
Seperti yang dikatakan Yudhistira, pernikahan digelar dalam waktu satu bulan. Pernikahan megah yang digelar di ballroom salah satu hotel ternama di Jakarta membuat semua orang terkagum-kagum dengan pesta pernikahan itu. Hiasan yang sangat elegan membuat tamu undangan sudah bisa membayangkan akan secantik dan seanggun apa mempelai wanita. Mereka juga bisa membayangkan setampan dan segagah apa mempelai pria. Semua mulai saling bercakap satu sama lain sebelum pernikahan dimulai.
Ternyata ada satu hal yang mengejutkan terjadi di hari itu. Fengying yang sedang berada di Singapura mendadak kembali ke Indonesia saat mengetahui tentang pernikahan putra dari istri pertamanya. Pria itu ingin ikut menghadiri pesta pernikahan putranya sambil meminta maaf untuk yang kedua kalinya. Fengying tahu kesalahannya yang sudah menukar kebahagiaan keluarganya dengan harta yang hanya bersifat sementara. Pria itu datang menemui Yudhistira yang sedang bersiap di salah satu ruangan yang sudah disiapkan di sana.
“Yudhistira, ada yang ingin menemuimu,” ujar Latifah melihat ke ambang pintu. Di sana sudah ada Fengying yang tersenyum samar. Pria itu sudah menyiapkan dirinya dari jauh-jauh hari untuk menemui sang putra.
Yudhistira yang melihat itu memalingkan wajahnya. Dia sangat muak dengan wajah papanya itu. Namun, sikapnya ditegur oleh Latifah dan membuat dirinya terpaksa menerima kedatangan papa kandungnya itu.
“Yudhistira, bagaimana kabar kamu?” tanya Fengying yang mengambil sebuah kursi dan dia dekatkan dengan kursi sang putra.
“Apa Anda tidak melihat? Hari aku menikah. Apa seharusnya aku tidak senang?” ketus Yudhistira yang kembali memalingkan wajahnya dan kembali ditegur Latifah.
“Yudhistira, jangan begitu. Bagaimanapun dia Papa kandungmu, bicara yang sopan!”
"Tapi, Ma, dia--" Perkataan Yudhistira terhenti saat Latifah menggelengkan kepala seakan memberi isyarat agar Yudhistira tidak membesarkan masalah di moment bahagia ini.
Yudhistira menghela napas dalam. Walaupun wajahnya tampak geram menahan amarah, tetapi ia tidak bisa membantah sang mama. "Ada apa? Kenapa datang tiba-tiba?” Seperti yang diinginkan Latifah, akhirnya Yudhistira mau berbicara dengan Fengying dengan lebih lembut, walaupun sebenarnya Yudhistira sangat tertekan. Dia kesal dengan papanya ini.
“Papa ke sini mau jadi salah satu saksi pernikahan kamu, Yudhis. Kamu sudah dewasa, Papa tidak pernah bertemu denganmu, tapi setidaknya Papa bisa menyempatkan untuk datang ke sini. Papa yakin, Mama kamu pasti akan sangat senang kalau dia melihat kamu sangat tampan dengan tuxedo hitam ini. Kamu sangat tampan dan gagah.” Fengying membenarkan tuxedo yang melekat di tubuh putranya. Sepertinya dirinya, sangat tampan. Pria itu menepuk kedua bahu Yudhistira setelah selesai melakukannya. Dia terlihat mengembangkan senyumannya.
__ADS_1
“Papa ke sini juga ingin minta maaf sama kamu untuk yang kedua kalinya. Kesalahan Papa memang besar, tapi Papa berharap kamu bisa memaafkan Papa. Kamu bisa kan menerima Papa sebagai Papa kandung kamu?”
Mendengar pertanyaan itu Yudhistira memutar bola matanya malas. Dia terlalu benci pada papanya. Apa harus dirinya memaafkan pria yang sudah menyakiti dirinya dan mama kandungnya itu?
“Yudhis, kamu bisa kan maafkan Papa kamu? Kamu bisa kan nerima dia sebagai Papa kandungmu. Mama sangat berharap, sebelum Mama pergi kamu bisa—”
“Ma, kenapa sih Mama bahas ini terus? Aku gak suka, Ma.” Yudhistira dengan cepat bangun dari duduknya dan pergi ke hadapan Latifah setelah mendengar perkataan wanita itu. Dia sangat tidak suka mendengar Latifah membahas kematian. Ini hari bahagianya, apa tidak bisa seseorang untuk tidak mengatakan hal yang menyedihkan?
“Kamu adalah seorang dokter, Yudhis. Kamu tahu bagaimana kondisi Mama. Jadi, Mama mohon, kamu bisa ya maafin Papa kamu. Ya?”
