
Tsamara beserta kedua orang tuanya melangkah keluar dari ruang persidangan setelah hakim membacakan keputusan sidang. Selama persidangan berlangsung, gadis itu sama sekali tak melirik ke arah Bimantara. Pandangan mata lurus ke depan menatap hakim yang saat itu tengah fokus menjalankan tugasnya.
Tsamara memutuskan pergi tanpa mengucapkan perpisahan kepada Bimantara. Hati gadis itu hancur berkeping-keping usai hakim mengabulkan permohonan gugatan cerainya.
Berjalan bersisian dengan kedua orang tuanya, tampak sesekali Tsamara mengusut butiran kristal yang membasahi wajah. Meskipun hati berkata ikhlas melepaskan Bimantara agar hidup bahagia bersama Emma, tapi buktinya dia belum siap hidup tanpa ada sang mantan suami di sisinya.
"Sabar, Sayang. Mama yakin akan ada pelangi setelah badai menghampiri kehidupanmu," bisik Sekar mencoba menguatkan sang anak. Sentuhan lembut diberikan kepada Tsamara. Di saat seperti ini, peran serta dukungan dari kedua orang tua begitu diperlukan.
Tsamara tak mampu berkata-kata. Lidah gadis itu terasa kelu dan pikiran pun tak dapat berpikir jernih. Hanya bisa mengangguk pasrah tanpa berucap sepatah kata.
Ketika pasangan paruh baya dengan seorang perempuan muda hendak mencapai daun pintu, suara seseorang menghentikan langkah Tsamara. "Tunggu!" seru sosok pria bertubuh jangkung.
Refleks, ketiga orang di depan sana menghentikan langkah. Bimantara menggunakan kesempatan yang ada dengan sebaik mungkin sebab dia tidak mau kalau sampai mantan istrinya pergi begitu saja. "Tsamara, bisakah kita bicara sebentar?" kata sang CEO. Saat ini posisi tubuhnya berada di belakang Tsamara.
Fahmi yang masih sangat marah atas perlakuan Bimantara kepada anak sulungnya, segera membalikan badan. Dia tatap mantan menantunya itu dengan tajam. "Mau bicara apa lagi? Bukankah hakim sudah memutuskan kalau di antara kalian tak ada lagi hubungan apa pun," sembur pria itu dengan meninggikan nada suara. Pemilik hotel bintang lima tidak peduli kalau seandainya tatapan mata semua orang tertuju kepadanya.
"Mas, jangan kasar begitu terhadap Bimantara!" tegur Sekar. Tangan wanita itu memeluk lengan sang suami seraya mengusap lembut, berharap emosi dalam diri pria itu tidak meledak-ledak.
"Pa, biarkan kami bicara sebentar. Mungkin saja memang ada hal penting yang ingin disampaikan sebelum kami meninggalkan gedung ini," kata Tsamara pelan.
"Tidak perlu, Tsa! Memangnya apa lagi yang ingin dikatakan, hem?" tegas Fahmi.
"Tolong berikan kesempatan kepadaku sebentar saja, Pa. Aku janji tidak akan lama." Wajah Bimantara memelas, memohon agar sahabat dari sang papa memberikan waktu walau hanya sebentar saja.
__ADS_1
"Mas Fahmi. Sudahlah, berikan saja izin kepada mereka untuk berbicara sebentar. Lagi pula, setelah ini belum tentu mereka punya kesempatan untuk berbicara berdua." Sekar mengerahkan kemampuan yang dimiliki untuk meluluhkan pendirian suami tercinta. Jemari tangan melingkar di pinggang sang suami, kemudian menyenderkan kepala di dadanya yang bidang. "Selama mereka berbicara, bagaimana kalau kita berdua menunggu di mobil. Aku sangat merindukan moment kebersamaan kita, Pa."
Pria paruh baya mengembuskan napas kasar. Sebetulnya dia enggan sekali memberikan izin kepada anak dan mantan menantunya untuk berbicara. Namun, untuk menolak permintaan Sekar, dia pun tak mampu sebab akhir-akhir ini waktu kebersamaan mereka berdua telah berkurang akibat terlalu sibuk mengurusi persiapan gugatan cerai ke pengadilan agama.
"Baiklah kalau begitu, aku memberikan waktu kepada kalian berdua untuk berbicara." Fahmi menoleh ke arah Tsamara. "Setelah selesai, segera ke mobil. Papa tidak mau kamu terlalu lama berbincang dengan orang asing ini!" Saat mengucapkan kalimat terakhir, di saat itu jugalah Fahmi melirik tajam ke arah Bimantara.
"Sayang, kamu bicaralah dengan Nak Bima. Mama dan Papa nunggu kamu di mobil, tapi Hans tetap menunggu di sini. Mama takut para wartawan itu semakin menggila hingga tanpa sengaja malah melukaimu," tutur Sekar.
