Painfull Love (Cinta Yang Menyakitkan)

Painfull Love (Cinta Yang Menyakitkan)
Nasi Goreng Mang Kabayan


__ADS_3

"Makan di sini?" tanya Tsamara saat kendaraan roda empat milik Yudhistira berhenti tepat di pinggir jalan.


Berjarak sekitar dua puluh meter di depan sana ada penjual nasi goreng yang biasa mangkal di sekitar taman kota. Meskipun hanya menggunakan gerobak untuk menjajakan dagangannya tetapi banyak orang yang rela mengantri demi bisa menikmati sepiring nasi goreng mang Kabayan.


Yudhistira terkekeh pelan mendengar pertanyaan Tsamara. Sedikit mengerti kenapa gadis di sebelahnya tampak begitu terkejut saat mobil berhenti di pinggir jalan. "Meskipun pinggir jalan tapi dari segi rasa dan kebersihannya tidak perlu diragukan lagi. Aku sering beli nasi goreng di sini jadi tahu tingkat kebersihan si penjual bagaimana."


"Tapi kalau kamu mau makan di tempat lain, ya enggak apa-apa. Aku nyalakan lagi mesin mobilnya." Yudhistira sudah bersiap memasang kembali sabuk pengaman yang sudah dilepas olehnya barusan.


"Tidak usah! Kita makan di sini saja," sergah Tsamara. Refleks tangan gadis itu menyentuh lengan Yudhistira hingga permukaan kulit saling bersentuhan.


Tubuh Tsamara sedikit menegang karena kontak fisik itu. Dengan gerakan sedikit kaku, dia melirik ke samping dan mendapati pemilik wajah oriental sedang tersenyum. Terpaan cahaya lampu di sepanjang jalan menerobos dari jendela mobil, menerpa wajah sisi sebelah kanan. Alis tebal, hidung mancung dan lesung pipi pria itu menjadikannya semakin memesona.


"Jadi ... kita tetap makan di sini atau pindah tempat?"


Suara magnetis itu membuat Tsamara mengerjapkan mata beberapa. Sadar bahwa saat ini tangannya masih menyentuh lengan Yudhistira detik itu juga dia menurunkan tangannya tersebut.


"Ehm ... kita makan di sini saja. Lagi pula, kalau mencari restoran lain ataupun café aku tidak yakin dapat berkompromi dengan cacing-cacing di perutku." Mendudukan kepala. Pandangan mata mengarah kepada perutnya yang datar.


Yudhistira kembali terkekeh. Melepaskan kembali sabuk pengaman dari tangannya. "Kalau begitu, aku akan pesankan nasi goreng spesial untukmu. Kamu tunggu di sini dan jangan ke mana-mana!" Tanpa banyak membantah, Tsamara menuruti perintah Yudhistira. Duduk manis di kursi depan sembari memperhatikan orang-orang yang lalu lalang.


Setelah memesan nasi goreng spesial dengan masing-masing nasi setengah porsi, Yudhistira duduk di kursi yang terbuat dari plastik berwarna merah yang sudah sedikit kehitaman. Sesekali memperhatikan bagaimana lincahnya tangan mang Kabayan saat memasak nasi goreng. Mengaduk nasi, menuangkan aneka ragam bumbu hingga tercampur dan menguarkan aroma lezat yang menggugah selera.


"Nasi goreng ini untukmu, sedangkan yang ini untukku." Jemari tangan Yudhistira menyodorkan satu piring nasi goreng ke hadapan Tsamara. "Ayo dicicipi! Aku yakin kamu pasti menyukainya."


Tanpa rasa malu ataupun canggung, Yudhistira sudah lebih dulu menyendok nasi gorengnya dengan begitu lahap. Menggigit kerupuk warna warni serta mentimun sebagai sayurannya.


Melihat bagaimana lahapnya Yudhistira makan, membuat perut Tsamara semakin keroncongan. Perlahan, dia menyuap nasi godeng itu.

__ADS_1


Tsamara terkejut saat satu sendok nasi goreng itu masuk ke dalam mulutnya. Oh God, nasi goreng ini lezat sekali. Tidak kalah dengan koki restoran bintang lima milik Papa, batinnya dalam hati.


Entah karena memang rasanya nikmat atau karena perutnya terasa lapar, Tsamara kembali menyendokan nasi goreng tersebut ke dalam mulut hingga habis tak bersisa. Untung saja aku menolak tawaran Dokter Yudhistira untuk pindah tempat. Andai tadi aku patuh mungkin tak punya kesempatan untuk mencicipi makanan selezat ini.


Setiap gerak gerik Tsamara tidak luput dari pandangan Yudhistira. Sudut bibir pria itu terangkat. Dia tersenyum samar sambil mengunyah makanan di depan mata. Nah 'kan, akhirnya dia juga menyukai nasi goreng buatan Mang Kabayan. Makanya, jangan illfeel dulu dengan makanan pinggir jalan. Sekalinya nyobain maka akan ketagihan.


