
"Dok, bagaimana keadaan Ibu saya? Apa beliau baik-baik saja?" Tampak raut kecemasan terpancar dari sorot matanya yang indah nan jernih. Seorang gadis berusia dua puluh dua tahun berhambur mendekati dokter senior bersnelli putih.
Dokter senior berambut keperakan menghela napas panjang, kemudian mengembuskan secara perlahan. "Kanker dalam tubuh Bu Latifah menyebar ke mana-mana. Kemoterapi serta konsumsi obat-obatan tak mampu mencegah penyebaran sel kanker dalam tubuh Ibu Nona."
Bagai disambar petir di siang bolong, tungkai Erina terasa lemas tak mampu menahan bobot tubuhnya sendiri. Pikiran gadis itu tiba-tiba kosong melompong tak dapat berpikir jernih.
Dokter senior menepuk pundak Erina dengan pelan. "Selagi masih ada waktu, gunakan kesempatan dengan sebaik mungkin. Temani, hibur dan kabulkan keinginan terakhir pasien sebelum beliau kembali kepada-Nya," tuturnya. "Maafkan saya karena kami tak dapat menyembuhkan pasien meski segala usaha telah dilakukan."
"Kalau tidak ada yang ingin ditanyakan lagi, saya permisi dulu." Usai mengucapkan kalimat terakhir, dokter itu meninggalkan Erina yang masih membeku di tempat. Tatapan mata kosong, seakan jiwanya tersesat ke sebuah dimensi lain.
Perlahan, gadis cantik itu melangkah mendekati kursi tunggu terbuat dari stainless. Ia dudukan bokongnya di atas kursi tersebut. "Ya Tuhan, kenapa sel kanker dalam diri Mama aktif kembali? Bukankah Mama sudah melakukan operasi, tapi kenapa muncul lagi?" gumamnya lirih. Tanpa terasa air matanya berlinang begitu saja. Hidung terasa masam dan dada pun sesak bagai dihimpit bongkahan batu yang sangat besar.
Cukup lama Erina terpaku di tempat, menangisi nasib sang mama yang kini semakin memburuk. Kanker darah dalam tubuh Latifah, kembali aktif dan semakin ganas hingga dokter saja angkat tangan.
"Mas Yudhis, aku harus segera memberitahunya. Ya ... aku harus cepat memberitahu keadaan Mama." Tanpa berlama-lama, Erina mengeluarkan telepon genggam dari dalam tas, kemudian mengirimkan pesan singkat untuk sang kakak.
Assalamu a'laikum. Mas Yudhis, gimana kabarnya? Apa Mas bisa pulang ke Yogyakarta secepatnya? Barusan Mama dilarikan ke rumah sakit dan kata Dokter, sel kanker dalam tubuh Mama terus berkembang. Dokter Ilham serta tim angkat tangan, mereka tak bisa melakukan apa-apa lagi karena segala macam pengobatan telah dilakukan.
Jika seandainya Mas enggak sibuk, aku harap Mas bisa pulang secepatnya. Aku ... enggak sanggup melihat penderitaan Mama. Itulah pesan yang dikirimkan Erina kepada Yudhistira.
Semenjak sang papa meninggal dunia, Yudhistira-lah yang menjadi tulang punggung keluarga meski Latifah mempunyai toko kelontong, tapi sebagai lelaki tertua dan satu-satunya pria itu menggantikan tugas Erlan, sedangkan Erina bertugas menjaga mama mereka.
__ADS_1
Sementara itu, Yudhistira baru saja memarkirkan kendaraan roda empat miliknya di parkiran khusus bagi para dokter. Ia berjalan bersisian dengan Tsamara sambil membahas soal rencana seminar yang akan diadakan di Bali satu minggu lagi.
"Jadi perwakilan dari rumah sakit kita siapa aja, Dok?" tanya Tsamara. Gadis cantik pemilik mata almond tampak begitu serius mendengarkan penuturan yang disampaikan Yudhistira tentang rapat kemari sore.
"Dari rumah sakit kita ada lima orang, dua di antaranya adalah kamu dan aku. Kita akan berangkat ke bandara dengan penerbangan pagi agar bisa langsung ke lokasi. Panitia telah meminta pihak penginapan untuk melakukan early check in agar kita bisa menaruh barang-barang dulu sebelum acara dimulai," jawab Yudhistira sambil terus melangkahkan kakinya.
