Painfull Love (Cinta Yang Menyakitkan)

Painfull Love (Cinta Yang Menyakitkan)
Sebuah Fakta


__ADS_3

Seorang pria paruh baya dengan tinggi badan 180 cm, berambut keperakan berjalan tergesa-gesa meninggalkan rumah mewah layaknya istana negeri dongeng. Ia baru saja mendapat telepon penting dari salah satu orang kepercayaannya.


Sebenarnya Anming, orang kepercayaan pria berdarah Tionghoa bisa saja datang menemui langsung sang bos di istana mewah nan megah, memberitahu informasi penting yang baru saja ia dapatkan. Akan tetapi, karena berita ini bersifat rahasia akhirnya Anming meminta bosnya bertemu di sebuah café pagi hari ini.


"Pa, kamu tidak sarapan dulu? Aku sudah menyiapkan makanan kesukaanmu," seru Renata kepada suaminya.


Tanpa menoleh sedikit pun, pria berambut keperakan menjawab, "Tidak perlu. Aku ada urusan penting. Kamu dan Alice, makan saja duluan."


Renata menatap kepergian suami tercinta dengan perasaan sedih dan kecewa. Selama hampir dua puluh lima tahun menikah, Fengying, nama lelaki itu tak pernah sekalipun bersikap manis kepadanya. Lelaki itu selalu bersikap dingin dan acuh padahal wanita itu selalu melayani dengan sepenuh hati.


"Apa urusanmu lebih penting daripada aku dan Alice hingga kamu meninggalkan kami begitu saja?" bergumam lirih menatap sendu pada sosok pria tampan yang mulai menghilang dari pandangan. "Sampai kapan kamu bersikap begini kepadaku, Pa? Sudah hampir tiga puluh tahun aku bersadar, menunggu kamu mencintaiku, tapi sampai sekarang aku belum bisa menggantikan posisi Annchi, mantan istrimu."


Fengying di antar sopir menuju salah satu café terkenal di Orchard Road, Singapura. Terlihat jelas raut kecemasan di wajahnya yang mulai menua. Telapak tangan berkeringat, jantung pun berdebar tak karuan. Berharap banyak bahwa berita yang disampaikan oleh Anming kali ini benar adanya.


Saat kendaraan roda empat berhenti tepat di depan pintu masuk café yang dituju Fengying, lelaki itu langsung menghampiri anak buahnya yang sudah menunggu sejak tadi. "Apa kamu sudah menemukan keberadaan mantan istri dan anakku?" tanya Fengying tidak sabaran. Ia bahkan belum mendudukan bokong saat tiba di meja yang telah dipesan oleh anak buahnya itu.


"Benar, Tuan. Setelah sekian lama akhirnya ada titik terang di mana keberadaan mantan istri Anda," jawab Anming.

__ADS_1


Kedua sudut bibir Fengying tertarik ke atas, mendengar jawaban Anming. Bagai mendapat air hujan di musim kemarau panjang, semua berita itu memberikan angin segar bagi Fengying.


"Di mana Annchi, berada? Cepat katakan, jangan membuatku menunggu terlalu lama!" desak Fengying tidak sabaran. Sejak dulu, ia memang menantikan kabar ini datang menghampiri, tapi dari sekian banyaknya informasi yang datang tak ada satu pun dapat dipercaya.


Anming menyerahkan sebuah map ke hadapan Fengying. "Dari informasi yang saya dapatkan, sesaat setelah Nyonya Annchi meninggalkan rumah, ia pergi ke Indonesia mengenakan identitas palsu dan mengganti namanya menjadi Rani. Tidak hanya mengganti nama, Nyonya juga merubah penampilannya seperti wanita muslim pada umumnya, mengenakan hijab dan menutup seluruh tubuh mengenakan pakaian tertutup. Oleh karena itu, kita kesulitan mencari jejak Nyonya."


Sejenak Fengying menghela napas lega. Setelah sekian lama akhirnya dapat mendengar kembali berita tentang sang mantan istri. Akan tetapi, raut kelegaan di wajah Fengying seketika meredup setelah mendengar Anming kembali mengatakan sesuatu.


"Namun, ada hal yang patut saya sampaikan kepada Anda, Tuan, mengenai Nyonya Annchi ...." Perkataan itu terjeda ketika netranya bersitatap dengan pemilik mata tajam di seberang sana.


"Hal penting apa, Anming? Katakan yang jelas, jangan membuatku semakin penasaran!" sembur Fengying dengan mengeraskan rahang hingga menonjol keluar.


"Dengan berat hati saya ingin mengatakan bahwa sebenarnya Nyonya Annchi telah lama meninggal dunia akibat pendarahan. Nyawanya tak bisa ditolong setelah melahirkan bayi dalam kandungannya." Anming menundukan kepalay tak berani menatap iris coklat sang bos.


Bagai mendengar gemuruh petir di siang hari, tubuh Fengying membeku seketika. Jantung pria itu seakan tak lagi berdetak, tubuh pun lemas seketika. Sungguh, ia tak menduga jika wanita yang begitu dicintai telah meninggalkan dunia ini untuk selamanya.


"Jadi ... istriku telah lama meninggal dunia, begitu?" tanya Fengying dengan terbata. Ia masih belum percaya akan semua yang dikatakan Anming.

__ADS_1


Masih dengan posisi menunduk, Anming menjawab, "Benar, Tuan."


Sumpah demi apa pun, ingin rasanya Fengying berteriak kenyang, memaki dan mengumpat kasar pada semesta karena ia telah dipisahkan dengan cara keji dari wanita yang begitu dicintainya. Tanpa terasa butiran kristal meluncur begitu saja di sudut matanya yang sipit. Berita kepergian Annchi membuat separuh jiwanya pergi.


"Lalu, di mana anakku sekarang? Apa dia masih hidup? Jika iya, lantas dia tinggal dengan siapa selama ini?" tanya Fengying setelah dapat mengendalikan diri.


"Di dalam map itu telah saya jabarkan secara jelas di mana putra Anda berada, Tuan," jawab Anming sembari menunjuk map coklat di atas meja. "Nyonya Annchi menitipkan bayi laki-laki itu kepada pasangan suami istri yang telah sekian lama berumah tangga, tapi tak kunjung diberikan keturunan. Mereka merupakan tetangga dekat Nyonya Annchi saat di Yogyakarta dulu."


Fangying mengusut buliran air mata yang membasahi pipi. Dengan tangan gemetar, pria paruh baya itu membuka map tersebut. Bibir gemetar hebat, dada terasa sesak saat melihat sebuah foto seorang pemuda tampan bermata sipit tengah tersenyum manis ke arah kamera. Foto itu diambil saat sang pemuda baru saja menjalankan studinya di fakultas kedokteran ternama di Jakarta. Pemuda itu merangkul sepasang suami istri itu dengan begitu akrab.


"Jadi ... dia adalah anakku?" ucap Fengying tanpa mengedipkan mata.


.


.


.

__ADS_1


Halo semua, sambil nunggu update-an karya ini, yuk mampir dulu ke karya author. Karyanya udah tamat, jadi Kakak bisa ngebut bacanya.



__ADS_2