***


"Bagaimana, perutmu sudah kenyang atau masih mau nambah setengah porsi lagi?" tanya Yudhistira sambil membukakan botol air mineral untuk Tsamara.


Tsamara meneguk air mineral yang disodorkan Yudhistira kepadanya. "Perutku sudah tidak mampu lagi menampung makanan lain, Dokter."


Tampak pria berwajah oriental manggut-manggut. "Ehm, baiklah. Mau pergi jalan-jalan sebentar sebelum aku antarkan ke rumah? Mumpung lagi di taman nih," tawarnya kepada Tsamara yang dijawab dengan anggukan kepala.


Yudhistira berjalan bersisian dengan Tsamara, yang malam itu sengaja mengenakan syal untuk menutupi sebagian wajahnya agar tak ada satu orang pun yang mengenalinya. Dia hanya ingin menikmati sejenak waktu istirahat tanpa diganggu oleh orang lain.


"Apa?" Tsamara menjawab tanpa menoleh ke arah Yudhistira. Dia sedang menghirup udara segar di malam hari.


"Sebentar lagi kamu akan bercerai dari suamimu. Misalkan setelah hakim memutuskan kalian resmi bercerai, apakah aku boleh mendekatimu?"


"Hah?" Kali ini Tsamara menghentikan langkah dan menoleh ke arah Yudhistira. "Maksud Dokter Yudhis, apa?"


Sang dokter tampan bermata sipit menjilat bibir bagian bawah. Entahlah, kenapa dia bisa dengan lugas mengatakan kalimat terakhir padahal perkataan itu sama sekali tidak terniatkan olehnya.


"Ehm ... a-anu ...." Tiba-tiba saja lidah Yudhistira kelu, tak mampu berkata apa-apa. "Aah ... sudah, lupakan saja! Mungkin tadi kamu salah dengar."


Pria jangkung bermata sipit melirik arloji di pergelangan tangan, waktu sudah menunjukan pukul sembilan malam. Teringat kalau besok mereka shift pagi, mau tidak mau dokter tampan itu harus bergegas mengantarkan Tsamara pulang ke rumah.

__ADS_1


"Sebaiknya kita pulang sekarang sebelum orang tuamu mengerahkan orang kepercayaannya untuk mencari keberadaanmu," imbuh Yudhistira. Dia tidak mau dianggap sebagai seorang penculik yang membawa kabur anak orang.


Yudhistira sudah lebih dulu melangkah meninggalkan taman kota. Namun, tubuh Tsamara masih bergeming seakan ada paku yang menancap di sepatunya.


Tak mendengar derap langkah seseorang di belakang tubuh, Yudhistira menghentikan langkah kemudian menoleh ke belakang. Alangkah terkejutnya dia saat tak mendapatkan Tsamara di sana.


"Kenapa diam saja? Ayo jalan, malam semakin larut nanti orang tuamu semakin cemas." Yudhistira menegur saat disadarinya Tsamara tidak mengikuti langkahnya, melainkan bertahan di tempatnya semula.


Tsamara mengerjap. Tanpa membalas, dia menyusul Yudhistira mengikuti langkah kakinya yang panjang. Sesekali mendongkan kepala menatap ke arah lelaki di sebelahnya.


Sebenarnya tadi halusinasiku saja atau memang Dokter Yudhis mengatakan sesuatu kepadaku? Namun, kalau cuma halusinasi tapi rasanya begitu jelas terdengar di telingaku. Tsanara bermonolog, mengingat kembali kejadian beberapa saat lalu.


Bodoh! Kenapa aku bisa kelepasan sih! Nyaris saja aku menyatakan perasaanku kepada istri orang. Walaupun sebentar lagi bercerai tapi statusnya saat ini masih istri orang. Jangan sampai aku dikatain pebinor karena merebut istri orang. Yudhsitira merutuki kebodohannya karena hampir lepas kendali.


Meskipun dia menyimpan rasa kepada Tsamara tapi berpikir sekarang ini bukanlah waktu yang tepat mengutarakan isi hatinya di hadapan sang pujaan hati. Tsamara baru saja mengalami musibah dalam hubungan rumah tangganya jadi akan sulit menerima kehadiran seorang pria dalam waktu dekat. Yang bisa dilakukan Yudhistira saat ini hanya menunggu sampai waktunya tepat.


Saat Yudhsitira hendak menyebrang, secara refleks dia menggenggam tangan Tsamara. Kemudian mereka melangkah maju ke depan saat lampu merah bagi pengendara menyala. Di saat menyebrang tanpa sengaja sepasang mata tengah menatap ke arah mereka dari jendela mobil.


"Tsamara? Pria itu?" gumam seseorang. Tubuhnya secara perlahan mulai terbakar api cemburu saat melihat kedua orang di depan sana saling menggenggam erat satu sama lain.


.


.


.


Halo semua, yuk mampir ke karya teman author. Karya dan nama penanya bisa dikepoin di bawah sini ya. 👇

__ADS_1



__ADS_2