
Hasna tampak berpikir keras, mengingat kembali wajah wanita yang dulu pernah ia jumpai beberapa tahun silam saat Bimantara masih tercatat sebagai mahasiswa di salah satu universitas terkenal di London. Tiba-tiba kepingan kejadian dan wajah samar seseorang terlintas di benak wanita itu.
Mata terbelalak sempurna dengan rahang terbuka lebar Hasna berkata, "Gadis yang pernah kamu kenalkan kepada Mama dan Papa saat dirimu mengajak kami makan malam, iya?"
Bimantara menganggukan kepala sebagai jawabannya. Saat itu, ia memang sengaja mengajak Emma menemui Hasna dan Irawan ingin memperkenalkan sang kekasih sebagai calon pendamping yang kelak menjadi istri dan ibu bagi anak-anaknya.
Hasna menggelengkan kepala. Ia cukup syok mendengar bahwa orang ketiga yang merusak rumah tangga anak dan menantunya adalah wanita sama yang pernah ditemuinya dulu. "Bagaimana bisa kalian bertemu lagi? Bukankah dulu kamu bilang dia telah pergi meninggalkanmu, lalu kenapa sekarang kalian malah berhubungan lagi."
Menarik napas panjang. Tsamara kembali mengumpulkan kekuatan untuk mendengar kisah masa lalu yang ditutup rapat oleh suami dan mama mertuanya. Walaupun telah lama kenal dengan seluruh anggota keluarga Danendra, rupanya tak membuat dokter cantik bermata almond mengetahui hubungan asmara antara sang suami dengan mantan kekasihnya.
"Ini semua berawal dari pertemuan kami di Maldives, Ma. Saat itu, aku tidak sengaja bertemu kembali dengan Emma setelah sekian lama tidak bertemu akhirnya Tuhan mempertemukan kami di waktu yang tidak pernah kuduga," ucap Bimantara sembari memandang lekat wajah Hasna. Sesekali ia pun mengalihkan pandangan pada sosok gadis cantik di sebelah sang mama.
"Apa? J-jadi ... kamu bertemu dengan Emma di Maldives? Saat ... kamu dan Tsamara berbulan madu?" Lagi dan lagi Hasna dibuat terkejut akan perkataan Bimantara. Mengusap lembut dada yang terasa nyeri.
"Iya, Ma. Sejak saat itu aku dan Emma kembali dekat. Awalnya Emma sempat menolakku tapi aku meyakinkan dia bahwa kali ini hubungan kami bisa bertahan hingga ke jenjang pernikahan."
Bagai mendengar suara gemuruh petir di siang bolong, tubuh Tsamara membeku di tempat. Tungkai gadis itu terasa lemas tak mampu menopang tubuhnya yang sintal. Beruntungnya ia segera mencengkeram tepian nakas hingga tidak ambruk ke lantai.
Tuhan ... ternyata suamiku sudah berniat menjandakanku di saat kami baru saja menikah, jerit Tsamara dalam hati. Sumpah demi apa pun, rasanya sakit sekali saat pria yang dicintai secara terang-terangan mengatakan ingin menikahi wanita lain di saat mereka baru saja melangsungkan pernikahan. Dan lebih ironisnya lagi, mereka sedang dalam masa berbulan madu.
__ADS_1
Bulan madu sering dikaitkan dengan segala sesuatu yang manis, yang dilakukan oleh sepasang pengantin baru. Entah jalan-jalan bersama pasangan, makan bareng di tempat romantis atau menghabiskan waktu hanya berduaan di kamar tanpa ada rasa takut digerebek warga. Namun, rupanya pengalaman indah itu hanya sekali Tsamara rasakan saat ia dan Bimantara pergi menaiki kapal selam. Selebihnya, Tsamara habiskan waktu seorang diri sebab sang suami terlalu asyik berlibur dengan wanita lain.
"Bimantara Danendra! Kamu benar-benar keterlaluan! Kamu dan Tsamara baru saja menikah tapi kamu malah berniat menikahi wanita lain dan menjadikan istrimu seorang janda." Hasna tidak tahu harus berkata apa lagi. Hanya buliran air mata jatuh membasahi pipi, menandakan betapa kecewanya dia terhadap sang anak.
