Painfull Love (Cinta Yang Menyakitkan)

Painfull Love (Cinta Yang Menyakitkan)
Karena Aku Juga Mencintaimu


__ADS_3

“Kamu harus bisa buktikan pada kami, kalau kamu memang tulus mencintai Tsamara. Papanya Tsamara bukannya menolak, dia hanya ingin Tsamara jatuh ke tangan pria yang tepat. Kami tidak mau, Tsamara menderita lagi.” Mamanya Tsamara pun menimpali.


"Kamu pasti sudah tahu, 'kan, tentang masa lalu Tsamara? Untuk itu Papanya tidak mau kejadian dulu terulang lagi. Kami tidak mau gegabah, memberikan putri sulung keluarga Gibran kepada lelaki sembarangan. Tante harap kamu mengerti," sambung Sekar.


“Iya, Tante, aku bisa maklum. Terima kasih karena Tante sudah mau menyambut saya dengan baik,” ucap Yudhistira.


"Ya sudah, kalau begitu Tante tinggal dulu. Kalian lanjut aja ngobrolnya." Kemudian, Sekar meninggalkan Yudhistira berdua dengan Tsamara.


“Yudhis kamu harus bisa buktikan kepada Papa dan Mama kalau kamu memang tulus mencintaiku,” ucap Tsamara sambil tersenyum.


“Kamu ngedukung aku?” tanya Yudhistira menatap Tsamara dengan dalam.


“Iya, Yudhis karena aku juga mencintaimu. Aku yakin kamu tidak akan seperti mantan suamiku. Aku percaya padamu. Karena itu jangan kecewakan aku, ya?” ucap Tsamara sambil tersenyum.


Mendengar jawaban Tsamara, tentu saja Yudhistira bahagia. Maka, dia pun bertekad untuk membuktikan bahwa dia benar-benar tulus dan tidak akan pernah membuat Tsamara kecewa. Dia harus memperjuangkan cintanya seperti saran dari Latifah.


***


Beberapa bulan kemudian, di kediaman Bimantara, Emma uring-uringan. Dia pikir setelah menikah dengan Bimantara hidupnya akan bahagia dan bergelimang harta. Nyatanya dia benar-benar sengsara. Apalagi setelah uang tabungan untuk merintis usaha dibawa kabur oleh Leo, teman Bimantara. Kehidupan rumah tangga Emma dan Bimantara hanya dipenuhi pertengkaran.


“Aku bisa-bisa stress kalau terus-terusan hidup miskin dengan Bimantara. Sial!” Emma marah-marah sendiri tak jelas.


Kemudian, dia pun menghubungi Bimantara yang sedang bekerja. Namun, Emma tak tahu suaminya sekarang bekerja di mana, dia tak peduli akan hal itu. Emma hanya peduli Bimantara pulang membawa uang.


“Halo, ada apa kamu telepon aku? Aku lagi kerja!” Suara Bimantara terdengar kesal.


“Kenapa kamu nggak pulang selama beberapa bulan ini?” tanya Emma ketus. Wanita itu tidak pernah berkata lemah lembut semenjak kemiskinan datang menghampiri suaminya.


“Memangnya apa pedulimu? Di rumah aku sumpek, tiap hari bertengkar mulu denganmu.”


Bimantara memang sudah beberapa bulan ini tidak pulang ke rumah karena dia malas bertemu dengan Emma. Dia malas terus bertengkar dengan istrinya itu.


“Aku nggak peduli kamu mau pulang apa nggak, aku hanya butuh uang untuk shopping. Pokoknya kamu harus kasih aku uang sekarang juga!” sentak Emma.

__ADS_1


“Kamu gila ya? Kamu harusnya tahu kondisi aku sekarang ini seperti apa. Bukannya malah menuntut ini itu! Kamu bisa nggak seperti—”


“Seperti Tsamara, mantan istri kamu yang bodoh itu! Jangan pernah samakan aku dengan dia. Jelas berbeda!” Emma tak terima karena disamakan dengan Tsamara.


“Iya, memang berbeda. Tsamara begitu pengertian dan tulus, bodohnya aku dulu yang lebih memilih meninggalkan Tsamara demi kamu.” Ucapan Bimantara terdengar penuh penyesalan.


Mendengar perkataan Bimantara, Emma benar-benar kesal. Dia pun langsung mematikan teleponnya dan membanting HP-nya ke kasur.


“Kurang ajar kamu Bimantara! Sialan!” teriak Emma.


Napas Emma memburu, tangannya mengepal. Dia terlihat begitu marah, seperti ingin menghancurkan apa saja yang ada di kamarnya ini. Namun, tiba-tiba matanya berbinar, dia seperti memiliki ide yang cemerlang. Lalu, Emma membuka laci meja tempatnya menyimpan barang-barang berharga. Wanita itu seperti mencari sesuatu. Setelah mendapat apa yang diinginkan dia tersenyum puas.


“Untungnya surat rumah ini aku yang simpan, jadi aku bisa menjual rumah ini dan pergi dari rumah ini secepatnya.” Emma tersenyum puas dan mencium surat rumah yang ditempati ini.


Dia tak lagi peduli dengan Bimantara nantinya akan tinggal di mana, yang penting dia bisa bebas dari kehidupan yang sengsara, itu yang ada di pikiran Emma. Setelah itu, Emma segera memasukkan baju-bajunya ke dalam koper, sedangkan barang-barang Bimantara dibiarkan begitu saja. Dia akan segera pergi dari rumah ini dan menjualnya secepatnya.


