Painfull Love (Cinta Yang Menyakitkan)

Painfull Love (Cinta Yang Menyakitkan)
Mencintaimu Setulus Hati


__ADS_3

Tsamara melangkah menuju sebuah bangunan menjulang tinggi ke atas awang. Sebuah bangunan yang selama satu tahun ke depan menjadi tempat baginya mengaplikasikan semua ilmu yang didapat selama kuliah dulu. Lima hari tak menyambangi bangunan itu muncul kerinduan dalam diri untuk bisa membantu rekan sejawat mengobati pasien yang membutuhkan.


Menjinjing sebuah kantong belanjaan di sebelah tangan kanan, istri cantik Bimantara melangkah anggun memasuki gedung tersebut. Senyuman manis terus terlukis di wajah kala berpapasan dengan para pekerja rumah sakit.


"Tsamara? Oh astaga!" Lia bergegas berhambur mendekati rekan sejawat sekaligus teman kuliahnya. Gadis itu tampak begitu bahagia kala melihat satu-satunya teman semasa kuliah sudah kembali dari bulan madu. "Aku pangling tahu melihat kamu yang sekarang. Aura kecantikanmu semakin bertambah seribu kali lipat semenjak resmi menjadi Nyonya Muda Dandendra."


Lia menyenggol bahu Tsamara pelan, lalu kembali berkata, "Bagaimana bulan madumu, lancar? Lalu, reaksi suamimu saat kamu mengenakan lingerie seksi yang kuberikan khusus untukmu bagaimana? Pasti bola matanya melotot seperti seekor binatang buas yang menerkam mangsanya. Benar, 'kan dugaanku?" Terkikik geli membayangkan temannya yang terkenal polos ini mengenakan gaun malam transparan yang memperlihatkan jelas lekuk tubuh bagi siapa saja yang mengenakan.


Tsamara menghembuskan napas panjang saat memori ingatannya kembali akan kejadian saat dia dan sang suami pergi berbulan madu. Selama berada di Maldives, Bimantara tidak sekalipun menjamah tubuhnya bahkan saat mereka kembali ke Indonesia pun pria itu tak memberikan nafkah batin sebagai seorang suami.


"Nothing's special," jawab Tsamara singkat seraya mengayunkan kaki menuju ruangan khusus bagi para dokter di ruang IGD.


Lia membulatkan mata sempurna ketika mendengar jawaban Tsamara. Biasa saja? Oh astaga, bagaimana mungkin tidak ada sesuatu yang spesial saat mereka berbulan madu? Bukankah seharusnya pengantin baru akan mempunyai kenangan indah tersendiri saat mereka menghabiskan waktu bersama tanpa diganggu oleh siapa pun? Lalu, kenapa Tsamara menjawab tidak ada yang spesial.


"Tsamara, tunggu aku!" Lia berlari menyusul Tsamara yang telah lebih dulu masuk ke dalam ruangan.


Daun pintu berwarna putih terbuka lebar, Lia meringsek masuk ke dalam ruangan. Netra gadis itu melihat rekan sejawatnya tengah meletakkan barang berharga miliknya ke loker. "Tsa, maksud tidak ada yang spesial apa? Memangnya kalian tidak melakukan hubungan layaknya suami istri saat berada di Maldives?"


Suara Lia cukup lantang, membuat Tsamara bergegas membekap mulutnya menggunakan telapak tangan. "Jangan keras-keras, kalau orang lain tahu bagaimana?" bisik gadis itu di telinga rekan sejawatnya. Anak pertama keluarga Gibran selalu mempunyai cadangan kesabaran berlebih saat berinteraksi dengan Lia sebab gadis itu terkadang suka ceplas ceplos tanpa menyaring omongannya terlebih dulu.


"Lepaskan tanganmu dari mulutku, Tsa! Ayo, cepat lepaskan!" pinta Lia memelas dengan suara tertekan akibat mulutnya dibekap oleh Tsamara.

__ADS_1


Namun, Tsamara tidak serta merta begitu saja melepaskan tangannya dari mulut Lia. "Tapi janji, jangan berteriak seperti tadi lagi! Aku tidak mau seisi ruangan ini tahu kalau bulan maduku kemarin tak berkesan sama sekali." Gadis itu terpaksa melakukan negosiasi karena tidak mau berita itu tersebar luas hingga ke wartawan. Kalau sampai terjadi maka besar kemungkinan berita tersebut akan menjadi tranding topic setanah air.


Lia menganggukan kepala, menyetujui permintaan Tsamara. Lebih baik mengalah demi keselamatannya sendiri.


"Astaga, Tsa, nyaris saja kamu membuatku mati karena kehabisan oksigen." Lia berkata setelah tangan lembut Tsamara tidak lagi membekap mulutnya. Menghirup oksigen sebanyak-banyaknya guna menggantikan pasokan yang nyaris habis di paru-paru.


Tsamara mendesaah pelan seraya mendudukan bokongnya di atas kursi. Tatapan mata menerawang jauh, kepingan kejadian berawal dari saat dia menikah dengan Bimantara kemudian pertengkaran pertama mereka setelah kembali berbulan madu membekas jelas di memori ingatannya.


