
Dua puluh sembilan tahun lalu, di sebuah negara yang terletak di ujung selatan Semenanjung Malaka, tampak seorang wanita muda baru saja tiba di rumah megah nan mewah. Mengusap perut dengan sangat lembut seakan takut melukai janin dalam kandungan. Ya, saat itu wanita cantik berkulit putih bagai porselen tengah mengandung seorang janin berusia empat minggu.
"Sayang, Mama bahagia sekali akhirnya kamu hadir ke dunia ini melengkapi kebahagiaan kami. Mama tak menyangka jika Tuhan segera menitipkanmu ke perut Mama setelah menanti selama tiga bulan," tutur Annchi, bola mata wanita itu memancarkan kebahagiaan sebab setelab sekian lama akhirnya Tuhan mengabulkan semua do'anya.
Wanita berambut panjang sebahu segera mempercepat langkah saat melihat pintu rumah dua lantai terbuka lebar. Di depan pintu masuk terdapat satu unit kendaraan roda empat yang diyakini milik kedua mertuanya.
"Aku yakin, Papa dan Mama pasti bahagia setelah mendengar kabar ini. Bukankah selama tiga bulan mereka selalu mendesakku dan Fengying untuk segera mempunyai momongan!" ucap Annchi lirih.
Sementara itu, kedua orang tua Fengying terus mendesak anak semata wayang untuk menikahi Renata, gadis berhati malaikat yang dianggap lebih pantas menjadi bagian keluarga mereka. "Pokoknya Mama tidak mau tahu, kamu harus secepatnya menceraikan Annchi dan menikah dengan Renata. Istrimu itu tidak pantas mendampingimu terlebih dia sampai sekarang belum juga memberi keturunan kepada keluarga kita. Mama malu, setiap kali kumpul keluarga mereka selalu menanyakan hal yang sama. Jadi, kamu punya alasan untuk menceraikan wanita itu."
"Tapi, Ma, aku tidak mencintai Renata. Wanita yang kucintai adalah Annchi, bukan yang lain," kekeuh Fengying pada pendiriannya.
Ibu kandung Fengying menggebrak meja hingga menimbulkan suara nyaring menggema memenuhi ruangan. "Fengying, jangan membantah perkataan Mama! Jika tidak mau seluruh fasilitas mewah serta perusahaan yang kamu pimpin, Mama tarik kembali," ancam wanita itu dengan sorot mata tajam.
"Ma, aku ...."
Belum selesai Fengying berbicara, suara merdu seorang wanita menginterupsi perdebatan antara keduanya.
"Aku pulang!" seru Annchi dengan wajah sumringah.
Sontak, semua orang yang ada di ruangan itu segera menoleh ke sumber suara. Senyuman smirk terlukis di wajah mertua Annchi. "Bagus sekali karena sudah datang. Duduklah, ada hal yang ingin disampaikan Fengying kepadamu!"
Annchi tampak kebingungan. Kedua alis saling tertaut satu sama lain. Pandangan mata wanita itu menatap sang mertua dan suaminya secara bergantian. Namun, ia tetap menuruti permintaan ibu mertuanya itu.
__ADS_1
"Memangnya ada apa, kenapa suasana di sini begitu tegang?" tanya Annchi penasaran. Telapak tangan wanita itu saling meremas satu sama lain. Entah kenapa, ia seperti merasa akan ada badai besar menghadang di depan sana. Akan tetapi, ia mencoba mengenyahkan pikiran negatif itu dari pikirannya.
"Ehm ... sebenarnya, a-aku--"
"Fengying, cepat katakan!" ujar mertua Annchi.
Fengying menatap sendu pada sosok wanita yang ia cintai. Sebelum berkata, ia lebih dulu menarik napas dalam guna mengumpulkan keberanian dalam dada. "Annchi, mulai detik ini aku talak kamu!" ucap pria itu dengan kelopak mata tertutup. Kedua tangan mengepal di samping kanan dan kiri. Ada rasa sakit menyelinap di hati saat mengucapkan kalimat tersebut.
Sejujurnya, Fengying berat melepaskan Annchi, cinta pertama dan kekasih pertamanya itu. Namun, ia tak punya pilihan lain selain menceraikan wanita di seberang sana. Ia tak mau hidup miskin tanpa mendapat sokongan dan segala macam fasilitas mewah dari kedua orang tuanya.
***
Kembali ke masa kini, tampak Yudhistira tengah berada di dalam pesawat yang mengudara di atas langit. Pria itu duduk di dekat jendela, memandangi putihnya awan dan birunya langit dari dalam burung besar terbuat dari besi.
