
"Jangan sembarangan bicara kamu, Tsa! Papa tidak suka dengan candaanmu barusan!" teriak Fahmi dengan sepasang mata melebar sempurna. Ia terkejut mendengar ucapan Tsamara. Seumur hidup tak pernah sekalipun ia menduga anak tercinta akan mengatakan kata-kata yang begitu tabu diucapkan oleh anggota keluarga Gibran. Perceraian bagi pebisnis sukses di bidang pariwisata serta pemilik hotel bintang lima dengan anak cabang di mana-mana merupakan sesuatu yang tidak pantas diucapkan oleh anggota keluarga Gibran.
"Tapi aku bersungguh-sungguh, Pa. Aku dan Kak Bima sepakat bercerai," kata Tsamara memasang wajah tenang. Walaupun gemuruh dalam hati terus bergejolak, tetapi gadis berusia dua puluh empat tahun mencoba bersikap sewajarnya.
"Omong kosong!" Fahmi bangkit dari sofa, kemudian membalikan badan. Memalingkan wajah ke arah lain. "Bukankah kamu sangat mencintai Bima? Lalu, kenapa sekarang kamu ingin bercerai darinya." Kedua tangan mengepal sempurna hingga memperlihatkan otot-otot halus di punggung tangan.
"Pa, semua orang di muka bumi ini bisa berubah. Begitu pun denganku. Aku merasa di antara kami tidak ada lagi kecocokan hingga akhirnya aku memutuskan untuk bercerai dari Kak Bima."
Tsamara melangkah menghampiri Fahmi. Tangan gadis itu menyentuh lengan sang papa. "Papa, kumohon mengertilah keadaanku. Aku sudah tidak menginginkan pernikahan ini lagi, Pa." Bibir gadis itu bergetar. Bola mata mulai berkaca-kaca dan hidung terasa masam. Hatinya sakit, benar-benar sakit saat mengucapkan kalimat terakhir.
Bagaimana mungkin Tsamara tidak menginginkan pernikahan yang baru seumur jagung, sedangkan sejak dulu gadis bermata almond selalu menanti hari di mana ia dan Bimantara duduk berdampingan kemudian menghabiskan sisa hidup bersama-sama hingga maut memisahkan. Namun, apalah daya semua impian itu harus kandas di tengah jalan saat ia mengetahui bahwa Bimantara tidak pernah mencintainya.
Kehening mengambang di udara. Fahmi mati-matian menahan diri untuk tidak meluapkan emosi yang menguasai diri. Sementara Tsamara masih setia menyentuh lengan sang papa, berharap amarah dalam diri pria itu segera mencair.
Melihat situasi semakin memanas, akhirnya Sekar turun tangan. Ia turut bangkit dari sofa, lalu menghampiri anak dan suami tercinta. "Sayang, katakan pada Mama, apa yang sebenarnya terjadi. Apa kamu dan Bimantara ada masalah? Katakan kepada kami yang sejujurnya. Siapa tahu, Papa dan Mama bisa membantu kalian mencarikan jalan keluar. Jangan langsung memutuskan berpisah bila masalah kalian masih dapat diatasai," ucap Sekar lembut. Tangan mengusap punggung Tsamara dengan penuh cinta.
Tsamara menggelengkan kepala lemah. "Tidak, Ma. Hubungan kami baik-baik saja. Hanya saja ... aku memang sudah tidak ingin hidup berumah tangga dengan Kak Bima. Aku ingin berpisah darinya." Menundukan wajah, tidak berani menatap menatap iris coklat milik Sekar.
Fahmi membalikkan badan, menatap tajam ke arah sang anak. "Katakan kepada Papa, apakah Bimantara melakukan kekerasan selama kalian berumah tangga?" tanyanya seraya menatap tajam. Merasa curiga terjadi sesuatu hal buruk menimpa rumah tangga Tsamara dengan Bimantara.
Dengan cepat Tsamara menjawab, "Tidak, Pa. Kak Bima tidak pernah sekalipun melakukan KDRT. Dia selalu bersikap lemah lembut dan memperlakukanku dengan sangat baik."
__ADS_1
"Lalu, kenapa kamu ingin bercerai dari suamimu jika memang hubungan kalian baik-baik saja!" sembur Fahmi. Ia sudah tidak tahan lagi berada dalam situasi seperti ini. Kepala pria paruh baya itu rasanya mau pecah.
"Itu semua karena aku berselingkuh di belakang Tsamara, Pa!" Suara lantang seseorang menginterupsi percakapan antara ayah, ibu dan anak.
