Painfull Love (Cinta Yang Menyakitkan)

Painfull Love (Cinta Yang Menyakitkan)
Subsix, Maldives


__ADS_3

Sementara Bimantara dan Emma menikmati waktu liburan berdua secara diam-diam, Tsamara memutuskan pergi ke pusat oleh-oleh yang ada di Pulau Maldives. Berbekal uang serta kemahiran berbahasa Inggris, dia ditemani sopir sekaligus pemandu wisata mengunjungi beberapa tempat yang menjual cinderamata serta makanan khas pulau tersebut. Tadinya dia ingin menunggu Bimantara, tetapi merasa sang suami sedang sibuk dengan urusan pribadi akhirnya dokter cantik itu memilih pergi sendirian.


"Nyonya yakin hanya ini saja yang ingin dibeli untuk oleh-oleh keluarga di Indonesia?" tanya sang sopir saat dia dan Tsamara mengantre di kasir setelah hampir satu jam lebih berkeliling berburu aneka ragam cinderamata yang ingin dibagikan untuk keluarga serta teman sejawat Clarissa di rumah sakit.


Tsamara memeriksa kembali semua barang yang ada di keranjang, kemudin mengangguk. "Sudah cukup, Pak. Ini lebih dari cukup."


Sang sopir tersenyum lebar, memandang penuh kagum akan kecantikan alami dari istri seorang Bimantara Danendra. "Ya, siapa tahu kurang, Nyonya. Selagi ada di Maldives maka gunakan kesempatan dengan sebaik-baiknya."


Tsamara terkekeh pelan. Tak ada rasa canggung sedikit pun kala dia berbincang dengan pria asing yang baru dikenalnya beberapa hari. "Kalau kurang, nanti saya akan datang lagi ke sini, Pak. Pastinya, saya pun akan meminta Bapak untuk menjadi sopir sekaligus pemandu wisata."


Pria jangkung berwajah khas penduduk setempat menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal kala mendengar perkataan Tsamara. Padahal, dalam hati sama sekali tidak ada niatan sedikit pun meminta gadis itu menggunakan jasanya untuk kedua kali.


Setelah membayar semua barang di kasir, Tsamara dibantu sang sopir menenteng empat kantong belanja berisi oleh-oleh khas pulau tersebut. Hanya membeli lukisan, aksesoris kulkas, kalung serta gelang buatan penduduk lokal serta kaos made in Maldives. Untuk cinderamata yang terbuat dari barang pecah belah, dia tak membeli sebab khawatir barang tersebut pecah saat berada di pesawat.


"Pak, sebelum pulang ke resort tolong antarkan saya ke restoran Subsix. Saya ingin merasakan sensasi makan siang di bawah permukaan laut. Pasti sangat menyenangkan sekali," pinta Tsamara saat mengayunkan kaki menuju parkiran mobil.


"Nyonya tenang saja, saya pasti mengantarkan Anda dengan selamat hingga tempat tujuan," jawab sopir itu ramah.


Menggunakan alat transportasi laut, akhirnya Tsamara tiba di sebuah restoran mewah nomor dua yang cukup terkenal di kawasan Niyama Per Aquum Resort. Restoran itu cukup luas serta dipadati turis lokal maupun mancanegara yang sengaja datang ke sana untuk menikmati hidangan lezat sambil memandangi pemandangan bawah laut dari dalam ruangan yang hanya dibatasi oleh kaca akrilik ruangan tersebut.

__ADS_1


Tsamara memilih tempat duduk yang cukup tersembunyi dari jangkauan para pengunjung lain. Gadis itu ingin menyantap olahan seafood yang dibuat oleh koki terkenal tanpa harus merasa risih karena ditatap dengan tatapan aneh. Bagaimana tidak, dari sekian banyaknya pengunjung restoran hanya dia saja yang datang seorang diri tanpa ditemani oleh siapa pun dan itu cukup menjadi perhatian mereka.


"Nyonya, ingin memesan apa?" Seorang pelayan pria datang menghampiri dengan membawa buku menu di tangan kiri, sementara tangan lain memegang pulpen.


"Bawakan saja menu olahan seafood terenak di restoran ini, lalu ice lemon tea dan air mineral," ujar Tsamara sambil memilih buku menu yang disodorkan oleh pelayan itu.


