
"Pak Bima, kondisi Nona Emma saat ini baik-baik saja. Dia hanya kelelahan dan kurang darah. Lalu, untuk kondisi janin dalam kandungannya pun dalam keadaan baik," kata dokter kepercayaan keluarga Danendra.
Tubuh Bimantara mematung saat mendengar perkataan sang dokter. Irama jantung pria itu berdegup lebih cepat dari biasanya. Suara tercekat, lidah terasa kelu tak sanggup berkata.
"Usia kandungan baru memasuki empat minggu dan itu masih rawan terjadi keguguran. Minta pasien untuk tidak terlalu lelah bekerja, perbanyak minum vitamin serta susu hamil guna memenuhi kebutuhn nutrisi ibu dan janin. Oh ya satu lagi, jangan sampai pasien mengalami stress karena itu bisa berpengaruh terhadap kandungannya," sambung pria berambut keperakan.
"Jadi ... wanita ini sedang hamil, Dok? Dia betulan hamil?" ulang Bimantara setelah ia mendapat kekuatan untuk berbicara.
Dokter pria itu memicingkan mata, menatap penuh tanda tanya ke arah Bimantara. "Benar. Memangnya Pak Bima tidak tahu kalau salah satu karyawan Anda tengah hamil muda?"
Pria berambut keperakan dan berkacamata silinder belum tahu kalau wanita yang sedang terbaring lemah di atas pembaringan adalah kekasih dari Bimantara.
Bimantara menggelengkan kepala. "Tidak, Dok. Sudah beberapa hari ini saya tidak berangkat ke kantor jadi tidak tahu jika ada salah satu karyawan perusahaan sedang hamil."
Sang dokter tersenyum. "Aah ... ya. Saya mengerti. Lagi pula itu semua bukan urusan Pak Bima. Mau dia hamil ataupun tidak, Pak Bima tidak punya kewajiban untuk mengetahui keadaan karyawan Anda."
Dokter itu menyerahkan secarik kertas putih ke hadapan Bimantara. "Tolong berikan resep ini kepada pasien dan minta untuk ditebus di apotik."
Bimantara meraih kertas tersebut, kemudian melihat coretan tangan sang dokter di sana. Kepalanya terasa pening sebab tak mengerti apa yang dituliskan oleh pria berkacamata.
"Apa ada hal lain yang ingin Pak Bima tanyakan sebelum saya undur diri."
Anak semata wayang dari pasangan Hasna dan Irawan menggelengkan kepala. "Tidak ada, Dokter. Semuanya sudah cukup jelas."
"Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu. Jangan lupa, berikan resep itu kepada pasien," imbuh Dokter senior sebelum meninggalkan kamar Bimantara.
Bimantara menatap Emma yang terbaring lemah di atas ranjang. Memandangi sang kekasih dengan tatapan campur aduk antara bahagia dan rasa bersalah dalam waktu bersamaan. "Maafkan aku, Emma, karena sempat bersikap dingin dan acuh kepadamu. Andai saja aku tahu kamu sedang mengandung anakku, sudah pasti aku akan bersikap lemah lembut kepadamu. Bukan malah bersikap dingin dan mengacuhkanmu," gumam Bimantara.
Melangkahkan kaki menghampiri Emma, kemudian duduk di tepi pembaringan. Senyuman samar terlukis di wajahnya yang rupawan. "Terima kasih karena telah memberikan hadiah terindah di saat aku sedang mengalami kesusahan, Sayang." Sebuah kecupan penuh cinta Bimantara daratkan di kening dan kelopak mata.
__ADS_1
Merasakan bibir hangat seseorang menyentuh permukaan kulit membuat Emma tersadar. Bulu mata panjang nan lentik bergerak secara perlahan. Bola mata indah itu perlahan terbuka dengan sempurna.
"Bima?" panggil Emma kala ekor matanya yang indah menangkap sosok lelaki tampan di seberangnya.
Bimantara mengusap puncak kepala Emma dengan penuh cinta. "Ya, Sayang. Kenapa? Kamu membutuhkan sesuatu?" tanyanya dengan suara lembut.
"Kenapa aku bisa ada di kamarmu? Bukankah tadi aku sudah pergi dari apartemenmu, lalu kenapa saat ini malah terbaring di sini." Emma mencoba mengingat kembali kejadian yang terjadi sebelum ia jatuh pingsan. Akan tetapi, tak ada satu ingatan pun yang berhasil ia ingat selain kunang-kunang yang menari indah di pelupuk mata. Semakin lama kunang-kunang itu semakin banyak dan ia tak ingat lagi apa yang terjadi setelahnya.
Sang CEO membungkukan sedikit badannya sambil menatap lekat manik coklat milik Emma. Jemari tangan mengusap pipi wanita itu dengan begitu lembut. "Tadi kamu pingsan dan aku membawamu ke kamarku."
