
Emma telah sadarkan diri, setelah di pindahkan ke ruang inap bangsal. Dia melirik ke arah sekitar, berdecak kesal karena Bima tak bisa memberikan perawatan rumah sakit yang bagus.
“Dasar, sekarang pun dia nggak bisa kasih kamar VVIP untuk aku!” gerutu Emma.
Sedikit bangkit dan menyandarkan dirinya di sandaran brankar. Bagaimana mungkin Emma bisa beristirahat di sebuah ruangan yang terisi oleh beberapa orang? Bahkan, di sini begitu pengap dan sangat berisik. Melayangkan berbagai macam umpatan untuk Bimantara membuatnya sedikit meringis kesakitan, hingga membuat kepalanya berdenyut nyeri.
“Ke mana pria sialan itu!” gerutu Emma, memandang lurus ke arah pintu. Tidak peduli dengan tatapan orang-orang yang menjenguk pasien lain. Dia hanya merasa kesal dengan sikap yang ditunjukkan oleh Bimantara. Ingin sekali rasanya berpisah dengan pria pengangguran itu.
Bimantara muncul dari balik daun pintu ruang bangsal, ia menatap kedua netra Emma. Ia sadar jika saat ini Emma sedang merasa sangat kesal. Bahkan, sudah tidak peduli lagi dengan apa yang akan Emma lakukan padanya, pasrah Bima mengayunkan kakinya menuju brankar Emma.
“Maaf,” ucap Bimantara ketika langkahnya terhenti di depan brankar Emma.
Emma memandang sinis ke arah Bimantara, “Hmm.”
“Aku mau pulang,” ketus Emma. Tak melirik ke arah Bima.
“Nggak bisa, kamu harus bedrest dulu di sini. Lagi pula, kamu baru aja keguguran,” ungkap Bimantara.
Membelalakkan matanya, terkejut dengan apa yang baru saja Emma dengar.
“Apa maksudmu?” tanya Emma, ia menekankan setiap kalimat yang diucapkan. Membuat Bima menduga jika mereka akan terlibat adu argumen.
“Dokter mengatakan jika mereka tak bisa menyelamatkan anak yang berada dalam rahimmu, karena janin itu udah keluar sejak dalam perjalanan menuju rumah sakit,” Bimantara menjelaskan.
Tampak rahang Emma mengeras dan giginya bergemeletuk menahan gejolak emosi yang memuncak.
“Ini semua salahmu! Jika kamu tidak mendorongku ini tidak akan terjadi!” teriak Emma depresi.
__ADS_1
Hidup susah dengan Bima membuatnya menderita, apalagi kabar tentang dirinya yang mengalami keguguran. Justru hal ini semakin membuat kehidupan Emma seperti berada di neraka, ia tak bisa jika harus bersama dengan Bima dalam waktu yang lama.
“Pergi kamu sialan!” teriak Emma, tak peduli dengan pandangan orang-orang yang berada di ruang bangsal tersebut.
“Hei! Jaga istrimu, jangan sampai membuat keributan di sini,” cecar salah satu pasien yang merasa terganggu.
Bima menenangkan Emma. Namun, wanita itu terus menerus memberontak dan memukul dada bidang Bima. Merasa jika kehidupannya tak lagi memiliki arti apapun.
“Tenanglah,” ujar Bima menenangkan. Ia meninggalkan Emma yang menangis histeris. Memanggil Dokter agar Emma diberi obat penenang dan tidak mengganggu pasien yang lain.
***
Emma sudah pulang ke rumah. Beberapa hari ini dia hanya diam saja dan tak berminat untuk membuka suara. Setiap harinya, dia juga hanya bangun makan, kemudian tidur kembali tanpa memikirkan perasaan Bimantara. Ketika melihat Bima, dia mendadak ingin menghabisi pria itu. Bahkan, ia membenci segala hal yang Bima lakukan. Hidup susah bersama dengan Bima membuat Emma merasa sangat menderita.
“Kenapa kamu diam saja?” tanya Bima mengayunkan langkah mendekat dengan Emma.
Menghela napasnya, kemudian memegang bahu Emma agar wanita itu berbalik melihatnya.
“Ucapkan sesuatu, Emma,” Bima memelas, tak kuasa jika harus di diamkan begini.
