
Resepsi pernikahan telah selesai digelar. Tsamara tampak sedikit kelelahan karena banyaknya tamu undangan yang hadir dalam resepsi pernikahan. Kedua keluarga turut mengundang rekan bisnis, klien serta para karyawan perusahaan dalam moment sakral tersebut. Tsamara dan Bimantara pun tidak mau kalah, mereka mengundang beberapa teman terdekat semasa kuliah dulu hingga tidak heran kalau ballroom hotel berubah menjadi lautan manusia.
Saat ini, Tsamara dan Bimantara telah berada di sebuah kamar presidential suite The Royal Hotel. Aroma bunga mawar menyeruak indera penciuman sepasang suami istri kala mereka masuk ke dalam kamar hotel. Sebuah kamar mewah dengan berbagai fasilitas yang ada sengaja dipilih oleh Sekar dan Hasna untuk menjadi saksi bisu penyatuan dua insan yang berbeda jenis kelamin. Nuansa keemasan kombinasi warna coklat tua menyempurnakan kamar pengantin dua sejoli tersebut.
Tatanan kelopak bunga mawar dan lilin aroma terapi yang dibentuk menyerupai hati mengelilingi ranjang pengantin. Sembilan balon berwarna merah melekat di atas langit-langit kamar hotel. Di atas ranjang pengantin, bertabur kelopak bunga mawar dan terdapat dua buah handuk yang menyerupai sepasang angsa.
Tsamara terkesiap beberapa saat. Ia membeku di ambang pintu menyaksikan betapa romantisnya suasana kamar malam ini. Lampu temaram dan hening. Tidak ada lampu menyala, hanya mengandalkan lilin aroma terapi yang tertata rapi di lantai. Namun, beda halnya dengan Bimantara, pria itu sama sekali tak peduli dengan keadaan sekitar. Terus melangkah masuk ke dalam kamar tanpa memedulikan Tsamara yang masih berdiri di tempat semula.
"Tsa, cepatlah pergi mandi! Aku pun ingin segera membersihkan diri sambil berendam air hangat," ujar Bimantara membuat Tsamara tersadar dari lamunannya.
Bola mata indah Tsamara mengerjap disertai wajah merah merona bagaikan tomat segar yang siap dipetik. Sejak tadi, pikiran wanita itu menerawang jauh sambil membayangkan apa yang akan terjadi malam ini di kamar tersebut. Imajinasinya sebagai wanita dewasa terus menari indah di benaknya.
Tanpa membantah sedikit pun, Tsamara bergegas masuk ke dalam kamar mandi sedangkan Bimantara memilih duduk di sofa sambil memainkan telepon genggam miliknya.
Di dalam kamar mandi, Tsamara banyak melakukan perawatan sebelum melaksanakan kewajibannya sebagai seorang istri. Mulai dari berendam di bathtub yang dicampur minyak esensial wangi lavender, membasahi rambutnya yang panjang hitam nan berkilau dengan shampo aroma mawar serta tak lupa mengoleskan lotion ke seluruh tubuh sebagai ritual terakhir.
Usai membersihkan diri, Tsamara melangkah menuju lemari pakaian mencari gaun yang pantas untuk dikenakan saat mulai melayani suami tercinta. Pilihan gadis itu jatuh pada gaun malam berbahan sutera berwarna merah menyala dengan tali spageti di bagian pundak.
__ADS_1
Merasa risih karena gaun malam itu tak mampu menutupi bagian inti tubuh Tsamara. Selain itu, bahannya pun cukup menerawang hingga memperlihatkan jelas lekuk tubuh gadis itu.
"Come on, Tsa! Jangan gugup begitu! Kamu dan Kak Bima telah resmi menikah jadi tidak ada salahnya kalau saat ini mengenakan gaun mirip saringan tahu seperti ini," ucap Tsamara sambil memandangi kemolekan tubuh dari depan cermin meja rias. Tubuh tinggi semampai, kulit putih bersih nan mulus bagai pualam tampak begitu kontras dengan pakaian yang dikenakan.
Bagian depan Tsamara bisa dikatakan cukup besar bila dibandingkan gadis seusianya sehingga saat mengenakan gaun tipis tersebut hampir membuat pabrik ASI calon anak-anaknya menyebul karena tidak tertutup dengan sempurna.
