Painfull Love (Cinta Yang Menyakitkan)

Painfull Love (Cinta Yang Menyakitkan)
Setelah Pesta Pernikahan


__ADS_3

“Bima, tolong antarkan pesanan ini ke meja nomor sepuluh.”


“Baik, Mbak.” Bimantara sekarang ini bekerja di salah satu rumah makan Padang yang ada di Jakarta. Pria itu sangat rajin untuk bekerja karena memang harus menghidupi dirinya sendiri. Dia mengantarkan pesanan seperti yang diminta pemilik rumah makan dan menyajikannya dengan hati-hati pada para costumer dan mengambil piring-piring kotor bekas makan costumer lain di meja yang ada di sampingnya.


“Bima, jangan lupa bersihkan, ya.”


“Baik, Mbak.” Bimantara kembali ke meja yang baru saja piring-piring kotornya dia ambil. Pria itu mengeluarkan lap dan membersihkan sisa makanan di atas meja. Dia kembali lagi dan setelah itu menyajikan kembali makanan lain pada costumer lain.


Kehidupan Bimantara hanya seperti itu setiap harinya. Mengantar pesanan dan mengambil piring-piring kotor. Sampai pada saat dia hendak mengambil piring kotor di salah satu meja yang sudah dikosongkan customer, Bimantara tidak sengaja melihat berita di TV besar yang sengaja dipasang di sana sebagai salah satu fasilitas yang diberikan rumah makan.


Dia yang saat itu sedang sibuk dengan pekerjaannya tiba-tiba saja lelaki itu berhenti dan mematung di tempat tatkala tanpa sengaja melihat berita tentang mantan istrinya yang sedang menikah lagi dengan salah satu pebisnis sukses asal Singapura. Pernikahan Tsamara dengan Yudhistira memang disiarkan secara langsung dan sangat mewah. Itu semua tak terlepas dari campur tangan Fengying, memberikan tambahan dana pada Fahmi meski calon mertua Yudhistira merupakan keluarga kaya raya.


Fengying melakukan itu semua sebagai bentuk permintaan maaf karena dulu pernah menyia-nyiakan Annchi, mama Yudhistira. Selain itu, dia pun ingin agar semua orang tahu jika Yudhistira Airlangga adalah putera pertama Fengying dengan istri pertamanya yang telah lama meninggal dunia.


Bimantara masih terdiam dan membeku saat melihat bagaimana jalannya acara pernikahan itu. Mantan istrinya semakin terlihat begitu cantik mengenakan gaun berwarna putih model cutting ball gown dengan bagian dadanya dibuat lebih tertutup. Wanita itu juga terlihat sangat serasi dengan suami barunya. Bimantara yang melihatnya jadi sedikit menyesal karena telah tega menyia-nyiakan Tsamara dan lebih memilih Emma.


Menghela napas kasar, seakan tengah meyingkirkan beban yang terus menghimpit dada. “Aku menyesal sudah ninggalin kamu, Tsa. Andai aku tahu jika Emma akan berubah mungkin saat ini kamu masih menjadi milikku, bukan milik lelaki berengsek itu."


"Aku benar-benar menyesal sudah menyia-nyiakan istri yang begitu baik dan perhatian seperti kamu. Namun, apa boleh buat nasi sudah menjadi bubur. Sekalipun menyesal, kenyataannya kamu enggak mungkin kembali kepadaku." Lagi dan lagi Bimantara menghela napas panjang, kemudian menarik napas dalam. "Kendati begitu, aku akan mendo'akanmu semoga pernikahanmu yang kedua bisa langgeng hingga maut memisahkan. Tentunya, enggak ada lagi perselingkuhan terjadi di rumah tanggamu."


Bimantara bergumam sendiri meratapi nasibnya. Dia menyesal karena telah meninggalkan Tsamara. Namun, itu semua sudah terlambat. Bimantara sudah mendapatkan ganjaran dan Tsamara juga sudah mendapatkan kebahagiaannya. Sekarang ini melihat Tsamara bahagia membuat ia ikut bahagia meski sembilu itu terus menusuk hati, tapi ia mencoba mengikhlaskan semua yang pernah terjadi dalam hidupnya.


“Bima! Bima!”


“Ah, iya. Ada apa, Mbak?”


Bimantara yang sibuk melihat layar besar di depannya membuat pria itu melupakan pekerjaannya. Pemilik rumah makan yang melihat itu langsung menegur apalagi sekarang ada banyak customer yang melihat pria itu terbujur kaku di depan TV besar yang ada di sana.


“Fokus, Bima! Jangan sampai customer enggak puas sama pelayanan kamu.” Pemilik rumah makan Padang menegur Bimantara dengan suara lirih.