Keduanya masih terus berjalan masuk ke sebuah gedung rumah sakit bertaraf internasional menyusuri lorong rumah sakit yang mulai tampak ramai. Yudhistira hendak membuka pintu ruangan dokter, tapi suara ponselnya yang nyaring membuat lelaki itu menghentikan sejenak kegiatannya. Ia mengambil benda pipih tersebut dari saku celana, pop up yang muncul di layar ponsel membuat alis sang lelaki mengerut heran.
"Kenapa Erina sampai mengirimkan banyak pesan kepadaku? Apa terjadi hal buruk menimpa Mama?" gumam Yudhistira lirih.
"Ada apa, Dokter Yudhis?" tanya Tsamara ketika menyadari Yudhistira menatap layar ponsel dengan sorot mata yang sulit dibaca.
"Dokter Yudhis, apa semuanya baik-baik saja?" Tsamara kembali bertanya saat rekan sejawatnya tak memberikan respon sama sekali.
Dengan perasaan campur aduk, Yudhistira menjawab, "Ya, a-aku baik-baik saja." Lelaki itu menyembunyikan kabar buruk yang menimpa orang tuanya.
"Dokter Tsamara, aku harus bertemu Dokter Fatma. Kamu duluan saja." Tanpa memberi kesempatan kepada Tsamara, pria itu berlalu begitu saja menuju sebuah ruangan yang ada di paling ujung.
Tsamara mengangkat alisnya dan memandangi punggung Yudhistira dengan sejuta pertanyaan dalam benaknya. "Sikap Dokter Yudhis aneh sekali. Apa terjadi sesuatu kepadanya?"
***
__ADS_1
|| Singapura ||
"Pa, kenapa wajahmu murung? Apa kamu sakit? Mau aku buatkan minuman hangat?" cecar Renata tatkala melihat wajah suami tercinta bermuram durja saat memasuki istana mewah bergaya Eropa.
Fengying menghunuskan tatapan tajam akan sosok wanita cantik di sebelahnya. "Apa pedulimu? Kenapa kamu jadi sok perhatian kepadaku? Apa nafkah yang kuberi selama ini kurang hingga kamu mencoba merebut hatiku sama seperti kamu merebut hati kedua orang tuaku?" cibir pria berdarah Tionghoa. Bila mengingat kejadian puluhan tahun silam membuat pria itu semakin membenci Renata, kedua orang tuanya dan semua orang yang terlibat dalam perpisahan antara dirinya dan Annchi, istri tercinta.
Renata terhenyak saat mendengar perkataan Fengying. Sejak dulu lelaki itu memang tak pernah sekalipun bersikap baik dan memperlakukannya layaknya seorang istri, tapi perkataannya kali ini benar-benar menusuk hati. Perasaannya bagai ditusuk sembilu, sakit tapi tak berdarah.
"M-maksud kamu apa, Pa? Kenapa kamu menuduhku seperti itu? Memangnya aku salah bila memperhatikan suamiku sendiri?" tanya Renata dengan bibir gemetar. Pandangan mata mulai berkabut, buliran air mata mulai memenuhi kelopak matanya.
Fengying berdecak kesal. "Suami? Jangan mimpi! Selama ini aku tidak pernah menganggapmu sebagai istriku. Kamu tahu, istriku cuma satu yaitu Annchi, dan selamanya hanya dia di hatiku. Jadi, jangan harap jika kamu bisa menggantikan posisi Annchi."
Lantas, lelaki yang telah memasuki usia kepala lima melengos begitu saja tanpa ingin berlama-lama memandangi wajah Renata, sosok perempuan yang menemaninya selama hampir tiga puluh tahun. Semakin lama menatap iris coklat wanita itu, ia semakin muak, geram dan marah karena takdir terus mempermainkannya.
Air mata meleleh begitu saja ketika melihat Fengying pergi meninggalkannya seorang diri. Sorot mata wanita itu memancarkan kepedihan yang mendalam. Tuhan, aku sudah tidak tahan lagi, raung Renata dalam hatinya.
.
.
.
__ADS_1