Painfull Love (Cinta Yang Menyakitkan)

Painfull Love (Cinta Yang Menyakitkan)
Whale Submarine, Maldives


__ADS_3

"Tsa, kamu kenapa lama sekali? Ini sudah hampir jam 9 pagi." Suara Bimantara menggelegar dari dalam ruang tamu. Pria itu kesal pada Tsamara. Pasalnya, dia sudah satu jam lamanya menunggu Tsamara yang sedang berdandan di dalam kamar tidur.


Hari ini, pasangan suami istri itu berencana mengunjungi salah satu tempat wisata bernama Whale Submarine yang ada di pulau Male. Whale Submarine merupakan tur kapal selam yang wajib dikunjungi saat berbulan madu bersama pasangan. Dengan menggunakan kapal selam pasangan suami istri yang sedang berbulan madu bisa menikmati pesona bawah laut di sekitar pulau Male.


Bimantara berdecak kesal seraya melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan. Waktu menunjukan pukul sembilan pagi sementara kapal selam yang hendak membawa mereka menikmati panorama bawah laut akan beroperasi sekitar pukul sepuluh pagi.


"Ayolah, Tsa! Kalau sampai lima menit kamu tidak selesai juga maka aku akan pergi sendirian! Tak peduli kamu mau menyusul atau tidak, itu bukan urusanku!" ancam Bimantara seraya menahan kesal dan kemarahannya. Dia sudah cukup bersabar menunggu dua jam lamanya.


Tanpa terasa lima menit telah berlalu akan tetapi Tsamara tak juga menampakkan batang hidungnya. Kesabaran Bimantara sudah habis, lantas dia bangkit dari sofa dan melangkah mendekati pintu. Bukan pintu kamar resort melainkan pintu keluar. Namun, tiba-tiba langkah kaki terhenti kala mendengar suara pintu kamar terbuka.


"Aku sudah siap, Kak," tutur Tsamara sambil membuka lebar daun pintu.


Deru napas memburu dengan kedua tangan mengepal sempurna hingga memperlihatkan otot halus di punggung tangan. Bimantara membalikan badan, berniat meluapkan kekesalannya kepada Tsamara. Akan tetapi, suara pria itu tercekat kala netranya menangkap sosok gadis di depan sana. Raut wajah pria itu berubah. Sorot mata memancarkan tatapan kagum sekaligus terkejut akan penampilan Tsamara hari ini.


Bimantara tak berkedip sedikit pun. Dress simple tanpa lengan warna putih motif bunga-bunga yang dipakai Tsamara begitu pas dan cantik di tubuh sang dokter. Topi pantai warna coklat muda serta tatanan rambut yang dibiarkan tergerai membuat gadis itu tampak sangat cantik meski riasan make up flawless tetapi inner beauty-nya memancar laksana batu kristal terkena pantulan cahaya, begitu menyilaukan mata.


"Kak Bima, apakah ada yang salah dengan penampilanku?" tanya Tsamara lirih seraya menundukan pandangan. Sepasang mata almond mulai mengamati penampilannya, dari atas sampai ke ujung kaki tidak ada bagian yang terlewatkan.

__ADS_1


Suara merdu Tsamara sontak mengembalikan kesadaran Bimantara. Dia berdehem guna menyingkirkan benda asing yang sempat membuat suaranya tercekat.


"Kenapa kamu lama sekali? Sudah tahu pukul sepuluh nanti kapal selam akan beroperasi tetapi kamu malah sibuk berdandan tanpa melihat jam," tukas Bimantara menahan kesal.


Bibir Tsamara mencebik. Alih-alih mendapat pujian dari Bimantara, dia malah kena omel suami tercinta. "Iya, Maaf. Tadi aku kebingungan mencari pakaian yang pas digunakan untuk travelling. Semua pakaian yang Mama bawakan bagus dan aku suka."


Bola mata Bimantara melebar mendengar penuturan Tsamara. "Jadi, selama satu jam itu kamu sibuk memilih pakaian yang mau dikenakan begitu?" Tsamara menganggukan kepala cepat. "Oh astaga! Kalau kamu memang menyukainya tinggal pilih salah satu, apa susahnya sih! Tidak perlu menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk mencari sesuatu yang pas."


