
Di salah satu apartemen mewah di Rusia, seorang pria sedang menatap layar TV dengan serius. Pria itu sedang menonton final olimpiade basket putri antara Swiss melawan Rusia. Ada seseorang yang sangat ingin dia lihat di sana.
Pandangannya begitu serius melihat bagaimana gadis yang menarik perhatiannya itu terus bergerak ke sana kemari. Jantungnya terus berdebar melihat betapa kerennya setiap gerakan gadis itu. Semua gerakan gadis itu membuatnya tertegun. Dia juga tahu seberapa susahnya mempelajari gerakan itu, karena dia sendiri sudah mempelajarinya beberapa tahun lalu.
Ketika melihat gadis itu terjatuh, pria itu seketika berdiri dan membuat sebuah panggilan pada seseorang. Setelah itu, dia dengan cepat keluar dari apartemennya.
***
Di gedung olimpiade, Rhiana menatap datar permainan tim Swiss dan Rusia yang begitu sengit. Rekan setimnya sedang berusaha mengimbangi gerakan Marie. Kini skor 80-105 poin. Selisih tim Rusia semakin menipis setiap menitnya.
Marie begitu antusias mencetak poin untuk timnya. Selagi Rhiana di bangku cadangan, Marie bisa bergerak bebas tanpa khawatir. Bagi Marie, tanpa Rhiana di tim Swiss, mereka bukan tandingannya. Jadi, Marie bisa mencetak poin seorang diri.
Rhiana mengerutkan kening sebelum menatap pelatih tim Swiss.
"Aku ingin time out, Pelatih."
Mendengar permintaan Rhiana, sang pelatih mengangguk dan menuju petugas yang berdiri di bawah papan skor.
Treettt.
Suara tanda time out.
Marie menatap memicing pada Rhiana. Dia yakin, ada yang Rhiana rencanakan dengan meminta time out. Marie mulai waspada.
...
"Dengarkan aku!" Rhiana membuka suara setelah mengambil perban di dalam tas medis yang sengaja ditinggalkan oleh tim medis untuknya.
.........
"Ternyata sangat sederhana. Terima kasih, Kapten." Nare menjawab dengan antusias. Ternyata strategi baru yang Rhiana katakan sangat sederhana menurut mereka. Yang lain juga mengangguk setuju.
"Aku mengandalkan kalian," Rhiana berbicara tanpa menatap rekan setimnya karena sedang sibuk membalut pergelangan kakinya yang sakit.
Rhiana menyesal karena tidak membawa beberapa obat milik mommynya yang sangat ampuh untuk luka ringan yang dia rasakan sekarang. Hanya perlu dioles ataupun disemprot ke bagian yang sakit, itu akan sembuh kurang dari 5 menit.
"Siap, Kapten!"
Pertandingan kembali berlanjut. Ini juga merupakan set terakhir.
"Apa yang akan kamu lakukan dengan membalut kakimu?" Rhiana mengalihkan pandangannya pada Brilyan yang mengambil perban di tangannya dan menggantikannya membalut kakinya.
"Aku ingin ke toilet," Rhiana menjawab dengan pelan setelah mendorong pelan kaca matanya sedikit ke atas.
__ADS_1
"Aku akan mengantarmu,"
"Aku bisa sendiri," Rhiana menolak dengan tegas.
"Tidak bisakah kamu mengandalkanku sedikit?" Brilyan mengeluh sambil menatap memelas pada Rhiana.
"Aku tidak suka merepotkan orang lain. Di saat aku masih mampu, aku kulakukan sendiri."
"Keras kepala," Brilyan berdecak dan beralih duduk di samping Rhiana.
...
5 menit sudah berakhir di set terakhir ini. Tersisa 5 menit lagi. Skor sekarang, 100-107 poin. Rusia semakin mengejar. Marie begitu senang karena skor mereka sedikit lagi akan menyamai skor tim Swiss.
"Dia sama sekali tidak khawatir. Apa sebenarnya yang dia rencanakan?" Marie kesal setengah mati.
Sudah sejauh ini dia bekerja keras untuk mengejar poin tim Swiss, tetapi wajah tenang para pemainnya sama selain tidak terlihat khawatir. Marie tentu saja kesal.
Nare, wakil kapten tim Swiss yang merasakan tatapan kesal Marie, tersenyum tipis. Dia mengalihkan padangannya menatap Rhiana di bangku cadangan. Rhiana mengangguk pada Nare dan melakukan hal yang sama pada pemain tim Swiss lainnya yang berada di lapangan.
...
"Bagaimana bisa?" Marie tercengang karena dua pemain tim Swiss berhasil mengelabuinya sehingga dia kehilangan bola yang tadinya masih dia digiring.
"Kerja bagus," Gumam Rhiana di bangku cadangan dengan bangga. Karena tim Swiss bisa bertahan tanpanya, dia bisa melakukan urusannya sekarang.