"Tidak masalah."
Jika Fahmi bersikap begitu ketus kepada Bimantara, Sekar malah bersikap baik dan tetap lemah lembut kepada anak dari sahabat sang suami. Walaupun hatinya ikut terluka atas musibah yang menimpa Tsamara, dia mencoba tersenyum dan ikhlas akan takdir yang Tuhan berikan kepada anak tercinta.
Saat pasangan paruh baya itu meninggalkan ruang sidang, Bimantara dan Tsamara menatap dengan tatapan begitu dalam tersirat kesedihan mendalam di iris coklat masing-masing. Akan tetapi, mereka tak bisa berbuat apa-apa sebab semuanya telah berakhir. Biduk rumah tangga yang mereka tumpangi telah karam saat sebuah badai menerjang kapal tersebut.
"Kak Bima."
Perkataan itu meluncur di bibir Tsamara dan Bimantara hampir bersamaan. Seketika suasana terasa canggung meski mereka sudah sejak lama saling mengenal.
Bimantara menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal. "Ehm ... kamu duluan deh yang ngomong."
Tsamara tersenyum dipaksakan. Sisa butiran kristal tak nampak di sudut mata sebab gadis itu telah mengusutnya terlebih dahulu sebelum suara Bimantara menghentikan langkah kakinya. "Aku cuma mau minta maaf kalau selama menjadi istrimu, tak bisa menjalankan tugas dan mewajibanku dengan baik. Mungkin aku banyak salah dan khilaf hingga membuat Kak Bima terluka." Gadis itu mulai membuka percakapan.
Bimantara bergeming kala mendengar permintaan maaf Tsamara. Tak menduga kalau kalimat itu terucap di bibir mantan istrinya itu. Meminta maaf karena tak dapat menjalankan tugasnya dengan baik? Oh Tuhan, hati Bimantara rasanya seperti disayat-sayat oleh sebilah pisau. Bagaimana mana bisa gadis itu meminta maaf kepadanya sedangkan selama ini dokter cantik itu selalu menjalankan kewajibannya sebagai istri dengan baik.
__ADS_1
Tsamara selalu menyiapkan segala kebutuhan Bimantara. Mulai dari menyiapkan pakaian kerja, baju sehari-hari serta makanan yang hendak dikonsumsi selalu disiapkan oleh Tsamara. Meskipun Tsamara tidak mahir memasak tapi gadis itu tetap menyajikan makanan lezat di atas meja makan.
"Kamu tidak perlu meminta maaf kepadaku sebab akulah yang banyak salah sama kamu, Tsa. Selama menjadi suamimu, aku tak pernah sekalipun menjalankan tugasnya sebagai seorang suami seperti pria di luaran sana. Aku tidak pernah memberikan cinta dan kasih sayang kepadamu. Bahkan aku tak memberikan nafkah batin kepadamu selama jalan tiga bulan. Maafkan aku, Tsamara." Terlihat jelas gurat penyesalan di wajah Bimantara.
Tsamara tersenyum. "Jangan merasa bersalah, Kak. Aku bisa memaklumi kenapa selama ini kamu tidak mau menjamahku. Hubungan suami istri harus dilandasi atas dasar suka sama suka. Bila Kakak saja tidak mencintaiku bagaimana mungkin kita mereguk nikmatnya dunia bersama-sama."
"Jujur, dulu aku sering bertanya-tanya adakah kekurangan dalam diriku hingga Kak Bima tak mau menyentuhku. Namun, semenjak aku tahu kalau Emma adalah kekasihmu dari situ aku memaklumi kenapa dirimu tidak bersedia menjamahku karena sejatinya di hatimu hanya ada Emma seorang. Jadi, mana mungkin kamu mau menjamahku sedangkan di hatimu sudah ada wanita lain."
Tsamara menarik napas panjang dan dalam. "Namun, semuanya sudah berlalu. Kisah kita sudah berakhir. Kamu dan aku pun sudah bercerai. Kuharap, Kak Bima bisa hidup bahagia bersama Emma."
Netra Tsamara melirik ke arah cincin berlian yang melingkar di jari manis. Lantas, dia melepaskan cincin tersebut dan memberikannya kepada Bimantara. "Cincin ini merupakan mahar yang kamu berikan kepadaku. Karena kita telah bercerai maka barang ini kukembalikan."
"Kurasa Papa dan Mama sudah menungguku terlalu lama. Sebaiknya aku pergi sekarang sebelum Papa marah," terkekeh pelan mencoba mencarikan suasana. "Kak Bima, terima kasih untuk kenangan indah yang kamu berikan selama ini. Thank you dan good bye!"
.
.
.
.Halo semua, yuk mampir ke karya teman author. Karya dan nama penanya bisa dikepoin di bawah sini ya. 👇
__ADS_1