
"Dek, bagaimana keadaan Mama? Apa beliau membutuhkan sesuatu?" tanya Yudhistira sambil berjalan mendekati Erina yang sedang duduk di sofa. Bola mata gadis itu merah dan berair, menandakan bahwa ia baru saja menangis.
Erina menggeser tubuh, membiarkan Yudhistira duduk di sebelahnya. "Masih sama seperti tadi, Mas. Hanya saja tadi Mama sempat mencarimu, katanya ada hal penting yang ingin disampaikan," tutur gadis itu memberitahu.
Yudhistira melirik ke arah ranjang, tempat Latifah terbaring. "Emangnya hal penting apa, Dek?" tanyanya penasaran. Kedua alis lelaki itu saling tertaut satu sama lain.
Si gadis cantik berambut panjang sebahu menggendikan bahu. "Enggak tahu, Mas. Tadi Mama cuma bilang ingin bertemu dengan Mas Yudhis," jawabnya sembari mengusut sisa buliran kristal di sudut mata.
Melihat kesedihan yang mendera adik cantiknya itu, Yudhistira berinisiatif menghibur Erina. Meskipun dirinya sama rapuhnya dengan sang adik, tapi ia mencoba tegar dan bersikap tenang.
"Udah, jangan nangis lagi! Mas juga merasakan apa yang kamu rasakan. Memang sedih karena akan ditinggalkan orang tersayang, tapi cobalah mengikhlaskan semuanya dan menyiapkan diri untuk menerima semua takdir yang Tuhan berikan," ucap Yudhistira bijak.
Erina hanya mengangguk lemah sebagai jawaban.
***
Sambil menunggu Latifah yang masih tertidur lelap, Erina memutuskan pergi ke kantin guna mengisi perutnya yang terasa keroncongan sambil menghirup udara segar. Sedari tadi duduk termenung sambil menangisi nasib orang tuanya membuat perut terasa lapar. Sementara itu, Yudhistira tetap berada di ruangan, menunggu sang mama yang masih betah memejamkan mata.
__ADS_1
Bulu-bulu mata lentik bergerak perlahan, lalu kelopak mata Latifah terbuka secara perlahan. Tatkala ekor matanya yang indah terbuka sempurna, ia edarkan pandangan ke sekitar. Tersenyum samar saat netranya melihat sosok anak tercinta. Walaupun Yudhistira hanya anak angkatnya saja, tapi ia menyayangi dan mencintai dokter tampan itu seperti anak kandungnya sendiri.
"Yudhis," panggil Latifah dengan suara lirih. Selang oksigen yang menempel di lubang hidung tak membuat wanita itu kesulitan berbicara dengan Yudhistira.
Mendengar namanya dipanggil, tentu saja membuat sang empunya nama menoleh ke sumber suara. "Mama udah bangun? Butuh sesuatu?" cecar Yudhistira sembari berhambur mendekati ranjang Latifah.
Menggeleng kepala lemah. "Mama enggak butuh apa-apa. Bagaimana, apa kamu udah membaca buku diary Mama kandungmu?"
Yudhistira mendudukan bokongnya di kursi bundar terbuat dari stainless. "Udah, Ma. Di buku itu diceritakan jelas awal mula Mama Annchi pergi dari rumah sebelum akhirnya memutuskan tinggal di Indonesia. Aku tak menduga jika seandainya kehidupan Mama kandungku begitu sulit saat mengandungku dulu. Andai saja aku tahu mungkin sudah dari dulu berbakti kepadanya meski Sang Pencipta telah memanggilnya beliau."
Dada Yudhistira terasa sesak seakan ada bongkahan batu besar menimpa dirinya. Kembali teringat kisah masa lalu Annchi yang dia tuangkan ke dalam buku diary. Di buku itu diceritakan dengan jelas bagaimana menderitanya Annchi saat harus berpisah dari lelaki yang dikasihi.
