
Selama set kedua ini, Rhiana sama sekali tidak membiarkan Marie mendapatkan bola. Seperti yang Rhiana katakan sebelumnya, dia akan membuat set kedua lebih heboh.
Rhiana dan Marie kembali saling berhadapan. Ekspresi Marie lebih waspada dari pada sebelumnya. Tentu saja dia harus waspada mengingat Rhiana masih menyimpan banyak trik.
Rhiana yang melihat ekspresi Marie, tersenyum tipis. Bola saat ini ada di tangannya. Rhiana masih dengan senyum tipis, memulai aksinya lagi. Bola digiring melewati Marie dengan cepat. Gerakan Rhiana bahkan lebih cepat dua kali lipat dari sebelumnya.
Semua pemain Rusia yang menjaga Rhiana berhasil dia lewati tanpa melakukan banyak gerakan.
[Kyak...!!! ace tim Swiss benar-benar keren.]
[Bukankah itu...]
[Ya, itu streetball.]
[Streetball? Apa itu?]
[Itu gerakan bebas yang dilakukan pemain basket. Mereka bebas bergerak sesuka hati asalkan sudah menguasai gerakan dasar dari basket.]
[Wah... gerakannya sama sekali tidak bisa ditiru.]
[Tentu saja. Namanya juga gerakan bebas. Siapapun yang menggunakan gerakan bebas dalam permainan basket pasti seorang ahli.]
[Streetball yang sangat keren. Selain itu, sangat cepat!]
Melihat gerakan Rhiana yang cepat, Marie juga berusaha untuk mengimbangi. Sesekali Marie akan terlihat berlari di sebelah Rhiana ingin mengambil bola. Sayangnya, Marie sama sekali tidak bisa menyamai gerakan Rhiana. Marie hanya bisa membuat Rhiana tidak bisa bergerak ke bawah ring, dan justru keduanya berlari ke ujung lapangan dekat ring tim Rusia.
Rhiana hanya tersenyum karena ternyata Marie bisa membuatnya berlari ke ujung lapangan dengan masih mendrible bola.
"Akan kutunjukan sesuatu lagi padamu, Marie." Rhiana membuka suara setelah melirik ke arah papan skor.
Rhiana sedang melihat waktu berapa lama dia harus memegang bola. Jika melewati 5 detik, tanpa mendrible bola maka dia sudah melakukan pelanggaran. Sepertinya Marie juga mengincar itu.
Marie yang mendengar itu mulai waspada. Entah gerakan apa yang akan Rhiana lakukan, Marie merasa aneh di hatinya.
Syuut!
Tuk
Treeeet
Semua orang kembali tercengang. Lagi-lagi aksi Rhiana yang memasukan bola dari ujung lapangan membuat mereka tercengang. Bagaimana bisa Rhiana hanya melempar bola sembarangan menggunakan satu tangan dengan posisi tubuh didesak hampir keluar lapangan, tetapi berhasil melakukan shooting yang menurut orang tidak mungkin masuk, ternyata itu masuk dengan sempurna.
Bruk!
Rhiana mendarat dengan salah satu lutut sebagai tumpuan. Marie sendiri berdiri di depannya dengan pandangan tercengang ke arah ring tim Rusia. Lagi-lagi gerakan yang sulit untuk ditiru.
"Kamu..." Marie tidak tahu harus mengatakan apa. Dia hanya menatap Rhiana dengan ekspresi tidak percaya.
[Berapa banyak kartu yang dimiliki ace tim Swiss?]
[Entahlah. Dia sama sekali tidak bisa diprediksi.]
[Kamu benar. Padahal aku pikir bola tadi tidak mungkin masuk ke dalam ring dengan hanya dilempar sembarangan, ternyata itu masuk.]
[Ya. Aku juga berpikir begitu. Siapa tahu, ternyata itu masuk dengan sempurna.]
[Ace tim Rusia sama sekali tidak bisa berkutik.]
[Tentu saja. Tidak sembarangan orang bisa melakukan gerakan seperti itu.]
...
__ADS_1
Rhiana melirik papan skor digital di ujung lapangan. Poin tim Swiss sekarang unggul. 55-70 poin. Kedua tim sedang beristirahat untuk set ketiga nanti.
Rhiana sedang memainkan ponselnya tanpa mempedulikan kalimat pujian dari rekan setimnya. Rhiana hanya ingin tahu, apa ada informasi atau tidak. Ternyata ada pesan untuknya. Itu dikirim sebelum set kedua dimulai.
"Dari Marie?" Gumam Rhiana kemudian membuka pesan itu.
...'Mereka akan kembali beraksi! Tim khusus bahkan diturunkan langsung untuk menangkap target. Organisasi tidak bisa menunggu lagi. Pemimpin organisasi sudah memberi perintah. Hari ini target harus ditangkap apapun caranya. Apa yang akan kamu lalukan?'...
Rhiana seketika berdiri. Pandangannya beralih mencari keberadaan Yeandre. Ternyata kakak sahabatnya itu ada di kursi penonton bagian depan bersama Sony dan Annalisha.
