Painfull Love (Cinta Yang Menyakitkan)

Painfull Love (Cinta Yang Menyakitkan)
Move On


__ADS_3

Bali merupakan sebuah pulau yang terletak di bagian barat Kepulauan Nusa Tenggara. Pulau ini terkenal sebagai tujuan pariwisata dengan keunikan berbagai hasil seni budayanya. Selain itu, Bali juga dikenal dengan julukan Pulau Dewata atau Pulau Seribu Pura.


Banyak turis dan wisatawan datang berkunjung ke pulau tersebut untuk berlibur ataupun untuk urusan pekerjaan. Dari banyaknya pengunjung yang datang, satu di antaranya adalah Tsamara Asyifa Gibran. Seorang gadis yang baru saja menyandang status janda setelah hampir tiga bulan lamanya mengarungi bahtera rumah tangga dengan pria pujaannya.


Tsamara menghentikan langkah tepat di depan pintu keluar Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali. Sejak masuk ke dalam pesawat hingga tiba di tempat tujuan, yang dilakukan gadis itu hanyalah menarik napas dalam-dalam. Langkah kakinya terasa berat sebab ini merupakan pengalaman pertama berlibur tanpa ditemani oleh siapa pun.


Dulu, setiap kali datang ke Bali, Tsamara selalu ditemani kedua orang tuanya dan adik tercinta yang kini kuliah di luar negeri. Namun, kali ini ia datang seorang diri guna menghibur diri akibat perceraiannya dengan Bimantara.


"Bli, tolong antarkan saya ke The Seminyak Beach Resort and Spa," ucap Tsamara kepada sopir taksi yang telah dia pesan sebelumnya.


Lelaki manis penduduk setempat menganggukan kepala. "Baik, Nona." Lantas, ia mulai menjalankan kendaraan roda empat tersebut menuju salah satu resort terkenal di kawasan Seminyak.


Sepanjang jalan, Tsamara memandangi pemandangan indah kota setempat dari dalam mobil. Ia menuruti nasihat dokter Fatma untuk berlibur ke suatu tempat guna mengobati rasa sakit akibat perceraiannya dengan sang mantan suami.


"Pulau ini masih sama seperti dulu sebelum aku menikah dengan Kak Bima," ucap Tsamara lirih sambil terus menatap ke luar jendela.


Sang sopir memperhatikan Tsamara dari kaca spion yang ada di depan. "Keadaan pulau ini memang tidak jauh berbeda dari sebelumnya, Nona, masih sama seperti dulu. Kalaupun ada perubahan, tetapi tidak terlalu signifikan," sahut pria manis dari balik kemudi.


Tsamara mengalihkan pandangan dari pemandangan indah di luar jendela mobil ke kaca spion di depan. "Semoga saja perubahannya ke arah lebih baik lagi ya, Bli, agar pulau ini semakin nyaman bagi para wisatawan," sahut gadis itu ramah. Sama sekali tidak tersinggung saat lelaki asing di depan sana menimpali perkataannya.


Pria berlesung pipi tersenyum lebar. "Itu yang sarap harapkan sebagai penduduk setempat. Kalau pulau ini semakin diminati para wisatawan maka pendapatan saya pun bertambah."


Terkekeh pelan setengah berkelakar. Tidak ada maksud apa pun hanya ingin mencairkan suasana yang terkesan tegang sekali.

__ADS_1


Setelah menghabiskan waktu sekitar satu jam lamanya, akhirnya mobil yang ditumpangi Tsamara telah tiba di pelataran resort tempatnya menginap. Mengeluarkan uang lembaran merah kepada sang sopir. "Terima kasih sudah diantarkan dengan selamat sampai tujuan, Bli."


Sopir taksi bernama Gede tersenyum lebar. "Memang sudah kewajiban saya mengantarkan Nona maupun pengunjung lain dengan selamat."


Tangan lelaki itu menerima uang lembaran yang disodorkan Tsamara. "Selamat berlibur, Nona, dan semoga harimu menyenangkan."


Menarik koper ukuran sedang masuk ke dalam sebuah bangunan yang tampak megah dan berkelas dengan ukiran khas pulau Bali terdapat di depan pintu masuk lobi resort.


"Selamat siang. Saya ingin check in atas nama Tsamara Asyifa Gibran," ucap Tsamara kepada salah satu resepsionis yang bekerja di balik meja kerja.