Tanpa terasa buliran air mata jatuh membasahi sudut mata Latifah. Timbuh penyesalan dalam diri sebab telah menghalangi seorang anak berbakti kepada orang tuanya. Rasa sayang dan cinta terhadap Yudhistira membuat Latifah menjadi gelap mata dan menyembunyikan sebuah kebenaran yang ditutupi selama puluhan tahun. Memang terkesan egois, tapi mau bagaimana lagi, ia benar-benar takut kehilangan permata hatinya yang sangat berharga.
Yudhistira menarik kursinya hingga terdengar bunyi derit menggema memenuhi penjuru ruangan. Lantas, tangan pria itu terangkat ke atas, lalu mengusap lembut punggung tangan yang tidak tertancap jarum infus. "Mama enggak usah meminta maaf, aku bisa ngerti kok kenapa menyembunyikan kebenaran ini dari aku. Walaupun Mama dan mendiang Papa menyembunyikan jati diriku yang sebenarnya, tapi kalian tetap mengajakku mengunjungi makam Mama Annchi meski tak memberitahu makam siapa yang selalu kita kunjungi setiap hendak memasuki bulan Ramadhan dan saat hari raya. Setidaknya aku masih bisa mendo'akan Mama Annchi yang telah lebih dulu dipanggil Tuhan."
"Ma, tadi aku dengar dari Erina, katanya ada hal penting yang ingin dibicarakan. Kalau boleh tahu Memangnya mama mau bicara apa?" Yudistira mencoba mengalihkan pembicaraan dengan tujuan agar Latifah tidak terus menerus menyalahkan dirinya sendiri. Sungguh, ia tidak sanggup bila melihat mama tercinta bersedih.
__ADS_1
Latifah menoleh, memandangi lekat iris coklat Yudhistira. Kembali mengingat perkataan apa saja yang ingin disampaikan pada Yudhistira sesaat setelah berhadapan kembali dengan anak angkatnya itu.
Menarik napas panjang, kemudian mengembuskan secara perlahan. "Nak, kamu tahu 'kan usia Mama diprediksi enggak akan bertahan lama di dunia ini. Sel kanker yang dulu pernah diobati kembali muncul dan semakin mengganas. Jika Mama pergi maka akan meninggalkanmu dan juga Erina."
"Di dunia ini setelah kepergian mendiang Papa angkatmu, enggak ada lagi yang bisa Mama percaya. Semua saudara dari pihak kami enggak ada satu orang pun yang bisa dipercaya selain kamu setelah kejadian beberapa waktu lalu. Kepercayaan Mama terhadap mereka secara perlahan luntur saat mendapati kebohongan yang dilakukan oleh keluarga kami sendiri. Untuk itulah, Mama berniat menitipkan Erina kepadamu. Tolong jaga dan lindungi dia seperti adikmu sendiri," sambung Latifah dengan tatapan mata memelas. "Mama enggak tahu akan menitipkan kepada siapa lagi kalau bukan ke kamu, Nak. Di dunia ini cuma kamu yang Mama percaya."
Gulungan senyuman muncul di wajah sendu Yudhistira. Ia gigit bibir bagian bawah, menahan gemuruh di dalam dada. "Mama enggak usah khawatir, aku pasti menjaga dan melindungi Erina seperti dulu sebelum aku tahu jati diriku yang sebenarnya."
Kali ini tangan Yudhistira mengusap pelan puncak kepala Latifah. "Mama enggak usah memikirkan apa pun, cukup fokus kepada kesehatan. Mengerti?"
Dengan tangan gemetar dan tetesan air mata yang mulai membasahi pipi lagi, Latifah mengangkat tangan ke udara, menangkup wajah anak kesayangan. "Terima kasih sudah bersedia menuruti permintaan Mama yang terakhir. Mamamu pasti bangga karena telah melahirkan anak sebaik dan penurut sepertimu. Terima kasih, Nak."
Tanpa banyak cakap, Yudhistira memeluk Latifah dengan begitu erat. "Enggak perlu mengucapkan terima kasih, Ma. Ini udah menjadi kewajibanku sebagai seorang anak untuk melindungi keluarganya."
.
.
__ADS_1
.