Painfull Love (Cinta Yang Menyakitkan)

Painfull Love (Cinta Yang Menyakitkan)
Gosip Hangat


__ADS_3

Bau karbol yang menyengat memaksa Hasna untuk bangun dari ketidaksadarannya. Beberapa waktu lalu ia sempat pingsan akibat mengalami serangan jantung sesaat setelah mendengar anak tercinta selingkuh di belakang menantu kesayangan. Ia cukup terkejut mendengar pengakuan sang anak hingga membuat penyakitnya kambuh dan ia dilarikan ke rumah sakit.


Kelopak mata secara perlahan, kemudian bola mata indah itu terbuka perlahan. Melenguh saat merasakan punggung tangan terasa sakit akibat jarum suntik yang menancap. Akan tetapi, rasa sakit itu tidak sebanding dengan kesakitan yang ditorehkan oleh Bimantara di hati Tsamara.


"Mas Irawan." Hasna mencoba membangunkan sang suami yang sedang tertidur dengan menjadikan telapak tangan sebagai bantalan sedangkan sebelah tangan lagi menggenggam erat jemari miliknya yang tidak diinfus.


Mengusap pelan puncak kepala Irawan hingga tak membutuhkan waktu lama, pria berambut keperakan terbangun dari tidurnya yang cukup panjang.


"Hasna?" Irawan segera bangkit dari duduknya, kemudian mendekap tubuh istrinya dengan erat. "Alhamdulillah, kamu sudah siuman. Kupikir akan kehilanganmu untuk selamanya." Bibir pria itu gemetar kala mengucapkan kalimat terakhir.


Semua harta kekayaan yang dimiliki boleh saja pergi dari genggamannya namun Hasna, wanita berparas ayu tidak boleh pergi dari hidupnya untuk selamanya. Bagi Irawan, Hasna adalah harta berharga yang tak dapat digantikan oleh apa pun di dunia ini.


Hasna tersenyum hangat mendengar perkataan Irawan. "Mana mungkin aku meninggalkanmu tanpa mengucapkan kata perpisahan. Kalaupun nanti aku pergi, pasti berpamitan terlebih dulu kepadamu."


Mata Irawan memicing, menatap tajam pada istrinya. "Jangan sembarangan bicara! Sampai kapan pun, kamu tetap berada di sisiku, Hasna."


Wanita berusia lima puluh tahun terkekeh pelan. "Iya ... iya .... Selamanya kita akan tetap bersama."


***


Keesokan harinya di gedung Danendra Grup tampak seorang wanita bertubuh semampai sedang melangkah dengan begitu anggun memasuki gedung pencakar langit. Ketukan heels sepatunya terdengar berirama di antara keheningan. Suasana kantor cukup sepi sebab hanya segelintir pegawai saja yang sudah datang ke kantor.


Mengulum senyum setiap berpapasan dengan rekan kerjanya. Jabatannya sebagai seorang sekretaris yang selalu mendampingin sang CEO, membuat Emma menjadi terkenal di kalangan para karyawan. Saat Emma melangkah menunggu sebuah lift yang akan membawanya menuju lantai delapan tanpa sengaja ia mendengar beberapa orang sedang berbisik.


"Kalian tahu tidak kabar yang sedang hangat diperbincangkan di lingkungan pekerjaan kita?" tanya wanita berambut sebahu, bernama Isma.

__ADS_1


"Memangnya ada kabar apa sih?" timpal wanita berkacamata, bernama Luna.


"Kemarin siang aku melihat Bu Tsamara turun dari lantai delapan dalam keadaan menangis. Matanya memerah dengan tubuh bergemetar hebat. Saat aku bertanya, dia hanya tersenyum dipaksakan. Setelah itu berlalu begitu saja tanpa membalas pertanyaanku." Isma menghentikan sejenak perkataannya. Menarik napas dalam, kemudian kembali berkata, "Aku dengar kabar katanya sih Bu Tsamara menangis karena memergoki Pak Bima tengah mantap-mantap dengan seseorang."


Luna membulatkan ekor matanya kala mendengar perkataan rekan kerjanya itu. "Hah? Jangan bohong kamu, Is! Mana mungkin CEO kita begitu. Setahuku Pak Bima orangnya dingin jadi mana mungkin tertarik pada wanita lain."


