Painfull Love (Cinta Yang Menyakitkan)

Painfull Love (Cinta Yang Menyakitkan)
Divorce


__ADS_3

Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Hari di mana sidang putusan perceraian antara Tsamara dan Bimantara dibacakan. Seumur hidup Tsamara, tak pernah terbayangkan sedikit pun kalau dia akan bercerai dan menjadi janda di usia yang cukup muda. Dulu dia berpikir rumah tangganya bersama sang suami akan langgeng sampai nenek kakek hingga maut memisahkan. Namun, ternyata harapan tak sesuai dengan kenyataan.


"Sebentar lagi kita sampai, Pak Fahmi dan Bu Sekar." Suara seorang sopir di balik kemudi membuyarkan lamunan Tsamara. Dia duduk di kursi kedua bersama kedua orang tuanya.


Fahmi dan Sekar sengaja meluangkan waktu demi menemani sidah perceraian anak tercinta. Mereka bahkan rela membatalkan pertemuan penting dengan klien yang hendak bekerja sama dengan hotel dan salon milik kedua orang tua Tsamara. Pasangan paruh baya itu ingin memberikan dukungan kepada sang anak agar tegar menghadapi persidangan ini.


Sekar mengusap lembut pundak Tsamara, seolah mengetahui isi hati anak tercinta. "Kuatkan dirimu, Nak. Mama yakin, semua akan berjalan baik-baik saja."


Tsamara tersenyum samar dan mengangguk. Dalam hati gadis itu berkata, Bagaimana mungkin akan baik-baik saja. Sementara separuh jiwaku rasanya pergi saat mengetahui Kak Bima selingkuh di belakangku. Harapan dan cinta tulus yang selama ini kuberi dihancurkan oleh pria itu dalam sekejap. Meskipun ini semua terjadi bukan karena kesalahan Kak Bima, tapi tetap saja hatiku sakit bagai ditusuk sebilah pisau tajam. Sakit namun tak berdarah.


"Hans, apa semua anak buahmu telah bersiap ditempat?" tanya Fahmi saat kendaraan roda empat miliknya memasuki pekarangan pengadilan. Di depan sana sudah banyak wartawan menunggu mereka turun.


Kerumunan wartawan telah memadati halaman pengadilan sejak dua jam lalu. Banyak dari berbagai saluran televisi tanah air berbondong-bondong mengabadikan moment langka di mana kedua keluarga kongkomerat berjalan menuju ruang persidangan. Mereka tidak mau melewatkan moment tersebut hingga rela menunggu selama dua jam lamanya.


Hans, asisten pribadi Fahmi yang duduk di samping kursi kemudi menganggukan kepala. "Bapak tenang saja. Saya sudah meminta mereka berjaga di beberapa titik di sekitar ruang persidangan. Kehadiran mereka tidak akan disadari oleh siapa pun sebab semua anak buah saya menyamar hingga tak ada satu orang pun tahu bahwa Nona Tsamara dikawal ketat oleh kami."


Tangan Fahmi terulur ke depan, menepuk-nepuk lembut pundak Hans. "Bagus, saya suka cara kerjamu. Kalau misalkan kita masih bisa menghalau wartawan itu, jangan minta mereka bergerak. Aku tidak mau sidang perceraian anakku malah berujung kericuhan dan menyebabkan ditundanya persidangan. Aku mau secepatnya Tsamara resmi bercerai dari si Bajingan itu."


"Baik, Pak. Akan saya koordinasikan lagi dengan rekan yang lain." Perkataan itu mengakhiri percakapan mereka tatkala sang sopir telah mematikan mesin mobil tepat di parkiran khusus pengunjung pengadilan.


Fahmi melirik ke arah Tsamara. "Apa kamu siap, Tsa?"


Tsamara mengangguk yakin. "Aku yakin, Pa. Ayo turun!"

__ADS_1


Sejenak pasangan suami istri itu saling bertukar pandang. Meskipun tak berucap tapi lewat sorot mata mereka seakan saling menguatkan satu sama lain. Mereka harus kuat sebab kalau tidak maka siapa yang memberikan dukungan untuk anak tercinta.


"Nona Tsamara, apa yang melatarbelakangi Anda sampai menggugat cerai Tuan Bima? Setahu saya, Nona sangat mencintai Tuan Bima." Seorang wartawan wanita mengenakan seragam navy dengan logo salah satu stasiun televisi di bagian dada berhambur kala melihat Tsamara dan orang tuanya turun dari mobil. Satu buah microphone berada di hadapan Tsamara.


"Saya dengar kisruh rumah tangga kalian disinyalir karena adanya orang ketiga. Apa itu benar?"


"Nona Tsamara, tolong berikan klarifikasi sebentar untuk menjawab berita simpang siur yang sedang terjadi ini."


Para awak media terus memberondong banyak pertanyaan kepada Tsamara hingga membuat gadis itu kehabisan oksigen. Bagaimana tidak, mereka terus berdesakan mencari celah agar lebih dekat dengan istri Bimantara.