Hanya membutuhkan waktu kurang lebih satu jam lamanya, akhirnya pesawat mendarat sempurna di bandara Yogyakarta International Airport. Yudhistira bergegas turun setelah pesawat itu benar-benar berhenti dan lampu sabuk pengaman telah dipadamkan. Dua orang pramugari wanita berdiri di samping kanan kiri di depan pintu pesawat.
"Terima kasih atas kepercayaan Bapak dan Ibu pada maskapai kami. Sampai jumpa di lain kesempatan," ucap salah satu dari mereka. Seulas senyuman terlukis di sudut bibir.
Yudhistira hanya mengangguk pelan sebagai jawaban. Bukannya tidak mau membalas perkataan mereka hanya saja saat ini ia sedang dalam keadaan cemas dan ingin secepatnya menemui Latifah, di rumah sakit.
"Sus, ruangan atas nama Bu Latifah, di mana?" tanya Yudhistira pada salah satu petugas yang bekerja di balik meja resepsionis.
Jemari lentik salah satu petugas resepsionis mulai mengetikkan nama yang disebutkan Yudhistira. Tak kurang dari lima menit, wanita berseragam batik menjawab, "Di ruangan Cempaka. Ruangan tersebut berada di lantai dua, keluar dari lift belok kanan."
__ADS_1
"Terima kasih!" Yudhistira berseru dan langsung berlari ke arah yang ditunjukan kepadanya.
Akan tetapi, saat melihat pintu lift itu masih bergerak ke atas, Yudhistira memutuskan memutar haluan. Ia mencari tangga darurat yang akan membawanya ke lantai dua. Berlari dengan cepat seakan tengah diburu waktu. Napas tersengal dan paru-paru seakan mau meledak, tapi itu semua tidak memadamkan keinginan Yudhistira untuk bertemu mama tercinta.
Tatkala pintu tangga darurat terbuka, pandangan mata pria itu langsung tertuju pada sosok gadis cantik jelita yang tengah duduk di kursi tunggu. Lantas, ia menghampiri Erina dan berdiri di hadapannya. "Dek, bagaimana keadaan Mama?" tanyanya lirih bahkan nyaris tak terdengar. Hati bagai diremat oleh tangan tak kasat mata saat melihat sendiri awan kelabu bersarang di wajah Erina, adik kesayangannya.
Alih-alih menjawab pertanyaan sang kakak, tubuh Erina gemetar hebat. Kedua pundak bergerak turun dan naik disertai isak tangis menyayat kalbu. Walaupun tak melihat pria di depannya, tapi ia yakin kalau lelaki itu adalah Yudhistira.
"Kata dokter, kita enggak punya harapan lagi, Mas. Sel kanker itu terus menjalar ke seluruh tubuh. Melakukan kemoterai ataupun obat-obatan enggak akan berhasil, menghentikan perkembangan sel kanker tersebut. Kita cuma diminta pasrah dan menunggu kapan waktunya tiba," jawab Erina di tengah suara isak tangisnya. Air mata jatuh berderai di kedua pipi.
Yudhistira menarik napas panjang seraya memejamkan mata. Sebagai seorang dokter, tentu saja dia dapat memprediksi kejadian ini akan terjadi menimpa Latifah, tapi ia tak menduga perkembangan sel kanker itu begitu cepat hingga harapan untuk sembuh tak ada lagi.
"Mas mengerti kesedihanmu, Dek. Namun, saat ini bukan waktunya kita merenungi nasib malang yang menimpa Mama. Sekarang yang harus kita lakukan bagaimana caranya memberikan dukungan kepada Mama untuk terus berjuang walau semua dokter sudah angkat tangan. Dokter Ilham dan tim hanyalah manusia biasa, mereka boleh saja mengatakan lama hidup Mama di dunia ini hanya tiga bulan ataupun satu tahun, tapi kita tidak pernah tahu akan kehendak Tuhan."
"Ya, siapa tahu Tuhan malah memberikan umur panjang pada Mama." Yudhistira mengusap lembut puncak kepala Erina. "Udah ya, jangan nangis lagi. Sebaiknya kita masuk ke dalam, Mama pasti khawatir saat bangun enggak lihat kamu ada di dalam sana."
Tanpa membantah, Erina menuruti perkataan Yudhistira. Ia mengangguk lemah sambil mengekori sang kakak di belakang.
.
.
.
__ADS_1
Halo semua, untuk part ini aku menggunakan alur maju mundur. Ada flashback beberapa tahun lalu. Semoga kalian enggak bingung bacanya.