
Kesunyian dan keheningan menjadi sambutan pertama bagi Bimantara saat dia baru saja masuk ke dalam unit apartemen miliknya. Sejenak, dia mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. Hampa! Itulah yang dirasakan oleh sang CEO. Tak ada lagi senyuman manis menyambut kedatangan pria itu kala dirinya tiba di istana megah nan mewah namun merupakan neraka bagi Tsamara.
Saat ini, Bimantara merasakan seperti ada sesuatu yang hilang dalam hidupnya. Perpisahan ini merupakan impian besar bagi pria itu tapi kenapa dia tak bahagia sama sekali? Dia malah merasakan hatinya hancur berkeping-keping dan dada pun terasa sesak.
"Mau kamu bawa ke mana foto itu?" tanya Bimantara saat melihat dua orang asisten rumah tangga menurunkan sebuah foto berukuran besar dari dalam ruang tamu.
Mendengar suara lengkingan memekakkan gendang telinga, kedua asisten rumah tangga menghentikan sejenak kegiatan mereka. Salah satu dari mereka berkata, "Kami hendak membawa foto ini ke gudang, Den Bima. Beberapa waktu lalu, Mbak Tsamara mengirimkan pesan dan meminta saya menurunkan foto pernikahan ini," tuturnya.
Bimantara melangkah mendekati kedua asisten rumah tangga itu, kemudian menatap bingkai foto besar yang tengah disandarkan ke buffet televisi. Di dalam foto itu tampak seorang gadis cantik mengenakan gaun pengantin warna broken white tengah tersenyum bahagia ke arah kamera. Sebelah tangan merangkul lengan seorang lelaki sedangkan sebelah tangan lagi diangkat ke udara, memperlihatkan cincin berlian yang berkilau terkena pantulan sinar lampu.
"Kenapa Tsamara meminta kalian menurunkan foto ini, lalu memindahkannya ke gudang?" Suara Bimantara terdengar gemetar, menahan gejolak di dalam dada.
Sontak, para asisten rumah tangga saling berpandangan satu sama lain. Alis mengerut petanda bingung. Mereka heran kenapa Bimantara bertanya sesuatu hal yang sebenarnya dia sendiri tahu jawabannya.
"Foto ini sengaja ditaruh di gudang karena Mbak Tsamara tidak mau kalau sampai Nona Emma datang berkunjung ke sini, kemudian hatinya terluka karena masih mendapati foto pernikahan Den Bima dengan Mbak Tsamara. Mbak Tsamara tidak mau jadi pemicu retaknya hubungan asmara antara Den Bima dengan Nona Emma." Asisten rumah tangga itu segera menundukan kepala usai mengucapkan kalimat tersebut.
__ADS_1
Terkesan tidak sopan namun wanita berseragam hitam dipadu apron putih melingkar di pinggang hanya ingin menyampaikan apa yang dikatakan oleh Tsamara beberapa saat lalu. Tidak ada niatan menyindir ataupun memojokan salah satu pihak, murni sebagai pembawa pesan dari mantan nyonya muda Danendra kepada tuan muda Danendra.
Tubuh Bimantara menegang sesaat setelah mendengar penjelasan dari sang asisten rumah tangga. Tidak menduga jika Tsamara begitu memikirkan hubungan antara Bimantara dengan Emma padahal saat mereka berstatuskan sebagai suami istri, sang CEO tidak sekalipun menjaga perasaan gadis itu. Dia tega mengkhianati kesucian pernikahan dengan menjalin kasih bersama wanita lain.
Tanpa terasa sudut mata Bimantara meneteskan air mata. Dada terasa sesak, napas tercekat di tenggorokan. Entah kenapa, hati kecil Bimantara mengatakan bahwa apa yang dia pilih bukanlah merupakan keputusan tepat bagi hidupnya.
Tsa, maafkan aku.
***
"Mbok, tolong bawa semua koper-koperku ke dalam kamar. Lalu, untuk barang yang ada di dalam kardus itu buang saja ke tempat sampah atau kalau perlu bakar secepatnya," titah Tsamara kepada salah satu asisten rumah tangga yang bekerja di kediaman orang tuanya.
Menghela napas dalam, kemudian mengembuskan secara perlahan. Mencoba mengumpulkan keberanian di dalam dada. "Di dalam kardus itu adalah barang yang kukumpulkan saat aku dan Kak Bima masih bersama, Ma. Ada foto kami saat bertunangan, foto pernikahan dan foto-foto yang kuambil saat kamu berbulan madu di Maldives. Mungkin menurut Kak Bima semua itu tidaklah penting tapi bagiku sangat berharga."
"Namun, karena saat ini aku telah resmi bercerai dari Kak Bima, tidak sepatutnya aku menyimpan kenangan itu semua sebab akan jadi dosa bila aku mendambakan calon suami orang. Aku tidak mau mendapat hukuman dari Tuhan karena berani menggoda calon suami orang."
__ADS_1
Sekar tampak menganggukan kepala sebagai jawabannya. Diam-diam dia memuji Tsamara yang kini terlihat lebih dewasa dalam menyikapi permasalahan yang datang menghampiri. Lantas, wanita itu memandangi para asisten rumah tangga yang masih berdiri dengan setia di hadapan mereka. "Sebaiknya kalian simpan saja dulu di dalam gudang, kumpulkan semuanya dalam satu tempat. Setelah terkumpul semua, baru dibakar."
"Baik, Bu Sekar," sahut para asisten rumah tangga hampir bersamaan.
Sekar menyentuh bahu Tsamara, kemudian mengusapnya dengan lembut. "Cuaca mulai mendung, sebaiknya kita masuk ke dalam. Papamu pasti sudah menunggu kita terlalu lama."
Tsamara berusaha amat keras untuk mengulas senyuman, menyembunyikan getir lidahnya. "Baik, Ma." Gadis itu menurut, berjalan bersisian dengan sang mama menuju sebuah rumah mewah nan megah yang sejak dulu dia tempati bersama orang tua beserta adik laki-lakinya yang kini sedang kuliah di luar negeri.
Rumah megah bergaya Eropa bukan hanya menyimpan kenangan bersama papa, mama dan adik lelaki satu-satunya melainkan juga kenangan saat bersama Bimantara. Di rumah itulah pertama kali mereka bertemu kembali setelah sang mantan suami menyesaikan studi S1-nya di London.
.
.
.
__ADS_1
Halo semua, yuk mampir ke karya teman author. Karya dan nama penanya bisa dikepoin di bawah sini ya. 👇