
Sesuai janjinya pada Emma, Bimantara mendatangi kantor tempat Leo bekerja. Dengan modal kartu nama, Bimantara berniat meminta penjelasan Leo terkait uang yang pernah diberikan lelaki itu untuk membayar sewa tempat dan renovasi ruko yang akan dijadikan tempat usaha mereka. Kalaupun memang Leo sibuk dan tidak bisa menemaninya survey, biarlah sang mantan CEO yang datang langsung ke lokasi. Begitu pikir Bimantara.
Turun dari motor, Bimantara langsung mengayunkan kaki masuk ke dalam gedung pencakar langit yang ada di depan sana.
"Permisi, Nona. Saya ingin bertemu Pak Leo Iswanto, apa bisa minta tolong panggilkan dia ke sini?" ujar Bimantara pada salah satu petugas yang berjaga di balik meja.
Mengernyitkan alis menatap penuh tanda tanya pada sosok Bimantara. Bukannya menjawab pertanyaan pria di seberang sana, wanita cantik berpenampilan menarik mengajukan sebuah pertanyaan. "Kalau boleh tahu, di divisi apa, Pak? Setahu saya di perusahaan ini tidak ada pegawai bernama Leo Iswanto."
Lemas sudah tubuh Bimantara detik itu juga. Tungkainya pun seakan tak mampu menopang beban tubuhnya. Bagai disambar petir di siang bolong, perkataan salah satu resepsionis di seberang sana membuat kekhawatiran pria berusia tiga puluh tahun semakin memuncak. Sejuta pertanyaan hinggap di benak pria itu. Bagaimana kalau dia memang betulan sudah ditipu?
Menggelengkan kepala, mengenyahkan pikiran negatif yang terus bersarang di benaknya. Come on, Bima. Jangan langsung mengambil kesimpulan! Bisa aja wanita ini adalah karyawan baru dan belum kenal dengan Leo. Bimantara bermonolog, meyakinkan dirinya sendiri untuk tidak langsung berburuk sangka pada Leo.
"Di divisi marketing dan pengembangan. Coba diingat-ingat lagi siapa tahu Nona lupa atau Nona adalah karyawan baru di sini hingga tak kenal dengan Pak Leo," keukeh Bimantara.
Wanita cantik itu bergeming, semua perkataan Bimantara benar adanya. Dia memang baru tiga bulan bekerja jadi belum mengenal seluruh karyawan perusahaan.
Untuk memastikan kembali, siapa yang benar dan salah, wanita cantik berpenampilan menarik meraih pesawat telepon kemudian menghubungi seseorang mencari nama yang disebutkan Bimantara. Cukup lama mencari hingga akhirnya ia mendapat jawaban bahwa ... di perusahaan itu memang tidak ada karyawan bernama Leo Iswanto.
"Saya sudah bertanya pada ketua divisi yang Bapak sebutkan, tapi maaf nama Leo Iswanto tidak terdaftar di perusahaan ini. Mungkin Bapak salah alamat," tukas wanita itu.
Rasa cemas memenuhi hati Bimantara. Namun, ia berusaha untuk bersikap tenang. Toh masih ada satu tempat lagi yang belum ia datangi yaitu ... kediaman Leo yang ada di kawasan Jakarta Timur.
Tak mendapat informasi apa pun dari tempatnya Leo bekerja, Bimantara segera melajukan kendaraan roda dua miliknya menuju salah satu rumah sederhana yang ada di Cakung Barat.
__ADS_1
Setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam lamanya, akhirnya Bimantara tiba di depan sebuah rumah kecil yang tampak begitu sepi seakan tak berpenghuni. Sampah daun kening berserakan di mana-mana, lampu teras depan rumah pun masih menyala menegaskan bahwa rumah itu benar-benar tidak ada penghuninya sama sekali.
Hawa dingin menyeruak menyentuh permukaan kulit, membuat tubuh Bimantara semakin lemas. Namun, ia tetap mengayunkan kakinya yang panjang menuju pintu di depan sana.
Berdiri di depan pintu sambil mengatur napas guna meredakan debaran jantung yang berirama tak beraturan. Lalu, Bimantara mengetuk daun pintu berwarna coklat. "Assalamu a'laikum," ucap lelaki itu. Namun, tak ada sahutan dari sang empunya rumah.
Tuhan, jangan sampai apa yang kutakutkan terjadi! batin Bimantara. Lantas, ia kembali mengetuk daun pintu tersebut dan mengucap salam dengan nada tinggi berharap Leo ataupun penghuni rumah lainnya mendengar dan membukakan pintu.
