Painfull Love (Cinta Yang Menyakitkan)

Painfull Love (Cinta Yang Menyakitkan)
Please, Trust Me!


__ADS_3

Tanpa terasa sudah lima hari berlalu semenjak kedatangan Tsamara serta Bimantara di pulau Maldives untuk berbulan madu. Selama berada di sana, Bimantara tidak pernah sekalipun menunaikan kewajibannya sebagai seorang suami, memberikan nafkah batin bagi sang istri. Pria itu lebih memilih menghabiskan waktu bersama Emma dengan alasan sibuk mengurusi urusan pekerjaan. Sempat terbesit rasa curiga, tetapi Tsamara mencoba mengenyahkan pikiran itu sebab dia yakin bahwa Bimantara adalah suami setia.


"Kak, mulai hari ini kita akan tinggal di mana? Rumahmu atau apartemen yang diberikan Papa sebagai kado pernikahan kita?" tanya Tsamara saat mereka berada di dalam mobil. Kendaraan roda empat berharga fantastik melaju tenang di jalanan Kota Jakarta.


Bimantara melirik sekilas, kemudian kembali menatap lurus ke depan. "Kita akan tinggal di apartemen yang baru kubeli beberapa hari lalu. Lokasinya cukup strategis dekat dengan mall, restoran dan rumah sakit tempatmu bekerja. Jadi, saat merasa kesepian karena aku sibuk bekerja kamu bisa pergi ke mall atau rumah sakit, menemui teman sejawatmu."


Tsamara menghela napas panjang. Hampir setiap saat lisan Bimantara membicarakan masalah pekerjaan seakan di dunia ini tidak ada lagi yang harus dibicarakan selain urusan pekerjaan. Padahal masih banyak topik pembicaraan yang bisa didiskusikan oleh pasangan suami istri itu. Seperti, langkah apa yang bisa dikerjakan agar hubungan mereka tidak jalan ditempat.


Mobil yang dilajukan oleh sopir pribadi Bimantara mulai memasuki pekarangan sebuah gedung apartemen mewah di kota Jakarta. Sang CEO sengaja membeli apartemen baru untuk ditinggali olehnya beserta Tsamara meski Fahmi menghadiahkan unit apartemen tak kalah mewah dari yang dibeli oleh penerus Danendra Grup.


"Den Bima, ini kunci mobil milik Aden. Kalau Den Bima maupun Mbak Tsamara ingin pergi ke suatu tempat, Bapak siap mengantar kalian ke mana pun dan kapan pun. Telepon Bapak aktif 24 jam," kata sopir pribadi keluarga Danendra yang bernama Udin.


Bimantara meraih kunci mobil miliknya dari tangan pak Udin sambil berkata, "Baik. Bapak boleh pulang sekarang. Terima kasih sudah mengantar kami."


Tanpa menunggu komando untuk kedua kali, pak Udin bergegas undur diri meninggalkan gedung apartemen yang ditinggali oleh Bimantara dan Tsamara.

__ADS_1


"Ikutlah denganku. Akan kutunjukan tempat tinggalmu yang baru. Semoga saja tempat ini cocok dan kamu merasa nyaman berada di lingkungan baru." Bimantara menekan tombol lift yang akan membawanya menuju lantai di mana dia dan Tsamara tinggal.


Mendengar perkataan Bimantara, senyum mengembang di sudut bibir Tsamara. Gadis itu tersenyum lebar dengan wajah sumringah. Lantas, dia sedikit berjinjit kemudian mendaratkan sebuah ciuman penuh cinta di pipi sang suami. "Di mana pun tempat tinggalnya aku pasti merasa nyaman asalkan kita selalu bersama selamanya. I love you, Suamiku."


Tubuh Bimantara sedikit menegang ketika hangatnya bibir Tsamara mendarat di permukaan pipi. Embusan napas gadis itu menerpa wajah membuat bulu kudu meremang seketika. Aroma parfum yang menjadi ciri khas gadis itu menguar ke udara, memanjakan indera penciuman sang lelaki. Tanpa sadar, dia memejamkan mata membayangkan suatu hal nakal hingga membangkitkan jiwa kelelakiannya.