Dia mempunyai seorang istri. Namun, tak mendapatkan sebuah tempat untuk berkeluh kesah. Bukankah ketika krisis finansial datang kedua belah pihak harus saling mendukung? Namun, tidak dengan Emma dia sama sekali tidak ingin tahu dengan kondisi yang Bima rasakan. Seluruh tenaga, waktu dan uang sudah sepenuhnya Bima berikan pada Emma dulu. Tapi, kenapa untuk masalah yang menimpa Bima kali ini membuat Emma tak juga mau membantu? Setidaknya jika bukan uang, Emma masih bisa membantu untuk menyemangatinya–kan?
“Lepaskan tangan kotormu!” ketus Emma pada Bima.
Memegang dada bidangnya, Bima terkejut dengan sikap yang baru saja Emma berikan.
“Tapi ....”
__ADS_1
Emma menggeram, mengepalkan tangannya hendak mendaratkan sebuah tinju bebas ke wajah Bima. Entah keberanian dari mana, Emma kerap kali bersikap kasar pada Bima.
“Dasar pria brengsek!” bentak Emma.
Namun, tangan wanita cantik itu dicekal oleh Bima. Tidak lagi, Emma tidak boleh mendaratkan sebuah pukulan ke wajah tampannya. Bagaimanapun, Bima adalah kepala keluarga dan tidak etis rasanya jika harus mendapatkan kekerasan dari seorang istri.
“EMMA!” bentak Bima tidak terima.
Sudah beberapa hari ini dia menahan diri untuk tidak meluapkan emosinya pada Emma. Akan tetapi, hari ini runtuh sudah pertahanan Bima, dia tidak mau diperlakukan buruk oleh Emma dan diremehkan seperti itu.
“APA! KARENA KAMU ANAKKU MATI, LELAKI BRENGSEK SEPERTIMU NGGAK PANTAS HIDUP!” bentak Emma. Suaranya menggelegar seantero rumah. Hingga, beberapa tetangga mulai berkerumun untuk melihat pertengkaran antara keduanya.
Mereka berdua pun kembali cekcok.
***
Saat perjalanan menuju rumahnya, Tsamara gusar. Hatinya tak karuan. Rasa rindu pada sosok Yudhistira membuatnya seperti kehilangan akal, acap kali ketika sedang bekerja membuat Tsamara tak fokus. Berhari-hari tak bertemu dengan Yudhistira membuat Tsamara ingin mengirimkan sebuah pesan singkat pada pria itu. Namun, Tsamara berpikir berulang-ulang karena takut mengganggu Yudhistira kala itu dan dia juga merasa malu. Kadang, dia juga sering melewati ruang kerja Yudhistira dulu karena berharap keberadaannya. Namun, nihil ... Tsamara tak menemukan apapun di sana, yang dia lihat hanyalah sebuah ruangan kosong tanpa ada sosok Dokter Yudhistira.
“Argh! Kenapa bisa kayak gini sih?” keluh Tsamara. Entah sejak kapan wajah mulusnya itu memerah. Sepertinya benar, jika Tsamara sedang jatuh cinta dengan Yudhistira.
“Masa iya aku suka sama Yudhistira?” Tsamara bertanya-tanya. Mengambil ponsel yang berada di dalam tasnya.
“Nggak mungkin aku kirim pesan untuk Yudhistira, kan?” ucap Tsamara lagi. Dia menutup wajahnya dengan telapak tangan. Seakan sedang ada seseorang yang mengintainya, Tsamara malu bukan main.
Mulai mengecek nomor telepon Yudhistira, menekan ikon pesan dan mengetik sebuah pesan singkat di sana. Tsamara tidak pernah melakukan hal semacam ini sebelumnya, sebab dia merupakan seorang wanita yang sangat menjaga harga diri di depan kaum adam. Namun, kali ini berbeda keinginannya sangat kuat untuk mengirimkan pesan pada pria tersebut.
“Apa kabar, Yudhistira?” Tsamara mengetik pesan tersebut ragu-ragu. Tsamara tampak sedikit menggigit jemarinya. Jantung yang kian berdetak lebih cepat dari biasanya membuat Tsamara semakin tak bisa mengontrol perasaannya, bahkan pipi pun sudah memerah seperti kepiting rebus.
__ADS_1
“Haruskah aku mengirimkan pesan ini?” gumam Tsamara bimbang. Menghela napasnya dan beberapa detik setelahnya dia menghapus pesan tersebut karena malu.