Melihat perubahan raut wajah Tsamara, Lia mengatupkan kedua bibir dan ikut duduk di sebelah teman kuliahnya itu. "Tsa, kenapa wajahmu murung? Kamu ada masalah apa? Coba ceritakan kepadaku. Siapa tahu aku bisa membantumu mencarikan solusi atas masalah yang menimpamu."


Sedikit membungkukan badan ke depan, kemudian menyembunyikan wajah di telapak tangan. Entah kenapa perasaan Tsamara jadi lebih emosional akhir-akhir ini. Gadis itu jadi terenyuh saat mendapat perhatian kecil dari Lia.


"Lia, menurutmu apa kekuranganku sebagai seorang perempuan? Apakah aku kurang cantik, kurang menarik atau tubuhku kurang seksi hingga suamiku sendiri tidak tertarik kepadaku," gumam Tsamara lirih. Sepasang mata almond berkaca-kaca menahan bulir air mata agar tak jatuh membasahi pipi. Merasa rendah diri sebab hingga detik ini Bimantara enggan menyentuh tubuhnya meski mereka sudah satu minggu menikah.


Kedua tangan ke depan, menyentuh bahu Tsamara. "Aku tidak tahu pasti apa yang terjadi di antara kamu dan Kak Bima. Namun, saranku sebagai seorang teman bicaralah baik-baik dengan suamimu dan jangan mengambil keputusan dalam kondisi sedang marah sebab pikiranmu pasti kacau dan keputusan yang diambil hanya akan merugikan dirimu sendiri." Menarik napas dalam, lalu mengembuskan secara perlahan. "Pernikahan tanpa adanya cekcok dalam rumah tangga akan terasa hambar bagaikan sayur tanpa garam. Namun, bila terus menerus bertengkar kamu perlu waspada dan mencari tahu penyebabnya apa hingga membuat kalian tidak pernah akur."


Tsamara terdiam kala mendengar nasihat yang dikatakan oleh Lia. Meskipun gadis itu sering ceplas ceplos saat berbicara tetapi dia merupakan satu-satunya teman yang sangat mengerti keadaan nyonya Bimantara. Oleh karena itu, dokter cantik bermata almond sangat nyaman bila berada di dekatnya.


Terjadi keheningan beberapa saat. Kedua gadis itu tampak sibuk dengan pikiran masing-masing.


"Lia, menurutmu ... mungkin tidak kalau Kak Bima selingkuh?" celetuk Tsamara memecah keheningan.

__ADS_1


Refleks, Lia yang baru saja meluruskan kakinya ke depan segera memutar tubuhnya menyamping ke kanan kemudian alis gadis itu mengerut sambil menatap tajam ke arah Tsamara. "Jangan sembarangan bicara kamu, Tsa! Tidak baik menuduh suamimu tanpa bukti. Yang ada masalahmu dengan Kak Bima bisa semakin runyam kalau dia tahu kamu menuduhnya selingkuh."


"Aku sih tidak menuduhnya, Lia. Hanya saja aku kok curiga dengan gelagat aneh Kak Bima yang tidak biasanya. Sikap suamiku berubah semenjak bertemu dengan Emma, teman kuliah Kak Bima saat mereka di London. Setelah pertemuan itu Kak Bima jadi mudah tersinggung dan sering marah-marah. Aku jadi tidak mengenali siapa lelaki yang menikahiku," kata Tsamara panjang lebar. Dia mengeluarkan uneg-unegnya di hadapan Lia.


"Jangan cepat mengambil kesimpulan sebelum semuanya jelas. Hanya bermodalkan curiga, tidak cukup bagimu mengatakan bahwa Kak Bima selingkuh."


"Kalau ternyata Kak Bima selingkuh, aku harus bagaimana Lia?" tanya Tsamara dengan raut wajah penuh ketakutan. Membayangkan itu semua membuat hatinya terasa sakit bagai ditusuk ribuan jarum oleh tangan tak kasat mata.


Lia kembali mendekatkan tubuhnya ke depan, kemudian menyondongkan wajah ke wajah Tsamara hingga berjarak satu jengkal saja. "Kalau ketahuan selingkuh maka ... kamu potong saja itunya biar dia kapok!" Detik itu juga terdengar gelak tawa terbahak membahana memenuhi seluruh ruangan.


Tsamara mendengkus kesal dan berkata, "Guyonanmu garing!"


Akan tetapi, Lia tak mengubris perkataan Tsamara. Gadis itu terus tertawa terbahak karena berhasil menjaili rekan sejawatnya. Tanpa disadari oleh kedua gadis itu, rupanya sepasang mata tengah memperhatikan mereka sedari tadi.


Kedua sudut bibir tertarik ke atas membentuk sebuah lengkungan mirip busur panah. "Kalau sampai suamimu selingkuh dan kamu bercerai darinya maka aku bersedia menerimamu, Tsamara Asyifa Gibran. Tak peduli dengan statusmu yang sudah janda, aku tetap akan menyayangi dan mencintaimu setulus hati."


.


.


.

__ADS_1


Sambil nunggu update-an karya ini, author ingin mempromosikan karya punya temen nih yang nggak kalah seru dari cerita ini. Yuk kepoin di aplikasi kesayangan kalian.



__ADS_2