
"Ibu-ibu, kalian sadar enggak sih dengan keadaan perutnya Mbak Emma, tetangga baru kita yang tinggal di nomor 70," kata Bu Retno kepada tiga orang tetangganya yang sedang berbelanja di tukang sayur keliling.
Bu Heri menoleh ke arah bu Retno. "Sadar gimana sih, Bu? Emangnya kenapa dengan perutnya Mbak Emma?"
"Cerita dong, Bu, sama kita. Jangan buat kami penasaran." Kali ini Bu Utami ikut menimpali perkataan tetangga samping rumahnya itu.
Bu Retno menyerahkan satu plastik sayur asam, ikan asin bulu ayam, tempe satu papan dan cabe kriting ke hadapan abang sayur. "Ck, berarti selama dia tinggal di sini, kalian benar-benar enggak memperhatikan penampilan wanita itu dengan seksama?"
"Enggak, Bu!" sahut Bu Utami dan Bu Heri hampir bersamaan.
Bu Retno mendengkus kesal sebab semua orang di kampungnya tak ada satu orang pun yang peka terhadap kandungan Emma. Entah memang mereka terlalu acuh atau karena memang bu Retno yang selalu mencari keburukan orang lain untuk dijadikan bahan gunjingan di hadapan orang banyak hanya author yang tahu.
"Begini loh, Bu. Tiga bulan lalu, Mbak Emma dan suaminya, 'kan datang ke sini. Mereka mengaku baru saja menikah. Kebetulan, kemarin saya barengan dengan Mbak Emma belanja di warung Bu Saodah dan saya perhatikan kok kandungan Mbak Emma seperti orang yang tengah mengandung empat bulan. Lebih besar dari usia pernikahan mereka," tutur Bu Retno. Ia mengutarakan kecurigaannya di hadapan dua teman arisannya.
Bu Heri dan bu Utami saling menatap satu sama lain, kemudian mereka beralih menatap bu Retno yang tengah asyik memilih sayuran lain.
"Bisa saja karena Mbak Emma hamil kembar jadi terlihat lebih besar."
Bu Retno memajukan bibirnya beberapa centi ke depan dan memutar bola mata dengan malas. "Enggak mungkin, Ibu-ibu. Menantu saya pernah hamil anak kembar, tapi enggak gitu juga loh. Saya yakin pasti wanita itu hamil di luar nikah makanya sekarang perutnya lebih besar dari usia kandungannya."
__ADS_1
Seketika bu Utami dan bu Heri terdiam. Ucapan bu Retno ada benarnya juga. Beberapa kali tanpa sengaja mereka melihat Emma mengenakan kaos ketat saat menjemur pakaian di halaman samping rumah. Perut wanita itu terlihat sudah semakin membesar dari usia kandungan pada umumnya.
Bu Retno mengedarkan pandangan ke sekeliling memastikan tidak ada Emma atau siapa pun yang menguping percakapan mereka. Wanita paruh baya mendekati tubuh kedua teman arisannya itu dan berdiri di antara mereka. "Kalian ingat enggak berita tentang perceraian kedua anak konglomerat yang sempat heboh beberapa waktu lalu. Gosipnya pernikahan mereka kandas akibat kehadiran orang ketika. Saya semalam coba iseng nyari video pernikahan mereka di youtube dan alangkah terkejutnya saya saat melihat wajah si pengantin pria sangat mirip dengan Pak Bima, suaminya Mbak Emma."
"Kecurigaan saya semakin besar saat mengetahui nama kepanjangan Pak Bima adalah ... Bimantara Danendra. Dan itu berarti Pak Bima yang tinggal di nomor 70 adalah putra dari Irawan Danendra pemilik perusahaan terkenal itu loh," sambung Bu Retno.
"Jadi ... maksud Bu Retno, kalau Mbak Emma itu betulan hamil di luar nikah?" kata Bu Utami terbata-bata. Ia masih belum percaya atas kenyataan yang baru saja disampaikan oleh teman arisannya itu sebab hidup bertetangga, sikap Bimantara terlihat begitu ramah, sopan dan begitu mencintai Emma. Tidak ada tampang suami berengsek apalagi lelaki tukang selingkuh.
Bu Retno mengangguk cepat sambil berkata, "Dan juga seorang pelakor!" Wanita paruh baya itu sengaja menegaskan kalimat yang terucap di bibirnya.
Tak lama berselang orang yang tengah menjadi bahan obrolan mereka datang menghampiri. Membawa keranjang plastik terbuat dari anyaman, Emma berjalan mendekati gerobak sayur yang sedang mangkal di bawah pohon mangga milik RT setempat.
