Painfull Love (Cinta Yang Menyakitkan)

Painfull Love (Cinta Yang Menyakitkan)
Rumah Sakit


__ADS_3

"Hasna, bangun! Kumohon, jangan membuatku ketakutan begini," ujar Irawan seraya menggenggam tangan Hasna dengan erat.


Hati Irawan terasa sakit. Istri tercinta yang telah menemaninya selama hampir tiga puluh tahun tidak memberi respon sama sekali. Wanita itu terbaring lemah dan tidak bergerak.


Irawan dan Bimantara berlari di sisi brankar yang membawa Hasna menuju ruang IGD. Sementara Tsamara serta kedua orang tuanya mengekori di belakang. Melihat wajah istrinya pucat pasi membuat pemilik Danendra Grup ketakutan setengah mati. Ia takut kalau sampai istri tercinta tidak bisa diselamatkan dan meninggalkan dirinya seorang diri di dunia yang fana ini.


Saat tiba di depan pintu ruang IGD, kehadiran Hasna telah disambut oleh dokter jaga yang bertugas pagi itu. "Dokter, tolong. Istri saya pingsan!" seru Irawan dengan raut wajah panik. Debaran jantung pria itu memompa lebih cepat dari biasanya. Tangan mulai berkeringat karena terlalu mengkhawatirkan kesehatan Hasna.


Dokter muda bermata sipit menjawab, "Kami akan melakukan yang terbaik bagi pasien. Bantu kami dengan do'a." Ekor matanya yang tajam melirik sekilas kepada sosok gadis di belakang tubuh Irawan.


Keduanya bertatapan, saling memandang satu sama lain. Tidak berucap sepatah kata pun, tetapi lewat pandangan itu mereka seakan tengah berkomunikasi.


Dokter Yudhis, kumohon, selamatkan nyawa mertuaku. Tsamara berkata dalam hati sambil terus menatap sosok pria berwajah oriental dari jarak yang tidak begitu jauh.


Dokter pria itu menganggukan kepala. Aku akan berusaha dengan sekuat tenaga. Tenanglah dan jangan biarkan Papa mertuamu semakin khawatir. Setelah itu, ia tersenyum dan melangkahkan kaki masuk ke dalam ruang IGD.


Interaksi antara kedua orang itu tertangka oleh ekor mata Bimantara. Tangan pria itu mengepal di samping tubuh. Rahang mengeras disertai wajah yang mulai memerah.


Berengsek! Berani-beraninya dia mengganggu istriku! Dasar dokter sialan! gerutu Bimantara dalam hati. Merasa kesal karena Yudhistira seakan memanfaatkan kesempatan itu untuk mendekati sang istri.


Sepertinya Bimantara lupa kalau sebentar lagi ia dan Tsamara akan bercerai. Bila hakim mengetuk palu dan mengesahkan bahwa mereka sudah bukan lagi pasangan suami istri, itu artinya status Tsamara bukan lagi istrinya melainkan mantan istri. Jadi, tidak ada salahnya, 'kan apabila Yudhistira mendekati dokter cantik itu? Toh di antara Bimantara dan Tsamara sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi.


Tubuh Irawan merosot begitu saja ke lantai rumah sakit. Ia menatap dengan tatapan kosong pada pintu IGD yang tertutup rapat. Tangan pria itu gemetaran. Tubuhnya pun gemetar hebat. Kepingan kejadian saat Hasna dirawat beberapa tahun lalu kembali berputar di memori ingatannya.

__ADS_1


"Seharusnya aku tidak mengajak Hasna menemui Bimantara di rumah Fahmi mungkin saat ini kelopak mata indah istriku masih terbuka. Seulas senyuman manis masih terlukis di wajahnya yang ayu," raung Irawan. Ia menarik rambutnya dan terus menyalahkan diri sendiri atas insiden yang terjadi beberapa waktu lalu. Dada terasa sesak hingga membuat pria itu hampir mati.


"Dasar bodoh! Kenapa kamu malah mendorong istrimu dalam sebuah masalah besar. Kenapa, Irawan?" teriak Irawan sambil memukuli lantai menggunakan telapak tangan. Merasa tidak becus menjaga istri tercinta.


"Mama, maafkan aku. Aku tidak bermaksud menyakitimu," gumam Bimantara. Menyaksikan bagaimana rapuhnya sang papa membuat ia menyesali perbuatannya karena telah melakukan hubungan intim dengan seorang wanita tanpa adanya sebuah ikatan.


Pundak Bimantara bergetar. Ia berusaha sekuat tenaga agar buliran kristal tak jatuh membasahi pipi. Namun, semakin keras ia mencoba, air mata yang menetes di pipi semakin deras.


