Painfull Love (Cinta Yang Menyakitkan)

Painfull Love (Cinta Yang Menyakitkan)
Me Time Versi Tsamara


__ADS_3

Setelah istirahat selama beberapa saat di resort tempatnya menginap selama liburan, Tsamara memutuskan pergi jalan-jalan. Bermodalkan GPS serta mobil rentalan yang disewakan oleh Fahmi, gadis itu berencana berkeliling pulau Dewata. Sebenarnya ia bisa saja meminta sopir pribadi keluarga Gibran mengantarkannya ke mana pun ia mau, tetapi gadis bermata almond ingin liburannya kali ini tanpa diganggu oleh siapa pun termasuk asisten, pengawal ataupun sopir.


"Selamat siang, Nona, apa ada yang bisa saya bantu?" Salah seorang SPG butik menyapa ramah Tsamara.


Tsamara tersenyum hangat membalas sapaan itu. "Selamat siang, Mbak. Saya ingin mencari pakaian, sandal dan tas keluaran terbaru koleksi dari brand Nano Chan, apakah ada?" katanya lembut.


"Butik kami banyak menjual aneka ragam pakaian, sepatu, sandal dan tas dari segala macam brand, Nona. Jika Anda mau, mari silakan saya antarkan Nona melihat-lihat koleksi dari butik kami." Tangan SPG itu menunjuk ke arah deretan patung peraga di dalam butik.


Karena memang Tsamara berniat membeli koleksi terbaru dari brand Nano Chan, ia melangkah masuk ke dalam butik tersebut. Mengenakan kacamata hitam untuk menyamarkan penampilan agar semua orang tak mengenali bahwa ia merupakan anak sulung dari seorang crazy rich asal Surabaya.


Tsamara menghampiri deretan atasan yang digantung di butik tersebut. Ia tampak sibuk memilah dan memilih pakaian mana yang cocok dengan dirinya saat ini. "Ehm ... warna ini terlalu mencolok, aku enggak suka." Gadis itu menaruh kembali blouse warna kuning ke tempat semula. SPG yang pertama kali menyambut Tsamara, begitu setia menunggu di belakang gadis itu.


"Itu koleksi terbaru kami, Nona. Dress itu merupakan produk lokal, bahkan desainer-nya pun asli pulau ini. Jika Nona mau, boleh mencobanya di ruang ganti yang terletak di sana," ucap SPG tersebut sambil menunjuk fitting room di butik tersebut.


Tsamara berdecak kagum saat melihat hasil rancangan salah satu desainer terkenal tanah air. Satu helai dress warna tosca motif bunga-bunga, tampak begitu indah dan sedap dipandang. Ekor mata gadis itu tak berkedip akan dress yang ada di depannya itu.


"Ya sudah, kalau gitu saya coba ini dulu deh, Mbak." Tsamara akhirnya mengambil dress tersebut, kemudian mengayunkan kaki menuju ruang ganti yang ada di tengah jejeran pakaian khusus wanita.


Tubuh Tania berputar-putar, ia memperhatikan pantulan diri di depan cernin besar di hadapannya. "Ehm ... memang sangat bagus. Enggak kalah dari brand Nano Chan," gumam gadis itu sambil menggerakan tubuhnya ke samping kanan dan kiri.

__ADS_1


Dokter cantik bermata almond mencoba membahagiakan dirinya yang tengah terpuruk dengan pergi jalan-jalan ke suatu tempat. Entah mengunjungi berbagai tempat wisata menarik ataupun berbelanja pakaian serta kebutuhan lain sambil cuci mata. Dengan begitu, ia berharap dapat melupakan kesedihan yang tengah membelenggu dirinya.


"Aku ambil ini aja deh. Dari segi bahan, motif serta warna sangat cocok dengan kepribadianku," kata Tsamara.


Mantan istri Bimantara menyerahkan baju yang telah dicobanya pada SPG tadi. "Mbak, tolong ini dibungkus. Ini ... ini dan ini juga ya. Satukan dalam satu wadah."


Usai membayar semua pakaian, sandal serta tas di kasir, Tsamara keluar dari butik tersebut dengan membawa dua paper bag isi belanjaan gadis itu. Ia bisa saja memborong semua barang yang ada di butik tersebut bahkan membelinya pun mampu, tapi gadis itu hanya memilih suatu barang yang memang diperlukan sebab tidak mau menghambur-hamburkan uang untuk sesuatu yang tidak bermanfaat.