Dengan berat hati Yudhistira melihat ke arah papanya itu. Ada perasaan marah di dalam dirinya saat melihat pria itu. Namun, dengan cepat Latifah menggenggam kedua tangan putra angkatnya itu untuk menenangkannya. Pada akhirnya Yudhistira menurunkan egonya dan berdiri mendekat ke arah Fengying. Pria itu mengangguk, tetapi dia tidak menatap pria di hadapannya.
“Oke, demi Mama, aku mau maafkan Anda. Inget, hanya demi Mama!” Yudhistira memberikan peringat pada Fengying. Walaupun tahu hal itu tidak tulus, tetapi itu sudah bisa membuat hati Fengying lebih lega. Pria itu tersenyum dan meminta putranya untuk memeluknya sekali saja dan Yudhistira mengiyakan hal itu juga.
“Pastilah. Tsamara secantik itu. Pasti orang-orang iri melihat calon istriku,” gumam Yudhistira kembali duduk di posisi awalnya.
***
Waktu di mana puncak acara telah tiba. Saat ini fokus semua orang tertuju pada wanita cantik bergaun putih seputih awan dengan kain sutra yang begitu lembut dan terlihat elegan. Tsamara yang didampingi sang mama segera pergi menuju ke salah satu kursi untuk didudukkan. Di depannya sudah ada sang papa yang sudah siap untuk menikahkan dirinya dengan pria tampan di sampingnya itu. Tsamara yang ditatap terus oleh Yudhistira membuat wanita itu jadi malu sendiri dan akhirnya menyembunyikan wajah cantiknya dengan menoleh ke arah lain.
__ADS_1
“Kenapa disembunyiin? Kamu cantik,” goda Yudhistira yang langsung mendapat kekehan dari orang sekitar. Tsamara yang malu, sekarang malah tambah malu. Rona merah muda semakin terlihat jelas di wajahnya yang cantik jelita. Dasar Yudhistira, sukanya membuat Tsamara jadi malu.
“Yudhis, jangan bercanda, aku malu.” Suara kecil yang dikeluarkan Tsamara membuat Yudhistira jadi gemas sendiri. Namun, hal itu harus segera diakhiri karena acara terpenting, yaitu ijab qobul akan segera dilaksanakan. Ini adalah momen penentuan di mana Tsamara akan menjadi istrinya seorang Yudhistira atau tidak.
Yudhistira mulai menyiapkan diri dan berjabat tangan dengan Fahmi. Setelah semuanya siap, Fahmi mulai mengucap kalimat-kalimat keramat yang selalu digunakan saat sedang ijab qobul. Setelah Yudhistira berhasil mengulang perkataan Fahmi, di saat itulah Tsamara sudah resmi menjadi seorang istri dari seorang Yudhistira.
“Bagaimana para saksi? Sah?”
“Sah.”
Semua orang serentak mengucapkan kata itu. Air mata kebahagiaan tidak bisa untuk Latifah bendung. Akhirnya, wanita itu diberikan kesempatan untuk melihat momen bahagia putranya. Tidak hanya dia, beberapa orang di sekitar Yudhistira dan Tsamara pun tidak bisa membendung air mata kebahagiaan mereka, tentu, Yudhistira dan Tsamara pun melakukan hal yang sama. Sekarang ini Tsamara mulai mencium punggung tangan pria yang sudah sah menjadi suaminya itu. Sebagai balasan, Yudhistira pun ikut mencium kening Tsamara di hadapan semua orang.
“Akhirnya, kita sudah sah menjadi suami istri,” ujar Yudhistira berbisik di telinga istrinya.
“Iya, Yudhis,” jawab Tsamara malu-malu.
Sekarang ini semua tamu undang mulai menikmati sisa acara. Mereka satu per satu menyalami pengantin baru itu sambil sesekali bertegur sapa dengan tamu yang lainnya. Terlihat dari tengah ballroom, Yudhistira tengah berbisik pada Tsamara. Percayalah, apa yang dikatakan Yudhistira ada gombalan-gombalan maut. Pria itu tidak tahan untuk menggoda istrinya. Siapa suruh sangat cantik. Yudhistira jadi gemas sendiri.
Terima kasih, Tuhan, karena Engkau telah menjodohkanku dengan wanita cantik dan sebaik Tsamara. Aku janji tidak akan pernah menyakiti, melukai bahkan menduakan istriku ini. Yudhistira melirik ke arah istrinya. Di saat bersamaan, Tsamara pun melirik ke arah suaminya.
__ADS_1
Jagalah selalu rumah tanggaku dari godaan pelakor. Jangan biarkan rumah tangga ini hancur karena kehadiran orang ketiga.
...***...