"Tapi 'kan, aku melakukan ini semua demi Kakak supaya tidak malu-maluin saat bertemu orang yang mungkin saja kamu kenal. Seperti, rekan bisnis, klien atau mungkin teman kuliah dulu. Jadi, di saat bertemu mereka, aku bisa tampil penuh percaya diri," jawab Tsamara.


"Sudahlah, aku tidak mau berdebat lagi. Sebaiknya kita pergi sekarang!" Tanpa mau dibantah, Bimantara menarik tangan Tsamara hingga gadis itu mengekori di belakang.


Selama di perjalanan, Tsamara terus memandangi keindahan sekitar dari dalam jendela mobil. Dalam diam, dia terus memuji betapa indahnya pulau yang terletak di sebelah selatan-barat daya India, sekitar 700 KM sebelah barat daya Sri Lanka. Berdecak kagum atas keindaham ciptaan Tuhan.


"Kita sudah tiba di jetty, Tuan. Mari, Tuan dan Nyonya, ikuti saya!" ucap seorang pria menggunakan bahasa Inggris. Dia merupakan sopir sekaligus pemandu wisata selama sepasang pengantin baru berbulan madu di Maldives.


Jetty adalah dermaga yang dibangun menjorok cukup jauh ke arah laut, dengan maksud agar ujung dermaga berada pada kedalaman yang cukup untuk merapat kapal.

__ADS_1


"Kak, pemandangan di sini benar-benar indah, ya? Aku mau lain kali kita berlibur lagi ke sini bersama anak-anak kita," ucap Tsamara lirih sambil terus melingkarkan tangan di lengan Bimantara. Tak sedetik pun gadis itu melepaskan tangannya dari tubuh sang suami.


Bagaimana mungkin kita mempunyai anak, sedangkan aku saja tidak mencintai dirimu, Tsa. Di hatiku hanya ada Emma seorang. Jadi, sebaiknya kamu kubur dalam impianmu itu. Ingin sekali Bimantara mengucapkan kalimat itu, tetapi dia tak mampu mengungkapkan isi hatinya.


"Diam dan nikmatilah pemandangan ini selagi masih ada di Maldives. Jangan membahas sesuatu yang tidak penting!" jawab Bimantara dengan memasang wajah dingin.


Tsamara mendesaah kecewa. Akan tetapi, kekecewaannya segera terobati kala sebuah boat datang menghampiri. *B*oat itu akan mengantarkan pasangan suami istri itu menuju Whale House yang merupakan tempat pembelian tiket atau check-in peserta sebelum akhirnya memulai perjalanan mengasyikan yang tak terlupakan.


Seorang pria bertubuh jangkung mempraktekkan prosedur keselamatan selama berada di dalam kapal selam. Mulai dari pemasangan tabung oksigen dan pakaian pelampung saat terjadi kecelakaan. Tsamara dan Bimantara tampak serius memperhatikan awak kabin tersebut.


Ketika kapal itu mulai menyelam, irama jantung Tsamara tak beraturan. Telapak tangan mulai berkeringat saat sebuah layar kecil digital memperlihatkan kedalaman dari kapal selam tersebut. Kedua tangan saling meremaas gugup satu sama lain. Ini merupakan pengalaman pertama bagi gadis itu menyelami luasnya Samudra Hindia.


Gerakan itu tertangkap oleh ekor mata Bimantara. Entah kenapa, dia jadi tidak tega melihat Tsamara gugup seperti itu. Seakan ada sebuah dorongan yang tak bisa dikendalikan, sebelah tangan pria itu terulur untuk menangkup jemari sang istri yang masih berada di atas pangkuan.


"Tenanglah, Tsa. Everything is gonna be okay. Aku berjanji akan menjaga dan melindungimu selama kita berada di dalam lautan."


Tubuh Tsamara sedikit menegang karena kontak fisik itu. Masih dilingkupi rasa gugup, gadis itu menegakkan kepala dan mendapati wajah dingin sang suami. Kendati begitu, ketampanan Bimantara tak pernah pudar bahkan bertambah berkali-kali lipat.

__ADS_1


Tsamara menyenderkan kepala di pundak Bimantara, lalu kembali memandangi beragam pesona kekayaan bawah laut, keragaman hayati hewan laut dan keindahan terumbu karang dari dalam kapal selam.


__ADS_2