Hampir dua jam Tsamara berkeliling, keluar masuk butik dan distro di mall tersebut, akhirnya gadis itu memutuskan mengakhiri pemburuannya. Enam paper bag dirasa sudah cukup baginya untuk mengobati sakit hati akibat perceraiannya dengan sang suami.


Sinar mentari hendak kembali ke peraduan saat Tsamara keluar dari dalam gedung mall. "Baru jam lima sore. Sebaiknya aku mampir dulu ke café, nongkrong sebentar sambil nunggu sunset. Pasti seru kalau lihat matahari tenggelam sambil duduk di pinggir pantai." Tanpa membuang waktu, ia mengayunkan kaki jenjangnya menuju parkiran. Menginjak pedal gas dengan kecepatan sedang membelah jalanan pulau Dewata.


***


Dentuman musik menggema di sepanjang pantai Seminyak. Suara tawa serta kekehan ringan bersumber dari para pengunjung terus bersahutan, tapi Tsamara tidak merasa terganggu sama sekali. Ia malah menikmati moment langka itu sambil menyesap minuman dingin yang telah dipesannya sebelumnya.


"Selagi aku ada di Bali, sebaiknya besok aku mengunjungi vila yang Kak Bima berikan kepadaku. Sejak menikah, aku belum pernah melihat penampakan vila itu," gumam Tsamara lirih. Lantas, ia kembali menyesap minuman dingin yang ada di atas meja.


Cukup lama Tsamara menikmati semburat jingga yang hampir tenggelam, akan tetapi, suara langkah seseorang yang menghampiri mejanya membuat gadis itu menoleh ke belakang.

__ADS_1


"Loh, Dokter Yudhis, sedang apa kamu di sini?" tanya Tsamara sambil memicingkan mata tajam ke arah rekan sejawatnya itu.


Yudhistira terkekeh pelan, kemudian ia duduk di samping kiri Tsamara. Pandangan mata memandang lurus ke depan tanpa memedulikan tatapan aneh yang ditujukan kepadanya.


"Tentu saja aku ingin berlibur, Dokter Tsamara. Memangnya kamu pikir aku datang ke sini mau apa, hem?" Tangan Yudhistira menegak kopi kemasan yang ada dalam genggaman tangan. Menyesap perlahan, menikmati setiap tegukan yang melewati tenggorokan.


Tsamara menyenderkan punggung di sandaran kursi. "Ya, siapa tahu kamu datang ke sini karena dapat undangan untuk menghadiri seminar."


Dokter tampan berwajah oriental melirik sekilas ke arah Tsamara, lalu kembali menatap ke depan. "Kalau aku dapat undangan, sudah pasti kamu pun menerimanya. Kita, 'kan, satu tim jadi mana mungkin aku datang sendirian."


Tampak Tsamara manggut-manggut mendengar perkataan Yudhistira. Sedikit membenarkan apa yang dikatakan lelaki di sebelahnya itu.


"Kamu sendiri, sedang apa di sini? Kok sendirian aja?" tanya Yudhistira basa basi. Padahal ia sudah tahu kedatangan Tsamara ke Bali untuk berlibur, merilekskan sejenak tubuhnya serta mengobati luka dalam yang ditorehkan oleh sang mantan suami."


"Aku? Ya ... aku pun mau liburanlah, Dok. Bosen di Jakarta terus. Aku ingin menghirup udara pantai dan merehatkan sejenak pikiranmu dari segudang pekerjaan yang terus menumpuk tanpa henti," elak Tsamara. Terpaksa berbohong sebab tak mau ada seorang pun tahu bagaimana perasaannya saat ini pasca bercerai dari Bimantara.


"Ehm ... kamu benar. Bekerja di kota besar banyak tekanan. Jadi liburan itu sangat penting bagi kesehatan mental kita. Benar tidak?" kata Yudhistira. Tsamara hanya menganggukan kepala sebagai jawaban. Lantas, mereka kembali memandangi keindahan sinar matahari yang semakin lama semakin tenggelam, menyisakan semburat keindahan di sore hari.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2