
"Berhenti memukulnya, Kak Bima!" teriak Tsamara.
Tubuh Bimantara membeku di tempat. Tangan mengepal di udara, menahan diri untuk tidak berhambur dan melesakkan kembali pukulan di wajah Yudhistira. Rahang pria itu gemetar, merasakan emosi bercampur kesakitan. Entahlah apa yang membuat sang CEO kesakitan, ia sendiri pun tidak tahu. Namun, yang pasti saat melihat ada lelaki lain memandangi Tsamara dengan tatapan memuja sekujur tubuh terasa seperti terbakar api.
Tsamara menghampiri Yudhistira yang terduduk di lantai. Menjatuhkan lulutnya lantai, kemudian mengulurkan tangan ke wajah Yudhistira. Wajah meringit saat melihat sudut bibir robek disertai darah segar mengucur di sana.
"Ini rasanya pasti sakit sekali. Kak Bima memang keterlaluan. Dia tidak bisa mengendalikan diri untuk tidak menghajar seseorang!" gerutu Tsamara seraya memperhatikan wajah Yudhistira dengan seksama. Setiap inci wajah pria itu tidak luput dari pandangan.
Berjarak hanya sekitar satu jengkal, membuat Yudhistira dalam merasakan embusan napas menerpa wajah. Aroma parfum yang menjadi khas Tsamara tercium oleh indera penciumannya, sangat cocok dengan kepribadian sang dokter cantik.
"Ayo, bangun! Biar aku obati sendiri. Kalau tidak segera diobati nanti malah infeksi." Tsamara bangun terlebih dulu, kemudian mengulurkan tangan kepada Yudhistira.
Yudhistira menerima uluran tangan itu dan bangkit secara perlahan. Akan tetapi, tubuh tegap itu kehilangan keseimbangan hingga membuatnya nyaris terjatuh.
Refleks, Tsamara melingkarkan tangannya di pinggang Yudhistira yang sedikit oleng. Tubuh seperti disetrum oleh listrik bertegangan jutaan volt saat menyentuh otot yang padat dan liat di pinggang sang dokter, tidak ada lemak sedikit pun tercipta di sana. Lantas, ia berpikir tampaknya pria di sebelahnya ini rajin berolahraga dan menjaga asupan makanan.
"Kak Bima, kamu keterlaluan! Seharusnya kamu mengucapkan banyak terima kasih kepada Dokter Yudhis karena telah menolong Mama Hasna. Bukan malah melukai orang yang telah menolong orang tuamu!" tegur Tsamara saat ia berada di hadapan Bimantara. "Untung saja bagian yang kamu pukul tidak mengenai saraf mata Dokter Yudhis. Bagaimana jika penglihatan Dokter Yudhis terganggu? Lalu dia tidak bisa menjalankan tugas dan tanggung jawabnya sebagai seorang dokter. Siapa yang rugi, Kak?"
"Kamu itu bisanya cuma marah-marah terus tanpa pernah berpikir bagaimana caranya membuat Mama Hasna siuman." Keluar sudah uneg-uneg yang ada di dalam hati Tsamara. Selama ini ia bisa bertahan atas sikap sang suami yang sering marah-marah tanpa sebab. Namun, saat ada orang lain menjadi korban Bimantara, ia tentu saja tidak terima karena kalau sampai terjadi hal buruk menimpa Yudhistira, nama baik kedua keluarga akan tercoreng dan tidak menutup kemungkinan berita ini akan menjadi sasaran empuk bagi pemburu berita.
"Tapi aku melakukan itu karena ada sebabnya, Tsa." Bimantara berkata lirih, tidak terima jika dirinya disalahkan.
__ADS_1
Tsamara mendongakan kepala, menatap iris coklat sang suami. Keduanya saling beradu pandang menatap lekat bola mata masing-masing. Akan tetapi, kepingan kejadian beberapa waktu lalu kembali melintas di benak gadis itu.
Dengan cepat Tsamara memalingkan wajah ke arah lain karena tidak sanggup kalau harus mengingat kejadian yang membuat hatinya terluka. "Apa pun alasannya, tidak elok bila kamu mengedepankan emosi ketimbang pikiranmu, Kak. Bagaimanapun, Dokter Yudhis adalah orang yang telah membantu Mama Hasna melewati masa kritis. Setidaknya jika kamu tidak bisa mengucapkan kata terima kasih, berbuat baiklah kepadanya, Kak."
Tsamara melirik ke arah Yudhistira. "Kita ke ruangan dokter sekarang. Akan kuobati lukamu di sana." Tanpa menunggu jawaban dari Yudhistira, ia segera memapah pria jangkung itu menuju sebuah ruangan khusus yang ada di sisi timur rumah sakit.