Isma mendelik menatap tajam pada Luna. "Iih ... dikasih tahu, ngeyel kamu! Wanita itu memindahkan tote bag berisi bekal makanan dalam genggaman tangan kanan ke tangan kiri. "Awalnya aku pun tidak percaya tetapi melihat semua bukti yang ada menunjukan bahwa berita itu bukanlah isapan jempol belaka."


Luna merapatkan tubuhnya ke Isma hingga tak ada jarak yang memisahkan mereka. "Kamu mau tahu siapa wanita yang kedapatan sedang berhubungan intim dengan Bos kita?" Dengan gerakan cepat, wanita berambut pendek menganggukan kepala. "Wanita itu adalah ... Bu Emma, sekretaris Pak Bima."


Lagi dan lagi Luna dibuat terkejut akan fakta yang baru saja ia dapatkan. Bola matanya yang bulat semakin bulat dengan rahang terbuka lebar bahkan nyaris copot dari tempatnya.


"Serius, kamu?" tanya Luna singkat.


Menggelengkan kepala, tidak menduga kalau ternyata wanita cantik yang dikaruniai banyak kelebihan malah menjadi pelakor dan tega merusak rumah tangga atasannya sendiri. Luna yang awalnya nge-fans kepada Emma, tiba-tiba menjadi jijik dan tak lagi mengidolakan wanita itu.


"Padahal dia bisa saja mendapatkan pria single yang lebih segalanya dari Pak Bima. Tapi kenapa dia malah merebut apa yang sudah menjadi milik orang lain. Benar-benar wanita murahan! Tidak punya hati!" umpat Luna kasar.


Isma manggut-manggut mendengar perkataan Luna. Setuju atas ucapan rekan kerjanya. "Dari informasi yang kudengar, katanya Bu Hasna dilarikan ke rumah sakit karena sudah mengetahui kalau Pak Bima ada affair dengan sekretarisnya."


Mereka terus berbisik tanpa menyadari bahwa sedari tadi Emma berdiri sambil mendengarkan percakapan kedua wanita itu. Telinga terasa panas, dada kembang kempis dan wajah pun mulai memerah menahan amarah yang mulai melumaat sekujur tubuh.


Dada terasa sesak, seakan pasokan udara di sekitar tak mampu memenuhi kebutuhan oksigen paru-paru Emma. Detik itu juga, suasana hati wanita itu berubah total.


"Apa perusahaan ini menggaji kalian untuk bergosip di jam kerja?" tegur Emma, mencoba bersikap profesional meski hatinya terasa gondok.

__ADS_1


Isma dan Luna terlonjak dari tempatnya berdiri. Suara tegas namun mengisyaratkan kemarahan tertahan membuat mereka seketika terdiam dan menundukan kepala detik itu juga.


"Ehm ... maaf, Bu. Kami hanya sedang mengobrol sambil menunggu pintu lift terbuka," dusta Luna. Tidak mungkin menjawab yang sesungguhnya. Bisa-bisa dia ditampar Emma karena kedapatan sedang menggunjingkannya.


Emma menatap mereka sinis. Ia juga melipat tangan ke dada. "Mengobrol sampai kalian tidak sadar sudah melewatkan empat kali pintu lift terbuka tanpa ada penghuni di dalamnya. Benar-benar hebat!"


Sebenarnya Emma tidak nyaman bersikap sok berkuasa seperti itu di hadapan mereka. Namun, ia sudah terlanjur sakit hati dan ingin segera membungkam mulut mereka hingga terpaksa melakukan itu semua.


"K-kami ... memang bersalah, Bu. Maaf." Luna dan Isma menjawab hampir bersamaan.


"Lain kali kalau mau menggosipkan orang lihat dulu sekitar. Ada atau tidaknya orang yang kalian bicarakan. Kalau tidak ada, kalian bisa sepuasnya menghina dan menggunjingkan orang itu. Namun, jika dia ada di sekitar kalian, sebaiknya diam dan jangan pernah berkata apa-apa," kata Emma memberi saran kepada kedua staf marketing.


Tanpa menunggu jawaban mereka, Emma pergi meninggalkan perusahaan menuju rumah sakit tempat Hasna dirawat.


"Pantas saja kamu tidak mengangkat teleponku, Bim. Rupanya kamu sedang kekusahan," ucap Emma lirih seraya menyalakan mesin mobilnya. "Tunggu aku, Bima. Sebentar lagi aku datang menemanimu."


.


.


.


Halo semua yuk mampir ke karya teman author. Kisahnya dijamin seru nih. Judul karya dan nama pena ada di bawah sini. 👇


__ADS_1


__ADS_2