Ketika lift berdenting dan terbuka, kesadaran Bimantara kembali. Menggelengkan kepala kencang, mencoba menyingkirkan pikiran kotor yang sempat terlintas di benaknya selama beberapa saat. Dasar bodoh!Kenapa aku bisa membayangkan hal itu! Padahal jelas-jelas aku tidak pernah mencintai Tsamara. Lantas, kenapa sekarang aku malah membayangkan kami tengah bergulat di atas ranjang, bermandikan peluh sambil memberikan kehangatan satu sama lain. Benar-benar gila! Pria itu merutuki kebodohannya karena sempat membayangkan adegan panas bersama sang istri.


***


"Iya, Sayang. Aku tahu. Sudah ya, jangan lagi membahas soal yang sama. Aku, 'kan sudah pernah berjanji kepadamu tidak akan menyentuh Tsamara meski tubuhnya tak mengenakan sehelai kain pun. Wanita yang aku jamah hanya kamu seorang. Sungguh. Jadi, please, jangan curiga lagi kepadaku!"


Di seberang sana Emma menangis sesegukan di kamar apartemen miliknya. Wanita itu mencemaskan nasib hubungannya dengan sang kekasih yang baru dirajut kembali setelah lima tahun berpisah. Dia takut kalau lelaki yang telah menyentuh tubuhnya untuk pertama kali akan membuangnya begitu saja setelah mendapatkan apa yang diinginkan.


Bimantara terdiam beberapa saat. Sangat memaklumi ketakutan yang tengah melanda kekasih pujaan hati. "Sayang, aku berjanji padamu. Apa pun yang terjadi cintaku kepadamu tidak akan pernah goyah. Meskipun kedua orang tuaku melarang, seisi dunia menghinaku tetapi aku tetap milikmu seorang. Please, trust me!" kata pria itu bersungguh-sungguh. Tidak tahu harus dengan kata apa lagi untuk meyakinkan Emma agar wanita itu percaya bahwa dia bersungguh-sungguh mencintai kekasihnya. Tak ada wanita lain dihatinya selain Emma Veronika.

__ADS_1


Emma mengusut butiran kristal yang sedari tadi terus meluncur di sudut mata. Kemudian memejamkan mata sejenak guna menetralkan kembali perasaannya. "Baiklah, aku percaya padamu, Bima. Tapi, please, jangan khianati kepercayaanku! Ini terakhir kalinya aku memberimu kesempatan. Bila di kemudian hari kamu kedapatan mengkhianati kesucian cinta kita maka selamanya kamu tidak akan pernah bertemu denganku lagi. Camkan itu, Bima!" ancam wanita itu.


Senyuman samar di wajah Bimantara terlukis mendengar ancaman Emma. Bagaimana mungkin pria itu mengkhianati sang kekasih sementara dia telah jatuh melabuhkan hatinya hanya untuk wanita itu seorang. Sejak dulu hingga sekarang Emma adalah pemilik hati daei seorang Bimantara Dandendra.


"Sudah. Sudah. Lebih baik kamu tidur sekarang. Kamu pasti lelah setelah tujuh jam lamanya berada di pesawat. Besok pagi aku tunggu kamu di kantor. Siapkan CV serta keperluan lain untuk melamar pekerjaan. Aku telah menyiapkan posisi yang tepat untukmu di perusahaan," kata Bimantara.


Raut wajah sendu berubah sumringah kala mendengar perkataan Bimantara. Hati berbunga-bunga sebab dia akan sering bertemu dengan kekasih pujaan hati. "Oke! Besok pagi aku datang ke perusahaanmu. Terima kasih sudah memberiku pekerjaan, Sayang. I love you."


"I love you too," balas Bimantara seraya mengakhiri sambungan telepon.


Setelah puas berbincang bersama kekasih tercinta di balkon apartemen, Bimantara memutuskan masuk ke dalam ruangan. Suasana apartemen cukup sepi sebab semua orang telah beristirahat di kamar masing-masing. Mengayunkan kaki menuju sebuah kamar tamu di sebelah kamar utama. Akan tetapi, langkah kaki terhenti kala sepasang mata menangkap sosok seseorang tengah berdiri sambil menatap tajam ke arahnya.


.


.

__ADS_1


.



__ADS_2