Pelayan itu bergegas mencatat pesanan Tsamara di atas kertas. "Selain ini, apakah ada lagi yang ingin Nyonya pesan?"


Tsamara menggeleng cepat. "Tidak ada. Cukup itu saja," jawabnya singkat.


Pelayan itu mengangguk, beranjak dari sana menuju tempatnya semula. Dia menyerahkan lembaran ketas tersebut kepada koki yang bekerja di dapur.


Tsamara kembali memandangi takjub pada ikan-ikan yang sedang berenang di balik dinding akrilik restoran itu. Dia merasa sedang berada di antara akuarium raksasa dengan jutaan biota mengelilinginya.


Membayangkan betapa murkanya Bimantara tadi pagi membuat dada gadis itu terasa sesak dan nyeri hingga ke ulu hati. Namun, dia tak mampu berbuat apa-apa hanya bisa mengalah untuk menghindari perselisihan yang malah merugikan dirinya sendiri.


"Sudahlah, daripada memikirkan kejadian yang sudah lalu sebaiknya aku menikmati waktu kesendirianku. Kapan lagi aku bisa jalan-jalan tanpa diganggu oleh siapa pun," kata Tsamara menguatkan diri agar tak menangis kala mengingat kemarahan sang suami.


***

__ADS_1


"Sayang, lihatlah! Restoran ini indah sekali. Aku ingin sekali kita makan di sini. Bagaimana kalau setelah ini kita makan siang di sana?" ujar Emma dengan suara manja. Sebelah tangan wanita itu melingkar di lengan Bimantara sedangkan sebelah lagi memegang telepon genggam.


Bimantara yang sedang mengawasi laporan kinerja karyawan dari layar ponsel miliknya segera melirik ke samping kala mendengar suara merdu sang kekasih. Tanpa diperintah untuk kedua kali, dia mendongakan kepala ke arah layar. "Kamu ingin kita makan siang di sana sekarang?" tanda pria itu.


"Benar, Sayang. Kalau aku lihat dari review beberapa pengunjung, restoran itu cukup terkenal di pulau ini. Selain bisa menikmati hidangan lezat, kita juga disuguhkan oleh pemandangan alam dari permukaan laut. Kamu tidak keberatan 'kan kalau kita makan siang di sana?" Mata memelas layaknya seekor anak kucing yang meminta susu kepada majikannya. Berharap banyak agar Bimantara mengabulkan keinginannya.


Bimantara melepaskan tangan mulus sang kekasih yang melingkar di lengannya, lalu menyentuh pundak Emma sambil berkata, "Apa pun yang kamu mau, aku pasti mengabulkannya, Sayang. Bahkan, seisi dunia ini pun akan kuberi asalkan kamu tetap berada di sisiku selamanya."


Emma tersenyum malu disertai semburat rona merah muda terlukis di kedua pipi. Dari dulu, sikap Bimantara tak pernah berubah sedikit pun, selalu romantis dan tetap menomorsatukan dirinya. Entah kebaikan apa yang diperbuat hingga Tuhan mengirimkan Bimantara di tengah peliknya kehidupan yang dirasa karena terlahir dari keluarga tidak mampu.


"Dasar gombal!" lirih Emma. Mengalihkan pandangan ke arah lain, guna menyembunyikan rona merah muda di wajah.


Manisnya senyuman disertai sikap malu-malu yang ditunjukan Emma, membuat Bimantara gemas dibuatnya. Seandainya saja mereka tidak sedang berada di tempat umum sudah pasti dia mengungkung wanita itu di atas ranjang, mendaratkan jutaan ciuman di bibirnya yang manis bagaikan madu. Akan tetapi, dia harus bersabar menunggu hingga segala urusan diselesaikan setelah itu barulah mereka memadu kasih seperti tadi malam.


"Ya sudah, ayo jalan! Jangan sampai cacing dalam perutku berparade ria karena saking kelaparan," tutur Bimantara. Tangan kekar itu menggenggam erat jemari lentik Emma. Lantas, mereka melangkah menuju sebuah restoran dengan pemandangan alam bawah laut.


.


.

__ADS_1


.



__ADS_2