Painfull Love (Cinta Yang Menyakitkan)

Painfull Love (Cinta Yang Menyakitkan)
Beri Aku Waktu


__ADS_3

"Papa jangan bercanda! Atas dasar apa Papa menarik kembali tongkat kepemimpinan yang telah aku pegang selama lima tahun ini!" seru Bimantara sembari bangkit dari sofa. Mantan suami Tsamara mengepalkan tangannya dengan kuat, berusaha keras untuk mengendalikan diri berhadapan dengan Irawan yang terkadang membuat emosinya mencapai ubun-ubun.


Dengan santainya Irawan menjawab, "Karena Papa rasa kamu sudah tidak layak menjadi pemimpin perusahaan. Buktinya memimpin rumah tanggamu saja gagal bagaimana bisa mengurusi ratusan karyawan perusahaan, bisa-bisa usahaku hancur kalau terus menerus dipimpin olehmu," skak pria paruh baya itu hingga membuat Bimantara bungkam seketika.


"Perusahaan yang kamu pimpin merupakan warisan turun temurun dari keluargaku. Kakek moyangku membangun perusahaan itu dengan susah payah, banyak keringat dan air mata untuk membangun hingga berjaya seperti sekarang. Lalu dengan seenaknya saja kamu menghancurkan itu semua? Ooh ... aku tidak akan membiarkan itu semua terjadi, Bima!" sambung pria itu seraya menggerakan jari telunjuknya ke hadapan Bimantara. "Daripada kamu menghancurkannya lebih baik aku ambil kembali apa yang menjadi hakku!"


Bimantara terdiam beberapa saat mendengar ucapan Irawan. Sungguh, dia tidak menduga jika sang papa tega merebut kembali apa yang ada di tangannya saat ini. Dia pikir, tongkat kepemimpinan yang telah diberikan akan terus berada dalam genggaman tapi buktinya itu semua hanya bersifat sementara.


"Kalau kepemimpinan diambil kembali oleh Papa, lalu siapa yang akan mengurusi perusahaan?" tanya Bimantara.


Irawan Danendra tersenyum sinis. "Ada banyak orang baik dan setia untuk bisa kupercaya mengurusi perusahaan bukan cuma kamu saja, Bima! Jadi, aku tidak perlu khawatir mengambil kembali tongkat kepemimpinan yang telah kuberi kepadamu."


"Tapi, Pa--"


Belum selesai Bimantara berbicara, telapak tangan Irawan sudah lebih duli terangkat ke udara.


"Tidak ada tapi! Keputusanku sudah bulat, Bima. Jabatan CEO yang kamu miliki saat ini, aku cabut. Besok, saat pertemuan dengan para pemegang saham aku akan mengumumkan di hadapan semua orang. Jadi, kuminta, besok datanglah ke perusahaan."


Irawan bangkit dari sofa, kemudian mengayunkan kaki menuju daun pintu. Akan tetapi, dia teringat sesuatu. "Aku pun akan mendepak kekasih gelapmu keluar dari perusahaan. Perusahaan Danendra Grup bukan tempat mesum bagi para pezina seperti kalian berdua!" Pria paruh baya dengan rambut mulai ditumbuhi warna keperakan berlalu begitu saja tanpa memedulikan perasaan sang anak. Mau sang CEO tersinggung ataupun tidak, bukan urusannya.


Beberapa saat setelah Irawan meninggalkan unit apartemen milik sang putera, Bimantara segera meraih vas bunga yang ada di atas meja bundar dan membantingnya. Benda berbahan kaca itu pecah berserakan di atas lantai namun tak juga mampu meredakan emosi dalam diri pria itu. Lantas, dia meraih bantal sofa serta asbak dan tanpa pikir panjang kembali membanting semua benda tersebut.

__ADS_1


"Berensek! Sialan!" umpat Bimantara kasar.


Setelahnya Bimantara meluruhkan tubuh di sofa, kemudian mengusap wajah dan menyugar rambut dengan frustasi. "Kenapa kemalangan menimpaku?" gumam pria itu lirih. "Kalau sampai jabatanku dicabut Papa, bagaimana aku bisa menafkahi Emma dan anak kami, sedangkan kekasihku pun akan dipecat dari perusahaan."


