasi. Dia sendiri juga bisa melakukan hal semudah itu.


"Terserah kakak saja," Rhiana kemudian mendengus dan memejamkan matanya. Dia sedang tidak ingin berdebat.


"Aku yang akan mengobatimu. Tunggu aku, Tupai kecil." Artya tersenyum tipis dan bersiap mengganti pakaiannya.


"Apa maksud anda, Tuan? Saat ini saya yang bertugas. Anda tidak bisa masuk dan seenaknya begini. Keluar sekarang juga! Dimana tim keamanan? Seret orang ini keluar!" Kepala tim medis kesal karena Artya yang seenaknya di ruang operasinya. Belum lagi, keamanan rumah sakit tidak muncul sama sekali.


Artya mengabaikan dokter itu dan bergegas pergi mengganti pakaiannya. Dia tidak punya waktu berbicara dengan orang lain.


...


Artya kembali dengan seragam dokter yang siap mengoperasi pasien. Tim medis dalam ruangan itu kaget melihat keberanian Artya. Meski wajah pria itu tampan, tapi jika melanggar aturan, mereka tentu kesal padanya.


"Beri pasien anestesi!" Artya memberi perintah dengan datar pada suster yang berdiri di samping brankar Rhiana. Suster itu sebelumnya ingin memberi anestesi tapi berhenti karena kemunculan Artya.


"Berhenti! Anda sudah melanggar aturan kedokteran. Anda bisa dituntut karena mengambil tindakan operasi tanpa surat izin." Kepala tim operasi hari ini berbicara sambil berusaha menahan emosi.


GLUP!


Dokter kepala itu menelan ludah susah paya karena tatapan tajam Artya padanya.


"Felix!" Artya memanggil Felix yang setia di luar pintu ruang operasi.


"Saya di sini, Tuan!"


"Bantu aku! Sebelum itu, bawa orang-orang ini keluar."


"Siap, Tuan!"


"Hei... Apa maksudnya ini?" Dokter kepala untuk operasi hari ini mengeluh karena beberapa orang asing masuk dan menyeretnya dan anggota tim medis lainnya keluar.


"Sangat mengganggu," Gumam Artya setelah ruangan itu hanya menyisakan dia dan Rhiana yang sedari tadi diam melihat apa yang dia lakukan.


"Kakak yang mengganggu di sini." Rhiana membalas dengan malas.


"Terserah apa yang kamu pikirkan. Aku akan mengobatimu. Rilekskan tubuhmu. Aku akan memberi suntikan penenang."


"Kakak akan melakukan semuanya sendiri?" Rhiana bertanya dengan penasaran.


"Hm. Setidaknya sampai Felix kembali," Jawab Artya sambil menyuntikkan cairan anestesi pada infus milik Rhiana.


"Semua akan baik-baik saja. Serahkan padaku." Artya berbicara dengan lembut sambil mengusap pelan kepala Rhiana.

__ADS_1


"Hanya peluru bukan kanker. Aku tidak mungkin mati. Jika aku mati pun, itu karena kemampuanmu benar-benar buruk, Kak." Balas Rhiana dengan sayu. Sepertinya cairan penenang mulai bekerja.


__ADS_2