“I—iya, Mbak. Saya fokus. Maaf.” Bimantara yang ditegur seperti itu membuat pria itu jadi bungkam. Dia sekarang mulai melanjutkan lagi pekerjaannya. Jangan melihat ke depan, sepertinya ide yang bagus untuknya saat ini. Pria itu tidak ingin melihat kabar apa pun tentang Tsamara.


***

__ADS_1


Pesta pernikahan sudah selesai dari satu jam yang lalu. Sekarang ini dua pengantin tadi sedang membersihkan diri mereka di kamar presidential suite sebuah hotel milik Fahmi, mertua Yudhistira. Tsamara sudah lebih dulu membersihkan diri, mengguyur tubuhnya yang sintal di bawah air shower. Wanita itu sedang menggunakan skincare malam, sedangkan Yudhistira sedang mengeringkan tubuh mengenakan handuk.


Jujur saja, keduanya sedang sama-sama gugup saat ini. Tsamara sengaja memakai skincare dengan perlahan, begitupun dengan Yudhistira yang berada di kamar mandi. Mereka sudah sama-sama dewasa, tapi untuk hal ini, mereka mendadak jadi gugup dan canggung, apalagi keduanya adalah teman sejawat. Jadi, jangan heran kalau saat ini mereka sengaja untuk berlama-lama dengan kegiatan masing-masing.


“Hm, kamu lapar? Mau aku buatkan makanan?” Untuk mencairkan suasana Tsamara malah mengeluarkan kata-kata itu. Wanita itu begitu gugup sampai dia baru sadar dengan apa yang dikatakannya setelah Yudhistira menganggukkan kepala sebagai jawaban. Entah kenapa juga pria itu malah menganggukkan kepalanya, padahal dia tidak lapar sama sekali. “Ya sudah, aku mau telepon bagian dapur meminta koki menyiapkan makanan untukmu."


Tsamara berjalan melewati Yudhistira yang sudah terlihat segar karena baru keluar dari kamar mandi. Namun, saat wanita itu baru saja melewati suaminya, Yudhistira malah menarik pergelangan tangan dan menarik tubuh sintal itu ke dalam dekapan. Sang lelaki refleks melakukan itu saat sadar kalau dirinya memang benar-benar tidak lapar. Pria itu juga tahu kenapa Tsamara menanyakan hal itu tadi.


“Yu—Yudhis, aku—”


“Sst. Aku hanya ingin lihat istriku yang cantik ini dari jarak dekat." Merengkuh pinggang ramping Tsamara mendekati dadanya yang bidang. Sepasang mata sipit terus memandangi wajah Tsamara tanpa berkedip sedikit pun.


Tsamara terdiam, membiarkan Yudhistira memeluk dirinya. Dari jarak sedekat ini ia dapat merasakan bahwa jantung sang suami tengah memompa lebih kencang dari biasanya sama seperti dirinya saat ini. Suasana romantis, taburan kelopak bunga mawar di mana-mana dan lampu temaram membuat ruangan itu tampak begitu syahdu.


Perlahan, Yudhistira menggendong tubuh Tsamara dan membawa istri tercinta naik ke atas tempat tidur. Pria itu membaringkan wanitanya di sana sembari mengungkung Tsamara. Keduanya saling memandang satu sama lain. Seketika bulu kudu anak sulung keluarga Gibran meremang ditatap sedemikian lekat oleh pemilik mata sipit.


Yudhistira mulai melakukan pemanasan dengan sesekali menciumi beberapa bagian dari wajah istrinya. Dahi, hidung, pipi, dan sampai akhirnya pada bibir ranum Tsamara yang sejak dulu ingin sekali ia cicipi. Tsamara terkejut saat bibirnya dikecup oleh sang suami. Namun, ia segera mengikuti permainan Yudhistira.


"Aah." Tsamara melengkuh saat lidah Yudhistira semakin buas menjelajah isi mulutnya.


Yudhistira mengembangkan senyuman saat mendengar suara desahaan sang istri. Bagi lelaki itu, suara Tsamara seperti penyemangat dan membangkit stamina di saat letih melanda.


"Jangan ditahan, Baby," bisik Yudhistira dengan suara serak. Kabut gairah semakin menyelimuti matanya. Ia erus mencumbu sampai sang istri menjadi rileks.


“Aku turun ke bawah, ya?" tanya Yudhistira masih ragu.


Wajah Tsamara merah merona. Jantungnya pun berdetak tak beraturan, deru napas pun memburu. “Terserah kamu, Yudhis. Sekarang seluruh hidupku, termasuk tubuhku ini sudah jadi milikmu. Kamu bebas melakukan apa pun padaku.”