Wina, salah satu resepsionis memainkan jemari lentik di atas keyboard. Tangan wanita itu begitu lincah menari sambil bola mata bergerak, mencocokan nama pemesan dengan data yang didapat saat melakukan pesanan. "Nona Tsamara memesan kamar ocean suite dengan pemandangan laut, benar?" tanya wanita itu memastikan jika kamar yang dipesan tidak salah pesan.


Tsamara hanya menganggukan kepala sebagai jawaban.


Usai mengucapkan terima kasih dan menerima kunci kamar, Tsamara diantar bell boy menuju salah satu kamar yang ada di resort tersebut.


Mendorong pintu geser terbuat dari kaca, aroma kesegaran pantai menguar ke udara, menggelitik indera penciuman Tsamara. Merentangkan kedua tangan ke samping kanan kiri, kemudian berkata, "Enggak menyesal aku minta cuti kerja dan memutuskan berlibur ke sini. Pulau ini memang cocok bagi orang-orang bernasib malang sepertiku," bergumam lirih dengan suara tercekat.


Tiba-tiba saja kilasan kejadian saat Bimantara dan Emma memadu kasih kembali terulang di memori ingatan gadis itu. Menggelengkan kepala cepat dan berkata, "Come on, Tsa. Ingat kata Dokter Fatma, jangan sampai waktumu terbuah hanya untuk memikirkan masa lalu. Lebih baik kamu move on dan mulai mencari kebahagiaanmu sendiri. Obati hatimu dengan caramu sendiri."


Tsamara menoleh ke belakang saat dering ponsel dari dalam tas selempang miliknya berbunyi. "Halo, Ma, ada apa?" tanya gadis itu sembari meletakkan telepon genggam di telinga.


"Sayang, gimana, apa kamu sudah sampai penginapan?" tanya Sekar tanpa basa basi. Ia cukup mencemaskan anak sulungnya yang kini tengah berlibur seorang diri.

__ADS_1


Sebetulnya Sekar kurang setuju saat meminta izin pergi berlibur seorang diri tanpa ditemani oleh siapa pun, tetapi melihat kebulatan tekad sang anak membuat ibu dua orang anak mau tidak mau memberikan izin dengan catatan memberi kabar setiap satu jam sekali. Terdengar aneh dan terlalu berlebihan namun itulah kenyataannya, Sekar tidak mau terjadi hal buruk menimpa anak pertamanya itu.


Tsamara mendudukan bokongnya di atas kursi santai tepian kolam renang. Embusan angin laut menerbangkan rambut panjang, hitam legam milik dokter cantik. "Alhamdulillah, Ma, aku baru saja tiba di kamar. Ini sedang duduk di pinggir kolam renang. Maaf belum sempat ngasih kabar ke Mama karena aku barusan sampai."


Di seberang sana Sekar menghela napas lega sebab anak tercinta sampai dengan selamat di kota tujuan. "Syukurlah kalau begitu. Mama cuma khawatir, takut kamu kenapa-kenapa di sana. Bagaimana kalau kamu di sana kesusahan, siapa yang membantumu?"


Tsamara terkekeh pelan mendengar perkataan sang mama. "Jangan terlalu mengkhawatirkanku. Aku bukan lagi anak kecil yang harus diperhatikan setiap saat oleh Mama maupun Papa. Aku sudah dua puluh empat tahun, jadi kalau kesusahan aku bisa meminta bantuan kepada petugas hotel ataupun meminta bantuan Mama dan Papa."


"Tapi tetap saja Mama khawatir. Namanya saja ibu, pasti akan memikirkan anaknya apabila jauh dari pantauan. Mama yakin, semua ibu di belahan dunia manapun pasti melakukan hal yang sama."


Hati Tsamara menghangat mendengar perkataan Sekar. Dokter cantik bermata almond merasa beruntung mempunyai kedua orang tua yang begitu perhatian kepadanya. "Iya ... iya ... Tsamara mengerti kok, Ma. Udah ya, Mama jangan terlalu mencemaskanku nanti kalau sakit, bagaimana? Kasihan Papa enggak ada yang ngurus."


Sekar berdecak kesal. "Ck! Papamu tidak perlu dikhawatirkan. Setiap hari di depan mata mana mungkin Mama cemas."


Lepas sudah tawa Tsamara detik itu juga. "Ya udah, kalau gitu aku tutup dulu. Aku mau beres-beres sebentar. Nanti aku telepon balik. Bye, Mama."


Tsamara mengedarkan pandangan ke sekitar. Menghirup udara segar seraya memejamkan mata. "Pokoknya aku harus move on dan enggak boleh mengingat Kak Bima lagi," ujar gadis itu membulatkan tekadnya.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2