Rhiana menekan chip di belakang telinganya ingin tahu apa ada informasi dari orang kepercayaannya atau tidak. Ternyata organisasi bawah tanah sudah mengepung gedung olimpiade ini. Bahkan beberapa titik buta sudah dipasang bom. Sepertinya organisasi bawah tanah benar-benar ingin meratakan gedung ini.
Rhiana menghembuskan nafas pelan sebelum mengirim pesan pada kedua kakaknya agar menjaga Yeandre sebelum dia meminta digantikan.
"Pelatih..." Rhiana harus meminta digantikan sekarang juga.
"Ada apa, Rhiana?"
"Bisakah saya digantikan sekarang? Ada yang harus saya lakukan, Pelatih." Rhiana memohon setelah membungkuk meminta maaf.
"Tidak bisa! Tanpamu, kita tidak mungkin bisa mengatasi ace tim Rusia. Meski kita unggul sekarang, tapi tidak tahu nanti jika kamu digantikan." Pelatih menolak dengan tegas. Rhiana harapan mereka untuk menang. Tidak mungkin dia akan digantikan.
"Pelatih benar, Kapten. Kami tidak bisa melawan Marie bahkan bersama sekalipun. Hanya kapten yang bisa." Pemain bernomor punggung 10 ikut menyahut membenarkan.
"Benar, Rhi. Kami bersyukur kamu ada di tim Swiss. Bertahanlah sebentar untuk tim. Kamu harapan kami untuk menang," Nare kini memegang tangan Rhiana memohon. Pemain tim Swiss lain mengangguk setuju.
[Sepertinya situasi di tim Swiss tidak bagus,]
[Apa terjadi sesuatu?]
[Entahlah. Bukankah tim Swiss masih unggul? apa yang terjadi?]
[Kamu benar. Mereka terlihat serius. Sesuatu pasti terjadi,]
Rhiana menghela nafas dan mengirim pesan pada orang kepercayaannya. Dia terpaksa harus bermain sedikit lagi.
...
Set ketiga dimulai.
Rhiana sedikit menurunkan kecepatan bermainnya. Bukan karena lelah, tetapi dia juga harus memperhatikan situasi di sekelilingnya. Lebih tepatnya pandangannya selalu teralihkan ke arah tempat duduk Yeandre. Rhiana khawatir, meski sebenarnya ada orang yang sudah diminta untuk mengawasi kakak Lycoris itu.
Marie saat ini sedang memegang bola. Rhiana tepat di depan menjaganya. Rhiana hanya menatap Marie dengan datar. Dia tidak lagi ingin bermain. Dia harus mencetak poin sebanyak mungkin sebelum meminta digantikan.
Sret!
Rhiana dengan cepat mengambil bola di tangan Marie dan menggiringnya ke ring tim Rusia. Meski kecepatannya sudah dikurangi, Marie masih belum bisa merebut bola dari tangannya. Aksi Rhiana kali ini sangat santai, tapi tidak bisa diikuti oleh tim Rusia. Semua pemain tim Rusia yang menghadang, berhasil Rhiana lewati dengan mudah hingga sampai di bawah ring. Rhiana kemudian melompat dan...
Tuk
Dua poin untuk tim Swiss.
[Bukankah itu slam dunk yang benar-benar sempurna? Gerakannya dua kali lipat lebih keren dari pada ace tim Rusia.]
[Lompatannya juga sangat tinggi.]
[Aku tidak yakin, bisa mengalahkan ace tim Swiss jika satu lawan satu.]
[Kamu benar! Meski aku pria, aku sama sekali tidak bisa melakukan gerakan seperti itu. Aku pasti akan kalah darinya,]
Rhiana terus mencetak poin hingga kini skor 60- 80 poin. Marie yang melihat tim Rusia yang semakin tertinggal, kesal setengah mati. Jika dia tidak melakukan sesuatu, tim Rusia tentu akan kalah.
__ADS_1
***
Sret
Bugh
Bruk
"Kapten..."
Teriakan pemain Swiss diikuti keributan para penonton karena Rhiana yang terjatuh. Para pemain kini menghampiri Rhiana membantunya berdiri. Rhiana melirik Marie yang memasang wajah tidak berdosa.
"Karena terlalu memikirkan Yeandre, aku jadi kehilangan fokus. Benar-benar ceroboh," Decak Rhiana dalam hati. Karena terlalu memikirkan keselamatan Yeandre, dia tidak fokus dengan gerakan Marie yang mengincarnya.
Beberapa saat lalu, ketika Rhiana akan memasukan bola dalam ring tim Rusia, Marie ikut melompat dan memblok bola. Untungnya Rhiana lebih cepat beberapa detik, sehingga bola berhasil masuk.