Bimantara menatap punggung Tsamara dengan tatapan nanar. Seumur hidup baru kali ini merasakan sakit hati saat menyaksikan sang istri memberikan perhatian kepada pria lain di depan mata kepalanya sendiri.
"Fuuck!" umpat Bimantara kasar.
Setelah membuka pintu ruangan dan membantu Yudhistira duduk di sofa, Tsamara segera mengeluarkan telepon genggam miliknya dan meminta perawat jaga membawakan kotak P3K. Ia tidak mungkin meninggalkan Yudhistira seorang diri karena khawatir Bimantara masih dendam dan menyusul mereka ke ruangan itu.
"Maafkan Kak Bima karena sudah memukulimu babak belur seperti ini, Dokter. Aku tidak tahu kenapa dia berubah jadi emosional begini," ucap Tsamara lirih. Ia duduk di seberang Yudhistira sambil menatap pria itu dengan perasaan bersalah.
Alih-alih melampiaskan kemarahan kepada makhluk ciptaan Tuhan yang konon katanya kaum lemah karena tercipta dari tulang rusuk kaum Adam, Yudhistira malah tersenyum meski sedikit meringis menahan nyeri akibat sudut bibirnya yang robek akibat kena bogem mentah Bimantara.
"Tidak perlu meminta maaf. Aku dapat memaklumi kenapa suamimu bisa seemosi tadi. Akibat rasa cemburu membuat Tuan Bima marah dan menghadiahkanku beberapa pukulan di wajah," kekeh Yudhistira setengah berkelakar. Ada perasaan nyeri di hati bagaikan ribuan jarum menusuk-nusuk hingga membuatnya merasa sakit saat mengucapkan kata 'suamimu' di hadapan Tsamara.
Tsamara mendesaah pelan ketika Yudhistira menyebutkan penyebab Bimantara marah dan memukul rekan kerjanya di depan semua orang. "Mana mungkin dia cemburu. Selama ini posisiku di hati Kak Bima hanya sebagai adiknya saja, tidak akan lebih."
"Sebagai lelaki, aku bisa melihat sorot itu di mata suamimu, Dokter Tsamara. Dia marah karena melihat kedekatan kita. Walaupun selama ini dia menganggapmu sebagai adik tetapi terlihat jelas kalau suamimu itu sedang dibakar api cemburu."
__ADS_1
Tsamara tidak tahu harus menjawab apa. Jika dulu gadis itu mendengar kalau Bimantara cemburu, sudah pasti saat ini ia akan melompat setinggi mungkin sambil berteriak kegirangan. Akan tetapi, setelah menyaksikan sendiri perselingkuhan yang terjadi di depan mata kepalanya sendiri, ia sama sekali tak tertarik akan itu semua.
Percakapan antara dua dokter hebat terhenti tatkala terdengar suara ketukan pintu di seberang sana. Seorang perawat wanita membawa kotak P3K dan obat-obatan lain yang dapat digunakan Tsamara mengobati luka Yudhistira.
"Biar aku yang mengobati luka Dokter Yudhis. Kamu lanjutkan saja pekerjaanmu. Terima kasih sudah membawakan pesananku," ucap Tsamara lembut.
"Kalau begitu, saya permisi dulu. Mari, Dokter Tsamara. Dokter Yudhis." Perawat wanita itu berjalan menuju daun pintu, meninggalkan mereka berduaan.
"Sini, biar aku obati lukamu dulu biar tidak infeksi." Tsamara mengeluarkan kapas, kemudian meneteskan beberapa tetes cairan antiseptik ke atasnya. Lalu mengobati luka di sudut bibir Yudhistira dengan sangat hati-hati.
Sesekali Yudhistira meringis saat jemari tangan Tsamara menyentuh bagian yang terluka.
Semua yang gerakan tangan Tsamara tidak luput dari pandangan Yudhistira. Dalam hati tersenyum bahagia sebab seumur hidup ia belum pernah mendapat perhatian dari lawan jenis. Sejak masih remaja hingga lulus kuliah, ia terlalu fokus belajar demi mempertahankan nilai agar pihak sekolah maupun kampus terus memberikan beasiswa kepadanya. Hingga tanpa sadar hanya dialah satu-satunya mahasiswa di fakultas kedokteran di kelas M yang belum berkeluarga.
.
.
.
Halo semua yuk mampir ke karya teman author. Kisahnya dijamin seru nih. Judul karya dan nama pena ada di bawah sini. 👇
__ADS_1