Painfull Love (Cinta Yang Menyakitkan)

Painfull Love (Cinta Yang Menyakitkan)
Untuk Pertama Kali


__ADS_3

"Dasar kampungan, enggak tahu diri. Bisa-bisanya dia mengataiku dengan sebutan itu. Aargh, seharusnya tadi aku tampar saja wajah si Nenek tua itu bukan malah pergi begitu saja," sungut Emma berapi-api. Ia mendorong daun pintu warna coklat hingga terbuka lebar, kemudian membanting pintu itu dengan sangat kencang. Saking kencangnya membuat jendela dan hiasan dinding bergoyang.


Sontak, Bimantara yang sedang membantu Emma mengerjakan pekerjaan rumah terlonjak kaget dari tempatnya. Beruntungnya piring kotor dalam genggaman tangan tidak terlepas, kemudian jatuh dan berserakan di mana-mana. Kalau sampai itu terjadi, bisa-bisa istri keduanya mengoceh seharian tanpa henti.


Bimantara membilas tangannya yang terkena cairan pencuci piring, setelah itu berlari menghampiri sang istri. "Emma, pulang dari tukang sayur kenapa malah marah-marah? Memangnya ada masalah apa sampai membuatmu harus membanting pintu kesencang itu," tegur mantan CEO.


Emma yang telah diselimuti emosi menghunuskan tatapan tajam kepada suaminya. Berkacak pinggang dan berkata dengan suara tinggi. "Emangnya kenapa kalau aku membanting pintu itu, heh? Kamu mau memarahiku, iya? Silakan jika memang kamu ingin memarahiku, Bim. Atau kalau mau, kamu pun bisa menamparku biar kamu puas!"


Mantan suami Tsamara terkesiap beberapa saat, ia tak menduga jika istrinya berpikiran sempit seperti itu. Ia memang kesal setiap kali diomeli, dibentak, dihina bahkan disindir oleh sang istri, tapi untuk melukai wanita yang tengah mengandung darah dagingnya sendiri ia tak akan tega. Bagaimanapun, Emma adalah wanita yang ia pilih untuk dijadikan pelabuhan terakhir.


Memejamkan mata sejenak sambil menarik napas dalam. Bimantara mencoba mengendalikan diri agar tak terpancing emosi. "Sayang, mana mungkin aku memarahimu hanya karena hal sepele. Aku cuma kaget tiba-tiba saja kamu pulang, lalu marah-marah tanpa tahu penyebabnya apa."


Bimantara berjalan mendekati istrinya. "Duduk dulu yuk, setelah itu kamu cerita sama aku sebenarnya kamu kenapa? Bukannya tadi kamu bilang mau belanja, tapi kenapa keranjang belanjaanmu kosong?" kata pria itu sambil melirik ke arah keranjang belanjaan terbuat dari anyaman plastik.


Beberapa menit lalu Bimantara memang meminta Emma belanja ke tukang sayur karena persediaan dapur kosong sedangkan ia mengerjakan pekerjaan rumah lainnya. Sambil menunggu panggilan kerja pria itu menggunakan waktu luang untuk membantu Emma mengurusi rumah. Hidup berdua tanpa asisten rumah tangga mau tidak mau membuat mereka bekerjasama dan membagi pekerjaan agar rumah itu tetap bersih dan terjaga.


Merasa tubuh capek akibat berjalan cukup jauh ditambah amarah yang meledak-ledak membuat energi Emma terkuras habis sehingga ia menuruti perintah Bimantara. "Aku kesal sama Bu Retno, Bim. Dia menjelek-jelekan aku di depan Bu Heri dan Bu Utami. Katanya aku hamil anak haram, tega jadi seorang pelakor demi hidup mewah padahal aku, 'kan enggak salah. Kamu orang pertama yang mengejar aku, bukan malah sebaliknya."


"Eeh ... si Nenek peot itu malah menghinaku di hadapan kedua teman arisannya. Iih ... kesel banget deh!" ujar Emma sembari menghentak-hentakkan kaki di atas lantai.


Mendengar perkataan Emma, Bimantara terdiam. Lantas, kepingan kejadian beberapa bulan lalu kembali berputar di memori ingatan layaknya sebuah film yang diputar di bioskop. Entah kenapa membayangkan masa lalu membuat hati rasanya seperti tengah disayat oleh sebilah pisau tajam, terasa sakit, tapi tak berdarah.


Sekelebat wajah cantik pemilik bola mata almond terlintas begitu saja. Gadis berhati malaikat, penuh kelembutan dan sangat perhatian menjadi korban keegoisannya. Hanya karena rasa cinta yang masih bersemayam di dalam hati membuat Bimantara tega menduakan Tsamara, dan berselingkuh dengan Emma--cinta pertamanya.

__ADS_1


"Bima! Bima, kamu kenapa ngelamun?" seru Emma sembari melambaikan telapak tangan ke depan wajah suaminya.


"Ya, Tsa, kenapa?" jawab Bimantara, tanpa sadar ia malah memanggil nama Tsamara di hadapan sang istri.


Belum habis rasa kesal dalam diri Emma akibat kelakukan tetangganya yang rese bin julid, mantan sekretaris perusahaan terkenal di tanah air segera memukul pundak Bimantara dengan sangat kencang hingga terdengar bunyi dua permukaan kulit saling bersentuhan. "Bimantara Danendra! Lihat, siapa wanita di sebelahmu! Aku ini Emma, bukan Tsamara, mengerti!" seru wanita itu dengan meninggikan nada suara. "Bisa-bisanya kamu mengingat nama mantan istrimu itu saat sedang bersamaku. Keterlaluan kamu!"