Hans hendak mengerahkan anak buahnya saat merasakan kondisi semakin tidak terkendali. Dia tidak mau terjadi hal buruk menimpa majikan serta anak majikannya. Sebagai asisten sekaligus merangkap pengawal pribadi, tentu saja dia bertanggung jawab penuh melindungi para majikannya.


Mulut terbuka hendak berkata, tangan menyentuh earphone di telinga bersiap memberi perintah. Namun, gerakan pria itu harus terhenti saat tangan Tsamara terangkat ke udara memberikan kode kepada Hans untuk tidak meminta para penjaga keluar dari persembunyian.


Dokter cantik bermata hazel menarik napas dalam, kemudian mengembuskan secara perlahan guna mengumpulkan keberanian untuk bicara di hadapan semua orang.


"Kalau ada berita miring yang mengatakan bahwa kehadiran orang ketiga di antara kami, maka itu semua hoax. Baik aku dan Kak Bima, tidak ada yang selingkuh di belakangan pasangan kami." Usai mengucapkan kalimat itu, si cantik jelita kembali mengayunkan lagkah menuju ruang persidangan.


Hanya berjarak sekitar dua puluh dari ambang pintu, tiba-tiba para wartawan itu membubarkan diri saat melihat seorang pria muda turun dari mobil disusul pasangan paruh bayah menjejakan kaki di tanah tempatnya berpijak.


"Pak Bima, bisa minta waktunya sebentar? Saya ingin bertanya apa memang pernikahan kalian berakhir karena adanya orang ketiga? Dari isu yang berembus mengatakan bahwa pewaris tunggal Danendra Group mempunyai wanita idaman lain dan orang itu adalah teman kuliah Anda, apa benar?" tanya sang wartawan. Meskipun kesulitan bertanya karena harus berdesakan dengan yang lain, tapi wartawan itu sukses menanyakan apa yang dia rekap terlebih dulu di buku catatan kecil.


"Itu cuma berita hoax," jawab Bimantara. Pria itu sama sekali tidak tertarik menjawab pertanyaan dari para pemburu berita. Dia ditemani sang pengacara lebih memilih masuk ke dalam ruang sidang daripada meladeni mereka.

__ADS_1


Saat berada di ambang pintu, Bimantara dan Tsamara bertemu. Keduanya saling memandang satu sama lain. Jika biasanya anak pertama dari pasangan Fahmi dan Sekar begitu ramah menyambut sang suami, namun kali ini berbeda. Bahkan senyuman manis yang selalu diberikan saat bertemu telah tergantikan oleh wajah datar tanpa ekspresi.


Pasangan suami istri itu berdiri saling berhadapan, memandang dengan tatapan lekat namun tak ada satu patah kata pun terucap di bibir masing-masing.


"Tsamara, ayo masuk! Sidang akan segera dimulai." Sekar menyentuh pundak anak tercinta. Khawatir jika terlalu lama berdekatan dengan Bimantara, hati anaknya semakin terluka karena mengingat pengkhianatan yang dilakukan Bimantara.


Tsamara melirik sekilas ke arah Sekar, kemudian menganggukan kepala. Tanpa diminta untuk kedua kali, dia berjalan meninggalkan Bimantara yang masih membeku di tempat.


"Pak Bima, sebaiknya kita juga masuk sekarang. Putusan sidang akan segera dibacakan." Pengacara yang bertanggung jawab mendampingi Bimantara meminta mereka bergegas masuk ke dalam ruangan


Ketika tiba di ruang persidangan, Tsamara duduk di sisi kiri sedangkan Bimantara duduk di sisi kanan. Di samping mereka sudah ada pengacara masing-masing yang membantu proses cerai. Tampak keluarga Tsamara duduk di kursi tamu. Sementara kedua orang tua Bimantara, tidak menghadiri persidangan itu sama sekali.


Persidangan pun dimulai, hakim membacakan putusan sidang perceraian Tamara dan Bimantara. "Dengan ini saya putusan bahwa ... kalian resmi bercerai!" Suara ketukan palu mengakhiri sidang perceraian itu. Ketukan itu menggema memenuhi penjuru ruangan.


Dari sayap kiri, tampak bola mata Tsamara mulai berkaca-kaca. Mengerjapkan mata beberapa kali, mencoba agar butiran kristal tak jatuh membasahi pipi.


Bimantara Danendra membeku di tempat ketika hakim sudah membacakan keputusan. Dia masih belum percaya bahwa kini antara dirinya dengan Tsamara sudah tak ada lagi hubungan apa pun. Seharusnya dia bahagia sebab sebentar lagi akan menikah dengan Emma dan membina rumah tangga bahagia dengan kekasihnya itu. Namun, kenapa hatinya terasa sakit bagai ribuan anak panas melesak begitu saja. Hidup terasa hampa seakan ada sesuatu yang menghilang dari hidupnya.


.


.


.

__ADS_1


Halo semua, yuk mampir ke karya teman author. Karya dan nama penanya bisa dikepoin di bawah sini ya. 👇



__ADS_2