
Deru mesin kendaraan roda dua terdengar memasuki pekarangan sebuah rumah sederhana di kawasan padat penduduk. Rumah satu lantai dengan gaya minimalis menjadi hunian baru bagi Bimantara dan istri keduanya bernama ... Emma Veronika.
Mematikan mesin kendaraan, lalu melepaskan helm yang membungkus kepala, Bimantara berjalan setengah berlari masuk ke dalam rumah. "Emma? Emma, di mana kamu?" panggil lelaki itu sembari menghempaskan begitu saja tas ransel miliknya ke atas sofa. Ia tampak begitu antusias ingin menyampaikan keinginannya membuka usaha sendiri menggunakan uang tabungan masa depan anak mereka.
Tak menemukan keberadaan sang istri di ruang tamu, lantas Bimantara bergegas memasuki salah satu kamar yang berada di rumah tersebut. Namun, ia pun tak menemukan Emma di dalam sana. "Emma pasti di kamar mandi. Sebaiknya aku temui dia." Tanpa membuang waktu, ia kembali mengayunkan kaki menuju dapur.
"Emma, syukurlah kamu ada di rumah. Ayo sini, aku ingin menyampaikan suatu hal penting padamu." Tangan Bimantara menarik istrinya yang baru saja keluar dari kamar mandi. Ia mendudukan tubuh istrinya di salah satu kursi makan.
Emma yang masih kesal akan sikap Bimantara beberapa waktu lalu memasang wajah cemberut, tak ada senyuman manis lagi terukir di wajahnya yang cantik. Ya, semenjak mengetahui Bimantara diberhentikan dari perusahaan, jabatan sebagai CEO dan kartu kredit dibekukan oleh Irawan, sikap Emma berubah 180°. Tidak ada lagi senyuman, sikap lemah lembut dan suara merdu bagaikan alunan melodi indah yang ada hanya sikap jutek, acuh dan wajah masam bagaikan buah mangga yang masih kecut.
"Mau ngomong apa? Aku enggak mau dengar berita yang mengatakan kalau kamu ditolak lagi oleh perusahaan," jawab Emma ketus. Kedua tangan wanita itu terangkat ke udara, kemudian menghempaskan tangan Bimantara yang sedang menyentuh bahunya.
Menarik napas panjang, mencoba bersikap tenang dan tak mau terpancing emosi. "Aku emang belum dapat pekerjaan baru setelah diberhentikan oleh Papa. Namun, kabar yang kusampaikan pasti membuatmu bahagia."
Emma berdecak kesal, kemudian beringsut menjauhi Bimantara. Tampak jelas raut kekesalan di wajah wanita itu. "Suami enggak guna, bisanya cuma bawa berita buruk aja!" ucapnya lirih. "Emangnya kamu mau ngomong apa, heh? Langsung to the point aja, aku enggak mau lama-lama ngobrol sama kamu. Aku masih kesal soal kejadian beberapa waktu lalu, mengerti?"
Pendengaran Bimantara masih berfungsi dengan baik. Saat mendengar kata-kata menyakitkan berasal dari bibir sang istri, sebenarnya ia geram sekali sebab seumur hidup tidak pernah sekalipun ada seseorang yang menghinanya bahkan saat menikah dengan Tsamara, wanita itu selalu menghormatinya meskipun ia sering melukai perasaan mantan istrinya itu.
__ADS_1
Sabar, Bima. Ingat tujuan awalmu, batin Bimantara mencoba mengingatkan dirinya sendiri agar tidak terpancing emosi.
Lagi dan lagi Bimantara menarik napas panjang, lalu mengembuskan secara perlahan. Lelaki itu mencoba mengendalikan diri agar saat berbicara dengan Emma, emosi dalam diri lelaki itu hilang bersamaan dengan embusan panas yang keluar dari hidungnya. "Emma, aku berencana membuka usaha untuk memutar keuangan kita. Selama tiga bulan terakhir aku sulit sekali mendapat pekerjaan jadi aku berpikir kenapa enggak buka usaha aja sendiri toh kita masih punya tabungan hasil menjual apartemenku."
"Apa? K-kamu ... mau menggunakan tabungan masa depan anak kita untuk buka usaha, begitu?" tandas Emma mencoba mengulang kembali perkataan Bimantara.