Tatkala Bimantara berdiri sambil terus mengetuk pintu, tiba-tiba seorang wanita paruh baya datang menghampiri. Wanita itu menepuk punggung Bimantara dengan pelan. "Mas ... Mas. Cari siapa?"
Bimantara menoleh ke belakang. "Pemilik rumah ini. Apa Ibu tahu pemiliknya ke mana? Sejak tadi mengetuk pintu, tapi tak ada satu orang pun membukakan pintu untuk saya."
Wanita paruh baya itu mengernyitkan alis. "Pemilik rumah ini, ya saya, Mas. Ini rumah kontrakan saya."
Mendengar nama Leo disebut, seketika wanita pemilik rumah kontrakan berdecih, "Ck! Orang kere, belagu dan pengangguran macam Leo mana punya rumah sih, Pak. Kerjaan dia cuma main gaple, ngutang ke rentenir dan judi. Istri dan anaknya aja kabur dari rumah karena enggak diperhatiin."
Wanita pemilik kontrakan memperhatikan penampilan Bimantara dari atas kepala hingga ke ujung kaki. "Ada perlu apa, Bapak, mencari si Leo? Mau nagih hutang, ya?" tebaknya. "Saran saya, sebaiknya Bapak lapor polisi sebab Lelaki berengsek itu enggak akan pernah bayar hutang. Sebelum Bapak, banyak kok yang datang ke sini menagih hutang, tapi uang mereka sama sekali enggak dikembalikan."
"Jadi, sebelum saya udah banyak orang yang mencari Leo, begitu?" tanya Bimantara untuk memastikan.
"Benar. Si Leo itu emang pintar ngomong. Mulutnya manis hingga korban-korbannya enggak sadar kalau mereka akan ditipu. Mereka baru sadar setelah enggak ada kabar sama sekali dari si Leo. Namun sayang, mereka terlambat karena Leo udah pergi dari rumah kontrakan ini sejak dua bulan lalu, imbuh si pemilik rumah kontrakan.
***
__ADS_1
Kendaraan Bimantara melaju dengan kecepatan 60 KM/jam. Pupus sudah harapan membuka usaha sendiri dengan sisa uang tabungan hasil penjualan apartemen mewah miliknya. Niat awal menggunakan uang tersebut agar semakin bertambah, tapi rupanya kesialan menimpa lelaki itu.
"Apa yang harus kukatakan pada Emma, jika seandainya dia bertanya? Aargh ... pasti terjadi cekcok lagi antara aku dan dia," gumam Bimantara sambil melajukan kendaraan roda dua miliknya.
"Sial, kenapa nasib buruk terus menimpa diriku, sih! Tiga bulan mencari pekerjaan, ditolak terus. Giliran mau buka usaha, malah kena tipu," dengkus Bimantara kesal. Belum menyadari bahwa semua yang terjadi menimpanya selama ini adalah karma atas perbuatannya di masa lalu.
Melangkah gontai memasuki rumah sederhana satu lantai. Bimantara melemparkan tas ransel miliknya ke sembarang tempat. Lelaki itu cukup lelah menjalani harinya yang terasa berat.
Emma keluar dari kamar setelah mendengar suara gaduh di ruang tengah. Berpikir jika ada maling masuk ke dalam rumah, tapi ternyata Bimantara-lah yang datang.
Karena penasaran dengan berita terbaru tentang Leo, Emma menghampiri sang suami dan bertanya, "Bagaimana, kamu udah ketemu Leo? Lalu, uang yang kamu berikan kepadanya apa udah dikembalikan?" cecar wanita itu.
Tubuh terasa lelah akibat berkendara jauh ditambah kenyataan bahwa baru saja kena tipu semakin membuat Bimantara kesal. Pulang ke rumah bukannya dihibur malah dicecar dengan berbagai pertanyaan terkait uang.
Rahang Bimantara mengeras, kedua tangan pun mengepal sempurna. Namun, ia mencoba mengendalikan diri untuk tidak emosi. "Aku udah mencari Leo di perusahaan dan tempat tinggalnya, tapi enggak ketemu dia. Kata bagian resepsionis, di perusahaan itu enggak ada karyawan bernama Leo Iswanto. Saat aku datang ke rumahnya pun, ternyata dia cuma ngontrak dan udah dua bulan pergi dari sana."
Seketika bola mata Emma terbelalak sempurna. Lantas, dia memasang wajah menyeramkan. Gigi gemelutuk, berkacak pinggang dan menghunuskan tatapan tajam pada Bimantara. "Jadi maksudmu, kita ditipu, iya?" Bimantara mengangguk lemah sebagai jawabannya.
.
.
.
__ADS_1