"Maafkan aku, Ma. Tapi ... aku tidak mau kehilangan Emma lagi. Aku ingin terus bersamanya," ucap Bimantara lirih.
"Mama benar-benar kecewa kepadamu, Nak," tukas Hasna kecewa. Air mata semakin membanjiri wajahnya.
Sakit. Sesak. Itulah yang dirasakan oleh Tsamara saat ini. Berkali-kali menguatkan diri untuk tidak menangis namun akhirnya ia tak sanggup lagi membendung air mata yang mulai jatuh membasahi kedua pipi.
"Maaf, aku harus pergi sekarang." Tanpa menunggu jawaban dari suami dan mertuanya, Tsamara bergegas meninggalkan ruangan itu. Berlari kencang sekuat tenaga tanpa memedulikan tatapan aneh yang ditujukan kepadanya kala tanpa sengaja berpapasan dengan pengunjung lain.
Menyembunyikan wajah di antara kedua lutut yang ditekuk. Pagi itu, Tsamara pergi ke lantai tertinggi gedung rumah sakit tempatnya bekerja. Rooftop itu sering ia datangi setiap kali hatinya merasa galau akibat pernikahan yang seakan jalan di tempat, tidak ada kemajuan sama sekali.
***
Selesai bertemu dengan dokter Fatma, membahas urusan pekerjaan, Yudhistira berniat menghirup udara segar kota Jakarta dari atas gedung tertinggi bangunan megah tempatnya bekerja. Berjalan dengan langkah santai sambil sesekali mengulum senyum dan bertegur sapa saat berpapasan dengan karyawan rumah sakit. Wajah lebam akibat kena bogem mentah Bimantara, tak menyurutkan semangat pria berwajah oriental untuk menjalankan tugasnya sebagai seorang dokter.
Terdengar suara siulan bersumber dari bibir sang dokter tampan. Akan tetapi, siulan itu terhenti kala jemari tangan membuka pintu dan netra pria itu melihat seseorang terduduk di lantai dengan wajah disembunyikan di antara lutut ditekuk.
__ADS_1
"Tuhan, aku hanya ingin dicintai oleh seseorang yang juga mencintaiku. Apakah itu sulit bagimu untuk mengabulkan impianku?" ucap gadis itu disela suara isak tangis. "Aku--" Tsamara tidak sanggup lagi menyelesaikan perkataannya.
Sang lelaki melangkah perlahan hingga tak menimbulkan jejak sama sekali, dengan cepat sudah ada di sebelah tubuh Tsamara. Langsung membawa kepala gadis itu dan mengusapnya dengan sangat hati-hati.
"Menangislah sepuasnya sampai kamu enggan untuk mengeluarkan air matamu lagi," ucap Yudhistira lirih.
Tsamara sempat terkejut karena tiba-tiba sudah ada seseorang membawa kepalanya dalam dekapan, tetapi segera tahu siapa yang datang. Gadis itu bisa mencium aroma citrus mint menguar di udara. Membuat hatinya seketika merasa damai berada dalam pelukan seseorang.
"Aku bersalah, Dokter Yudhis. Andai saja tidak memaksakan diri mungkin semua ini tidak terjadi menimpaku. Aku terlalu bodoh hingga tak menyadari bahwa cinta dan hati suamiku telah diberikan kepada wanita lain." Tubuh Tsamara gemetar hebat. Butiran air mata masih membanjiri wajah.
"Sst! Jangan menyalahkan diri sendiri, Tsa. Semua sudah terjadi dan tak perlu kamu sesali," tutur Yudhistira semakin mempererat pelukan. Pria itu bahkan berani menciumi puncak kepala Tsamara dengan penuh cinta. Entah dari mana ia mendapat dorongan itu. Namun, yang pasti hangatnya bibir Yudhistira memberikan ketenangan bagi Tsamara.
.
.
.
Halo semua, yuk mampir ke karya teman author. Karya dan nama penanya bisa dikepoin di bawah sini ya.
__ADS_1