"Benar. Daripada tabungan kita mengendap dan semakin lama habis digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari lebih baik digunakan untuk modal usaha. Siapa tahu berhasil dan mendatangkan keuntungan besar. Kalau untung, kita bisa mengganti uang yang dipakai modal usaha," tutur Bimantara antusiasa.
"Gila! Aku enggak habis pikir kenapa kamu kepikiran hal itu!" seru Emma sembari bangkit dari kursi. Menghujam tatapan tajam pada sosok lelaki di depannya. "Bima, kita udah sepakat menyimpan uang itu untuk masa depan bayi dalam kandunganku, tapi kenapa kamu malah mau menggunakan uang itu untuk suatu yang sia-sia."
"Kalau kamu buka usaha sendiri, bukannya itu sama saja seperti membuang waktu berharga untuk sesuatu yang enggak pasti? Pertama kali buka usaha belum tentu usahamu laris manis seperti kacang rebus, pasti akan sepi karena orang-orang belum tahu produk yang kamu tawarkan. Kamu berdiam diri, nunggu pembeli datang bukannya itu sama saja seperti kamu membuang waktu?"
"Coba kalau kamu gunakan waktumu untuk mencari kerjaan di kantor, pasti lebih bermanfaat. Lagipula, emang berapa sih keuntungan dari usaha yang mau kamu buka? Jutaan? Puluhan juta? Atau milyaran rupiah?" tanya Emma sinis. Ekor mata wanita itu menatap tajam ke depan.
Bimantara terdiam seketika. Lelaki itu tampak sedang mencerna semua perkataan sang istri. Semua yang dikatakan Emma benar adanya, tapi tidak ada salahnya 'kan kalau seandainya ia mencoba sesuatu yang baru? Bukankah kita tidak akan pernah tahu jika tidak mencobanya terlebih dulu?
Bimantara menyentuh pundak Emma dengan lembut. Membalikan badan wanita itu hingga keduanya saling berhadapan. "Aku mengerti kecemasanmu, Sayang. Kamu takut tabungan masa depan anak kita habis di saat bayi ini belum lahir ke dunia, begitu?" Emma hanya diam, tak berkata apa-apa.
__ADS_1
"Sayang, aku bukannya enggak memikirkan masa depan bayi dalam kandunganmu. Hanya saja aku berpikir, kenapa enggak kita gunakan dulu uang itu untuk membuka usaha daripada aku mencari pekerjaan dan belum tentu dapat. Kalau aku usaha setidaknya akan ada pemasukan meski enggak sebanyak penghasilan saat diriku bekerja di kantor." Bimantara masih berusaha keras meluluhkan hati Emma, agar mendukung keputusannya.
Sebenarnya Bimantara bisa saja mengambil uang tabungan dari rekening miliknya tanpa sepengetahuan Emma dan membuka usaha sendiri, toh uang itu merupakan hasil jerih payahnya selama bekerja di perusahaan Irawan sebagai CEO sekaligus pemimpin perusahaan. Akan tetapi, ia tidak mau rumah tangganya yang baru seumur jagung retak hanya karena urusan uang. Oleh karena itu, ia memutuskan memberitahu Emma terlebih dulu meski perdebatan panas terjadi antara mereka.
"Percaya diri sekali kamu! Emangnya kamu yakin kalau usahamu akan maju? Kalau malah bangkrut, bagaimana?" cibir Emma sambil memasang wajah masam. "Aku enggak mau, ya, Bima, uang tabungan anakku habis untuk memenuhi egomu sendiri. Pokoknya, aku enggak setuju kamu menggunakan tabungan bayi kita. Titik!"
Bimantara menarik napas dalam sembari memejamkan mata. "Aku mohon, beri kesempatan sekali aja untuk mencobanya. Kalau emang gagal, aku akan coba mencari lowongan pekerjaan di kantor. Please, Emma?" pinta pria itu dengan wajah memelas.
Emma yang merasa kasihan melihat wajah itu, jadi tidak tega. Walaupun masih kesal akan sikap Bimantara, tapi rasa cintanya terhadap lelaki itu masih besar seperti dulu. "Baiklah, aku kasih izin kamu buka usaha sendiri. Tapi janji, jangan ambil semua simpanan anak kita."
Bimantara tersenyum lebar. Wajahnya pun sumringah. "Janji!"
.
.
.
__ADS_1