Untuk beberapa saat terjadi keheningan mengambang di udara. Apartemen besar nan mewah yang menjadi tempat tinggalnya bersama Tsamara selama hampir tiga bulan terasa begitu dingin dan sepi. Hanya ada dia dan beberapa asisten rumah tangga saja yang menempati.


Lalu, sekelebat bayangan sosok perempuan bermata almond muncul dalam benak Bimantara. Senyuman manis penuh keteduhan menari indah di pelupuk mata. Tangan terangkat ke udara, hendak meraih wajah cantik jelita akan tetapi bayangan itu sirna seperti tertiup angin.


"Tsamara," ucap Bimantara. Tanpa disadar buliran kristal putih meluncur di sudut mata lelaki itu.


***


"Bima, kenapa kamu enggak bilang sama aku kalau hari ini masuk kerja? Kalau aku tahu, pasti kubuatkan bekal makan siang untuk kita," ucap Emma saat mereka berpapasan di lobi kantor. Beruntungnya saat itu suasana masih sepi hingga interaksi antara mereka tak ada yang memperhatikan.


Bimantara menarik tangan Emma, menjauhi pintu masuk kantor menuju lorong sepi. Bukan tanpa alasan dia melakukan itu, mantan kekasih Tsamara masih belum ingin semua orang tahu alasan dibalik perceraiannya dengan dokter cantik akibat kehadiran orang ketiga.


"Bima! Kamu ini apa-apaan sih? Kenapa kamu menarik tangan, kemudian menyeretku dengan kasar?" teriak Emma kesal setengah mati. Wanita itu sampai menepiskan tangan kekar sang kekasih dengan kasar.


"Aku cuma enggak mau orang lain berpikiran macam-macam tentang kita, Emma. Masih terlalu dini untuk mempublikasikan ke semua orang kalau kamu adalah kekasihmu," kata Bimantara memberi penjelasan kepada Emma. Dia tidak mau sang kekasih berpikiran negatif dan membuat janin dalam kandungan wanita itu ikut terkena imbasnya.


"Loh, memangnya kenapa kalau mereka tahu? Bukankah itu bagus bagi hubungan kita, Bim?" ujar Emma. "Atau ... kamu memang enggak mau semua orang tahu kalau aku adalah kekasihmu. Wanita yang sedang mengandung anakmu, heh?"

__ADS_1


Emma benar-benar jengkel akan sikap Bimantara yang seakan ingin terus menutupi hubungan mereka.


"Jangan berpikir sembarangan! Aku ... aku cuma butuh waktu untuk memberitahu ke semua orang tentang hubungan kita. Baru beberapa hari lalu aku bercerai, tidak elok rasanya bila aku umumkan kalau kita adalah pasangan. Mereka pasti berpikir kalau gosip yang beredar tentang kehadiran orang ketiga adalah benar. Aku enggak mau kamu mereka menghinamu. Itu saja."


Emma mendengkus kesal. "Bohong! Kamu cuma mau lepas dari tanggung jawabkan setelah mendapat apa yang diinginkan. Iya, 'kan?"


"Kamu ...."


"Cukup Emma!" sergah Bimantara frustasi. Kepala pria itu cenat cenut rasanya mau pecah. Belum selesai masalah dengan Irawan kini masalah baru datang menghampiri. Semua masalah yang terjadi akhir-akhir ini membuat pria itu semakin pusing. "Terserah kamu mau percaya atau tidak, pokoknya aku sudah mengatakan yang sejujurnya."


Tidak mau masalah semakin lebar, Bimantara bergegas meninggalkan Emma seorang diri yang mana sikap pria itu membuat sang sekretaris mendengkus kesal. Kedua tangan mengepal di samping badan, menatap tajam kepada sosok lelaki yang berjalan membelakanginya. Perlahan, sosok itu semakin menghilang dari pandangan.


"Aargh! Sialan!" jerit Emma tertahan. "Berengsek!" menghentakkan kaki, lalu menuju toilet yang ada di ujung lorong. Membasuh wajah dengan air mengalir bukanlah ide buruk. Siapa tahu, setelah itu emosi dalam diri meredam dan kepala menjadi dingin kembali.


.


.


.


__ADS_1


__ADS_2