Ketika akan mendarat, Marie dengan sengaja menyikut perut dan berpura-pura jatuh bersama Rhiana dan memposisikan sikutnya mengenai wajahnya. Tidak sampai di situ, Marie dengan cepat berdiri dan menginjak kaki Rhiana. Semua gerakan itu sangat hati-hati dan tidak terlihat oleh wasit, sehingga semua orang berpikir itu hanya kecelakaan.
Rhiana tidak habis pikir dengan tindakan ekstrem yang Marie pakai hanya demi kemenangan. Hidung Rhiana kini mengeluarkan darah akibat sikut Marie yang tidak main-main. Tentu saja gerakan Marie sudah direncanakan.
"Kapten, hidungmu... kamu baik-baik saja?"
Rhiana merabah hidungnya dan ternyata ada darah di sana. Kepalanya sedikit pusing. Pelatih kini sudah di tengah lapangan bersama beberapa tim medis untuk melihat hidungnya.
Semua orang tentu khawatir. Mereka jelas tahu, itu sangat sakit. Brilyan dan kedua saudara kembar Rhiana sudah berlari ke tengah lapangan. Mereka tidak peduli itu melanggar aturan atau tidak. Mereka begitu khawatir. Ketiga pria itu sangat yakin semua ini disengaja.
Rhiana menghembuskan nafas pelan sebelum membiarkan tim medis menghentikan pendarahannya. Pandangannya beralih ke papan skor digital yang tertera di ujung lapangan. Skor 70-100 poin. Swiss tentu saja lebih unggul karena Rhiana yang terus mencetak poin.
Jika saja Marie tidak berbuat curang, dia mungkin sudah mencetak 5 atau enam poin lagi dalam beberapa menit terakhir di set ketiga ini.
"Aku serahkan sisanya pada kalian," Rhiana terpaksa harus duduk di bangku cadangan. Pelatih memaksanya diganti. Yang lain tentu saja setuju.
Marie yang masih di lapangan menyeringai senang. Akhirnya rencananya untuk mencelakai Rhiana ternyata berhasil.
Nare yang menjabat sebagai wakil kapten mengambil alih tugas kapten. Sebelum itu, Rhiana memberikan beberapa arahan untuk rekan setimnya. Rhiana juga tidak mengatakan kebenaran dari kecelakaannya. Biarkan saja. Itu akan menjadi urusannya dengan Marie.
"Ayo ke rumah sakit!" Brilyan berseru di depan Rhiana.
Dalfa dan Dalfi juga sebenarnya ingin melakukan hal yang sama. Tapi mereka jelas tahu seperti apa watak adik mereka ini. Apapun yang terjadi padanya, dia akan tetap berada didekat Yeandre. Selagi masih bisa melihat kakak sahabatnya itu, Rhiana tidak akan meninggalkannya.
"Aku tidak apa-apa. Hanya sedikit pusing," Rhiana menolak dengan pelan. Wajahnya sedikit terangkat karena kapas yang disumbatkan di hidungnya.
"Ikut saja kemauannya, kamu tidak akan bisa melawannya." Dalfa menyahut membuat Brilyan menghembuskan nafas pasrah.
"Kak Anya... kakak baik-baik saja? Aku sudah menelpon dokter pribadi ke sini. Dia sedang dalam perjalanan," Axtton tiba-tiba muncul dengan kehebohan.
Dalfa menahan senyum. Tingkah Axtton memang seperti ini. Dia selalu berlebihan jika itu menyangkut kakak kesayangannya yang terluka. Meski itu hanya luka goresan kecil sekalipun. Begitu sayangnya dia pada Rhiana. Brilyan bahkan tercengang. Sepertinya saingan cintanya yang kesekian ini sangat kaya.
...
Permainan terus berlanjut dengan Marie yang leluasa mencetak poin untuk tim Rusia. Dia sedang berusaha menyusul poin tim Swiss. Rhiana hanya menonton di bangku cadangan dengan tenang. Meski Marie sesekali menatapnya dengan pandangan kemenangan, Rhiana sama sekali tidak terusik.
[Dengan tidak adanya ace tim Swiss, tim Rusia bebas mencetak poin. Sepertinya tim Swiss akan kalah.]
[Sepertinya begitu. Padahal ace tim Swiss sangat bagus dalam mencetak skor. Sayang sekali dia terluka,]
[Kita lihat saja. Kapten tim Swiss masih tenang di bangku cadangan. Dia pasti merencanakan sesuatu.]
[Semoga saja. Padahal aku masih belum puas melihatnya bermain,]
[Ayo lakukan sesuatu Swiss... jangan mau kalah!]
__ADS_1
Rhiana yang mendengar komentar para penonton, menarik sudut bibirnya diam-diam. Sayang sekali, dia tidak bisa bermain mengingat kakinya juga keseleo. Jika hanya mimisan, itu pasti akan berhenti, tapi keseleo di kakinya berbeda.
Rhiana tetap tenang di bangku cadangan sambil memperhatikan setiap gerakan Marie juga gerakan rekan setimnya. Dengan begitu, dia bisa mengambil keputusan yang menguntungkan tim Swiss.