Rhiana dengan langkah hati-hati menuju toilet. Ada yang harus dia lakukan. Tentu saja ini menyangkut rencana organisasi bawah tanah yang akan melakukan serangan besar-besaran 1 jam lagi.
Rhiana tidak ingin membuang waktu. Menurut laporan orang kepercayaannya, mereka mendeteksi adanya 10 bom yang sudah dipasang di gedung ini. Karena itu, dia harus bergerak cepat untuk menjinakkan bom itu sebelum gedung ini rata dengan tanah.
Untung kakinya sudah diperban sedemikian rupa, sehingga sakitnya tidak terlalu terasa dan dia bisa bergerak bebas sekarang.
***
"Komponennya ternyata tidak biasa. Orang-orang ini secepatnya harus dimusnahkan," Rhiana bergumam setelah memotong kabel terakhir dari bom yang keenam. Rhiana juga sedikit mengelap keringat di dahinya.
Rhiana sudah menghabiskan 30 menit hanya untuk menjinakkan keenam bom dari sepuluh bom yang ada. Rhiana membutuhkan waktu, karena selain memasang bom di titik yang sulit untuk dijangkau, organisasi bawah tanah juga menempatkan para penjaga di sekitar bom itu.
Bukan penjaga biasa yang mereka keluarkan. Itu penjaga kelas atas. Karena itu, Rhiana harus menguras otak dan tenaganya untuk melawan para penjaga itu lebih dulu. Apalagi kakinya yang keseleo membuatnya harus berhati-hati agar kakinya tidak parah nanti.
"30 menit lagi. Semoga masih sempat," Rhiana menghembuskan nafas pelan dan bergerak cepat ke tempat lainnya.
Orang kepercayaannya tidak punya kemampuan untuk menjinakkan bom jenis ini, sehingga Rhiana harus bekerja sendiri. Mereka hanya membantunya dengan para penjaga itu. Waktu yang diatur di ponselnya membuatnya terus bergerak dengan cepat tapi tetap teliti.
__ADS_1
10 menit kemudian.
Tersisa 2 bom yang belum dijinakkan. Masih ada 20 menit lagi. Rhiana mempercepat penjinakkan bom. Untungnya dua orang kepercayaannya sedikit membantu dengan mengalahkan penjaga 2 bom terakhir.
...
"Gawat... " Gumam Rhiana karena waktu tersisa 3 menit lagi, sedangkan dia masih dalam proses menjinakkan bom terakhir.
"Tenang... ini akan segera berakhir." Rhiana menenangkan dirinya sendiri. Tangannya dengan cepat memotong kabel dengan hati-hati.
Set
"Syukurlah..." Rhiana menghelas nafas legah karena berhasil menjinakkan semua bom bertepatan dengan waktu yang habis.
Rhiana tiba-tiba mengerutkan kening karena baru merasakan sakit di pergelangan kakinya. Selama satu jam ini dia sibuk sehingga lupa dengan kakinya. Ternyata itu semakin membengkak.
Drettt
Drtttt
Ponselnya yang bergetar mengalihkan perhatiannya. Dalfi ternyata yang memanggilnya. Rhiana dengan tenang menjawab panggilan itu.
"Kamu dimana? Sepertinya gedung ini sudah dikepung,"
"Aku tahu, Kak."
"Kami akan bermain sebentar lagi, jadi tidak bisa menjaganya."
"Aku akan segera ke sana." Rhiana lalu menutup telepon dan bergegas turun. Dia saat ini ada di atap gedung olimpiade.
Dalam perjalanan ke aula utama, Rhiana sudah mengirim pesan pada orang-orang mommynya untuk datang ke gedung ini untuk membantunya. Rhiana berencana membasmi orang-orang organisasi bawah tanah secara diam-diam. Bukan hanya itu, Rhiana juga mengirim pesan pada pihak keamanan Rusia. Semakin banyak bantuan, semakin baik. Dengan begini, semua akan terlihat alami.
BOMM!
Ledakan besar membuat jantung Rhiana berdecak kencang. Bagaimana mungkin Marie dan orang kepercayaannya salah memberikan informasi? Informasi yang dia terima, hanya ada 10 bom yang dipasang di sini. Tapi ini... kenapa bisa ada ledakan?
Ting.
Sebuah pesan masuk di ponselnya.
...'Itu bom bunuh diri. Aku baru saja mendapat informasi ini. Sepertinya pemimpin organisasi bawah tanah curiga adanya mata-mata sehingga dia menurunkan langsung tangan kanannya untuk bertindak. Aku juga tidak berdaya. Maafkan aku,'...
Rhiana mempercepat langkahnya tanpa membalas pesan dari Marie. Dia merasakan akan terjadi sesuatu hari ini. Rhiana menguatkan dirinya dengan kakinya yang mulai sakit perlahan-lahan.
__ADS_1
Sepertinya tangan kanan pemimpin organisasi bawah tanah yang Marie maksud bukan orang biasa. Rencananya tidak bisa diprediksi. Orang kepercayaannya bahkan tidak tahu ada bom bunuh diri yang tiba-tiba.