"Eh, ada Mbak Emma. Belanja, Mbak?" ucap Bu Utami.
Bu Retno tidak terima jika ada orang lain berkata kasar kepada teman arisannya. "Heh, Mbak Emma, kalau ngomong sama orang tua tuh yang sopan dong. Jangan ketus begitu! Bagaimanapun, Bu Utami lebih tua dari kamu, jadi hormati dia," tegurnya tak kalah sewot.
Alih-alih meminta maaf karena telah berkata kasar di hadapan orang yang lebih sepuh, Emma malah menghunuskan tatapan tajam ke arah bu Retno. "Suka-suka saya dong, Bu, mau berkata kasar ataupun lembut, toh bukan urusan Ibu. Lagi pula, ada hak apa Bu Retno menegur saya? Kita hanya orang asing, tak punya hubungan darah sama sekali. Jadi, jangan ikut campur urusan saya!"
Satu ikat kangkung bu Retno lempar begitu saja ke hadapan mamang sayur hingga membuat lelaki muda berusia dua puluh empat tahun terlonjak kaget. "Heh, Wanita sombong dan angkuh! Saya memang bukan siapa-siapa kamu, kita pun tak punya hubungan apa pun, tapi bukan berarti saya enggak boleh menegur kamu. Kamu itu sedang berhadapan dengan orang yang lebih tua darimu, seharusnya bersikap sopan santunlah kepada kami, bukan malah merasa sok berkuasa."
__ADS_1
"Oh ya, ngomong-ngomong soal hubungan darah, saya sih amit-amit punya anak seperti kamu. Jadi perempuan kok kegatelan banget sih. Suami orang diembat, kayak enggak ada lelaki lain aja di dunia ini. Udah gitu, rela hamil anak haram demi mendapat kekuasaan. Tapi ternyata malah jadi gembel. Cih, benar-benar menjijikan sekali!" sindir Bu Retno.
Deru napas memburu, dada kembang kempis disertai amarah dalam diri semakin memuncak. Emma berkacak pinggang sambil menghunuskan tatapan tajam. "Jangan asal ngomong, Bu, kalau enggak punya bukti!"
Bu Retno melipat kedua tangan di depan dada sembari tersenyum sinis. "Kami memang orang kampung, tapi bukan berarti bodoh hingga tak bisa mencari tahu apa yang terjadi dengan masa lalumu." Ia melangkah mendekati Emma dan berdiri di hadapan wanita itu. "Suamimu bernama Bimantara Danendra, mantan suami dari Tsamara Asyifa Gibran. Mereka berpisah karena diduga ada orang ketiga dalam rumah tangga yang baru seumur jagung. Lalu kamu datang ke kampung ini dan mengaku pengantin baru tapi kendunganmu sudah seperti usia empat bulanan. Dan itu artinya kamu hamil di luar nikah, saat suamimu masih berstatuskan suami orang."
Bagai disambar petir di siang bolong, Emma dibuat bungkam seketika. Lidah terasa kelu tak mampu berkata apa-apa. Ia tak menduga akan ada orang yang mencari tahu semua informasi tentang masa lalunya dengan Bimantara.
"Kenapa diam aja? Kamu pasti kaget, 'kan, kenapa saya bisa tahu semuanya?" Bu Retno menaik turunkan kedua alis. "Gini-gini saya pernah jadi juara kelas loh di sekolah. Untuk urusan beginian mah, kecil." Ia menjentikkan jari kelingking dengan ibu jarinya ke udara.
Emma masih terdiam, beberapa tetangga memang tidak menyukainya sejak pertama kali ia dan Bimantara pindah ke kampung itu setelah menjual unit apartemen milik mantan suami Tsamara.
Kedua tangan mengepal sempurna di samping badan. Ingin membalas tuduhan itu, tapi ia tak mampu. Tubuhnya terasa lemah tak bertenaga.
Tak ingin semakin disurutkan dan aibnya tersebar ke mana-mana, Emma memilih pergi secepatnya dengan tangan kosong. "Permisi!"
"Hu ... Retno dilawan. Makanya jadi orang jangan sok-sokan. Giliran kartu AS nya terbongkar, nangis!" cibir Bu Retno sambil menyeringai. Ia cukup puas karena berhasil memberi pelajaran pada Emma, sedangkan bu Utami dan bu Heri hanya jadi penonton saja.
.
__ADS_1
.
.