Emma mengangguk samar merespon ucapan Bimantara. "Ehm ... begitu. Terima kasih sudah membawaku ke sini."
Lantas, wanita itu hendak bangun dari pembaringan. Namun, suara bariton Bimantara menghentikan gerakannya.
"Mau ke mana kamu?" tanya Bimantara singkat.
"Tunggu!" sergah Bimantara seraya mencekal pergelangan tangan Emma. "Sebaiknya malam ini kamu istirahat saja di sini. Aku tidak mau terjadi hal buruk menimpamu dan juga calon anak kita."
Kedua alis mengerut. Tatapan mata tajam menatap ke arah lelaki di sebelahnya. "Calon anak? Maksudmu apa, Bima?" tanya Emma penasaran.
Senyuman mengembang di sudut bibir Bimantara. Pria itu semakin mendekatkan wajahnya hingga berjarak satu jengkal. "Kata dokter, saat ini kamu sedang hamil, Emma. Di dalam perutmu telah hadir calon anakku," ucapnya lirih.
Sontak bola mata Emma melebar sempurna. Kepala menggeleng lemah mendengar perkataan Bimantara. "Itu tidak mungkin, Bima. Bukankah selama ini aku selalu minum pil kontrasepsi lalu kenapa bisa kebobolan?"
Sikap Emma saat ini di mata Bimantara terlihat begitu menggemaskan. Ia cubit hidung mancung sang kekasih dengan sangat pelan. "Awalnya aku memang memberimu pil pencegah kehamilan. Namun, lama kelamaan aku mengganti pil itu dengan vitamin sebab aku ingin kamu mengandung anakku, buah cinta kita. Darah dagingku dari wanita yang sangat kucintai."
"Bima? K-kamu--" ucapan Emma terhenti saat jari telunjuk Bimantara berhenti di depan bibir sang sekretaris.
"Sst! Aku mengakui kesalahanku karena telah membohongimu. Tapi sungguh, aku tak ada maksud apa-apa selain ingin memilikimu seutuhnya. Aku tidak tahu harus dengan cara apa lagi untuk membuatmu terus berada di sisiku. Lalu, ide inilah yang pertama kali terlintas dalam benakku. Maafkan aku ya, Sayang."
__ADS_1
Emma memalingkan wajah ke samping kiri. Terlihat jelas gurat kekecewaan di wajahnya yang cantik. "Kamu tega melakukan itu kepadaku, Bima." Sepasang bola mata berkaca-kaca tatkala mengucapkan kalimat tersebut.
"Sejak awal aku pernah bilang padamu, kalau aku belum siap hamil tapi kenapa kamu malah ingkar janji, Bima?" ucap Emma lirih.
Bimantara menegakkan posisi duduknya dan kembali menatap wajah Emma. "Katakan kepadaku apa yang membuatmu tidak siap?"
"Orang tuamu, Bima!" sahut Emma dengan kilatan emosi di sorot matanya. "Apa kamu sudah mendapatkan restu dari mereka untuk bisa berhubungan denganku? Tidak, 'kan? Lalu, bagaimana dengan status anak ini jika terlahir ke dunia? Aku tidak mau kalau sampai anakku dihina sebagai anak haram oleh orang-orang jahat di luaran sana."
Tersayat sudah hati Bimantara saat mendengar perkataan Emma. Ia tak memikirkan nasib bayi dalam kandungan sang kekasih bila dia terlahir ke dunia ini. Larut dalam kebahagiaan di tengah musibah besar melanda pernikahaannya membuat pria itu melupakan bahwa di antara dirinya dan Emma belum terikat pernikahan.
Bimantara menarik napas panjang, kemudian mengembuskan secara perlahan. "Iya, aku memang bersalah padamu. Maafkan aku, Emma."
"Lalu, apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Emma ragu.
Jari tangan Bimantara menyentuh ujung dagu Emma hingga kini pandangan mata keduanya saling beradu. "Tentu saja aku mau mempertanggung jawabkan perbuatanku. Aku akan menikahimu secepatnya. Kita besarkan bayi ini bersama. Kamu ... mau 'kan menjadi pendamping hidupku?"
Bola mata Emma bergerak, menatap dalam iris coklat sang kekasih. Tak ada meraguan sedikit pun dari manik indah itu. "Kamu serius, Bim?" Sang CEO hanya tersenyum lebar sebagai jawabannya.
Wajah yang bermuram durja kembali sumringah. Awan kelam tergantikan sinar mentari di wajah sang sekretaris. "Aku ... mau menjadi pendamping hidupmu."
.
.
.
Halo semua, yuk mampir ke karya teman author. Karya dan nama penanya bisa dikepoin di bawah sini ya.
__ADS_1