Emma bangkit dari sofa, kemudian menatap tajam ke arah Bimantara. " Katakan padaku apa selama ini kamu masih berhubungan dengan Tsamara. Tega kamu, Bim. Aku ini sedang mengandung anakmu, tapi kamu malah selingkuh dengan mantan istrimu yang bodoh itu. Benar-benar enggak punya hati!" sembur wanita itu dengan kilatan emosi terpancar di sorot matanya yang tajam. Deru napas wanita itu memburu, dada kembang kempis dan wajah pun merah padam.


Istri kedua Bimantara memang sangat membenci nama itu sebab ia merasa kesialan yang datang menghampiri adalah ulah dari dokter cantik itu. Karir cemerlang, pekerjaan bagus, bergelimang fasilitas mewah semuanya harus sirna setelah Tsamara memergoki ia dan Bimantara mantap-mantap di kamar khusus bagi CEO perusahaan.


Tangan Bimantara mengepal sempurna di samping badan saat mendengar Emma memanggil mantan istrinya 'bodoh'. Ia tidak terima bila ada satu orang pun menghina Tsamara, gadis cantik jelita yang hatinya pernah ia sakiti.


Lantas, Bimantara bangkit dari sofa dengan mata melotot seakan bola mata itu nyaris copot dan menggelinding ke lantai. "Jangan pernah menghina Tsamara dengan sebutan 'bodoh'!" seru pria itu sambil mengepalkan kedua tangan hingga memperlihatkan otot-otot halus di punggung tangan. "Sekali lagi aku mendengar kamu mengatakan hal buruk tentang dia, aku enggak segan menamparmu, Emma!" Suara pria itu menggelegar bagai gemuruh petir di siang bolong.


"Gimana rasanya, enak mantap-mantap dengan selingkuhanmu di saat statusmu sebagai suami orang?" tanya Emma seraya menaik turunkan kedua alis. "Sensasinya berbeda, 'kan, antara menjamah istri dengan selingkuhanmu."


Amarah dalam diri Bimantara telah mencapai level maksimal. Emosi pria itu mendidih hingga tak dapat terbendung lagi. Maka sebuah tamparan keras mendarat di pipi mulus sang istri. "Tutup mulutmu!" seru pria itu dengan tatapan mata tajam.


"Jangan sembarangan bicara! Aku dan Tsamara enggak pernah melakukan hubungan intim. Saat status kami masih suami istri pun, aku enggak pernah sekalipun menjamah dia. Mengerti!" bentak Bimantara.


Mendapat sebuah tamparan keras di pipi secara tiba-tiba membuat Emma terkesiap beberapa saat. Tangan kanan menyentuh pipi yang terasa panas akibat tamparan dari sang suami. Saking kerasnya hingga menimbulkan bekas di sana.


Seumur hidup baru kali ini Bimantara berbuat kasar kepadanya. Bahkan sejak mereka masih pacaran pun, lelaki itu tak pernah membentak apalagi ringan tangan. Jadi, saat suaminya melayangkan sebuah tamparan keras di pipi membuat hati wanita itu hancur berkeping-keping.

__ADS_1


Dengan bibir gemetar Emma berkata, "Hanya karena wanita itu kamu tega menamparku? Kamu ... keterlaluan, Bima."


Bekas telapak tangan Bimantara tercetak jelas di pipi Emma. Warna kemerahan itu sangat kontras dengan kulitnya yang putih membuat bola mata Bimantara terbelalak sempurna. Lelaki berusia dua puluh sembilan tahun tampak terkejut saat melihat hasil perbuatannya barusan. Tubuh lelaki itu membeku di tempat seakan ada paku tak kasat mata menancap di kakinya.


"Kamu sadar apa yang telah dilakukan barusan? Kamu ... sudah menyakitiku. Demi Tsamara kamu tega menampar wanita yang tengah mengandung darah dagingmu sendiri. Keterlaluan!" Butiran air mata jatuh membasahiku kedua pipi Emma. Hati terasa seperti disayat oleh sebilah pisau tajam. Dada terasa sesak seolah oksigen sekitar tak mampu memenuhi paru-parunya.


"E-emma ... aku--"


Belum selesai Bimantara berbicara, tangan Emma telah lebih dulu terangkat ke udara. "Jangan berkata apa-apa lagi! Tindakanmu barusan membuatku sadar bagaimana posisiku di hatimu. Selama ini kamu cuma menjadikanku sebagai budak pemuas napsumu saja, kamu sama sekali enggak cinta sama aku. Kamu cuma mau tubuhku saja, iya, 'kan? Kamu--" Emma tidak sanggup berkata-kata. Lidah wanita itu terasa kelu, mulut pun terkunci rapat.


Tidak mau terus memperlihatkan kelemahannya di hadapan Bimantara, Emma memilih pergi meninggalkan ruangan tersebut. Ia berjalan dengan membawa hati yang hancur berkeping-keling menuju kamar tamu.


Bimantara baru tersadar dari keterkejutannya saat mendengar suara pintu yang dibanting dengan sangat kencang. Ia terlonjak dari posisinya saat ini.


"Aargh! Sialan!" teriak Bimantara sembari menyugar rambut dan mengusap wajahnya dengan kasar. Ia lepas kendali hingga tanpa sadar telah menyakiti ibu dari anak kandungnya sendiri.


.


.


.


Halo semua, sambil nunggu update-an karya ini, yuk mampir dulu ke karya author. Cus dikepoin di plaform kesayangan kalian. Terima kasih.

__ADS_1



__ADS_2