Emma pun menghubungi orang yang akan membeli rumahnya, karena memang sudah beberapa hari yang lalu Emma memasang iklan untuk menjual rumahnya. Tentu saja sudah ada yang mau membeli.


“Halo, Bu, apa jadi akan membeli rumah saya?” tanya Emma.


“Baik, Bu, ini barang-barang saya sudah saya bereskan. Bisa datang sekarang juga?” tanya Emma.


“Iya, saya segera ke sana,” sahut orang di seberang.


Setelah itu, Emma mematikan teleponnya. Dia menunggu orang yang akan membeli rumahnya datang.


Setelah sekitar tiga puluh menit orang yang ditunggu pun datang. Mereka langsung bertransaksi dan setelah mendapat harga yang pas orang itu segera membayarnya secara tunai. Emma tidak mau dibayar secara transfer karena rekening yang dipunya rekening milik bersama dengan Bimantara. Emma tak mau Bimantara mengetahui kalau rumah ini dijual.


Setelah penjualan rumah selesai, maka Emma segera keluar dari rumah. Taksi yang dipesan pun sudah datang. Emma segera meminta sopir taksi untuk mengantarkan ke ATM. Sesampai di ATM Emma, segera menarik semua uang tabungan yang ada di rekening bersama. Setelah itu, Emma akan pergi sejauh-jauhnya dari kehidupan Bimantara. Dia ingin hidup kaya raya dan bahagia bukan sengsara dan miskin seperti sekarang ini.


Emma sudah tenang sekarang karena di tangannya dia sudah memegang banyak uang. Hidup Emma bisa bahagia asal ada uang.


Sementara itu, di tempat lain Bimantara memutuskan untuk pulang karena dia merasa tak enak jika terus-menerus menghindar dari Emma. Dia kasihan juga pada Emma, apalagi Emma istrinya. Dia juga harus berusaha membahagiakan Emma. Maka, setelah selesai bekerja dia pun pulang. Namun, betapa terkejutnya Bimantara saat sampai, dia melihat barang-barangnya dilempar keluar oleh orang.

__ADS_1


“Maaf, Bu, kenapa barang saya dibuang?” tanya Bimantara yang tidak tahu ada apa.


“Terserah saya, rumah ini sekarang milik saya. Saya sudah membelinya.” Orang itu berkata sambil terus melempar barang milik Bimantara.


Bimantara kaget mendengar perkataan orang itu. “Rumah ini dijual ke Ibu?”


“Iya,” jawabnya sambil berlalu masuk rumah dan menutup pintunya dengan keras.


Bimantara tentu saja kaget, karena Emma tidak membicarakan hal ini sebelumnya. Bimantara pun membereskan barang-barangnya yang dibuang, setelah itu dia pergi meninggalkan rumah itu. Entah akan pergi ke mana dia sekarang. Bimantara benar-benar tak menyangka kalau Emma akan tega seperti ini.


“Emma, kenapa kamu tega sekali? Kamu menjual rumah tanpa sepengetahuanku.” Bimantara bermonolog.


Sementara di tempat lain, kehidupan Tsamara semakin baik. Tsamara menerima cinta Yudhistira, meskipun mereka masih belum mendapat restu dari Fahmi. Namun, Yudhistira tidak putus asa. Dia akan membuktikan pada semuanya kalau Yudhistira pantas untuk Tsamara.


Setiap hari, Tsamara selalu diantar jemput oleh Yudhistira, meskipun terkadang tidak mendapat jam tugas yang sama. Namun, Yudhistira selalu menyempatkan waktu untuk antar jemput Tsamara. Seperti hari ini, Tsamara mendapat shif pagi dari pukul 07.00-14.00, sementara Yudhistira shif dari pukul 20.00-07.00. Sepulang dari IGD, Yudhistira langsung menuju rumah Tsamara, untuk mengantar Tsamara ke IGD.


“Selamat pagi, Nona cantik,” ucap Yudhistira saat Tsamara keluar.


“Yudhis, kamu habis jaga di IGD langsung ke sini?” tanya Tsamara.


“Iya, dong, kan, langsung mau antar kamu.” Yudhistira tersenyum.


“Kalau saja bisa, kita minta waktu jaga di jam sama aja.” Tsamara memberi usul.


“Nggak usah, gini aja nggak apa-apa.”


“Tapi, aku kasihan sama kamu, harusnya sekarang kamu pulang, terus istirahat. Eh, malah ke sini dulu,” ucap Tsamara.


“Nggak apa-apa demi kamu. Aku hanya ingin memastikan kamu selamat sampai ke tempat kerja.” Yudhistira tersenyum. “Kamu yang terpenting buatku, Tsamara,” lanjut Yudhistira.


Tsamara terharu mendengar penuturan Yudhistira. Dia berharap Fahmi, papanya, segera merestui hubungan mereka.


Tanpa, Yudhistira dan Tsamara ketahui, ternyata Fahmi mengintip mereka dari balik jendela yang ditutupi tirai. Fahmi tahu jika Yudhistira selalu mengantar jemput Tsamara, tetapi dia pura-pura tidak tahu. Fahmi memang hanya ingin melihat bagaimana Yudhistira memperlakukan Tsamara. Semua demi kebaikan putri sulungnya itu.

__ADS_1


...***...


__ADS_2