Mendengar lampu hijau itu membuat Yudhistira mengembangkan senyumannya. Ia mulai membangunkan Tsamara dan perlahan membuka piama yang sedang wanita itu gunakan. Tidak pendek dan tidak menerawang, tetapi berhasil membuat Yudhistira menelan salivanya susah payah saat pertama kali melihat penampakan dua pabrik kehidupan bagi calon anak-anaknya kelak.


"Sempurna," puji Yudhistira tanpa mengalihkan pandangan dari gundukan kenyal di hadapannya.


Sekarang tidak hanya Yudhistira yang menanggalkan piyama Tsamara, Tsamara pun mulai menanggalkan kaos putih yang dipakai suaminya. Perlahan tapi pasti, keduanya sekarang duduk berdua di atas tempat tidur tanpa menggunakan sehelai benang pun.

__ADS_1


“Kenapa wajahmu memerah?” tanya Yudhistira menggoda Tsamara saat melihat wajah istrinya mulai merah merona padahal ia tahu alasannya.


“Iih ... Yudhis, jangan gitu ah. Aku malu,” ujar Tsamara mengangkat tangannya dan mencubit gemas perut sixpack sang suami.


Yudhistira yang melihat itu langsung menangkap tangan sang istri. Ia kembali mendorong tubuh Tsamara sampai terlentang. Tsamara tidak membuat perlawanan saat Yudhistira mulai melanjutkan aksinya yang tadi, yaitu menciumi setiap bagian tubuhnya sampai lelaki itu sampai di bagian leher Tsamara. Yudhistira membuat beberapa tanda merah di sana sebagai tanda kepemilikan. Tidak terlalu kuat, karena tahu itu berbahaya. Yudhistira melalukannya agar Tsamara tahu kalau wanita itu sudah menjadi miliknya sekarang.


“Aku kurang berpengalaman, tolong kamu bimbing aku nanti kalau salah, ya.” Yudhistira belum tahu jika Tsamara belum pernah dijamah oleh Bimantara.


“Yudish ... ehm ... a-aku juga belum berpengalaman.” Tsamara tergagap kala mengatakan hal itu. Wanita itu mulai menutupi wajahnya menggunakan kedua telapak tangan. Yudhistira yang melihat istrinya malu-malu malah semakin bersemangat untuk menggodanya.


"Ya udah, maaf. Kalau gitu, kita belajar sama-sama."


“Hah, belajar? Kamu pikir sekolaha pakai acara belajar segala.” Tsamara cemberut. Bibir wanita itu maju beberapa centi ke depan nyaris mengejar hidungnya yang mancung.


Yudhistira terkekeh pelan. "Kalau kamu cemberut semakin menggemaskan, loh."


"Gombal." Tsamara mendorong dada Yudhistira menggunakan sebelah tangan.


Lagi dan lagi, Yudhistira meraih jemari lentik Tsamara kemudian mencium punggung tangan istrinya dengan penuh cinta. “Aku akan memulai permainan ini. Jadi, persiapkan dirimu, Tsa. Pertama kali terasa sakit, tapi seterusnya hanya kenikmatan yang kamu rasakan."


Sebelum memulai permainan inti, Yudhistira kembali menghujani seluruh tubuh Tsamara dengan ciuman. Tangan bergerilya ke mana-mana, memberi rangsangan di titik sensitif wanita itu.


Di saat Yudhistira sudah tak mampu menahan hasrat dalam diri, ia segera memposisikan diri. Menekan pinggulnya ke depan, ke tempat yang semestinya. Awalnya memang terasa sulit sebab Tsamara masih suci, segelnya belum terlepas meski ia pernah menikah sebelumnya.


Ketika Yudhistira berhasil membobol pertahanan Tsamara, ia tidak langsung memompanya melainkan menunggu hingga sang istri mampu menyesuaikan diri dengan benda asing yang baru saja singgah di inti tubuh wanita itu.


"Kita mulai, ya, Baby." Lantas, Yudhistira menghujamkan benda pusaka miliknya di inti tubuh Tsamara. Sepasang suami istri berlomba mencapai puncak kenikmatan.


Suara erangan, desahaan saling bersahutan membuat ruangan itu semakin memanas. Hingga tiba saatnya Yudhistira menumpahkan bibit unggulnya, pria itu menggeram hebat sembari menyebut nama Tsamara.


"Tsa. Aah!" pekik Yudhistira saat merasakan gelombang hebat datang menghampiri. “Aku mencintaimu, Tsamara Assyifa Airlangga,” ujar Yudhistira seraya mendaratkan ciuman di kening istrinya. Mengusap puncak kepala wanita itu, berharap Tuhan segera menitipkan malaikat kecil di rahim istrinya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2