Dokter cantik itu menarik napas dalam seraya memejamkan mata sejenak, mengurai rasa gugup yang berselimut manja di dalam dada. Setelah irama jantung yang berdetak tak beraturan mulai kembali normal, ia membuka kelopak matanya secara perlahan.
"Baiklah. Aku sudah siap! Apa pun yang terjadi nanti, aku tidak boleh mundur. Cepat atau lambat, kami pasti melakukannya." Tsamara menyemangati dirinya sendiri sambil terus menurunkan ujung gaun tersebut agar menutupi bagian bawah tubuhnya.
Setelah dirasa siap, Tsamara melangkahkan kakinya menuju ruang tamu--tempat Bimantara menunggunya sebelum ia pergi ke kamar mandi. Namun, alangkah kecewanya gadis itu saat tak menemukan keberadaan sang suami di sana.
Terduduk lesu di sofa, karena harapannya untuk bisa berduaan setelah resmi menjadi sepasang suami istri sirna begitu saja. Ia pandangi langit-langit kamar dengan tatapan sendu.
Suara dering ponsel mengalihkan perhatian Tsamara dari langit-langit kamar. Nama Bimantara terpampang di layar ponsel.
Tsa, malam ini kamu tidur sendiri. Aku masih ada urusan penting yang tidak bisa ditunda! Besok pagi, sebelum adzan berkumandang, aku sudah tiba di hotel. Selamat malam.
__ADS_1
Sebuah pesan singkat dikirimkan oleh Bimantara. Alih-alih memadu kasih di atas ranjang empuk dengan status baru, sang lelaki malah meninggalkannya seorang diri di sebuah kamar yang telah didekorasi sedemikian menarik. Hati Tsamara hancur, kala mendapati suaminya lebih mementingkan urusan lain daripada berduaan dengannya.
Tsamara mengusut sudut mata menggunakan ujung jari, menarik napas panjang sebelum mengirimkan pesan balasan. Baik, aku akan tidur tepat waktu. Kakak hati-hati di jalan. Selamat malam suamiku. Pesan singkat tersebut diakhiri dengan gambar sebuah bentuk hati dan emot tersenyum. Kendati hati terasa sakit karena merasa dicampakkan di malam pertama, tetapi ia berusaha menutupi perasaannya yang sedang terluka dari siapa pun.
***
Bimantara menghisap lintingan tembakau yang berada di tangannya. Ia memutuskan meninggalkan kamar pengantin kala bayangan wajah sang mantan kekasih hadir dalam benaknya. Pria itu selalu memimpikan sosok wanita yang selama ini dirindukan. Hingga detik ini, Tuhan tak pernah mempertemukannya dengan wanita itu.
Sang CEO mengembuskan napas panjang. Tatapan pria itu teralihkan pada sebuah benda yang melingkar di jari manis sebelah kanan. Cincin pernikahan terbuat dari perak dengan ukiran nama Tsamara di bagian dalam benda bundar tersebut. Benda bundar tersebut sengaja dipilih oleh Hasna sebagai cincin kawin anak tercinta.
"Andai kamu membatalkan pertunangan kita, mungkin saat ini kamu dan aku dapat berteman akrab seperti kedua orang tua kita. Namun, nyatanya kamu bersikeras tetap melanjutkan perjodohan itu meski selama ini sikapku selalu dingin dan acuh tak acuh kepadamu."
"Malam ini kamu pasti kecewa, karena di malam pengantin kita, aku malah meninggalkanmu sendirian di kamar hotel. Tapi, aku tidak punya pilihan lain, Tsa, selain menghindar darimu. Aku merasa seperti lelaki brengsek bila menggaulimu di saat tidak ada cinta tumbuh di hati. Walaupun terkesan kejam, tapi ini adalah yang terbaik bagi kita berdua." Bimantara mengembuskan asap rokok yang tengah dihisapnya hingga kepulan asap putih mengudara. "Malam ini aku bisa lolos, namun besok atau lusa entah alasan apa lagi yang bisa dipakai agar tak berada di sisimu."
Bimantara menekan puntung rokok ke asbak. Tubuh pria itu terasa lelah dan ingin sekali beristirahat. Resepsi pernikahan yang digelar selama hampir sebelas jam lamanya menguras energi pria itu ditambah masalah baru yang siap menantinya di kemudian hari membuat ia ingin segera memejamkan mata di atas ranjang empuk miliknya. Lantas, ia melangkah meninggalkan balkon apartemen menuju kamar tidur.
.
__ADS_1
.
.