"Papa, sudahlah. Jangan menyalahkan diri terus menerus! Semua ini bukan kesalahan Papa ataupun orang lain. Ini murni musibah yang menimpa keluarga Papa," ucap Tsamara lembut. Meletakkan lututnya di lantai sambil mengusap pundak Irawan. Ia mencoba menenangkan papa mertuanya agar tidak terus meratapi musibah yang Tuhan berikan.


Fahmi hanya memandang sinis ke arah Irawan. Hati pria itu sama sekali tidak tergerak untuk menenangkan sahabatnya. Amarah dalam diri telah menguasai pria paruh baya itu hingga menutup mata hatinya dan bersikap acuh saat menyaksikan sang sahabat mengalami kesusahan.


"Berdirilah, Tsamara! Jangan kamu dekati mantan Papa mertuamu! Sebaiknya kamu ikut kami pergi dari sini." Suara lantang menggelegar memenuhi lorong rumah sakit.


"Mas, jangan bicara begitu! Bagaimanapun, Irawan masih mertua anak kita," tegur Sekar, berbisik di telinga sang suami.


Akan tetapi, Fahmi sama sekali tidak peduli akan musibah yang menimpa sahabat sekaligus besannya itu. Ia sudah terlanjur terluka. Bagaimana tidak, sejak kecil ia membesarkan Tsamara dengan penuh cinta. Menjaga gadis itu layaknya sebongkah permata yang sangat berharga.


Namun, Bimantara malah dengan seenaknya melukai hati dan perasaan anak tercinta. Fahmi tahu betul seperti apa perasaan Tsamara kepada anak dari sahabatnya. Jadi, ketika mengetahui Bimantara selingkuh, rasanya bumi ini tak lagi berputar pada porosnya sebab ia tahu kalau hati Tsamara terluka bagaikan disayat sebilah pisau yang sangat tajam.


"Memang benar, Irawan masih mertuanya. Namun, dalam hitungan hari ke depan putri kita sudah bukan lagi merupakan bagian dari keluarga Danendra. Tsamara sudah menjadi janda sejak suaminya berselingkuh, Ma." Memandang sinis ke arah Irawan dan Bimantara secara bergantian.


Melangkah maju, mendekati Tsamara. "Tsamara! Ikut Papa pulang! Kita tidak perlu berada di sini bersama orang-orang tidak penting seperti mereka!" seru Fahmi tegas.

__ADS_1


Tsamara menggelengkan kepala. Mana mungkin ia meninggalkan Irawan di saat mama mertuanya sedang kritis. Gadis itu memang kecewa dan terluka, tetapi membiarkan papa mertuanya menghadapi ini semua seorang diri, tentu saja ia tidak sanggup.


"Pa, izinkan aku tinggal di sini lebih lama. Aku ingin memastikan keadaan Mama Hasna baik-baik saja. Setelah itu, barulah aku pulang ke rumah."


"Tidak bisa! Papa tidak sudi kalau kamu masih berhubungan dengan mereka!" sentak Fahmi menahan amarah.


"Mas, aku mohon jangan seperti ini! Biarkan dia menemani Irawan dan suaminya sampai kondisi kesehatan Hasna stabil." Sekar menatap Fahmi dengan sorot mata penuh permohonan. Meskipun ia kecewa dan sedih atas musibah yang menimpa Tsamara, tetapi nalurinya sebagai manusia tidak tega melihat orang lain semakin kesusahan. Dengan kehadiran Tsamara, siapa tahu dapat meringankan beban yang tengah dipikul Irawan dan Bimantara.


Mendengar perkataan Sekar, Fahmi terdiam. Setiap kalimat yang terucap menelusup ke dalam relung hati pria paruh baya itu.


Mengembuskan napas kasar seraya memejamkan mata. "Baiklah. Papa memberimu kesempatan. Namun, saat Hasna telah siuman, kamu segera putuskan hubungan dengan mereka. Papa tidak sudi mempunyai hubungan dengan keluarga bejad seperti mereka."


"Iya, Pa," jawab Tsamara pelan.


Tanpa berkata, Fahmi mengajak Sekar untuk pulang ke rumah. Membiarkan Tsamara tinggal lebih lama lagi dengan Irawan serta Bimantara, yang sebentar lagi menjadi mantan menantunya.


.


.


.


Halo semua yuk mampir ke karya teman author. Kisahnya dijamin seru nih. Judul karya dan nama pena ada di bawah sini. 👇

__ADS_1



__ADS_2