Sontak ketiga orang dewasa di depan sana menoleh ke sumber suara. Baik Fahmi, Sekar serta Tsamara cukup terkejut akan kehadiran Bimantara di tengah-tengah mereka.
"Apa maksud perkataanmu barusan?" tanya Fahmi lantang. Matanya memberikan tatapan membunuh pada menantunya.
"Aku berselingkuh dengan wanita lain di belakang Tsamara, Pa. Bahkan, aku dan wanita itu telah melakukan hubungan layaknya suami istri," sahut Bimantara tegas.
Dalam satu gerakan, Fahmi mencengkeram kaos Bimantara di bagian dada, menariknya dengan kasar hingga kepala sang CEO terpaksa mendongak ke atas. Kedua tubuh tinggi menjulang itu saling berhadapan, mata saling menatap satu sama lain.
"Apa kurangnya putriku hingga kamu menduakannya? Katakan padaku, apa?" tanya Fahmi dengan emosi yang telah mencapai batas tertinggi. Semakin mengeratkan cengeraman. Tidak peduli jika pria muda di hadapannya merasa sesak akibat kehabisan oksigen.
"Berengsek!" Sebuah pukulan keras melayang ke wajah tampan Bimantara hingga membuat pria muda itu terhuyung ke belakang. "Berani-beraninya kamu menyakiti putriku, Bima! Rasakan ini!" Fahmi kembali menghajar Bimantara dengan membabi buta.
"Aku dan istriku membesarkannya dengan penuh cinta. Tidak pernah menyakiti hati dan perasaan Tsamara. Tapi kamu malah menorehkan luka di hati anakku. Dasar bajingan! Anak berengsek!" Kali ini Fahmi tidak hanya memberikan bogem mentah di wajah, melainkan juga di bagian perut sang menantu.
"Papa, hentikan! Kumohon, jangan memukulinya lagi!" pinta Tsamara bersungguh-sungguh. Gadis itu berdiri di depan Bimantara, menjadikan tubuhnya sebagai tameng.
"Minggir, Tsamara! Biarkan Papa menghabisi pria berengsek ini!" bentak Fahmi pada Tsamara saat melihat tubuh anak tercinta berada di hadapannya.
__ADS_1
Tsamara menggelengkan kepala. "Tidak mau! Aku tidak akan pernah beranjak dari sini." Gadis itu bersikeras berdiri berhadapan dengan papa tercinta.
"Tsamara Assyifa Gibran! Kuperintahkan kamu menyingkir dari sana!" Fahmi meninggikan nada suara hingga membuat jendela serta hiasan dinding bergoyang akibat lengkingan suara yang menggelegar. Para asisten rumah tangga serta tukang kebun yang kebetulan sedang bertugas membersihkan taman bergegas mendekati sumber suara.
"Tidak akan pernah, Pa!" Tsamara membalas dengan suara tinggi disertai tetesan air mata yang mulai membasahi pipi.
Fahmi kembali berniat menyarangkan tinjuan lagi, meski harus mendorong Tsamara, ia tidak peduli.
"Mas, hentikan! Jangan lakukan itu!" Sekar maju dan sudah berada di sisi sang suami. "Bagaimanapun, Bimantara masih menantu kita, anak dari sahabatmu. Sebaiknya kita bicarakan masalah ini dengan kepala dingin."
"Tapi menantu kita sudah keterlaluan, Ma. Dia bukan hanya selingkuh tapi juga berhubungan intim dengan wanita yang bukan istrinya." Tangan Fahmi masih mengepalkan kedua tangan di samping tubuh. Rahangnya gemetar, merasakan emosi bercampur kesakitan. Ia pikir dengan cara menjodohkan Bimantara dengan Tsamara akan memberikan kebahagian bagi anak tersayang. Namun, ia malah menciptakan sebuah neraka.
"Aku tahu, tapi ... tidakkah kamu merasa kasihan terhadap anakmu? Lihat, putri kita menangis ketakutan melihatmu berubah menjadi sosok yang menyeramkan." Sekar mengusap lengan Fahmi, mencoba menenangkan suaminya.
Fahmi menarik napas panjang seraya memejamkan mata, mengurai emosi yang terus bergelayut manja dalam dirinya. "Bik, minta Irawan dan Hasna datang ke sini! Sekarang juga!" titah pria itu kepada salah satu asisten rumah tangga yang sedari tadi membeku di ambang pintu.
.
.
.
__ADS_1
Halo semua, author mau mempromosikan lagi karya milik teman author nih. Karya dan nama penanya ada di bawah sini. Kepoin ya gaes! 👇